
"Ayah tau nggak tadi malam aku mimpi bertemu, Betrand."
Dipta yang sedang duduk di tepi ranjang tengah menyisir rambut Dara yang sudah selesai mandi dan wangi tengah duduk memunggunginya karena tengah menjahili Norra yang pagi-pagi menangis karena sudah di mandikan, tengah berbaring santai menyusu dengan botol, memendarkan mata seraya mengingat siapa Betrand yang di maksud.
"Ayah, nih, Kakah, natal!" Noora merengek karena Dara terus menggelitik telapak kakinya.
"Jangan, Nak. Nanti Adek nya nangis." sudah selesai menyisir, kini, beralih untuk mengepang. Walau Dipta laki-laki, ia amat jago untuk urusan memanjakan wanita. Bahkan dulu yang sering memotong rambut Rayna juga dirinya.
Dan saat Dipta sudah mengingat siapa Betrand, netra nya membola. "Memangnya kamu mimpiin dia, gimana?"
"Betrand pakai baju putih terus manggil-manggil aku ajak main ke dalam gerbang. Pas mau ikut, Ayah sama Ibu manggil juga. Bilang nggak boleh."
Lekas dada Dipta seakan membusung ke atas menahan riuh sesak. Betrand, teman sekolahnya yang sudah meninggal beberapa bulan lalu karena sakit demam berdarah.
"Aku kangen deh sama, Betrand. Pengin main sama dia lagi, Yah."
Dipta gegas menggeleng. "Makanya kalau tidur baca doa dulu."
"Tadi malam kan baca doa bareng, Adek," balasnya yang masih saja menjahili Noora. Tangan Dipta terhenti, ia termenung takut jika mimpi itu adalah petunjuk kalau Dara tidak akan lama bersama mereka.
Tadi malam, saat shalat Tahajud, ditemani Ayah dan Bunda. Pradipta menangis terseguk-seguk sampai ia tertidur di pangkuan Bunda. Sekali lagi ia meminta maaf atas perbuatan khilaf nya dan sekali lagi meminta ridho Ayah dan Bunda untuk menemani langkahnya mengobati Dara sampai sembuh.
"Dosa yang paling besar adalah dosa meninggalkan shalat dengan sengaja. In Syaa Allah, dosa mu yang dulu itu sudah Allah ampuni karena kamu sudah menyesali diei. Terus lah bertaubat, Allah pasti ampuni. Kita sebagai manusia, jangan dulu meminta Surga, tapi pinta lah keridhoan nya, rahmatnya karena jika Allah sudah mencintai kita, Surga pasti kita dapatkan. Dan berdoa meminta terus untuk dijaga kenikmatan dalam beribadah karena tidak semua hamba Allah, mendapatkannya. Jangan menyerah, Nak. Mungkin di luar sana yang seperti kamu dan Rayna itu, banyak," ujar Ayah membuat Dipta kembali semangat untuk menyudahi kesedihan atas Dara dan kepergian Rayna kepada pelukan Adjie.
"Assalammualaikum ...."
__ADS_1
Dara lekas menoleh, Noora pun sama dan Dipta yang tengah melamun, juga menoleh ke ambang pintu kamar.
"OM!" seru Dara senang sekali. Pun dengan Noora. Kedua anak ini lekas berlari dan menyerbu dada Bisma yang sedang memakai seragam TNI lengkap. Kebetulan tahun ini, dirinya sudah berdinas menjaga Negara di batalion Jakarta. Kembali kumpul bersama istri dan anaknya. Lelaki berpangkat perwira itu memilih datang pagi-pagi karena kemarin dikabarkan Bunda untuk datang menemui saudara kembarnya, guna memberikan semangat.
Eleodra mempunyai rambut hitam, lurus, lebat dan berponi yang sering diidolakan oleh Bisma dibanding para keponakan perempuan lainnya.
"Om mau kerja? Kok ke sini dulu?" Dara memainkan lencana dengan banyak warna yang berjejer di baju kedinasan saat Bisma menggendongnya untuk mengajak ke luar sembari menggandeng Noora. Dipta mengekor langkah Kakak kembarnya itu ke meja makan di mana di sana sudah ada Ayah dan Bunda.
"Kakak enggak dinas?" tanya Dipta sambil mencium tangan Bisma yang duduk di sebelah Ayah yang memangku Noora untuk di suapi makan.
"Aku dinas. Tapi, nanti siang."
"Sengaja pagi-pagi ke sini?" tanya Dara yang masih saja memainkan lencana di baju.
"Iya, Nak. Om sengaja ke sini buat nemenin Dara ke Rumah Sakit."
Apalagi, Bisma. Saat tahu Adiknya itu salah jalan. Sebelum tangan Ayah yang memukul Pradipta. Tangan kekar berotot milik Bisma dulu yang menghantam wajah Dipta. Bahkan saat Dipta menikahi Nancy hanya karena tanggung jawab. Bisma tidak datang. Ia dan Kania, istrinya, memilih mencari Rayna yang tengah terpuruk.
Selama tiga tahun ini, jika bertemu Dipta. Bisma tidak terlalu banyak bicara, karena kecewa dengan tingkah Dipta yang bodoh sekali. Padahal jika Bisma tengah shalat dan berdoa, ia terus mendoakan Dipta agar bisa bahagia. Karena ia tahu sang adik kembarnya itu tidak pernah tertawa sampai puas ketika dua wanita itu sudah meninggalkannya. Kini seakan Dipta kembali dicoba dengan penyakit Dara. Maka, Bisma ikut terguncang.
"Mau nemenin aku berobat pilek?" Bisma menghela napas berat, tersenyum tipis berbalut perih. Para keponakan selalu ia anggap seperti anak sendiri. Maka saat tahu Dara sakit, hati Bisma dan Geisha pun patah, sempat menitikan air mata, takut juga kehilangan.
Bisma mengecup kening Dara lama dan setelahnya mengangguk, mengelus rambut tebal Dara yang mungkin akan tipis dan kelamaan botak. "Biar nanti kalau Tante suntik kamu. Om sentil kupingnya." mencontohkan tindakan menyentil di udara.
Dara tertawa lekas mencebik. "Kok Ibas nggak ikut ke sini?"
__ADS_1
"Ibas nya lagi lomba dulu. Nanti kalau udah selesai, akan ke sini sama, Tante Kania."
Dara kembali tertawa senang. "Nanti di Rumah Sakit juga ada Bina, Gafa dan Gami. Mau nemenin Dara juga berobat," ujar Bunda.
"Wah yang bener, Nek?" Noora yang sudah belepotan makanan di bibirnya ikut mengangguk suka, karena akan bertemu anak-anak Geisha. Akan ramai lagi kalo anak-anak Ginka dan Ghea kumpul juga. Sayangnya mereka berada di luar kota, juga bermaksud akan pulang tidak lama lagi setelah ikut syok dengan berita sakitnya Dara.
"Kayak lagi lebaran, ya, semua nya pada kumpul." anak ini berguyon dengan gelak tawa besar sampai gigi geligi bersihnya terpampang lebar.
Ayah Gifali tersenyum melihat Dipta mendadak mengurus, yang sejak tadi tersenyum melihat Dara dan Bisma saling memeluk. "Ampuni Anakku, Ya Allah. Sembuhkan lah buah hatinya."
๐พ๐พ๐พ๐พ
Dua mobil mewah masuk ke dalam gerbang Rumah Sakit yang mempunyai lantai banyak bertuliskan RUMAH SAKIT IBU & ANAK GEISHA, secara beruntun. Rumah Sakit yang banyak peminatnya dengan pasien ribuan setiap hari. Pelayanannya baik, ramah dan cekatan, Dokter-dokternya kompeten dan yang paling utama, Biaya nya tidak mencekik leher. Bahkan untuk pelayanan Anak dan Bedah di setiap hari Jumat akan gratis khususnya untuk para Anak-anak yatim dan piatu. Rumah Sakit itu terbentuk akan bukti cinta Gentala kepada Geisha.
Bersamaan itu pula masuklah sebuah mobil hitam yang ikut terparkir di sebelah mobil yang Dipta tumpangi. Dipta yang sudah berdiri di luar mobil, menunggu Bunda dan yang lainnya turun dari mobil kedua. Tersenyum saat Rayna pun sudah tiba. Tadi pagi, Dipta menelepon Rayna dengan ponsel milik Dara untuk menawarkan apa mau di jemput ke rumah dan bersama-sama datang ke RS. Dan, Rayna menolak. Ia bisa datang sendiri.
Nyatanya Rayna tidak benar-benar datang sendiri. Ada Adjie yang menemaninya.
Senyum Dipta pun redup lagi, seraya matahari gegas menghilang berganti kabur hitam. Pun senyum keluarganya yang kaget saat Rayna datang bersama Adjie.
Bunda menarik napas, menahan sedih, meletakan telapak tangan di atas bahu Dipta seraya menguatkan.
Dipta tersenyum, menganggukkan kepala. "Biarkan dia bahagia, Bunda. Aku sudah ikhlas." walau Bunda dan Ayah tahu, Dipta berbohong.
"Kok saya yang pengin nangis jadinya!" Bisma berdecak dalam hati, ikatan batin saudara kembar seakan kuat, karena ia tahu, Dipta masih mencintai Rayna.
__ADS_1
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
Like dan Komennya dongg jangan lupa.