Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Jangan Salah Paham.


__ADS_3

"Nggak capek?" Dipta seraya menggoda, menyengir kuda ke arah Rayna yang memilih memalingkan wajah ke arah berlawanan dari ranjang. "Ayo, tidur. Sudah jam dua nih," timpal Dipta yang bola matanya sudah terasa sepat ingin merapat.


"Aku pengin kamu pulang, Mas!"


Dipta menggeleng, meletakan kembali kepalanya dalam satu bantal dengan Dara. Memeluk putriya. "Duh enak banget pelukan sama anak," menyinyir.


Rayna mendengus malas sembari menguap panjang. Ia juga mengantuk dan berkali-kali kedapatan Dipta ingin merajut mimpi. Tapi, ego Rayna seakan melebar tiada henti. Ia cemburu jika Dipta lebih jago mengambil hati Dara.


Rayna terus memaksa Dipta agar segera pulang dan membiarkan ia yang memeluk Dara.


"Enggak usah gitu wajahnya. Kalau mau peluk Dara. Ayo ke sini naik." Dipta tertawa lagi, semakin merapatkan pelukan, menekan Dara ke dalam dada atletisnya. Dada bidang yang tidak pernah lolos Rayna peluk sebelum mentalnya terganggu akan kehilangan Elea. Pun perkara perceraian mereka.


"Aku menyesal."


Dipta mengerjap, mengangkat lagi kepalanya, menyorot Rayna yang masih duduk tegap si sofa dengan lampu kamar yang masih menyinar terang.


"Kenapa?"


"Harusnya aku nggak izinin Dara untuk menginap di rumahmu."


"Lho, kenapa? Dara juga putriku. Emang nya bisa kamu mengandung dia tanpa jerih payahku? Kita bisa saja menjadi musuh, menjadi orang lain. Tapi, untuk urusan anak. Kamu nggak bisa main hakim sendiri. Aku juga ada andil. Harusnya kamu berterimakasih, Ay. Di saat kamu sedang berbunga-bunga dengan lelaki lain. Ada aku yang mengetahui keadaan penyakit anak kita. Coba aja kalau enggak---"


"Ya, makasih." bersedekap tangan, Rayna menyela dengan nada tak rela.


Dipta tetap tersenyum. "Kembali." selama mereka menikah jika tengah berada dalam perdebatan kecil. Dipta tidak akan terlalu menanggapi. Lelaki itu akan berguyon, sebisa mungkin mengambil hati Rayna agar tidak lama-lama merajuk.


"Pulang lah, Mas. Besok kan bisa ke sini lagi." baru saja ingin memejam mata, Dipta kembali mengangkat kepala.

__ADS_1


"Kamu mau pulang?" tersenyum jahil.


"KAMU!" Rayna menyentak lagi. Urat-urat di sekitar permukaan pelipis terlihat menyembul. Dipta akhirnya bangkit dari baring dan duduk menyila, menatap Rayna.


"Kamu terlalu berubah, Ay. Rasa benci kamu ke aku terlalu memonopoli logika. Anak kita nih lagi sakit. Sekarang sedang istirahat, bisa nggak sih kamu untuk memakai nalar sedikit aja? Nggak baik buat batinnya kalau terus lihat kita bertengkar. Dara ingin di urus kita berdua. Berikan rasa kompak walau hanya di depannya saja."


"Aku juga tau, Mas. Aku punya otak dan pikiran. Aku juga nggak mungkin mau gitu aja rusak istirahat anakku dengan perdebatan seperti ini. Tapi, kamu coba dong untuk ngalah. Kita ini bukan mahram, Mas. Masa iya jagain anak berduaan!"


"Kita memang bukan mahram, Ay. Dan aku paham. Aku tau batasan. Kamu enggak perlu takut. Kamu enggak perlu ajarin aku. Aku juga nggak ngapa-ngapain kamu. Aku di sini pure hanya untuk, Dara, anakku," balas Dipta tegas. "Untuk malam ini aja aku menginap, sudah terlanjur mau subuh," timpalnya lagi untuk menyelesaikan perdebatan.


Rayna malas menjawab, dengan dada berderap masih terselimuti kesal, ia hanya mampu membuang napas pelan.


"Kamu mau tidur di sini? Atau di sofa?" Dipta kembali menghempaskan tanya. Beberapa menit menunggu jawaban, merasa tak di idahkan, Dipta kembali merebah, memeluk Dara. Bodo amat pikirnya.


Tidak ada yang bisa Rayna lakukan selain menerima kalau mereka sekamar malam ini untuk menemani Dara. Janjinya kepada Adjie pun tak terpaut. Mau apa di kata? Keadaan seraya lebih berpihak kepada Dipta.


Rayna beralih menatap Dipta dan Dara di ranjang yang saling melemparkan dengkuran halus. Pemandangan yang pernah ia rindukan di awal-awal mereka bercerai.


🌾🌾🌾🌾


Karena baru terlelap menjelang pagi, mantan pasutri itu jadi melewati waktu subuh untuk shalat dan mengaji. Rayna akhirnya tertidur di sofa. Dan Dipta tetap bersama Dara di ranjang pasien.


Sudah pukul tujuh pagi, derap sepatu para Perawat yang beberapa kali datang untuk mengecek cairan infus atau menyuntikan obat anti nyeri ke dalam pembuluh darah Dara tak membuat mereka bangun. Pun dengan Dara. Pelukan sang Ayah yang amat menghangatkan membuat ia temaran dan terus ingin mendekap lama lelaki itu. Padahal ia sudah terbangun, tapi pura-pura masih ingin tertidur. Anak ini senyum-senyum sendiri, begitu senang. Karena di kamar ini, ia seraya berkumpul dengan kedua orang tuanya. Benar-benar rindu yang terasa terobati.


Saat mengelus-elus pipi Pradipta, buru-buru Dara merapatkan mata karena ia merasa Rayna bergerak bangun dari sofa.


"Subhanallah, jam tujuh!" tersentak saat bola mata menilik jam di dinding. Rasa kantuk menguar paksa. Iris mata lekas terlihat segar. Dan mulut kembali menganga ketika sebuah sweater tipis memeluk dadanya. Refleks, sweater itu Rayna banting ke lantai seraya cicak yang nangkring di dada membuat ia merasa jijik.

__ADS_1


"Hhh ...." meluapkan napas dari hidung dengan dengusan memburu kuat. Ia hapal sekali sweater berwarna hitam pekat polos yang entah sejak kapan melekat di tubuhnya adalah kepunyaan Dipta.


"Apa sih maksudnya?!" mendelik tajam, menoleh ke arah Dipta yang sebenarnya tidak tahu menahu.


"Sok-sok mau cari perhatianku! Enggak akan mempan, ya, Mas!" terus berdecak. Pagi-pagi ia kembali dilanda kesal. Memilih bangkit berdiri dari sofa lekas memungut sweater yang sudah ia lempar. Saat ingin melemparkan sweater itu ke tubuh Dipta dengan eraman sebal, mendadak ia termenung. Seakan dewi dalam diri, mencegah.


Rayna menarik napas panjang ke dalam dada lekas ia keluarkan untuk melegakan. "Demi Dara, aku harus tenang. Kalau sekarang aku maki-maki Ayahnya. Dara pasti usir aku lagi dari sini. Dan semakin enggak mau di sentuh." mencoba meredam amarah demi Anak semata wayang yang tengah berjuang melawan penyakit.


Rayna melangkah pelan, mendekati pembaringan. Ia lebih dulu menghampiri tubuh Dara yang masih terasa hangat, membungkukkan tubuh untuk mengecup pipi anak tersebut.


"Cepat sehat lagi, ya, Nak." Dara yang aktingnya hebat sekali, mampu berpura-pura tidur padahal jantungnya tengah bergoyang hebat karena ia tahu Ibu nya sangat marah saat tahu sweater sang Ayah mendarat di tubuh wanita itu.


Rayna kembali menegapkan tubuh setelah puas memberikan kecupan banyak di pipi, kening, mata dan bibir Dara. Kemudian beralih menatap Dipta yang masih pulas.


Saat Rayna ingin meletakan sweater itu di sandaran kursi. Tangan dengan hati seakan berkhianat. Ia malah ingin merebahkan sweater itu di tubuh Dipta yang mana kedua tangan lelaki itu tengah menyilang di dada serasa kedinginan.


Dara yang berusaha menyipitkan kelopak, mampu melihat apa yang Ibunya akan lakukan. Terkekeh dalam hati, merasa bahagia. Tidak sia-sia dirinya bersusah payah untuk turun dari ranjang hanya ingin sekedar memasang sweater milik Dipta untuk mendarat di tubuh sang Ibu.


"Rayna ...." baik yang memanggil atau yang di panggil sama-sama tersentak. Rayna lekas menarik tangan saat sweater sudah berpindah di tubuh Dipta. Jantung bertalu-talu seiring lidah yang terasa sulit bergerak untuk membalas seruan.


"Mas ... Mami ... Papi." tiga pasang mata menatapnya penuh menuntut. Terutama Adjie yang terlihat kecewa. Pun kedua orang tua Rayna yang sudah tiba di Jakarta sejak subuh dan lekas di jemput Adjie di bandara.


Buru-buru Rayna memutar langkah, mendekati calon suami dan kedua orang tuanya.


"Kamu bohong sama aku?" Adjie tak tahan untuk melupakan rasa sebalnya. Juga dengan perhatian Rayna kepada Dipta perkara sweater.


"Jangan salah paham, Mas. Aku bisa jelasin."

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Like-komennya, ya, guysssss❤️


__ADS_2