Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Yang Lebih Baik Dari Aku.


__ADS_3

Pada suatu hari kamu melihat uang lima puluh ribu rupiah di tepi jalan, lalu kamu melihat seekor ayam membuang kotorannya di atas uang tersebut.


Lantas, apakah kamu masih tertarik mengambil uang tersebut?


Kalau, masih ... kenapa? Apa yang membuatmu tertarik? Dengan nilai uangnya kah? Atau kotorannya?


Jawabannya, pasti uangnya. Karena uang nya masih bernilai, nilainya tidak berubah tetap lima puluh ribu.


Dan, Pradipta bagai uang tersebut yang ada di tepi jalan. Allah tidak tertarik pada kotoran yang ada padanya, dosanya dan segala bentuk pelanggaran yang sudah dibuatnya.


Allah tetap menginginkannya, karena nilai Dipta tidak berubah. Dipta tetap berharga di hadapannya. Allah kembali memungutnya setelah Dipta melakukan perbuatan hina-dina. Allah begitu baik, membersihkannya dengan sebuah hidayah. Sehingga Dipta tetap tumbuh menjadi sosok berguna setidaknya untuk kebahagiaan Rayna akan kesembuhan Dara.


Semua mulut menganga tak percaya. Baik, Bunda, Ayah, terutama Rayna dan Dara yang tidak pernah menyangka kalau selama ini Pradipta tengah mengidap sakit.


Lelaki itu sampai merelakan diri agar berada diujung maut demi anak tercinta. Dua ginjal Dipta sudah terlanjur parah, walau sudah lima bulan ini, Rayna selalu menemani Dipta untuk melakukan cuci darah. Namun, lelaki itu lambat laut semakin melemah, tidak menunjukan kesembuhan. Berbeda dengan Dara yang semakin hari semakin menunjukan perubahan, rambutnya mulai tumbuh, senyumnya terpampang sehat. Rautnya tak lagi pucat seperti anak penyakitan. Tidak ada bagian nyeri yang sering ia keluhkan. Dara kembali menjadi anak remaja yang bugar.


Puncaknya, Dipta tak mampu bangkit dari ranjang. Hanya merebah diri di pembaringan layaknya manusia setengah hidup yang hanya bisa tersokong dengan gerak tangan Rayna.


"Sayang ...." Rayna yang tengah menggosok paha kurus Dipta dengan handuk hangat, menoleh. "Iya, Mas?"


"Makasih, ya, kamu udah mau capek-capek urus aku yang udah mirip seperti mayat. In Syaa Allah pahalamu dari Allah sudah banyak." Dipta tersenyum dengan bibir keringnya. Menahan rasa sakit di perut dengan helaan napas panjang.


Rayna membalas dengan gelengan kepala tak suka. "Jangan ngomong gitu, Mas! Kamu masih ada harapan untuk sembuh. Lagian kamu nggak perlu bilang makasih. Aku kan istri, sudah kewajiban ku untuk mengurus kamu."


Selama Dipta sakit tidak mampu pergi bekerja, perusahaannya di ambil alih oleh Ayah Gifa. Rayna pure mengurus Dipta tanpa bantuan siapapun. Dibantu juga dengan Dara jika anak itu sudah pulang sekolah, sekedar menyuapi makan, menyiapkan obat. Pun dengan Noora. Anak yang tak lagi riang saat Ayahnya jatuh sakit, selalu menemani jika Dipta ingin melangkah tidur siang. Namun, beberapa hari ini, tidak lagi.


Masalah kembali datang menerpa di saat Dipta benar-benar tengah payah.


"Tolong cari, Adek, Ay." tangan Rayna yang tengah mengusap ujung kaki Dipta, terhenti. Ia menoleh lagi. "Iya, Mas. Kami semua sedang berusaha."


"Aku yakin, Adek, di culik, Nancy." sudah tujuh hari ini, Noora yang Rayna biarkan bermain di halaman depan dengan kelinci, menghilang tanpa jejak. Dari rekaman cctv pun tidak terlacak. Seakan adegan penculikan Noora sudah di atur. Rayna sampai memecat satpam yang bekerja karena dianggap lengah dan bersekongkol.


"Iya, Mas. Sabar, ya. Laporan ku kan sudah di proses polisi. In Syaa Allah anak kita ketemu." terkaan yang Dipta beri, memang sama seperti tuduhan Rayna, yang menculik Noora pasti Nancy.


"Cari dia sebelum aku pergi, Ay."


Rayna menggeleng lagi dengan raut dongkol. "Aku nggak mau urus kamu, kalau ucapan mu begitu terus, ya, Mas!"

__ADS_1


"Rasanya ... aku memang nggak lama."


"SEMBUH, MAS! KAMU PASTI SEMBUH! Kamu jangan pesimis sama keadaan dong!" beberapa hari ini, ucapan Dipta selalu melantur, membuat Rayna selalu ingin menangis.


"Aku kangen Adek, Ay. Aku takut dia kenapa-napa. Nancy pasti enggak akan bisa rawat dia seperti kita ... uhuk." memelas disertai batuk, kembali membahas Noora.


"Secepatnya, Adek, pasti kembali. Aku janji." Rayna tetap teguh memberikan penenangan.


"Sudah selama ini, Ay. Kasihan, Adek."


Rayna mengerti kegelisahan yang menggenang di hati Dipta. Hanya bisa berujar sabar, berusaha dan berdoa agar senyum Noora kembali nampak sebagai penyemangat sang Suami.


Rayna sudah memberi alarm, kalau ia sudah mau disentuh walau di hatinya belum benar-benar utuh mencintai Dipta seperti dulu, hanya ada rasa kasian, rasa balas budi akan Dara dan tugasnya sebagai istri. Tapi, dengan rasa sakit yang Dipta derita, membuat kejantanan lelaki itu seakan hilang. Miliknya tak lagi tegak atau mengeras. Dan selama lima bulan di pernikahan kedua ini, Rayna masih tersegel rapih.


"Adek pasti ketemu," balas Rayna, menepis keraguan Dipta. Ia mengecup kening suami yang kepalanya tidak lagi pelontos seperti dulu.


"Pakai baju dulu, ya." Dipta mengangguk.


Rayna lekas memakaikan baju di tubuh Dipta yang mana selama lima menit terpampang akan angin karena sehabis di basuh. Lelaki itu terlihat kedinginan sehingga Rayna memakaikan pula jaket dan mengecilkan suhu Ac.


"Aku ngantuk, Ay."


Dengkuran halus mulai terasa berseliweran di dada Rayna. Wanita itu tetap terjaga, sembari mengusap-usap rambut Dipta seakan tengah mencari ketombe. Sekilas ia tersenyum, mengingat Dipta begitu manja saat dirinya tengah hamil Elea.


"Dulu tuh kebalik. Harusnya aku yang manja. Malah kamu yang manja," terkekeh sendiri. "Kok jadi ingat-ingat yang dulu, ya?" rona senyum di wajah mulai tercetak.


Sedang senyum-senyum sendiri, ketukan pintu di kamar membuatnya menoleh. "Iya, masuk, Bi."


Bik Nah lekas masuk, membuka pintu. "Maaf, Bu. Ada Pak Polisi di ruang tamu, mau ketemu, Ibu." Rayna yang tampak antusias karena kedatangan Polisi pasti ada sangkut pautnya dengan masalah kehilangan Noora.


"Suruh tunggu dulu, ya, Bi. Jangan lupa buatin minuman."


"Baik, Bu." Bik Nah berlalu dan Rayna memilih menguar dekapan lembut selembut lembutnya agar Dipta tidak mengerjap. Lelaki itu dibaringkan tidur terlentang dengan kedua tangan di satukan di atas dada. Saat ingin turun dari ranjang, Rayna tatap lagi wajah Dipta. Tak biasanya ingin mengelus halus pipi dan mengecup bibir lelaki itu.


"Tinggal dulu, ya, Mas." berucap, setelah kecupan tanpa lumattan terlepas.


Satu jam kemudian, dengan langkah panjang setengah berlari, Rayna kembali ke kamar dengan raut ceria. Merangkak naik ke atas ranjang karena Polisi sudah mengincar tempat persembunyian Nancy di bagian selatan Indonesia.

__ADS_1


"Mas!" raut Rayna padam dari rasa girang, setelah berkali-kali menyerukan Dipta namun lelaki itu tidak memberikan respon. Rayna sampai menggoyang-goyangkan bahu Dipta, memaksa lelaki itu untuk terlonjak dari lelapnya tidur.


"Jangan coba-coba kerjain aku, ya, Mas!" Rayna menyekal kedua lengan Dipta, menatap tajam seakan kata pergi menghadap ilahi tidak berpigak pada suaminya sekarang.


"Massssssssss!!" Rayna berteriak histeris, saat tidak menemukan ritme nadi di pergelangan tangan dan leher Dipta. Dipta yang dada nya di hentak-hentak hanya diam membisu dengan raut senyum membingkai. Begitu tenang sampai tak terlihat membawa beban.


"Ada apa, Bu?" Bik Nah sampai datang ke kamar karena teriakan Rayna mampu menusuk gendang telinganya di dapur.


"Ayah, Bi. Ayah ...."


"Iya, Bu. Bapak, kenapa?" melihat Dipta yang diam terbujur di sentak-sentak Rayna agar bangun, Bibik mulai berderap nyeri di ulu hati.


"Bangun, Mas. Tolong, jangan tinggalin aku dan anak-anak!"


Bibik seraya mundur ke belakang, ingin limbung. Menggeleng samar dan berlari ke luar kamar untuk menelepon Bunda dan Ayah dengan jantung berpacu kuat.


"Beri Dara Ayah sambung yang baik, Ay. Kalau bisa melebihi aku."


Pesan yang Dipta beri kemarin malam sebelum mereka tertidur membuat Rayna tak berhenti berteriak meminta suaminya agar mau membuka mata. Rautnya memerah, dada nya mulai sesak.


"Bangun, Mas!" Rayna limbung di dada Dipta yang mulai terasa dingin.


🌾🌾🌾🌾


"HAH!" Dara meng hah kan napas dengan bola mata membeliak menatap dinding polos kamarnya, mendadak bangkit dari baringnya di ranjang, seakan tidur yang tak lama itu memunculkan mimpi yang terasa buruk, terus saja berputar-putar beberapa bulan ini.


Dara yang sehabis mandi akan pergi ke makam, begitu saja ketiduran masih bergelut dengan handuk.


"Ya Allah, belum siap dari tadi?" suara Rayna membuat Dara buru-buru bangkit dari ranjang menuju lemari untuk meraih baju.


"Maaf, Bu. Aku tadi nggak sengaja ketiduran." berjinjit, meraih gamis dan kerudung di laci lemari yang paling atas.


"Jangan lama dandannya, ya. Ibu tunggu di depan."


"Hem." Rayna berlalu setelah Dara mengiyakan.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Satu episode lagi, ya, kalau enggak nanti malam, kemungkinan besok pagi. Aku tunggu komennya yang banyak❤️


__ADS_2