Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Kenapa Nangis?


__ADS_3

...Walau masalahmu setinggi gunung...


...Walau bebanmu berat tak tertahan...


...Walau semua orang banyak meninggalkanmu...


...Tenang lah...


...Sabar lah...


...Ada Allah Maha Besar yang tidak akan pernah meninggalkan....


Setelah puas menangis, Bunda merebahkan kembali Elvala Arayna Gistara di pembaringan untuk bisa menenangkan diri sendiri. Berusaha mengambil napas panjang untuk berpikir jernih bahwa Dara tidak butuh air mata kesedihan darinya. Tapi, Dara butuh penanganan. Dara butuh semangat, penangan medis dan obat secepatnya.


Leukimia atau kanker sel darah putih adalah jenis kanker yang paling umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Sel-sel darah putih abnormal terbentuk di sumsum tulang, melebar melalui aliran darah dan mendesak sel-sel sehat. Hal ini meningkatkan resiko tubuh untuk terkena infeksi dan masalah lainnya.


Leukimia tidak melulu membawa pengidapnya ke ujung maut. Karena dari seratus persennya, sekitar delapan puluh persen bisa sembuh. Rayna yang mempunyai sifat amat sensitif, memandang masalah ini langsung ke akar-akar terburuknya. Seperti yang menggelut di pikirannya, Dara pasti akan meninggalkannya. Dan dirinya akan mati perlahan karena tidak bisa menerima.


Hiks hiks.


Rayna sudah bangkit dari baring untuk menuruni ranjang, tapi dalam posisi duduk berselonjor, ia kembali menangis menatap hamparan dinding bersih kamar. Terseguk lagi, akhirnya menenggelamkan kepala di atas kedua lutut, memeluk kedua kaki.


"Kenapa berat sekali menjadi orang tua, Ya Allah? Tidak kah ada ujian yang lain? Mengapa harus seperti ini? Rasanya berat sekali."


"Kata nasihat yang sering ku dengar, Engkau akan memberikan ujian kepada hamba mu yang benar-benar mampu. Apakah dalam posisi seperti ini, aku benar-benar mampu?" bermonolog sendiri, mengangkat wajah menatap langit-langit kamar dengan kelopak mata yang sudah membengkak, hidung dan pipi memerah, tubuh rasanya lemas sekali seperti habis dipukuli.


Saat ia menyendu dengan lamunan, berusaha berontak dengan keadaan, gawainya di dalam tas yang berada di atas nakas, berdering. Rayna tahu yang menghubunginya adalah Adjie. Dan ia masih malas untuk membicarakan masalah ini kepada lelaki itu yang mana pasti akan gegas melesat datang kemari untuk melihat keadaan Dara. Bukan tidak mau, tapi ia butuh waktu untuk menceritakan, juga kepada kedua orang tuanya yang pasti akan syok berat.


Rayna menyeka air mata, menyudahi lamunan yang tidak membuahkan hasil. Memakai lagi pasmina untuk menutup rambut hitam yang terurai panjang selengan. Menuruni ranjang setelah mengubah mode mute pada ponsel agar tidak berisik. Dara paling tidak suka jika Rayna dihubungi Adjie.

__ADS_1


Rayna melangkah pelan, meninggalkan kamar Bunda yang sudah ia pakai untuk berdiam selama kurang lebih dua jam.


Saat membuka pintu kamar, ia dengar Dara tengah bermain dengan Noora bersama mantan Ayah mertua yang baik nya selangit. Bisa Dara tilik, wajah Ayah memerah, matanya bengkak seperti habis menangis. Sepertinya, Bunda sudah memberitahu setelah Ayah sudah sampai dari kantor.


Selama Pradipta bercerai dengan Nancy di empat bulan usia pernikahan mereka, Pradipta kembali tinggal di rumah Ayah dan Bunda sekaligus mengurus Noora karena Nancy berkata tidak mau mengurus anak. Rumah mewah yang Pradipta belikan untuk Rayna saat menikah, ia tinggalkan untuk mantan istrinya tersebut dan Dara seorang.


Pradipta yang dikenal humoris, banyak bercanda mendadak pendiam setelah badai besar datang menggerogoti pernikahan nya dengan Rayna. Jika ada acara keluarga besar, biasanya ia tidak akan datang. Dirinya malu dan iri melihat keakraban saudara kembar, adik-adiknya maupun sepupu-sepupu yang begitu bahagia dengan pasangan serta anak. Bukan karena mereka semua tidak mempunyai masalah, tapi Dipta yang merasa mendadak insecure.


"Udah-udah nanti Kakak capek," ujar Ayah menyudahi Dara yang terus ingin bermain, mengejar-ngejar Mueza, kucing himalaya milik Noora.


"Enggak capek kok, Kek."


"Udah engos-engosan tuh." mengelap ingus yang sedikit keluar dari hidung Dara karena anak ini juga sedang dilanda flu. Dara yang merasa tubuhnya memang sedang tidak enak, seakan terus memaksa untuk bermain.


Padahal tubuh anak itu sudah dingin dan terlihat lelah. Dari arah lain, tampak Dipta datang dengan dua gelas susu untuk putri-putrinya agar berhenti bermain.


Namun, sebelum langkah Dipta sampai ke ruang keluarga, kedua kakinya statis saat menatap Rayna sudah keluar dari kamar. Tatapan mata mereka saling bersibobrok. Inginnya Pradipta menawarkan minuman apa yang ingin di nikmati Rayna. Tapi Rayna, lebih dulu memutus kontak mata. Meninggalkan suaminya itu dengan wajah datar, tanpa senyuman.


"IBU!" anak itu bersorak senang karena sedari tadi ia selalu di cekal untuk masuk ke dalam kamar, berhambur ke dada Rayna mengulurkan tangan ke leher seraya meminta di gendong. Ayah pun berbinar melihat lagi Rayna, keponakan yang kecilnya amat ia sayang-sayang.


Rayna sekuat tenaga menggendong Dara dan menciumnya banyak sekali. Air mata ingin turun lagi, tapi ia paksakan untuk kuat.


"Ibu udah enggak sakit kepalanya?" seraya memijat kedua dahi Ibunya. Bunda yang memberikan alasan itu agar Dara percaya. Dara anak baik, anak perhatian, anak cantik, anak cerdas, dan anak yang paling Allah sayang.


"Sedikit, Nak." padahal pusing sekali karena terus menangis.


Rayna menghampiri Ayah Gifali untuk mencium tangannya sebagai tanda hormat. Punggung tangan yang masih terlihat kekar sudah lama tak ia jamah untuk di kecup.


"Kamu kuat. Kamu bisa. Ada Allah Maha Penyembuh ...," ujar Ayah yang bola matanya kembali basah, melepas kaca mata dan menyeka air mata dengan lengan dalam.

__ADS_1


"Iya, Yah."


"Tangan Ayah, kenapa?" dari belakang punggung Rayna, Dara bersua saat ia di sodorkan segelas susu dengan punggung tangan Dipta yang memerah. Refleks, semua menoleh. Pun dengan Rayna.


"Tadi kena air panas." Dipta tidak fokus saat membuat susu. Pikirannya pun melayang-layang tak tentu arah memikirkan nasib Dara. Ia sudah kehilangan Rayna, kehilangan pernikahannya dan sekarang ia harus dihadapkan dengan masalah putri pertamanya.


Dara lekas turun dari gendongan Ibunya, untuk beralih mengusap-usap tangan Dipta dan meniup-niup sampai gelembung busa dari bibirnya keluar.


Pradipta tak mampu berpura-pura sok kuat. Ia tarik anak itu ke dalam dada, dan memejam mata. Noora pun ikut memeluk Dipta dari belakang. "Natah, Ayah?" tanya Noora.


Rayna yang sejak tadi masih setengah membungkuk di hadapan Ayah, lekas jatuh terduduk dan Bunda mendekapnya lagi karena Rayna kembali menangis terisak.


Suara gerung tangis mantan suami istri itu membuat Dara melekuk kan alis yang cukup tebal, menelisik ada apa dengan mereka?


"Ibu sama Ayah, kenapa, nangis?"


Pradipta diam saja, memeluk Dara yang masih berdiri dengan kalimat tanya yang terus ia asungkan. Dari balik punggung Dara, lelaki itu membuka mata, ia tatap Rayna yang kembali histeris dalam dekapan Bunda.


"Bisakah kita kembali bersama untuk mengurus, Dara, Ay?"


Keberanian yang entah datang dari mana bisa Dipta ucap di depan kedua orang tua serta putri-putrinya.


Rayna menoleh dengan raut keruh, memicing mata tajam saat Noora ikut memeluk Dipta dan Dara, lekas menyeringai tawa dengan sinis.


"Tidak akan, Mas! Kamu sudah lama aku anggap mati."


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Like dan Komennya, ya, guyss❤️

__ADS_1


Sabar, ya, Elvala Arayna Gistara❤️



__ADS_2