
Rayna kembali mendung, menatap putri semata wayang nya yang benar-benar sakit dan mengeluarkan banyak darah. Walau ia sudah berada di rumah sakit untuk mendengarkan pemaparan mengenai sakit sang anak dari Geisha dan hasil pemeriksaan lab, Rayna selalu menekankan walau semua ini hanyalah mimpi di siang bolong.
Nyatanya, semua itu benar-benar ada. Eleodra Mikayla Hadnan tetap pengidap leukimia All dengan standar risk. Anak itu tumbang sampai lama untuk sadarkan diri.
Rayna menangis terseguk-seguk, suaranya melengking, hampir saja pingsan dan Bunda menenangkannya dengan dekapan. Pun Adjie yang tidak mau jauh-jauh dari Rayna. Pradipta yang juga sama, tetap berusaha berdiri kokoh di samping ranjang Dara saat anak itu sudah ditancap dengan infus di tangannya. Geisha meminta Dipta untuk mengiyakan kalau Dara harus di rawat dulu sementara agar di observasi lebih intens. Pun dengan antibiotik yang harus masuk lewat darah secara langsung. Geisha juga menyatakan bahwa nanti ada visite khusus dari Dokter onkologi, sahabatnya, untuk memeriksa Dara.
Tanpa meminta persetujuan dari Rayna terlebih dulu, Dipta sudah duluan menandatangani surat persetujuan tindakan medik, karena Rayna masih sulit di ajak bicara, kembali terguncang.
"Kakah tenapa cih, Om?" tanya Noora yang sudah berhenti memangis, tengah di gendong Bisma, ikut takut seperti para sepupunya yang merinding ngeri saat Dara dikelilingi Dokter dan Perawat.
"Kakak sakit, Nak. Doain, ya." Bisma kecup ubun-ubun Noora yang mana saat Noora masih bayi, Bisma tidak mau mendekatinya. Ia bilang Noora adalah anak haram, anak hasil zinah, hasil hubungan gelap dari perbuatan yang menjijikan. Tapi, perlahan-lahan saat Ayah Gifa menasehatinya, bahwa Noora tetap suci, tetap mengandung darah mereka dan meminta agar Dipta bisa dimaafkan, Bisma pun mulai koyak. Noora memang tidak bersalah, sudah kehendak Allah agar anak itu lahir di dunia walau dengan cara yang salah.
"Antibiotik sedang bekerja, efeknya memang bikin ngantuk. Jadi biarin aja dulu Dara tidur, Dek," ucap Geisha, yang berdiri di sisi ranjang kiri, berhadapan dengan Dipta.
"Baik, Kak. Makasih banyak."
"Tenang, ya. Kamu nya jangan panik. Jangan kelihatan sedih di depan dia." Geisha mengulurkan tangan ke depan, menarik Dipta untuk ia peluk, tepat di atas tubuh Dara. "Jangan nangis, kamu laki-laki. Cukup Rayna yang terpukul. Kamu nya harus kuat. Hanya kamu yang bisa menenangkan Rayna dan Dara. Dara butuh perhatian yang ekstra dari kalian. Rukun dan saling kerja sama."
Dalam dekapan itu, Dipta mengangguk sambil memejam mata. "Apa aku bisa sekuat itu, Kak?"
"Orang tua yang anaknya sakit melebihi, Dara, masih banyak, Dek. Kalau Allah udah pilih kamu, berarti kamu yang kuat. Ingat dulu bagaimana perjuanganku untuk menyembuhkan, Mas Genta. Penuh luka, hancur dan sakit. Tapi, aku tetap bertahan. Karena aku yakin, hanya aku yang mampu. Dan lihat kan sekarang?"
Dipta mengangguk. "Kakak udah bahagia."
Geisha mengangguk sembari mengurai dekapan, sebelum mengangkat langkah, ia tinggalkan kecupan di kening Dara untuk tanda pamit.
"Kayaknya yang di sini cukup Dipta aja sama Rayna. Biar nanti kalau Dara bangun, yang ia lihat hanya orang tuanya yang lengkap tanpa isak sedih dari kita. Biar nggak bising juga karena banyak orang. Nanti bisa gantian untuk jenguk. Sekarang biarkan Dara tenang untuk istirahat," ucap Geisha kepada keluarganya. Terutama kepada Adjie, yang rasanya Geisha malas sekali untuk melihat lelaki itu.
Ayah, Bunda, Bisma, Genta dan para keponakan menganggukkan kepala.
"Anda juga." Geisha kembali membuka suara menatap Adjie yang seakan membatu, ingin tetap di sini. "Kita harus jaga emosional nya, Dara." timpalnya lagi.
Adjie menghela napas pelan berbalut kecewa. "Baik."
__ADS_1
"Aku tunggu di luar, ya. Kalau ada apa-apa tinggal panggil aku," titah Adjie lembut sekali sembari mengecup kepala Rayna yang mengangguk lemah sedang menyeka air mata sudah duduk tegap, terlepas dari dekapan Bunda.
Dipta yang melihat sekilas adegan itu, lekas beralih tatapan kembali menilik Dara. Merebah kepala di sebelah sisi Dara, mengelus-ngelus pipi sang anak. Betul kata Geisha, ia harus kuat. Kuat saat disakiti dengan dua keadaan. Keadaan akan sakitnya Dara. Dan keadaan Rayna yang mendapatkan buaian kasih penuh cinta dari Adjie. Walau ia tahu, semua luka yang ia terima belum ada apa-apanya saat dulu Rayna terluka akan ulahnya dengan Nancy.
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Mas ...." Dipta yang ketiduran, mengerjap mata saat Rayna terpaksa menggoyangkan bahunya karena mantan suami nya ini saat di panggil tidak bangun-bangun.
"Tidur aja di sofa, Mas. Biar aku yang di sini, gantian jaga." Rayna menunjuk sofa besar.
"Jangan, biar kamu aja yang di sana."
"Udah enggak apa-apa, ayo!" Rayna memaksa agar Dipta mau pindah. Dari raut lelaki itu memang terlihat masih saja mengantuk. "Kalau Dara udah bangun, tolong bangunin aku."
"Iya, Mas." Rayna mulai duduk di kursi bekas Dipta. Menggenggam tangan Dara kuat-kuat untuk ia cium.
Dipta mulai berselonjor di sofa, berbaring terlentang tapi tidak bisa lagi menutup mata. Netra nya sejurus menatap lampu kamar yang amat terang menyorot ruangan.
"Rayna ...."
Dipta bangkit dari baring. Mulai duduk, menatap Rayna di sisi pembaringan yang masih menatap Dara.
"Dara butuh kita."
Akhirnya Rayna benar-benar menoleh. "Ya, kita akan selalu ada buat, Dara."
"Apa kamu benar-benar mencintai, Adjie?"
"Lho?" bola mata Rayna membulat saat konteks percakapan seraya berpindah haluan. "Kok malah itu yang dibahas?"
"Ya, aku hanya ingin tahu. Apa kamu benar-benar sudah ...."
"Sudah apa?" terasa lama meneruskan kata, Rayna yang tak sabar jadi mencecar. Dipta bangkit berdiri, melangkah mendekati Rayna agar tatapan mereka bisa bersibobrok amat dekat.
__ADS_1
"Sudah benar-benar melupakan aku?" seakan kata ikhlas yang terus ia kumandangkan dalam hati kepada Allah, mental semua. Dipta cemburu, tidak bisa menahan. Ia benci saat Adjie mencium kepala wanita ini.
Rayna tertawa. "Kamu tuh kenapa, Mas? Ngelindur? Udah sana terusin tidur." mengarah lagi ke arah sofa.
"Aku serius, Ay. Nggak ngelindur." ketegasan dari netra gelap Dipta membuat tawa Rayna lekas berhambur.
"Masih perlu aku jawab? Di saat beberapa bulan lagi aku akan menikah dengan lelaki itu?"
"Ya." Dipta tetap menantang.
Rayna menarik napas, menghembuskan pelan dan beralih menatap ke depan, ke kain hordeng jendela yang tertutup rapat.
Rayna mengangguk. "Kamu sudah lama tidak ada di hatiku, Mas. Aku sudah menggantinya dengan sosok lain. Yang lebih baik darimu."
"Bisa tatap mataku?" Dipta tetap berusaha tenang walau dadanya seakan dihujam ribuan pisau.
Rayna hening, tidak cepat menuruti.
"Bisa?" Dipta mengulang.
"Kamu nggak perlu cari-cari kebenaran itu dari mata aku, Mas!" tetap menatap ke depan, nada Rayna terdengar agak tinggi.
"Aku hanya ingin memastikan, bahwa Ibunya Dara memang akan menikah dengan hati yang penuh. Bukan karena ingin lari dari masa lalu."
Jantung Rayna berdentam kuat. Ia pun tidak tahu dirinya benarkah sudah cinta, atau memang memilih Adjie karena memang hanya lelaki itu yang baik dan tengah dekat lama, selama ini. Rayna sudah terbiasa dengan perhatian dari Adjie. Tingkah laku Adjie yang seolah membuat ia seperti ratu, mampu membuat mekar hatinya. Tapi, cinta kepada Dipta memang sudah tidak ada.
Rayna beranikan diri untuk menghunus manik gelap mantan suaminya, tegas.
"Ya, Mas. Aku sangat mencintai---"
"Ayah?" tersela dengan Dara yang ingin mengerjap mata, tapi seolah sudah bangun dari tadi.
"Ibu masih sayang kan sama, Ayah?" Dara fokus menatap Rayna seperti halnya Dipta. Anak itu sampai mengulur tangan dengan ringisan lemah akan jarum infus yang terasa, menggenggam tangan Ibunya. "Bisa nggak balik lagi sama, Ayah, Bu? Jangan nikah sama om itu."
__ADS_1
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ