
Ayah Gifa tetap menggeleng tegas kepada Papi Razik. "Dara juga cucuku. Jadi aku punya hak untuk memutuskan." pagi-pagi sekali Ayah datang kembali bersama Bunda dan Noora ke Rumah Sakit, ingin melihat keadaan Dara.
Keharmonisan keluarga yang dulu terjalin erat jadi rusak hanya karena masalah anak. Saat Ayah dan Bunda kembali bertemu dengan saudara yang merupakan mantan besan, terlihat kaku, seperti orang lain.
Dan saat Papi mengutarakan keinginannya untuk membawa Dara ke London lekas Ayah sergah, tidak menyetujui.
"Cucumu kan banyak. Sementara aku, hanya satu, Gifa," ujar Mami dengan nada sewot.
"Walau banyak memangnya kenapa? Apa hubungannya, Kak?" Bunda yang membalas, memangku Noora yang mana sejak tadi anak batita itu bersembunyi di balik kerudung besar sang Nenek karena Mami menatapnya tajam. Noora ketakutan. Sementara Dara yang kekenyangan makan kue akhirnya tertidur lagi tengah dininabobokan oleh Rayna di pembaringan. Sementara Adjie, pamit dulu ke luar, berusaha terus menghubungi sang Bunda yang sejak tadi Mami tanyai keberadaannya sudahkah menengok Dara sejak kemarin.
Ayah Gifali terlihat frustrasi karena sudah berbincang dengan mantan mertua selama tiga puluh menit seakan tak memberikan titik temu. Papi tetap memaksa agar Dara dibawa saja.
"Dipta mana sih?" Ayah mengeram pelan sembari terus menghubungi ponsel Dipta yang tidak kunjung di angkat.
"Tuh, lihat anak kamu. Emang nggak bisa di pegang omongannya. Tadi, bilangnya, pengin shalat ke Mushola. Udah mau dua jam nggak balik-balik. Jaga ucapan aja nggak bisa, gimana mau jaga cucuku? Dia jaga amanah dalam pernikahan aja nggak bisa----"
"Mih," sela Rayna sembari menggelengkan kepala agar Mami tidak lagi mengungkit-ngungkit masa lalu.
Bunda hanya diam menahan sedih. Anaknya memang bersalah dan tidak bisa dibela.
"Puyang atah yuk, Nek," bisik Noora dari balik hijab. "Nanti, ya, tunggu, Ayah sama Kakak bangun dulu," balas Bunda.
Ayah memilih bangkit dari sofa untuk menyusul Dipta yang mana kata Papi tengah di mushola. "Ayah susul dulu, Dipta, Bun."
"Iya, Yah."
Baru saja berjalan dua langkah, pintu kamar terdorong dari luar, menyembul lah Dipta dan Geisha yang tidak lagi dengan Genta, karena lelaki itu langsung masuk ke kamar operasi. Ada pasien yang sudah menunggu di sana.
"Alhamdulillah." Bunda mengusap dada lega. Tapi, keningnya berkerut saat wajah Dipta terlihat pucat.
"Kamu kenapa, Nak? Kok kayak orang lemas gitu?" tanya Ayah. Dipta yang tengah digandeng Geisha, menggeleng dengan senyuman tipis.
"Tadi habis shalat. Maag nya kambuh, Yah. Dipta telepon Geisha. Ya udah aku temani dulu di IGD," Geisha yang membalas raut gelisah di wajah Bunda dan Ayahnya.
"Sakit maag?" Rayna bergumam pelan di ranjang. Tangannya yang sejak tadi mengusap tubuh Dara lekas terhenti untuk merenung. Gasendra Pradipta Hadnan, tidak pernah memiliki riwayat maag selama mereka menikah.
Melihat Ayahnya datang, Noora lekas bangkit dari pangkuan Bunda untuk berhambur ke arah Dipta, mengulurkan tangan ke atas seraya meminta di gendong. Dipta yang rindu karena semalam tidak memeluk Noora saat tidur tertawa karena putrinya itu terus menciumi pipinya.
"Ayah cakit?"
"Iya, Nak."
"Cakit apah?"
"Sakit tahan kangen sama, Noora," balas Dipta mencium pangkal hidung Noora yang bangir seperti miliknya. Anak itu tertawa-tawa senang. Gigi-geliginya yang bersih terpampang jelas. Pelukan erat yang terjalin antara Dipta dan Noora membuat tiga pasang mata menghela napas tak suka, malas melihat. Siapa lagi kalau bukan Rayna, Mami dan Papi. Wajar lah.
"Tapi sekarang gimana? Udah enakan belum?" tanya Ayah dan Bunda bersamaan.
Dipta mengangguk. "Alhamdulillah, udah, Yah, Bun. Tadi di kasih obat dulu sama, Kakak." mereka pun beriringan menuju sofa di mana Mami dan Papi berada.
"Kok bisa mendadak sakit. Tadi perasaan nggak apa-apa?" tanya Papi yang terlihat khawatir. Pun Rayna walau hanya sedikit. Tapi, perhatian suaminya lekas ditepis Mami dengan memiringkan sudut bibir. "Paling pura-pura sakit. Biar bisa ambil perhatian, Rayna. Dan Dara yang nggak mau pisah sama, Bapaknya!"
"Tante!" seru Geisha tak suka. "Dipta memang sakit. Nih lihat tangannya, bekas di infus." Geisha menunjuk plaster yang masih tertancap di punggung tangan Dipta. Rayna pun ikut melirik.
"Alah, paling akal-akalan. Tipu muslihatnya!"
"Mih ...." Papi dan Rayna kembali mengingatkan Mami untuk tidak terus berkata yang kurang mengenakan.
__ADS_1
"Kita keluar aja lah. Panas Mami lama-lama di sini," tukas Mami kepada Rayna mengajak putri nya itu ke luar.
"Iya, Tante. Di luar aja. Di taman. Enak tuh dingin, angin sepoi-sepoi---"
"Geisha," sela Bunda. Geisha lekas merapatkan bibir, memandang ke arah lain asal tak sampai bersibobrok dengan bola mata Mami. Ia malas.
Rayna menggeleng ke arah Mami, seraya mengode kalau ia mau di sini saja, mendengarkan perbincangan yang sedang serius. Selama melangkah ke arah sofa, kedua mata Rayna dan Dipta kembali bertemu. Inginnya, Rayna bertanya, apakah benar kalau mantan suaminya itu sedang terkena maag, mengapa terlihat ringkih sekali, tetapi wanita itu urung. Sudah bukan kapasitasnya lagi untuk perhatian. Berbeda dengan Dipta yang merasa ingin sekali ditanya. Dan hanya mampu menelan rasa pahit karena Rayna tidak menunjukan tanda-tanda perduli.
Dua keluarga sudah kembali duduk berhadapan di sofa. Pun Rayna yang memilih turun dari ranjang, meninggalkan Dara yang semakin pulas, menghempaskan bokong di antara Mami dan Papi.
"Kalau dari Ayah dan Bunda. Kami nggak setuju kalau Dara harus dibawa ke London. Kan masih bisa di Jakarta. Kakakmu kan punya kenalan Dokter spesialis kanker," tutur Ayah kepada Dipta.
"Heh, Gifa! Kamu tuh enggak usah sok-sok doktrinin anak kamu. Emang nya yang berhak atas Dara cuman, Dipta doang? Anakku juga punya hak!"
"Tapi, Mih. Rayna memang lebih setuju sama ucapan, Ayah----" belum selesai berbicara, Rayna lekas menundukkan kepala memainkan jemari di atas pangkuan, karena disambut tatapan horor dari Mami. Tangan wanita berhijab panjang itu sampai mencubit Rayna dan menimbulkan desisan sakit.
Rayna mengusap lengan yang terasa panas, anak yang selalu menuruti apa kata orang tua itu, memandang sendu sang Mami.
"Yang Dara butuhkan bukan hanya obat, Mih. Tapi juga, bonding antara aku dan Rayna. Walau Dara sakit, tapi sebisa mungkin dia harus happy dan ceria. Penyemangat sembuhnya memang hanya dari kami berdua. Dara juga harus tetap sekolah, bertemu teman-teman sembari melakukan rangkaian pengobatan," jelas Dipta.
Mami memasang wajah kecut saat mendengarnya. Papi terlihat memilin-milin kening karena ucapan Dipta ada benarnya. "Kalau ia di jauhkan. Diasingkan ke tempat lain. Dara akan merasa penyakitnya terlalu serius dan susah untuk di obati. Dipta yakin, Dara pasti sembuh. Sebagai Ayahnya, Dipta akan melakukan apa saja." Hanya Geisha yang getir menatap wajah Dipta, karena sesungguhnya hanya ia yang tahu apa yang tengah Dipta rasa sekarang.
"Ya, aku juga. Sebagai Ibunya, aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhan, Dara." Rayna juga unjuk gigi.
Ayah menatap Rayna. "Gimana, Nak? Setuju dengan ucapan, Dipta?"
"Setuju, Yah. Biar Dara di Jakarta aja. Mengikuti kemo di sini."
Ayah, Bunda, Dipta dan Geisha tersenyum suka. "Gimana, Mas? Nes?" Ayah menatap Mami dan Papi.
Akhirnya Papi meletakan tangan di atas pangkal bahu Rayna, tersenyum setuju. Berbeda dengan Mami yang memilih bungkam dengan raut masam. Wanita ini kesal karena Dipta seakan menang. Harapannya ingin menjauhkan Dara dari keluarga Hadnan terasa gagal. Mami yang dulu amat sayang kepada Dipta seakan tak ada lagi. Sejak pengkhianatan yang Dipta beri mampu membuat sinar sayang di mata Mami kepada Dipta, terkelupas, beralih menjadi benci. Dipta pun menerima dan mewajari.
🌾🌾🌾🌾🌾
"Assalammualaikum, Jeng."
"Waalaikumsallam, Dip. Kamu nggak usah ke tempatku, ya. Aku aja yang ke sana sekalian mau jenguk anakmu, boleh kan?"
Dipta yang tengah memperhatikan Dara tengah bermain bersama Noora, menoleh ke arah Bunda dan Ayah yang bersiap mau pulang ke rumah. Di kamar perawatan hanya ada mereka saja, karena Rayna izin pulang dulu untuk berganti pakaian ke rumah sekaligus membawa Mami dan Papi untuk berbaring sejenak. Niatnya sejak tadi, Dipta ingin menelepon Ajeng kalau dirinya akan menjeda pertemuan di hari ini, karena kamar kosong tak ada yang menjaga Dara.
"Boleh, Jeng. Maaf kalau merepotkan."
"Nggak sama sekali kok, Dip. Setengah jam lagi aku on the way, ya."
"Siap, Jeng. Hati-hati, ya."
Sambungan telepon pun terputus. "Siapa, Nak?" tanya Bunda.
"Teman ku, Bun. Mau nengok, Dara."
Bunda hanya ber oh saja seperti Ayah. "Kakek sama Nenek pulang dulu, ya, Nak. Besok kita ke sini lagi," ujar Ayah kepada Dara, mencium anak itu yang mana sudah wangi karena sebelum Rayna pergi pulang. Dara terbangun dan meminta dimandikan sang Ibu.
"Iya, Kek." Dara lekas mencium pipi Ayah saat lelaki beruban itu menyodorkan pipi kanannya meminta di kecup. Pun kepada Bunda, Dara melakukan hal yang sama.
"Kalau butuh sesuatu, tinggal telepon, ya," ucap Bunda kepada Dipta yang wajahnya masih saja memucat. Sesekali ia meringis sakit namun di tahan. Ginjalnya seraya kembali berulah.
Dipta mengangguk dengan senyuman sayang, mengecup kening Bunda. "Makasih, ya, Bun."
__ADS_1
"Sama-sama, Nak. Kamu jangan stres, ya. Serahin aja semuanya sama, Allah." seakan Bunda tahu kalau sakit maag yang Dipta ucap bermuasal dari penyakit Dara.
"Iya, sayang." mengecup lagi sang Bunda.
"Adek di sini aja boleh, nggak? Aku sepi enggak ada teman main," pinta Dara.
"Iyah akuh di cinih ajah cama, Kakak." Noora ikut memohon. Noora sampai membawa tiga boneka dari rumah untuk bermain dengan sang Kakak.
"Tapi, jangan nakal, ya. Kalau Kakaknya lagi tidur jangan di ganggu, ngerti?" tanya Ayah kepada Noora yang disambut senyuman oleh anak itu.
"Semalam juga nangis nggak lelap tidur. Karena kamu sama Dara nggak ada, Nak," ucap Bunda.
"Ya udah enggak apa-apa. Biar Noora di sini aja, Bun, Yah. Biar Dara cepat sehat karena ada adiknya."
🌾🌾🌾🌾
Ajeng mematung lama saat menangkap wajah Dara yang terasa tidak asing. "Aku kok kayak pernah bertemu sebelumnya dengan anak ini, tapi, di mana, ya?" foto yang pernah Adjie pasang di status WA yaitu gambar Rayna dan Dara seakan tak mampu menembus ingatan Ajeng.
"Jeng ...." lamunan itu terlonjak saat Dipta menyodorkan air mineral dalam kemasan botol yang ia sajikan di atas meja untuk Ajeng. Sesampai nya di kamar ini, Ajeng beramah tamah dengan Dara yang mana anak itu tidak menyambutnya halus. Dara seraya peka kalau lawan jenis yang seakan dekat dengan kedua orang tuanya, harus segera ia basmi.
Ajeng yang sudah di persilahkan duduk di sofa, ketika ingin meraih botol minuman itu, tangannya terasa licin dan botol minuman itu pun terjatuh, menggelinding di lantai. Baik Dipta maupun Ajeng lekas membungkuk untuk memungut dan tanpa sengaja kepala mereka berbenturan.
"Maaf, ya. Sakit enggak?" tanya Dipta.
Ajeng tersenyum dengan gelengan kepala.
"Kok Tante senyum-senyum ke, Ayah?" Dari ranjang, Dara seakan menginterupsi gerakan mata Ajeng yang memang tidak bisa ditutup-tutupi. Ketampanan Dipta yang tak berubah sejak dulu malah semakin menjadi-jadi sekarang, terlampau membuat riuh di dada Ajeng terus bergelora.
Ajeng gelagapan seribu bahas manakala Dara berbicara dengan nada ketus, seiring menatapnya penuh keberatan. Pun Dipta yang seakan malu dengan sikap Dara kepada Ajeng, yang begitu tak halus. Sikap juteknya Dara kepada Ajeng sama pula kepada Adjie.
"Dara ... Putrinya, Ayah. Masa ngomongnya begitu sih, Nak. Nggak sopan dong."
"Tante pulang, aja, ya." Malah mengusir Ajeng, tidak sedikit pun membalas kelembutan yang Dipta beri.
"Dara ...."
Ajeng lekas menyergah, dengan tangan memegang bahu Dipta. "Aku tunggu di ruangan, Geisha, ya."
"Jangan sentuh, Ayah!" Dara sampai membanting boneka milik Noora ke lantai, membuat sang adik ikut terpelongo.
"Dara!"
"Udah enggak apa-apa, Dip."
"Maaf, ya, Jeng."
Ajeng mengangguk paham, terlihat sekali kalau aura cemburu membakar Dara. Ajeng tetap melangkah ke arah Dara dan Noora.
"Tante pulang, ya, Nak. Dara cepat sehat."
"Jangan Ke sini lagi, ya." sembari menurunkan tangan Ajeng yang baru beberapa detik tiba di puncak kepalanya untuk mengusap. Tak ada senyum yang Dara beri. Hal itu membuat Dipta menghela napas berat dan menggeleng samar. Pun, Ajeng yang tertohok bukan main.
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Sabar, ya, Nak💕
Eleodra❣️
__ADS_1