Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Tanggung Jawab.


__ADS_3

Rayna membuang napas pelan dengan raut muram ketika Adjie di seberang sana kembali mematikan sambungan telepon seperti semalam secara sepihak.


Lelaki itu merajuk karena pagi ini Rayna tetap mengiyakan kalau dirinya akan mengantar Dara ke sekolah bersama Pradipta. Karena setelah pulang dari belajar, Dara akan di bawa ke Rumah Sakit rujukan kanker untuk memulai kemo nya yang pertama kali. Adjie berkata ia mampu menemani Rayna dan Dara tak perlu membawa Dipta. Tapi, untuk menjaga kesehatan Dara yang mana dua hari sebelum kepulangan dari perawatan, anak itu kembali drop dan memohon agar orang tuanya terus bersama menemaninya.


"Terus berduaan dengannya, lama-lama kamu bisa cinta lagi, Ay!"


"Aku janji, Mas. Demi kamu itu enggak akan pernah terjadi. Aku sama Mas Dipta hanya soal Dara aja. Tolong dong ngertiin."


Papi sampai menghela napas panjang dan berdecak tak suka saat diam-diam ia tahu bagaimana Rayna berdebat tadi malam. Sikap Adjie yang terkesan seperti anak kecil karena terlalu cemburu.


"Mami tuh heran, ya, sama, Adjie. Eh, sama Bundanya deh. Masa udah seminggu Dara di rawat, mana dia jenguk?" Rayna yang masih statis berusaha menghubungi Adjie kembali menoleh ke belakang, tepatnya kepada Mami yang tengah ikut membantu Art untuk menata meja makan, meletakan menu sarapan yang telah Mami masak.


Rayna memasukan ponsel ke dalam saku gamis bunga-bunga berwarna biru muda yang senada dengan pasmina, melangkah lah ia menuju Mami. Hal yang Mami tanyakan memang menjadi buah pikir dirinya selama ini.


"Hanya Bapaknya aja yang nengok, Bundanya kemana? Eh, atau ...." tangan Mami terhenti saat Rayna benar-benar tiba di sandaran kursi. "Jangan-jangan Bundanya enggak suka lagi sama kamu, Nak."


Rayna tertawa kecil. "Apaan sih, Mih. Kalau ngomong tuh ngelantur terus. Kami udah lamaran, masa restu belum ada. Bundanya tuh lagi sibuk juga, Mih."


"Buktinya pas kamu mau lamaran, Bundanya kan nggak datang. Mami telepon aja nggak diangkat-angkat. Masa sih calon besan kayak gitu."


Sebenarnya, apa yang Mami resah kan. Juga dicemaskan oleh Rayna. Tapi, raut Adjie yang begitu bahagia karena mereka akan menikah membuat Rayna menepis kerancuan tersebut.


"Kenapa sih pagi-pagi udah berisik aja, Mami." keduanya menoleh ke arah Papi yang tengah berjalan menggendong Dara. Anak itu terlihat masih pucat, merebah lemah di dada Genpa sembari menggenggam ponsel.


Mami memilih diam, menghentikan percakapan karena ada Dara. "Masih lemas, Nak?" tanya Mami. Pun dengan Rayna yang langsung meraih Dara untuk ia gendong.


Dara mengangguk. "Masih, Genma."


"Apa nggak usah masuk dulu, ya. Nanti, Ibu bilang sama, Bu guru."


Dara menggeleng. "Aku kangen sekolah."


"Tapi kan masih lemas," timpal Mami, mencium cucu satu-satunya.


"Genma masak apa?" berbalik tanya, melongo ke belakang punggung Rayna untuk menilik menu makanan di meja yang aromanya sangat lezat.


Rayna membawa Dara dan semua mengekor ke meja makan. "Kok Ayamnya digituin." Dara mencebik saat melihat daging ayam dalam olahan opor.


"Di bakar aja, Bu," meminta kepada Rayna. Kesukaan Dara kalau untuk olahan Ayam meminta di bakar dari pada di goreng atau di masukan ke dalam sayur. Olahan menu dalam proses pembakaran tidak diperbolehkan bagi penderita kanker.


"Ini enak kok, Nak. Genma yang masak," balas Rayna. Dara yang masih lesu, menggeleng di dadanya. "Nggak mau."


"Cobain dikit, ya. Kasian dong, Genma, Nak. Udah masak, mau nggak mau di makan."


"Kalau Dara nggak mau makan. Genma sama Genpa, pulang aja, ya."


Dara lekas bangkit dari dekapan dan menggeleng tak suka, bola matanya terlihat ingin memuncar kan tangis. "Ya udah-udah." Genma meraih anak itu untuk di gendong, menenangkan dari rasa sedih. "Makanya makan, ya? Biar badannya enggak lemas."


"Iya, Genma." akhirnya Dara menyerah, ia mengangguk mau. Betapa terkejutnya Rayna saat ia mengusap rambut Dara banyak helaian surai menempel di telapak tangannya.


Dari balik punggung Dara, Rayna memperlihatkan helaian rambut itu ke pada Mami dan Papi.

__ADS_1


Buru-buru Dara dipangku Mami di meja makan untuk tidak melihat kalau Rayna mulai menggenangkan air mata.


"Sabar, Nak," ucap Papi.


"Apakah bisa sembuh, Pih?"


"In Syaa Allah, bisa. Yang penting kamu nya percaya."


"Dia akan kehilangan rambut bagusnya, Pih. Kulitnya akan menghitam. Dara bakal sanggup, Pih?"


Papi sekilas menoleh ke arah Dara yang tengah memeluk Mami untuk disuapi makan. Lelaki ini hanya bisa mendesah napas sesak, bingung ingin menjawab apa. Karena ia tahu, Dara pasti kesakitan.


"Ibu ... Genpa, nggak makan?" Dara bertanya, mengangkat kepala dari dekapan Mami, menilik punggung kedua orang yang masih berdiri sedih memikirkan dirinya.


"Ii---ya, Nak. Ibu makan," balas Rayna dengan nada bergetar sambil menyeka air mata.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Tepat pukul tujuh pagi, mobil Dipta telah sampai di carport rumah miliknya dulu bersama Rayna sebelum mereka bercerai. Dan sekarang, rumah ini sudah benar-benar hanya milik Rayna dan Dara seorang.


"Assalammualaikum ...."


"Waalaikumsallam," balas Rayna serta orang tuanya yang sudah menunggu kedatangan Dipta untuk mengantar ke sekolah.


"Maaf, ya, aku ajak, Adiknya," ucap Dipta kepada Rayna karena mantan isterinya itu terlihat dingin menatap Noora yang sedang Dipta gandeng.


Bukan tanpa alasan Dipta membawa Noora sebagai senjata untuk meluluhkan hati Dara yang selama empat hari ini mogok bicara padanya, perihal Ajeng. Ajeng kembali datang menjenguk di detik-detik Dara akan keluar dari Rumah Sakit dan ilalah nya Dokter tersebut belum sempat bertemu Rayna.


Dipta tetap hormat kepada para mantan mertua walau Mami menatapnya malas, mencium punggung tangan Mami dan Papi secara bergantian, baru beralih menatap Dara dalam gendongan Rayna yang baru terlihat ceria saat melihat Noora.


"Apa yang di rasa, Nak?" Dipta beralih meraih Dara dan anak itu pun mau. Setelah menikmati sarapan yang hanya masuk tujuh sendok, Dara muntah.


"Lemas dan pusing."


"Ke Rumah Sakit aja, ya, nggak usah sekolah dulu."


Dara menggeleng. "Mau sekolah."


"Turuti aja dulu," ujar Papi.


Dipta mengangguk menurut.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Seperti keluarga harmonis empat tahun lalu di mana sebelum terjadi tragedi yang mampu memunculkan Noora di hidup Dipta. Rayna dan Dipta terlihat tersenyum bersamaan dari kaca spion ketika menangkap canda tawa yang kembali terdengar dari bibir Dara saat ia mulai bangkit dari rasa lemas karena tangannya di pijit-pijit Noora.


Rayna yang terduduk di kemudi hanya memperhatikan Dara yang sedang enjoy walau di ujung hati ia masih malas melihat Noora. Tapi, selama di perjalanan ini ia merasa terketuk dengan anak batita itu. Karena mampu mengambil hati Dara.


"Mas ...."


"Ya, Ay." Dipta masih fokus memutar-mutar stir kemudi mengikuti alur jalan menuju sekolah sang putri, beralih dari depan menoleh ke arah Rayna.

__ADS_1


"Maaf kalau di rasa aku lancang mau tahu, Mas."


"Mau tau apa, Ay? Tanya aja."


"Siapa wanita yang datang menjenguk, Dara? Waktu kamu lagi pulang sebentar ke rumah. Dara nangis, dia bilang ada calon Mama barunya," bisik Rayna karena kebisingan tawa di jok belakang mulai tidak terdengar. Baik Dara dan Noora mulai mendengkur.


Dipta tertawa kecil, merasa Dara amat terlewat cemburu. "Bukan, Ay. Itu cuman temanku. Teman SMA."


"Teman SMA? Siapa?" bola mata Rayna membulat. "Perasaan selama kita nikah kamu enggak pernah bilang kalau masih berhubungan baik dengan teman SMA, perempuan lagi."


"Ya emang udah lama nggak pernah ketemu. Eh, ketemu lagi pas aku mau----"


Lidah Dipta seolah mendadak tercekat, ia hampir saja berkata kalau dirinya tengah menjalani pengobatan.


"Mau apa, Mas?"


Dipta menggeleng, menyudahi. "Pokoknya aku sudah berjanji untuk tidak akan menikah kalau Dara enggak izinkan, Ay. Nggak ada calon Mama sambung untuk Dara."


"Tapi kamu butuh teman hidup, Mas. Kamu juga berhak bahagia."


"Untuk sekarang, fokusku hanya Dara. Kesehatannya dan kepulihan nya."


"Kamu nyindir aku, Mas?"


Kening Dipta mengkerut bingung dan lekas tertawa untuk mendinginkan keadaan yang terasa panas. "Lho kok, gitu?"


"Kamu pasti tau kan kalau Dara nggak setuju sama rencana pernikahanku dengan, Mas Adjie?" karena telak-telak saat Adjie ingin mendekati Dara, anak itu menolak dan mengusir.


"Enggak usah dimasukan ke dalam hati. Namanya juga anak kecil. Dia takut kamu berubah setelah menikah. Kamu bisa kok hadapi, Dara. Lama-lama juga Dara akan menerima dan mengerti kalau orang tuanya tidak akan mampu bersama kembali."


Deg.


Jantung Rayna lekas berdentam saat kalimat terakhir seakan santai keluar dari bibir Dipta kepadanya. Bukan maunya Dipta untuk tidak mengabulkan keinginan Dara yang setiap hari anak itu rengekan kepadanya untuk menikahi lagi Rayna. Tetapi, keadaan seraya tidak memungkinkan. Cinta Rayna sudah berpaling dan Adjie sebagai pemenang. Dipta hanya sedang menunggu keajaiban.


"Harusnya aku senang karena kami sudah sama-sama legowo. Kenapa malah ada yang aneh di dadaku?" Rayna mengerjap-ngerjap menatap hamparan jalan, ia termenung cukup lama sampai kembali terlonjak saat Dipta mengajaknya lagi bicara.


"Kamu kenapa?"


Rayna menggeleng dengan senyuman tipis. Rona merah muncul di pipi, senyum yang Dipta rindukan seakan kembali menyapu.


"Oh, ya, Ay. Semalam uang bulanan mu dan Dara sudah aku transfer."


"Kamu transfer untuk kebutuhan Dara aja, Mas. Yang buat aku nggak usah lagi."


Dipta tersenyum saja. "Selama kamu belum menikah. Kamu masih menjadi tanggung jawabku." Dipta tetap merogoh kocek sekitar tiga puluh juta untuk bulanan Rayna sendiri selama tiga tahun bercerai.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Like dan Komen, ya, guyss๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Folow IG ku untuk tau kapan aku update @Megadischa

__ADS_1


Mau aku dobel up? Komennya dlu banyakin yassโฃ๏ธ


__ADS_2