
Bagai dipaksa menenggak racun, Rayna memilih menggeleng pelan, tersenyum hangat kepada Dara untuk menelan sesak di dada karena permintaan sang Anak yang tak mungkin ia lakukan. Kembali menikah dengan Pradipta sama saja membuka luka yang sudah menutup untuk kembali basah.
"Kita kan sudah membahas masalah ini, Nak. Kamu juga tau, Ibu akan menikah dengan Om Adjie dalam waktu dekat. Ibu enggak mungkin kembali dengan, Ayahmu," ucap Rayna lembut, meminta kerelaan hati anak nya agar membolehkan ia bahagia.
"Di hati Ibu, Ayahmu sudah tergantikan. Tapi, untuk menjadi Ayahmu, selamanya tetap Ayah Dipta. Yang lain tidak bisa menggantikan. Mungkin berat buat Dara untuk menerima perpisahan kami. Tapi, nanti, ketika Dara sudah besar. Dara pasti paham, kenapa Ibu dan Ayah harus berpisah," timpal nya lagi.
Dara melepas genggaman tangan, air matanya menggenang dan beralih menatap dinding. "Apa aku akan besar? Sepertinya, aku akan mati sebentar lagi." anak ini tak sengaja mendengar semangat yang Geisha berikan kepada Dipta sebelum meninggalkan kamar.
Rayna lekas duduk, kembali meraih tangan sang anak untuk ia genggam erat dan Dara menepis karena kecewa. "Dara---"
"Udah jangan di paksa, Ay. Ingat keadaan, Dara," sela Dipta.
Rayna menarik napas panjang, hening sesaat. Bola matanya melesat lurus menatap Dara. "Siapa bilang Dara akan----"
"Kamu duduk di sana. Biar aku yang bujuk dia," Dipta terus menyela.
Rayna beralih menatap Dipta dengan tatapan penuh menuntut. "Kalau aja tadi kamu enggak mulai. Pakai segala nanya-nanya hal yang nggak penting. Dara pasti enggak kayak gini sama aku! Tolong lah, Mas. Kita ini sudah tiga tahun. Hubungan kita hanya sebatas mantan. Namun, masih bersahabat hanya karena Dara. Jadi kamu nggak perlu korek-korek ranah pribadiku!"
"Ibu, pergi!" usir Dara. "Mau sama, Ayah, aja." air mata anak itu mengalir dari sudut netra.
Rayna mengeram pelan tak percaya kalau Dara lebih memilih Dipta. "Jangan begitu, Nak---"
"Puas, Mas? PUAS?" menyela Dipta yang tengah menenangkan Dara.
"Aku minta maaf, Ay. Bukan maksud aku jadi begini."
"Ibu, pergi! Pergi aja sama om itu!" Dara kembali menatap Rayna yang tengah menatap Dipta.
"Kamu ngusir, Ibu?" Rayna membolakan mata tak suka kepada Dara.
"Seperti Ibu yang lebih memilih, Om Adjie, dari pada keinginanku."
"Ibu enggak mungkin balik sama Ayah kamu, Ra. Ayah kamu ini udah tusuk-tusuk hati Ibu pakai pedang!" Rayna mulai menitikan air mata, menunjuk bola mata Dipta dengan tatapan tetap kepada Dara. Baru lah Dipta tahu, kalau apa yang pernah ia perbuat tidak semudah itu terlupakan. Kesetiaan Rayna dalam menjaga kehormatan pernikahan telah ia balas dengan pengkhianatan yang begitu menyakitkan.
Masih jelas dalam ingatan Rayna, ia sampai ke luar dari rumah hanya dengan daster serta rambut yang berantakan karena ia jambak-jambak sendiri saat tahu Nancy mengaku hamil.
"Kamu benar tiduri dia, Mas? BENAR?" Rayna menunjuk wajah Nancy yang memberi raut tak bersalah, malah terlihat senang sembari mengusap perut.
"Aku khilaf." tamparan panas lekas Rayna beri di tulang pipi Dipta sebelum melangkah pergi menggendong Dara yang sedang tertidur, tiga tahun lalu.
Rayna memejam mata sembari meremat kain di dada, napasnya memburu kuat, seakan rasa sakit yang sudah sembuh seiring waktu kembali terkuak.
__ADS_1
"Ay ...." seraya ingin memegang tubuh Rayna yang terlihat lemas.
Rayna menggeleng. "Tolong jangan sentuh aku, Mas." memilih meninggalkan tepi ranjang untuk keluar dari kamar. Dadanya berderap naik turun, seakan telapak kaki tak bisa memijak bumi.
"Ayo, minta maaf sama, Ibu, Nak." paksa Dipta kepada Dara yang memandang sendu Ibunya ketika terus melangkah pergi meninggalkan dirinya dan sang Ayah.
"Dara cuman pengin Ibu sama Ayah bersama lagi. Apa itu salah?" Dara mulai menangis. Mendengar isak tangis sang anak, tangan Rayna yang mulai menekan handle pintu, terhenti. Wanita ini statis di tempat.
"Kenapa sih dulu Ayah sakitin, Ibu? Kenapa enggak minta maaf aja sekarang? Ibu pasti mau kok maafin, Ayah."
Dipta memilih duduk, menatap Dara tegas. "Apapun yang Ibu pilih. Kita harus dukung. Ibu juga berhak bahagia. Dengan Ibu memilih Om Adjie. Ibu tetap milik Dara. Enggak akan ada yang berubah, Nak. Ayah sama Ibu akan selalu ada untuk, Dara." mencoba menetralkan keadaan, Dipta menyudahi keinginannya yang terasa tak akan pernah ada hasilnya.
Sembari sesegukan yang mana air matanya terus Dipta seka, mencoba menjadikan Dara untuk dewasa menghadapi masalah di saat usianya masih kecil. Harus menghadapi perceraian Ibu dan Ayahnya. Dan harus menerima kalau ia akan tumbuh tidak senormal anak-anak sebayanya karena penyakit kanker.
"Terus kalau Ibu udah nikah sama Om itu. Ayah juga bakal nikah lagi?"
"Ayah akan nikah lagi kalau Dara izinkan."
"Beneran, Yah?" di balik awan mendung, muncul sinar terang di wajah Dara.
"Iya, Nak. Ayah janji."
Rayna mengeraskan rahang, menoleh ke belakang dengan delikan tajam saat Dara memeluk Dipta dengan wajah bahagia.
Dekapan itu terurai. Dipta menggeleng samar kepada Rayna. "Anak kita sedang sakit, Ay. Bisa kah kita berdamai----"
Rayna lebih memilih membuka pintu dan pergi tanpa salam sebelum permintaan Dipta terucap sempurna.
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Kalian akan menginap bersama di kamar perawatan, Dara?" Adjie memperjelas sampai berkali-kali.
"Aku akan meminta Ayahnya Dara untuk pulang. Biar aku sendiri yang menjaga anakku, Mas. Kamu enggak perlu cemas."
Dengan janji yang Rayna ucap kepada Adjie dengan nada lugas. Maka, Adjie pun percaya dan meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hampang penuh kelegaan. Lelaki itu berjanji akan datang lagi besok pagi.
Arah jarum jam dinding terus bergeser ke kanan, tepat di pukul sepuluh malam.
"Sudah jam segini. Kamu enggak ada niatan untuk pulang?" tanya Rayna yang tengah duduk di sofa, bersedekap tangan menatap Dipta yang baru saja selesai bercakap dengan Noora di sambungan telepon. Noora menelepon Dipta dengan ponsel Bunda untuk menanyakan keadaan Dara dan dirinya yang kapan bisa pulang.
"Anakmu dengan Nancy ...." terjeda, entah mengapa saat menyebut hasil yang Nancy dan Dipta lakukan, seakan masih membekas perih. Walau kenyataannya, ia sudah tidak ada perasaan dengan Dipta. "Dia pasti cari kamu." mencoba menegapkan dada agar terasa normal.
__ADS_1
Dipta menggeleng sembari meletakan ponsel di atas nakas, kembali menggenggam tangan Dara dan mengusap pipi sang anak yang sudah tertidur.
"Kamu aja yang pulang. Biar aku yang di sini. Kamu juga butuh istirahat."
"Kamu aja yang pulang!" Rayna tak sadar sampai menyentak. Seolah perdebatan mereka tadi siang masih saja membuat hatinya panas. Karena dari saat itu, Dara seakan tak mau di dekati Rayna. Apa-apa, hanya ingin kepada Ayahnya.
Mendengar Rayna menghardik, Dipta lekas bangkit dari kursi. "Kenapa kamu banyak berubah, Ay?" karena Dipta tahu, wanita ini selalu hangat dalam bertutur kata, walau dalam keadaan kesal, tidak akan sampai hati untuk memaki.
Rayna berdecak tawa seraya meledek. "Kamu masih nanya, kenapa, Mas?" dengan jarak lima meter, bola mata mereka saling bersibobrok.
"Aku harus apa? Mencium kakimu? Bersujud?"
Rayna menggeleng tegas, masih bersedekap tangan. Rautnya berubah angkuh, seolah mengangkat dagu, mengibarkan bendera perang kepada Dipta.
"Semua itu sudah tidak berlaku. Aku tidak perduli lagi dengan masa lalu kita. Jika saja tidak ada Dara. Aku akan menganggap mu sebagai bayangan, yang tidak pernah aku temui seumur hidupku."
"Lalu?" Dipta mulai melangkah menuju Rayna.
"Mau apa kamu, Mas?" kening Rayna mengerut ketika langkah kaki Dipta terus mengarah kepadanya.
"Mau minta maaf."
Rayna menggeleng takut karena Dipta mulai menatap datar dan terus berjalan.
"STOP!" tegas Rayna untuk menghentikan langkah mantan suaminya itu.
Dipta terus melaju.
"Aku bilang, STOP!" jantung Rayna berdebar cepat, melihat tingkah Dipta yang aneh seakan membuat ia takut. Takut jika Dipta akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Rayna memilih memalingkan kepala dengan dada yang bergerak naik turun, kedua tangan mengepal di sisi tubuh. Dipta sudah tepat berdiri di hadapannya. Menatap Rayna yang masih menjadi candu untuknya.
Dan,
"Ayah ...," gumaman Dara di tempat tidur membuat Rayna menghela napas lega karena Dipta segera mengambil langkah panjang untuk mendekati anak mereka.
"Huh!" Rayna mengusap dada sembari menyesap aroma parfum dari tubuh Dipta yang amat menyengat di lubang hidung saat mereka intim berhadapan. Parfum kesukaan Rayna yang tetap Dipta pakai sampai saat ini dan tidak pernah terganti.
"Ayah, sini." Dara membuka suara parau tanpa membuka kelopak mata, menepuk sisi kosong di sebelahnya. Meminta sang Ayah untuk memeluknya.
Rayna kembali duduk di sofa dengan wajah merungut kesal.
__ADS_1
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ