Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Lepaskan Saja.


__ADS_3

Rayna gegas menarik Adjie untuk meninggalkan kamar perawatan padahal ia belum bersalaman, mencium punggung tangan Mami dan Papi. Ingin secepatnya menghilangkan raut keberatan di wajah calon suami sekaligus menjelaskan duduk perkara yang Adjie cemburui. Sedangkan Mami dan Papi mendekat ke pembaringan, menghampiri Dara yang akhirnya membuka mata dan tersenyum rindu kepada Genma dan Genpa nya.


"Dia menginap?" pintu kamar belum sepenuhnya Rayna rapatkan, Adjie lekas mencecar. Dari nadanya, Rayna tahu sekali kalau lelaki ini marah.


"Dara nya pengin Ayahnya yang jaga. Aku enggak bisa apa-apa untuk nolak."


"Terus kenapa kamu nggak pulang? Malah berduaan di sini." suara Adjie masih meninggi.


Dengan kepala setengah pening, Rayna menghembuskan napas lemah. Ia meraih tangan Adjie untuk di genggam. "Aku khawatir sama, Dara. Aku takut dia butuh aku. Makanya aku bertahan semalam. Aku juga udah minta Ayahnya Dara untuk pulang. Tapi, keadaan semalam memang enggak mendukung. Dara terus bergumam, memanggil-manggil Ayahnya." lembut sekali Rayna dalam bertutur. Membuat Adjie tidak tega untuk merajuk lama-lama walau hatinya terasa kebas karena cemburu. "Tolong ngertiin kondisi aku, ya, Mas. Anakku kan lagi sakit. Dia butuh kami. Aku sama Mas Dipta juga enggak berbincang banyak kok. Hanya tentang Dara aja. Dia tidur sama Dara. Aku di sofa."


"Tapi aku lihat kamu pakaikan sweater di tubuhnya."


Rayna tertawa kecil, menggeleng tegas. "Sweater nya jatuh karena kaki nya Dara, Mas. Ya udah aku pungut aja dan meletakkannya lagi."


"Hem." Adjie mengangguk, mencoba percaya. Selama tiga tahun mengenal, Rayna memang selalu jujur tidak pernah berbohong.


"Kan kata kamu kita boleh pilih-pilih teman, pilih-pilih pasangan. Tapi, untuk berbuat baik, kita enggak boleh pilih-pilih."


Adjie lantas tersenyum, ia mengangguk setuju.


"Maaf, ya, Mas."


"Iya, sayang. Aku juga minta maaf, ya. Tadi aku kaget banget. Wajar kan kalau aku cemburu."


"Ya, Mas. Nggak apa-apa. Aku paham. Tapi, untuk kedepannya aku minta pengertian kamu, ya. Penyakit Dara akan membuat aku untuk terus berhubungan dengan, Mas Dipta. Hanya sekedar bertukar pikiran. Kan kalau rasa sayang udah enggak ada." kedua nya saling melemparkan senyum. Getaran cinta yang baru memupuk, terlihat dari binar mata Rayna kepada Adjie.


Adjie mengulurkan tangan, seraya ingin merapihkan anak rambut Rayna yang terlihat keluar. "Mau ke kantin, nggak? Sarapan dulu."


Rayna mengangguk. "Ayo, Mas." tidak mau Adjie merajuk, Rayna usahakan untuk menjaga mood lelaki yang akan menikahinya dua bulan lagi sesuai rencana. Masalah Dara, ada Mami, Papi dan Dipta yang menjaga.


"Ibu tinggal bentar, ya, Nak," berucap dalam hati lalu melangkah pergi bersama Adjie menuju kantin di lantai bawah.


🌾🌾🌾🌾


Dara gegas digendong Papi untuk di bawa ke sofa. Sedangkan Mami membuka bungkusan kue kesukaan Dara yang Mami beli toko kue langganan di London. Mereka berdua biarkan Dipta yang masih saja mengangakan mulut karena semakin pulas.


Raut mendung dan sendu menyisir raut Papi dan sang istri. Cucu satu-satunya dari anak yang juga satu-satunya sedang sakit dengan penyakit yang tidak main-main.


"Pindah aja tinggalnya di London, yuk, sama Genpa dan Genma," ujar Mami kepada Dara sembari menyodorkan cheese cake berbalur kacang almond. Menghempaskan bokong, duduk di sebelah Papi.


Dara menggeleng dalam pangkuan Papi. "Genpa sama Genma aja yang pindah ke sini. Tinggal sama aku dan Ibu."


"Di sana ada Dokter bagus. Bisa ngobatin kamu," potong Papi, setelah mencium pipi Dara.

__ADS_1


Dara menggeleng lagi. "Nanti gimana sama, Ayah? Terlalu jauh dong." menoleh ke arah Dipta yang dengkurannya makin keras. Mami dan Papi yang masih memendam rasa kecewa dan sakit hati kepada Dipta menggeleng seraya tidak perduli. "Kan bisa ke sana kalau kangen."


"Emangnya Dara sakit apa sih, Genpa? Kok harus di obatin jauh-jauh? Kemarin juga pada nangis. Nenek, Kakek, Ibu, Ayah, Om dan Tante juga sama." bibir Dara yang belepotan keju, Mami seka sembari memberikan kode mata kepada suaminya untuk menghentikan pembicaraan.


Papi yang paham lekas mengangguk. Mereka tahu, kalau Dara belum tahu sama sekali. Hanya saja ia mampu merasakan kalau tubuhnya memang sedang tidak enak.


"Dara mau yang mana lagi?" mengalihkan pembicaraan, Mami menunjuk beberapa kue yang lain.


"Hem ... yang mana, ya." seraya berpikir terus menilik kue-kue mahal tersebut.


Sayup-sayup mendengar suara orang tengah bercakap-cakap, Dipta pun bangun dari baringnya. Melongo kaget saat sudah ada mantan mertua atau Tante dan Om nya.


"Mih ... Pih." Dipta tersenyum malu.


"Hem." mereka hanya menjawab dengan deheman. Rasa kecewa memang besar tapi rasa mencintai juga masih terpatri walau sakit hati. Dipta bukan hanya sekedar menantu, melainkan juga keponakan. Gegas bangkit dari ranjang sambil mengucek mata. Dengan wajah lekat bantal ia menghampiri Mami dan Papi untuk bersalaman, mencium tangan mereka.


"Udah siang masih aja tidur," Mami sewot.


"Biarin aja, Genma. Ayah capek semalaman jagain aku." Dara tersenyum kepada Dipta, ia membela.


Dipta hanya tertawa saja, duduk berhadapan dengan mereka di sofa, mengusap kepala sang anak.


"Kapan sampai, Mih, Pih?"


Dipta mengangguk-angguk dan kembali bertanya. "Ke sini nya sama---"


"Sama, Adjie. Calon suaminya, Rayna. Rayna nya juga kemana ya? Oh, paling lagi di bawa sarapan sama Adjie," Mami seraya berbangga diri kalau anak nya sudah move on dan akan hidup bahagia setelah ini.


Dipta hanya ber oh saja, tetap tersenyum. "Kamu mau yang mana? Tinggal pilih," ujar Papi kepada Dipta untuk tidak menimpali ucapan Mami. Papi merasa, Dipta memang salah. Tapi, sekarang sudah tidak ada kaitannya lagi dengan Rayna. Mereka hanya perkara soal anak saja.


"Makasih, Pih. Nanti aja."


"Ini aja, Yah. Enak lho." Dara memasukan potongan kue yang tengah ia genggam ke dalam mulut Dipta. Anak itu seakan tidak terlalu mencari Rayna. Ia biarkan saja. Kembali kesal kepada Rayna karena pergi bersama Adjie tidak dulu pamit padanya.


Demi senyum Dara terlihat, Dipta buka mulutnya besar untuk menangkap kue tersebut. "Aku izin shalat dulu, ya, Mih, Pih."


"Shalat subuh?"


Dipta tertawa lagi. "Tadi bangunnya kan kesiangan."


"Ya kalau enggak ada suara kita. Paling besok kamu baru bangun, Dip," balas Mami. Dipta hanya terkekeh saja sembari bangkit dari sofa menuju kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu ia akan menuju mushola.


"Dipta ...."

__ADS_1


"Iya, Pih." menoleh saat selangkah lagi kakinya mendarat di kamar mandi.


"Ada yang ingin Papi bicarakan serius sama kamu soal, Dara."


"Baik, Pih. Habis Dipta shalat, ya."


"Hem." pintu kamar mandi pun tertutup.


"Tentang apa, Genpa?" Dara menyorot bola mata Papi lekat ingin tahu sekali. Papi hanya menggeleng pelan sembari mengusap-usap rambut Dara yang tebal.


"Apa, Genpa?" tetap mencecar.


"Ya pengin ngobrol aja. Kan kangen udah lama nggak ketemu," balas Papi yang mana ditanggapi dengan bibir mencebik dari Mami, sepertinya merasa iyuh sekali.


🌾🌾🌾🌾


Saat langkahnya akan berbelok ke Mushola di lantai dua. Dipta statis sejenak ketika sepasang insan tengah berjalan bersisihan yang dibalut canda tawa renyah mendekat ke arahnya. Masih teringat tadi malam, saat wanita yang ia masih bertahta dalam relung hati memakinya tajam. Kini, beralih merona kepada lelaki lain.


Mengapa sakit sekali?


Sama seperti halnya Dipta yang bangun kesiangan dan belum sempat shalat Subuh. Rayna pun meminta ditemani Adjie setelah sarapan ke Mushola. Rayna lebih dulu selesai dan ingin kembali ke kamar perawatan.


"Dara sudah bangun, Mas?" bertanya saat jarak sudah sekian centimeter. Dipta yang mencoba legowo dengan laki-laki yang akan Rayna nikahi, mengangguk pelan.


"Sedang makan kue bersama Mami dan Papi," balasnya.


"Kita duluan, ya, Mas."


"Ya." tanpa menatap Adjie atau memberi senyuman, Dipta lekas melewati bahu mereka berdua.


"Lepaskan saja, Dip. Biarkan dia bahagia. Rayna sudah terlanjur sakit dengan apa yang kamu tuai." Dipta memejam mata lama, seraya mendengarkan bisikan yang melalang buana di dalam dada.


"Senyum wanita itu sudah kamu renggut. Dan sekarang ia sedang bersusah payah untuk bahagia. Lepaskan lah ... lepaskan." Dipta akhirnya mengangguk. Mencoba sekuat tenaga untuk berlapang dada.


"Pikirkan saja, Dara. Dara dan Dara."


Tubuhnya sudah berdiri tegap menghadap kiblat dan saat ingin mengangkat tangan untuk bertakbir, kening Dipta berkedut-kedut karena rasa sakit mendadak timbul lagi di perut sebelah kiri.


Lelaki berusia tiga puluh dua tahun ini baru teringat kalau ia lupa meminum obat ginjal nya yang sudah rutin ia konsumsi seminggu ini.


"Subhanallah, Ya Allah ...." Dipta membungkuk, meringis sakit, memegang perut.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Like dan Komen, ya, guys❤️


__ADS_2