Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Yang Sempat Hilang.


__ADS_3

Rintik gerimis di blok pemakaman, membuat nisan bertinta emas yang tengah Dara tatap basah perlahan. Bibir nya mencebik sedih, meremat tanah kuburan yang sebagian sudah tetutup rerumputan hijau. Lama-kelamaan Dara pun menangis, terseguk-seguk. Noora yang berdiri dibelakang tubuh Dara, memeluk leher sang Kakak, ikut menangis menatap nisan.


"Ayo kita pulang, Nak. Sudah gelap," ajak Rayna sembari menatap ke arah langit yang sudah tertutup akan awan tebal yang legam, siap memuncarkan air dingin lebih deras lagi.


"Dua menit lagi, ya, Bu. Aku masih kangen." meringis tipis, karena angin yang berhembus kencang mampu mengusik permukaan kulit wajahnya.


Rayna mengangguk. "Ibu tunggu di mobil, ya."


"Hem." kebetulan makam ini, berada pada blok depan hampir mendekati parkiran mobil pengunjung makam.


"Sekarang ada anak baru. Dia duduk di kursi kamu. Tapi, anaknya nyebelin. Hampir setiap hari godain aku, buat aku marah. Aku kesal pengin pukul dia." Dara terus bercerita dan Noora mendengarkan, tetap menemani walau gerimis benar-benar berubah menjadi bulir hujan yang deras.


"Ujann, Kak."


"Iya, sayang." Dara pun bangkit dari jongkok, mengusap nisan dan menciumnya.


"Datang lagi ke mimpi, ya. Tapi, ngomong jangan diam aja." Dara seka air mata lekas tersenyum ke depan nisan, ia memejam mata sebentar untuk membacakan doa sekali lagi. Lekas mengerjap dan menatap ke arah nabastala yang sudah benar-benar menggelap.


"Jaga, Adam, Ya Allah." detik kemudian Dara berlari menggandeng Noora yang mana kerudung mereka sudah mulai basah sampai ke bagian dada baju, menuju halaman parkir.


Ananda Adam Al Gifari tutup usia dua bulan lalu karena tak mampu bertahan dengan penyakit leukimia nya. Dan di saat-saat ia akan menutup mata, selalu ada Dara menemaninya. Setiap pulang sekolah, Dara meminta sopir untuk mengantarnya ke Rumah Sakit, ikut Bunda Adam, merawat Adam.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Di detik-detik Dipta tak sadarkan diri alias jatuh koma. Rayna memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya kepada Dipta agar lelaki itu mempunyai harapan hidup lebih panjang lagi. Rayna ikhlas hidup dengan satu ginjal, yang penting Dara, Noora dan juga dirinya tidak kehilangan lelaki itu. Dengan pengorbanan yang Dipta beri untuk Dara. Maka, ia pun berani berkorban untuk Dipta. Pasangan suami istri yang sama-sama hanya mempunyai satu ginjal itu, tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, tidak boleh capek, harus banyak istirahat, memperhatikan pola makanan dan kebutuhan lainnya.


"Makasih, ya, Bu. Udah mau nolongin, Ayah."


"Yang nolongin, Ayah itu, Allah. Ibu hanya sebagai perantara."


"Aku janji akan menjadi anak yang solehah untuk Allah, Ibu dan Ayah, dan Adek."


"Serta bermanfaat untuk orang banyak."


"Aamiin."


Masa-masa sulit untuk Dara saat itu seakan terlewati. Lima bulan hanya mampu meratap kesedihan dari sakit sang Ayah walau tubuhnya sudah kembali sehat. Malah, ia sempat berdoa. Agar dirinya saja kembali sakit, yang penting Dipta tidak meradang seperti ini.


Cinta di hati Dipta kepada Rayna kian bertambah karena kelapangan wanita itu untuknya. Awalnya masih terpaksa ingin kembali rujuk hanya karena Dara, menekan masa lalu untuk dilupakan sebagai kenangan bukan dendam, walau rasanya amat sulit. Mengurus Dipta yang sakit parah sampai membuang kotoran di ranjang, dan terakhir ia gadaikan dirinya, ia berikan ginjalnya untuk lelaki yang mulai beberapa bulan ini, ia cintai lagi.


"Namanya siapa, Yah?" tanya Dara ikut mengelus bayi yang hampir berusia empat bulan dalam gendongan Dipta.


"Ayah nggak tau, Nak. Nanti, coba kita tanya, Ibu."


"Adek, jangan dicolok-colok terus matanya," ujar Dara kepada Noora yang terlihat gemas kepada bayi laki-laki tampan berambut lebat, dari bagian hidung mirip seperti dirinya.


Dipta tertawa. "Dicium aja, Nak. Kasian kan Adek."


Dengan kerudung kecil yang membuat poni nya keluar, anak itu tersenyum jahil. Akhirnya ia mencium, tapi, tetap saja gerakannya tak santai. Bayi itu jadinya menangis.


"Adek, ih!" Dara menarik Noora agar menjauh, yang masih saja tertawa tanpa rasa bersalah. Buru-buru Dipta memasukan botol susu ke mulut sang bayi agar dia diam tidak menangis.


"Nanti Adek ini mau di bawa ke rumah, Yah?"


Dipta mengangguk. "Nggak apa-apa, ya? Kakak setuju kan?"


Berhari-hari Rayna shalat istikharah, meminta kepada Allah apakah keputusannya untuk merawat anak dari yang Nancy lahirkan adalah keputusan benar sampai wanita itu sembuh.


Rasa sakit akan perbuatan Nancy seakan memudar seiring berjalannya waktu, apalagi Allah banyak mengabulkan doa-doa Rayna, mengembalikan kebahagiaan dengan keutuhan keluarganya tanpa penyakit lagi seperti dulu. Maka, Rayna putuskan untuk berproses memaafkan Nancy yang semenjak melahirkan sudah berada di Rumah Sakit Jiwa. Noora yang saat ia culik dalam kondisi hamil besar, berhasil di amankan pihak berwajib tapi dengan kondisi Nancy yang tertekan akan mental.


"Kalau Ibu dan Ayah senang akan kehadiran, Adek, ini. Aku juga ikut senang."


"Ya, akuh tuga." Noora ikut menimpali. Dipta tertawa mendengar kepolosan dengan nada cadel yang Noora beri. Bayi itu mempunyai darah yang sama dengan Noora, karena mereka seibu.

__ADS_1


"Anakmu, Kakak, rawat dulu, Nancy. Jika kamu urus di sini, kasihan dengan perkembangannya." Nancy yang sejak di ajak bicara hanya diam mematung, duduk dengan posisi memeluk kaki di bingkai jendela, mulai menoleh. Rayna yang takut-takut untuk mendekati Nancy, hanya mampu duduk di tepi ranjang.


"Aku lapar. Kamu bawa makanan, nggak?" seakan tak sadar kalau yang sekarang ia tatap adalah wanita yang pernah sengaja ia hancurkan kebahagiaannya.


Rayna mengangguk, melambaikan tangan walau buncah takut masih membuih di dada, takut-takut Nancy mencekik lehernya seperti kepada Perawat. Hanya saja sesakit-sakitnya wanita itu, ia mengerti cara menyusui bayi laki-laki yang baru ia lahirkan itu.


Nancy bangkit dari kursi dan menghampiri Rayna. "Sini ... duduk." Rayna menepuk sisi kosong di sebelahnya, akhirnya Nancy duduk bersisihan dengan Rayna di bibir ranjang, langsung menyerobot kue yang bungkusannya belum sepenuhnya Rayna buka.


Rayna menyisir rambut Nancy yang berantakan dengan buku-buku jarinya, merangkul hangat wanita yang pernah menyakitinya tanpa perasaan. "Mau nih, enak ...." pujinya.


Rayna menggeleng, mendorong kembali makanan yang tersodor ke bibirnya. "Kamu aja yang makan."


Nancy tersenyum senang, menikmati kue itu sampai tiga bungkus. Saat pertama kali di pertemukan Noora, Nancy pun hanya menangis, tapi tak mampu berucap apa-apa. Ia tak sadar, ia tak juga ingat, tapi batinnya bergelora. Noora yang awalnya takut melihat perawakan Nancy yang menyeramkan, akhirnya mau mencium Nancy.


Rayna hanya kasihan jika anak yang dilahirkan Nancy harus di bawa ke London, diberikan kepada Paman dan Bibik nya yang mulai renta ingin istirahat di hari tua.


"Hey, mau kemana?" Nancy menyergah Rayna yang ingin bangkit dari duduknya. "Tunggu dulu sebentar. Aku akan kembali."


"Hem." Nancy mengangguk-angguk percaya, terus saja melahap makanan.


"Kita mau langsung pulang?" tanya Dipta kepada Rayna dari bangku tunggu saat istrinya itu keluar dari kamar Nancy.


Rayna menggeleng. "Sebentar lagi, Mas. Sini ... berikan padaku." Rayna meminta Dipta untuk memberikan bayi lelaki yang sepertinya sudah kekenyangan menyusu ingin tidur.


"Adek juga ikut, Ibu," pinta Rayna kepada Noora.


"Kakak enggak, Bu?" tanya Dara, menawarkan dirinya.


"Kakak di sini saja sama, Ayah."


"Baik." Dara menurut, melepas kepergian Rayna dengan Noora dan Adiknya untuk kembali di pertemukan dengan Nancy sebelum mereka benar-benar pulang ke rumah.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Sekali-sekali kek jangan bawa binik sama anak. Kita kan kongkow nya nggak tenang, Dip," seloroh Bagus. Pun Andi yang ikut terbahak sembari menyesap rokok.


"Ajak binik sama anak jalan-jalan itu pahalanya gede, coy. Lo belum tau aja berkahnya."


Bagus dan Andi adalah teman sekampus yang sekarang merupakan teman kolega. Kebetulan saat Dipta mengajak Anak dan istrinya untuk liburan di hotel di luar kota, kedua temannya itu juga sedang berada menginap di hotel yang sama, bedanya mereka bekerja, bukan untuk liburan.


Setiap di kesempatan apapun, baik sedang berkumpul di manapun, berbincang soal pekerjaan, Rayna pasti akan Dipta bawa. Kasarnya, wanita itu terus mengintili suaminya kemanapun Dipta pergi, apalagi jika ke luar kota, Rayna pasti akan ikut. Anak-anak dititipi di rumah Bunda tak masalah, yang penting ia selalu mengekor kemanapun suaminya pergi.


"Alah, bilang aja lo takut bini. Suami-suami takut istri, bener, nggak, Gus?" kekeh Andi kepada Bagus dan temannya itu membenarkan dengan anggukan kepala.


"Di kintilin binik terus, apa nggak jenga, lo, Dip? Cuci mata lah sekali-kali." penggoda dalam rumah tangga itu memang bukan hanya dari para pelakor atau pebinor, bahkan selorohan teman pun bisa menjadi penghantar kehancuran. Pintar-pintar lah memilih sahabat.


"Di luaran mungkin ada yang lebih sempurna dari binik, gue. Lebih cantik, lebih segala-galanya. Tapi, yang ngebedain. Rahmat dari Allah nya, keberkahannya, ketenangan batin karena gue bisa nerima apa adanya gimana binik, gue. Ya kalian tau lah ujian apa yang beberapa tahun kemarin gue jalani, padahal semua itu bukan mau gue. Gue yang nggak sengaja buat hatinya hancur aja. Gue tetap hancur sampai mau mati. Gimana kalau beneran gue sengaja mau main serong, selingkuh mata? Ngebayangin balasan dari Allah nya, gue nggak sanggup, bray. Lo aja deh pada." Dipta menyengir kuda. "Mau dia kintilin gue kapanpun, di manapun. In Syaa Allah, gue siap. Gue terima aja."


Dan tetap saja, ketika kedua sahabatnya itu sudah mengena dengan nasihat, manik mata mereka tetap membola saat ada gadis cantik dengan bodi bak biola, payudaraa yang menggantung macam buah mangga mahoni uang mengkal.


"Slrrp." Dipta mengusap wajah mereka berdua dengan telapak tangan agar mampu menundukkan pandangan.


"Insap, dong. Kiamat udah dekat. Kalau udah jadi suami harus bisa jaga pandangan."


"Iyah, Pak Haji," balas Bagus.


"Duh, yang bawah jadi geter-geter nih." Andi berseloroh.


"Telepon binik lo, suruh nyusul!" Dipta menimpuk Andi dengan tissue yang ia kepal berbentuk bulatan.


Dari Jabir Bin Abdillah Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallalahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wanita itu, ketika dilihat seperti setan (punya kekuatan menggoda). Karena itu, jika ada lelaki melihat wanita yang membuatnya terpikat, hendaknya dia segera mendatangi istrinya. Karena apa yang ada pada istrinya juga ada pada wanita itu."


(HR. Turmudzi 1158, Ibnu Habban 5572, Ad-Darimi dalam sunan nya 2661. Sanad hadis ini dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth)

__ADS_1


Maka dari itu jika lelaki tengah merengek meminta kebutuhannya kepada Istri di saat waktu yang terasa mendadak, maka, berilah. Penuhi haknya, karena jarang sekali lelaki yang berkata jujur jika ia tengah bernapsu hanya karena tergoda dengan perhiasan wanita. Maka dari itu mengapa wanita harus menjaga aurat, agar bisa menjaga dirinya dan menjaga syahwat-syahwat dari berbagai pria.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Ada yang di uji dengan susah ketemu jodoh, setelah berjodoh ada yang di uji dengan susah dapat momongan, setelah punya momongan ada yang diuji seret rezeki, setelah lancar rezeki, ada yang diuji dengan penyakit dan kehilangan orang tersayang.


"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak di uji? (QS. Al-Ankabut ayat 2)


Selama urat nadi manusia masih bergerak, maka ujian dari Nya, tidak akan berhenti. Maka, apa yang harus kita lakukan untuk bisa menghadapinya? Pintalah kemudahan dalam menjalaninya dengan SHALAT.


Mendengar deru mesin mobil suaminya mendarat di halaman, membuat Rayna yang hampir saja nyenyak karena meninabobokan anak Nancy yang kini sudah berusia satu tahun yang Rayna panggil dengan nama Noah, lekas loncat dari ranjang. Menatap ke cermin, menyisir kembali rambutnya, menyemprotkan farfum ke sisi tubuhnya yang sudah memakai piyama tipis. Dua hari ini, Dipta pulang larut karena ada cabang perusahaan yang akan ia bangun. Rayna tidak curiga, karena ada Ayah yang menemani Dipta dalam bisnis tersebut beberapa hari ini. Jika tidak, Rayna pasti akan ikut.


"Assalammualaikum ....." kelamaan menatap diri di cermin apakah tatanan di wajahnya sudah mampu menggoda, ia jadi keduluan dengan Dipta yang sudah sampai di kamar.


"Waalaikumsallam, Mas." Rayna menghampiri, mencium punggung tangan Dipta hormat. Meraih tas kerja dan melepas jas dari tubuh suaminya.


"Maa Syaa Allah cantiknya," puji Dipta setelah mencium kening Rayna, menilik penampilan malam yang Rayna beri. Rayna hanya tersenyum malu, berjinjit sedikit untuk melepas kaitan dasi di kerah Dipta.


"Anak-anak, gimana seharian ini, bikin kamu capek, nggak?" hal pertama yang akan Dipta tanyakan sesampainya di rumah, yaitu mengenai suasana hati istrinya selama seharian mengurus anak.


"Alhamdulillah, hari ini, anak-anak anteng, Mas. Enggak kayak kemarin." kemarin, Noora menangis karena buku gambarnya di robek Noah. Untung saja ada Dara, Kakak super yang mereka miliki mampu menjadi penengah.


"Alhamdulillah ...." Dipta melangkah ke ranjang, ingin mencium Noah, batita laki-laki yang semakin hari semakin tampan, saat Rayna pergi ke meja untuk meletakan tas kerja Dipta dan jas nya ke dalam ember kotor.


"Kamu mau makan dulu, mau mandi dulu, atau mau aku dulu, Mas?" Rayna tersenyum genit membuat Dipta yang sejak siang mengirim pesan rindu ingin menyatu, terkekeh.


"Mandi dulu, tapi, sama kamu ... boleh?"


Rayna mengangguk, gegas melangkah panjang ke pembaringan, menarik Dipta untuk di bawa ke kamar mandi. Keduanya terbahak di kamar mandi sampai suara hening tercipta berganti dengan erangan syahdu.


Sedang menikmati, romansa cinta yang mereka tengah lakukan yang berlanjut dari kamar mandi dan sekarang di sofa dengan lampu di gelapkan agar Noah tidak melihat, Rayna menyela pergerakan maju mundur Dipta di atas tubuhnya.


"Pelan-pelan, ya, Mas." Rayna mengusap perut.


"Kenapa, memang nya? Perutmu sakit?" Dipta jadi cemas, ikut menilik perut istrinya.


Rayna tersenyum, menggeleng. "Semoga yang lahir nanti jagoan, ya, Mas. Bisa jadi temannya, Noah."


"Maa Syaa Allah, kamu hamil, Ay? Beneran?"


"Iya, Mas. Benar. Tadi siang aku baru testpack, garis dua nya pekat banget."


"Ya Allah, Maa Syaa Allah. Kenapa enggak cerita dari siang? Kan kita bisa langsung ke Dokter."


"Mau kasih surprise."


Dipta tetap cemberut tipis. "Kan kalau kamu ngomong, aku bakal hati-hati, enggak macam---"


"Singa lapar?" Rayna menggoda dan Dipta meringis malu. "Habis kangen, kamu memang selalu menjadi candu untukku, Ay."


Rayna tertawa. "Gombal."


"Beneran dong, masa gombal." Dipta bahagia karena ia tak perlu susah-susah, bertaruh waktu lama untuk mengembalikan cinta istrinya yang sempat hilang.


Ada dua nasihat yang indah dari Allah untuk hambanya. Yang pertama, Allah tidak akan memberikan kesedihan pada hambanya, kecuali untuk membahagiakannya. Yang kedua, Allah tidak akan menguji hambanya, kecuali karena Allah mencintainya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพTAMAT๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Ya begitulah lika-liku kehidupan, guys. Ada titik di mana kita akan jatuh dan naik kembali sampai lupa akan rasa sakit di masa lalu. Selama, Allah tetap berada dalam hatimu, In Syaa Allah kita pasti akan aman, dan baik-baik saja, mampu melewati nya.


Mohon maaf apabila cerita ini terasa cepat sekali selesai atau setiap episodenya terasa kurang dan sedikit. Ya, di syukuri aja, ya. Mau banyak, mau dikit, intinya kan aku nulis untuk ngobatin rindu kalian yang mana aku udah vakumm lama di sini. Walau cerita ini tidak di konnnntrakk, aku tidakkkk mendapatkan apa-apa, rawan plagiatt, tapi, In Syaa Allah, aku happy, aku ikhlass buat kalian para pembaca yang masih setia. Komenan kalian udah cukup membayar rasa lelahku๐Ÿ’•.


Ambil hal positif nya, buang negatifnya dari cerita ini. Aku hanya manusia biasa yang mempunyai segunung kesalahan, yang mungkin tidak sengaja aku luapkan dalam tulisan cerita ini.

__ADS_1


Keluarga Rayna dan Dipta, mohon pamit.


Wassalammualaikum๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2