
"Lagi dong, Nak. Masa dikit banget. Kata Dokter kan kamu harus banyak makan," ujar Rayna yang terus memaksa Dara agar mau membuka mulut menghabiskan makanan yang Rayna masak sendiri.
Dara menggeleng, menutup mulut. "Kenyang, Bu. Nanti lagi deh makannya." walau Minggu lalu Dara selesai menjalani operasi, menerima sumsum tulang belakang dari sang Ayah yang amat cocok untuknya, anak itu masih terlihat lemas dan lemah karena masih dalam masa pemulihan.
Pun, Dipta yang beberapa hari ini terlihat pucat dan sesekali meringis memegang perut tanpa mau berkata jujur kepada Rayna. Geisha ingin sekali mengadu kepada Ayah, Bunda dan Rayna tentang keadaan Dipta yang selama ini sakit, tapi Dipta selalu mencegah. Ia berkata dirinya akan baik-baik saja. Recovery setelah operasi memang membutuhkan proses.
Dari balik kesenduan, menatap ingin di perhatikan layaknya Dara, Noora mendorong piring di hadapannya untuk menjauh, membuat Rayna menoleh ke samping.
"Kenapa nggak di habisin?" tanya Rayna dengan tatapan horor. Pun, Dara yang ikut menoleh. Jarak duduk dengan Adiknya tersekat dengan Rayna.
"Edes, Bu."
"Ini tuh nggak pakai cabai! Habisin!" sentak Rayna.
Noora menggeleng. "Tapih inih edes banet, Bu." anak batita itu sampai menjulurkan lidah, memaksa Rayna percaya kalau lidahnya seperti ingin terbakar.
"Mungkin ada cabai yang masuk, Bu," ujar Dara yang mengulurkan tangan untuk meraih piring Noora, ingin menilik.
Rayna sergah tangan Dara. Memilih meraih piring itu dengan raut kesal. "Kamu tuh jangan banyak drama kayak Mama kamu, ya! Ini tuh cuman ayam goreng, nasi, sama sayur! Pedasnya di mana??" memasukan sendok berisi daging ayam ke dalam mulut Noora kasar. "Kunyah dan telan!" diiringi dengan pelototan mata.
"Ibu jangan gitu dong. Kasian adek, Bu." Dara tidak tega karena Noora mulai menggenangkan air mata. Tetap melahap makanan itu walau perutnya sudah tak ingin.
"Udah nggak urusin dia. Ayo kamu makan, Dara! Ibu udah bela-belain nikah lagi sama, Ayahmu. Sekarang, kamu juga harus nurut apa kata, Ibu!" lama-kelamaan Rayna tak sadar sudah menjadi Ibu sambung yang kasar. Semua itu memang terbentuk dari denialnya yang seakan tak pernah bisa berdamai dengan dendam masa lalu.
"Udah, ya, Bu. Edes." mohon Noora, ia sampai meng hah kan napas.
Rayna menggeleng. "Habisin! Kalau makanan ini nggak habis. Kamu tidur di halaman!" Noora terpaksa kembali mengunyah sodoran sayur sawi yang memang irisan cabai merahnya tergigit.
"Udah dong, Bu! Kasian, Adek!" Dara marah, ia mundurkan kursi dan bangkit. Menghampiri Noora dan menengadahkan kedua tangan di hadapan wajah Noora. "Ayo muntahin, Dek."
Rayna menepuk telapak tangan Dara yang terbuka sampai Dara meringis sakit. Noora tetap menghabiskan kunyahan nya karena ia takut jika memuntahkan makanan tersebut.
"Jangan coba-coba cari perhatian anakku, ya!" Rayna menoyor kening Noora sampai kepala anak itu terdorong pelan ke belakang.
"IBU!" Dara lekas pasang badan, ia peluk Adiknya, melindungi Noora yang akhirnya menangis menyerukan Dipta yang sudah berangkat berkerja. "Ayah ... hiks."
"Enggak usah nangis!" Rayna menghempaskan cubitan kasar di paha Noora.
"Ibu, ih!" Dara ikut geram, ia berbalik memukul tangan Rayna agar berhenti menyakiti.
"Oh, jadi kamu lebih pilih dia, Dara? Dia itu bukan Adik kamu. Kelak kalau sudah besar, dia bisa jadi musuh kamu. Merebut hati Ayahmu. Seperti yang dulu Mamanya lakukan pada, Ibu!"
"Enggak, Bu. Adek nggak akan kayak gitu. Adek Noora baik. Aku sayang banget sama dia," ujar Dara, membela habis-habisan Adiknya. Baik Dara dan Noora mempunyai rahang yang sama, persis seperti Dipta. Jika orang lain melihat, tidak akan ada yang menyangka kalau mereka saudara lain Ibu.
Noora terseguk-seguk di dalam dada Dara, jari tangannya yang terlihat montok, meremat kain baju Dara kuat-kuat seakan meminta perlindungan. "Cup ... cup, sayang-sayang. Maafin Ibu, ya, Dek." mengelus-elus punggung Noora yang tubuhnya bergetar.
Rayna yang selama menikah dengan Dipta selalu saja emosi setiap hari, darah tingginya sering kumat. Hampir setiap hari obat hipertensi ia minum. Masalahnya selalu saja sama, hanya tentang Noora.
Rayna yang ikut kesal dengan sikap Dara, memilih bangkit dari kursi meninggalkan meja makan, tepatnya Dara yang sedang berusaha menenangkan Noora. Saat Rayna ingin masuk ke dalam kamar, ponsel di celananya bergetar. Alis nya bertaut mana kala ada nomor yang tak dikenal menghubungi dirinya.
"Assalammualaikum, hallo?"
"Waalaikumsallam, Ay. Apa kabar?"
Telapak kaki seakan memanas sampai ke ujung kepala. Lelaki yang meninggalkannya begitu saja di meja akad, kembali menghubunginya dengan salam renyah tanpa bersalah.
"Mau apa kamu?" Rayna balas dengan geraman.
"Bisa kita bertemu? Aku mau bahas masalah yang dulu. Alhamdulillah, Bunda, udah setujuin kita."
Hampir dua bulan, lost kontak, walau di hatinya masih terpatri Adjie, tapi saat suara halus lelaki itu kembali didengar, ada perasaan yang mengganjal, Rayna membenci.
"Aku bukan sampah yang sudah kamu lempar ke jurang. Lalu kamu pungut dengan begitu mudah, Mas!"
"Makanya kita ketemu dulu. Biar aku bisa jelasin. Bunda juga mau ketemu kamu, Ay. Kita bisa nikah sesuai rencana kita."
Rayna meneteskan air mata, rasa sakit kepada Adjie seolah muncul lagi. "Maaf, ya, Mas. Tapi, untuk sekarang, esok dan selamanya. Rencana mu itu sudah tidak akan pernah berlaku lagi. Karena aku sudah menikah, kembali rujuk dengan Ayahnya, Dara!" lekas menurunkan ponsel dari telinga, mematikan sambungan telepon dan memblokir nomor Adjie yang baru.
__ADS_1
"Kenapa, Bu?" Rayna tak menghiraukan seruan Dara yang terlihat cemas karena melihat Ibunya mulai terseguk, Rayna memilih masuk ke kamar dan mengunci diri.
Di seberang sana, telinga Adjie rasanya ingin putus tidak percaya.
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Kamu kenapa? Kok matamu bengkak?" tanya Dipta yang baru saja pulang kerja lekas menghampiri istrinya yang masih berada di dapur bersama Art, tengah memasak menu untuk makan malam.
Rayna hanya menggeleng saja, malas menjawab, tengah menyuwir-nyuwir daging ayam.
"Ada apa?" Dipta memaksa, menggandeng Rayna untuk keluar dari dapur. Tapi, sebelum langkah itu benar-benar bergerak, Rayna putuskan gandengan itu dengan decakan kesal.
"Apa sih, Mas? Masakan ku belum kelar!" ingin kembali memutar arah, tapi, Dipta cekal.
"Ada bibik yang bisa kerjain. Ngapain kamu?"
"Aku pusing kalau diam! Pengin masak!"
"Ada apa? Kenapa nangis? Anak-anak bikin kamu bete?" cecar Dipta yang dasi dan jasnya masih terpasang baik.
"Bisa nggak sih pulangin Noora ke rumah, Bunda? Aku tuh stres lihat dia di sini!"
"Astaghfirullah, Ay. Emangnya anakku ngapain?"
"Aku benci lihat dia, Mas. Dia tuh pintar drama! Pintar akting, persis kayak, Emaknya!."
"Pintar drama gimana maksudnya? Bisa kamu jelasin?"
"Tanya aja sendiri sama anak kamu! Kalau sampai besok pagi, dia, nggak kamu pulangin ke rumah Bunda. Aku yang akan pergi dari sini!" hari ini memang terasa cukup pelik untuk Rayna. Sudah masalah tadi pagi dengan Noora ditambah masalah perihal Adjinomotor yang tiba-tiba muncul layaknya bangkit dari kubur.
Dipta hanya mengangguk, agar Rayna merasa puas. Dan setelahnya, Dipta tidak akan menuruti. Ancaman itu sudah Rayna berikan berkali-kali kepada Dipta jika tengah kesal.
"Aku minta maaf, ya. Noora kan masih kecil. Jadi maafin aja kalau sikapnya agak susah dikontrol----"
"Ck!" Rayna sela dengan decakan malas. "Udah sana mandi! Piyama mu sudah aku siapkan." titah Rayna menyuruh Dipta pergi dari hadapan. Dipta hanya bisa menghela napas dan tetap tersenyum karena dibalik marah istrinya, wanita itu tetap memasak dan memperhatikan dirinya.
๐พ๐พ๐พ๐พ
Setelah mandi, menunggu waktu Magrib dua jam lagi. Dipta bercengkrama hangat dengan kedua buah hatinya di sofa ruang keluarga, yang mana saat ia melangkah ke kamar setelah pulang bekerja, Dipta terpelongo kaget karena kedua anaknya itu belum mandi. Gegas Dipta mandikan mereka berdua tanpa menunggu Rayna. Saat berjongkok, membasuh sabun di tubuh Noora, Dipta meringis sakit lama memegang perut. Tapi, hal itu tidak lama terjadi. Seakan kilat sekilas, sakit menghilang. Dipta tampak biasa lagi.
"Ayah beneran perutnya nggak sakit lagi?" tanya Dara sembari mengusap perut Dipta. Ia pun ikut memandikan Adiknya.
Dipta menggeleng. "Udah enggak, Nak. Sekarang baik-baik aja."
"Kok bisa cepat gitu sembuhnya?"
"Ayah juga nggak ngerti."
"Tapi, wajah Ayah kayaknya pucat."
Dipta tersenyum suka, senang karena diperhatikan. Mengecup kepala botak Dara. "Lagi capek aja, Nak. Tadi di kantor kerjaannya, Ayah, banyak."
"Jangan capek-capek dong, Yah. Nanti kalau Ayah sakit, gimana?" Dipta terdiam, menatap sendu Dara dan beralih ke arah Noora yang sibuk bermain boneka memunggungi, di sebelahnya. Teringat saat meeting tadi siang di kantor, lelaki itu jatuh terduduk, karena tubuh terasa lemas, pusing dan perut begitu linu. Ia takut, resiko yang Dokter ucapkan mampu menjadi kenyataan.
"Nggak apa-apa capek, yang penting, Ibu, Dara dan Adek bisa terus makan." di detik kemudian, Dipta meringis lagi, memegang perut bagian kiri.
"Ibu, Ayah---" bibir Dara lekas dibekap. Rayna yang langsung menoleh dari kaca dapur, tidak penuh mendengar, memberi kode dengan gerakan mulut. "Apa?" katanya.
Dipta menggeleng dan Rayna berbalik meracik bumbu.
"Prank!" Dipta berseloroh palsu kepada Dara. Padahal ia memang tengah menahan sakit di bagian perut.
"Ih, Ayah. Apa itu, Prank."
Dipta tertawa. "Mau ngerjain, Dara, aja. Abis serius banget mukanya." saat Dipta ingin bangkit dari sofa menuju kamar di mana ia ingin meraih tas kerjanya untuk merogoh pil obat, Noora seraya menyergah.
"Ayah ...."
__ADS_1
"Iya, Nak?" rasa perih di perut seolah terus menjalar. Dipta tak jadi bangkit.
"Gundulin lambut akuh dong kayak, Kakak." suara itu cukup nyaring. Rayna yang tengah menumis bumbu kuning untuk bubur Dara di dapur, tersentak kaget dengan kening mengkerut-kerut seperti kulit mengkudu saat Noora meminta hal itu kepada Pradipta.
"Kok di botakin, kenapa, sayang?" bukan Dipta yang menjawab, melainkan Dara yang menyela dengan nada suara halus. "Rambut kamu kan bagus masa mau di gundul kayak, Kakak." Dara mengusap lembut rambut Noora yang panjang selengan.
Noora, si anak baik, menggeleng. "Gundul ajah bial kayak Ayah dan Kakak."
Dipta menarik napas berat, memilih menatap ke depan, tepat ke arah Rayna yang tengah menoleh dan bersibobrok mata dengannya. Seakan Dipta tahu, Noora meminta seperti itu hanya ingin mendapat belas kasih dari Rayna agar delikan mata tajam yang sering Rayna beri kepada Noora, tidak lagi terjadi.
Dari kejauhan, Rayna mendengkus sinis. "Sok cari perhatian! Persis kayak, Mamanya!"
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Beneran, Ibu nggak ngapa-ngapain, Adek, Nak?" tanya Dipta mengulang dua kali kepada Dara. Melihat sikap Rayna yang amat acuh melebihi biasanya kepada Noora. Dan Noora yang sejak melahap makanan di meja makan memilih menunduk takut membuat Dipta bertanya-tanya. Ia tidak mungkin secara gamblang mencecar Rayna, maka ia memilih untuk bertanya kepada Dara.
"Enggak kok, Yah. Ibu nggak ngapa-ngapain, Adek ... iya, kan, Dek?" paksa Dara agar Noora ikut berbohong. Dara hanya tidak mau, Ayah dan Ibunya kembali bertengkar.
"Beneran, Dek?" kini Dipta berbalik kepada Noora.
"Iya, Ayah." anak baik itu mengangguk. Melihat Dara dan Noora yang terlihat sedikit gugup, membuat Dipta belum bisa bernapas lega. Ia yakin, ada yang terjadi dengan istrinya serta kedua anak ini.
Sedang mengintrogasi Dara dan Noora di kamar Noora tanpa Rayna, ponsel Dipta bergetar di atas nakas. Saat ia tilik nama Nancy yang tertera di layar, Dipta gegas turun dari ranjang, melangkah ke luar kamar.
"Siapa, Yah?" tanya Dara.
"Teman, Ayah. Sebentar, ya, Nak."
Dipta menjauh sampai ke ujung dapur, untuk mengangkat telepon dari Nancy yang sejak siang terus memberondongnya ingin bertemu dengan Noora.
"Aku nggak akan ganggu kamu, Mas. Aku janji. Aku cuman pengin ketemu, anakku." Nancy datang ke rumah Bunda dan kaget saat diberitahu, kalau Dipta kembali rujuk dengan Rayna dan menempati rumah baru. Tapi, Bunda tidak memberikan alamat rumah baru karena takut dimarahi Dipta.
"Untuk apa sih mau ketemu? Noora juga nggak pernah cari kamu kok, Nan!"
"Loh, Mas. Aku kan Ibunya. Yang mengandung dan melahirkan dia. Masa, aku nggak boleh ketemu. Udah mau sebulan kamu bawa dia pergi tanpa izinku!"
Dipta terbahak lucu. "Izin? Untuk apa? Kamu kan nggak pernah menganggap dia ada, Nancy! Kamu tuh lucu tau nggak kayak, Iblis!"
"Tolong dong, Mas! Atau aku akan pakai cara hukum. Noora itu masih anak-anak. Di dalam aturan hukum, anak di bawah umur itu harus berada dalam dekapan Ibunya! Jadi hati-hati, ya, kamu, sengaja ngejauhin aku kayak gini!"
Dipta menggeleng kesal, seakan ingin merauk wajah Nancy sampai habis. Wanita keparat ini lah sumber pemicu masalah. Untung saja sekarang, Rayna sudah kembali ia rengkuh.
"Ya udah kalau gitu. Kita janjian di luar aja."
"Besok, ya, Mas?"
"Iya, besok."
"Beneran, Mas?"
"Nanti aku beritahu di mana nya." menutup sepihak, karena Dipta malas berlama-lama berucap kata di sambungan telepon dengan wanita itu.
"Mau janjian sama siapa?" gegas menoleh, mendapati istrinya yang mendadak hadir di belakang tengkuknya.
"Sejak kapan kamu di sini, Ay?" tanya Dipta gugup.
"Siapa? Wanita?" tidak menjawab, hanya meneruskan terkaan. Jakun Dipta terlihat bergerak saat menelan air liur yang tiba-tiba menggunung, jatuh jauh ke dasar kerongkongan.
"Nancy?" asal menebak.
"Ya." Dipta mengangguk jujur.
Saat Dipta memilih jalan jujur, Rayna mengeraskan rahang, mendelik jijik. "Harusnya aku memang nggak masuk lagi kedalam hidup kamu, ya, Mas! Semua luka itu jadi menganga lagi! Aku capek! Capek!" Rayna memukul-mukul dada kesal, meluapkan emosi. Bagaimana pun, selama masih ada Noora. Nancy dan Dipta pasti akan berhubungan.
"Kamu salah paham, Sayang." Dipta mencoba memeluk Rayna yang terus memberontak tidak terima.
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
__ADS_1
Like dan Komennya dongsssโค๏ธ