Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Kesepakatan.


__ADS_3

Dari Virginia Satir, terapis keluarga dari Amerika bahwa pelukan bisa menjauhkan suami istri dari ambang kehancuran rumah tangga. Peluklah pasangan maksimal dua puluh kali atau lebih. Dan menurut studi psikologis, setiap orang memerlukan empat kali pelukan setiap harinya untuk tetap hidup, delapan kali sehari untuk sehat, dan dua belas kali untuk awet muda serta bahagia.


Seakan penelitian di atas itu berhasil. Manakala Rayna mulai tenang akan pelukan yang Dipta beri walau awalnya di lawan dengan amat beringas macam serigala betina.


Rayna sudah lama tidak mendapatkan dekapan hangat dari lawan jenis setelah ia bercerai dengan Dipta. Pelukan itu masih terasa sama, tak ada yang berbeda. Begitu temaran, hanya saja Rayna baru merasa nyaman, belum mengena karena cinta.


Keduanya terduduk di lantai berbahan marmer dingin di dekat dapur. Dipta sekuat tenaga menenangkan Rayna yang isaknya mulai mereda.


"Aku masih sakit hati sama dia, Mas! Bisa nggak kamu ngertiin aku?" kepalanya merebah di leher Dipta, menolak agar suaminya itu tidak bertemu lagi dengan Nancy.


Dipta mengangguk, menurut. Ia usap-usap punggung Rayna. "Iya, sayang. Iya ...."


"Bayangan saat kamu seranjang sama dia, masih sulit----"


"Udah!" Dipta menginterupsi, meletakan satu jari di bibir Rayna agar berhenti berujar.


"Aku minta maaf." melepaskan kecupan di ubun-ubun Rayna. "Itu semua di luar kendaliku. Aku nggak tau kalau air teh yang ia suguhkan mampu memancing hasrat ku di saat imanku tengah sekarat, Ay."


"Benar, Mas, kalau, Nancy, yang goda kamu? Bukan karena kalian yang berkhianat?" Rayna menarik kepalanya dari dada Dipta, agar mampu memandang wajah suaminya lekat.


"Demi Allah, Ay. Demi orang tuaku. Demi Anak-anakku. Dan demi cintaku padamu ...." Dipta raih tangan Rayna untuk dikecup lama, lelaki itu sampai memejam, kemudian menitikan air bening dari ekor mata, menunjukan bahwa ia benar-benar jujur dan tulus dalam berucap.


"Aku memang salah karena tak mampu menahan gejolak diri. Obat itu begitu kuat. Tolong ampuni aku, Ay. Ampuni aku yang tidak punya daya untuk melawan godaan setan kala itu. Tolong terima aku yang baru," timpalnya terus memaksa agar Rayna mau percaya.


"Kamu beneran nggak suka sama dia, Mas?"


Dipta menggeleng tegas. "Amit-amit, Ay. Amit-amit cabang bandot." Dipta sudah menjelaskan perihal itu kepada Rayna tiga tahun lalu. Tapi, Rayna yang tengah terguncang mental saat itu, seakan tidak bisa diberi nasihat atau berbicara dari hati ke hati. Di tambah lagi Papi dan Mami yang langsung kecewa, memaksa mereka bercerai.


"Tapi, aku masih sulit untuk menerima semua itu, Mas. Walau di hatiku, sudah mengecil rasa benci kepadamu. Tapi, untuk Noora. Aku masih susah. Noora merupakan bentuk nyata hasil benih yang kamu tanam di rahimnya. Seapapun kamu beralasan, itu semua tetap menyakitkan!"


"Iya, sayang. Aku paham. Aku tau, hatimu pasti sakit sekali. Maka, berikan aku kesempatan untuk mengobatinya. Terima Noora, dia nggak tau apa-apa, Ay."


Rayna tetap menggeleng, meremat kain di dada. "Sulit, Mas. Sulit. Aku butuh waktu."


Dipta mencoba sabar menghadapi Rayna yang seakan masih saja keras. Mengulurkan tangan ke atas untuk merapihkan rambut Rayna yang terlihat basah karena peluh dan berantakan karena beberapa menit lalu meronta-ronta seperti orang kesetanan.


"Ya, aku akan tunggu."


"Bisa nggak pindahkan dulu, Noora, ke rumah Bunda sampai hatiku terbiasa bersamamu?"


Dipta yang senang karena dari binar mata sang istri, ia seolah menemukan cahaya kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka yang pernah alot, lekas tergugu dengan permintaan itu.


"Kalau kamu mau kita bahagia kayak dulu. Tolong jangan satukan aku dengannya, bisa, Mas?" Rayna sudah kepalang menikah dengan Dipta. Dara pun terlihat bahagia dengan mereka yang kembali rujuk. Lalu apalagi alasan Rayna menolak pernikahan ini agar tidak berlanjut? Maka ia beri penawaran, agar hatinya bisa legowo maksimal.

__ADS_1


Dipta menelan segunung saliva ke dasar lambung, jantungnya berdebar tak karuan saat Noora harus ia korbankan. "Apa aku masih bisa nego?"


"Enggak! Inginku hanya satu sekarang. Jauhi dia, bawa dia dari sini. Minta tolong Bundamu yang rawat atau Nancy sekalian. Aku nggak punya kewajiban untuk urus dia, Mas. Dan aku nggak mau. Kebanyakan di luar sana, ibu tiri aja susah-susah gampang untuk berdamai dengan anak sambung nya. Apalagi dengan kondisiku? Jelas-jelas Noora adalah hasil pengkhianatan mu."


Dipta memijit-mijit kening, ia jadi dilema di tengah keputusan yang sulit untuk ia pilih.


"Gimana, Mas? Sanggup penuhi keinginanku?"


Hening lagi.


"Mas?!"


"Ya, baiklah, Ay. Untuk sementara, akan aku pindahkan Noora ke rumah, Bunda."


"Hem." Rayna tersenyum puas. Dipta membalas senyum, walau di ujung hatinya merasa terluka karena senyum manis Noora, keriangan anak itu tidak akan ia rasakan sepanjang waktu.


Di keheningan malam, setelah berhasil bermufakat bersama, salur-salur cinta seakan memanas di dada Dipta. Lelaki itu samar-samar mulai membelai pipi Rayna, menatap damba, lantas memegang ujung dagu, saat ingin menempelkan wajah untuk meraih bibir Rayna, wanita itu memalingkan wajah.


"Jangan dulu, Mas. Aku belum siap."


"Kalau nggak di coba, kapan siap nya?" kembali memajukan bibir, berusaha melumattt halus, Dipta rasanya sudah rindu sekali ingin buka puasa.


"Masih belum bisa, nanti, aja, ya, tunggu perasaan aku utuh lagi," sergahnya.


"Please dong, Mas."


"Ya, baiklah." Dipta kembali memeluk, dan Rayna mencoba untuk bertahan di pelukan itu yang mana ia masih saja risih.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Pagi yang Dipta pikir akan kelabu seperti pagi yang sudah-sudah selama mereka menikah, kini, berubah cerah. Sinar matahari seakan kembali menyambut senyum lelaki tampan yang semalam berhasil mencium bibir istrinya saat wanita itu tertidur. Bahkan mampu meraba-raba gunung kembar Rayna walau hanya sebentar.


Rasanya untuk kebahagiaan itu harus Dipta bayar mahal dengan air mata Noora juga Dara.


"Aku nggak mau ditinggal, Adek! Nggak mau, Ayah!" Dara masih memeluk erat Noora yang hanya bisa menangis tanpa merengek untuk tetap di sini. Tatapan sinis yang Rayna beri, mampu membuat anak itu sadar kalau dirinya memang tak layak tinggal di rumah ini bersama Ayah, Dara dan Rayna.


"Nanti kan bisa ke rumah, Nenek, kalau mau jenguk, Adek," ujar Dipta yang masih berdiri di pinggir badan mobil, menggandeng Noora. Koper kecil berisi baju-baju Noora sudah masuk ke bagasi. Harusnya sudah dua puluh menit lalu, Dipta berangkat ke rumah Bunda untuk membawa Noora. Tapi, tangisan Dara terus saja menyekat langkah mereka.


Dara menoleh ke arah Rayna yang bersedekap acuh di bingkai pintu. "Ini pasti karena, Ibu!" sembari menghentakkan kaki kesal.


Rayna tak perduli, wanita itu memilih masuk. Dara kembali menatap Ayahnya, memutus gandengan tangan Noora dan Dipta.


"Adek di sini aja, Ayah. Kasian kalau Adek sendirian di sana. Kan nggak ada kita."

__ADS_1


Dengan air bening menggenang, Dipta menggeleng. Ia juga berat meninggalkan anak bungsunya, yang tidak pernah rewel semenjak lahir. Tapi, mau bagaimana lagi. Kesepakatan tadi malam bersama Rayna harus terjalin.


"Sementara aja, Nak. Ikuti dulu kemauan, Ibu. Lagian kan di sana ada Nenek dan Kakek. Adek pasti di rawat dengan baik."


"Pokoknya, enggak! Kasian, Adek!" Noora yang masih terseguk, mulai reda.


Anak cantik berlesung pipit itu menatap sendu Dara. "Adek di lumah, Nenek, ajah, Kak. Ndak mau di cinih. Akuh takut."


"Ih, kamu!" Dara berdecak kesal. "Pokoknya nggak boleh pergi, harus tetap di sini!" Dara menggandeng paksa Noora untuk di bawa ke dalam, tepatnya menuju kamar mereka.


"Kalau Ibu marahin kamu. Biar Kakak yang omelin balik!" Kakak dan Adik yang tengah memakai dress kembaran bermotif bunga-bunga itu akhirnya masuk lagi ke dalam rumah yang di susul Dipta dengan napas tergopoh-gopoh karena ia takut Rayna kembali memaki.


"Mas!" Rayna terpelongo saat Dara melewati dirinya yang tengah duduk santai di sofa menikmati kue, membawa lagi Noora, kepada Dipta yang akhirnya duduk di hadapan Rayna dengan wajah memelas. "Izinkan aja Noora tinggal di sini, Ay. Dara butuh Adiknya."


Rayna menutup majalah kesal, kemudian bangkit berdiri untuk melangkah panjang, ingin menarik Noora pergi dari rumah ini. Namun, sebelum itu terjadi, Rayna lekas menoleh ketika tiba-tiba Dipta meringis sakit, memegangi perut.


"Ay, tolong!"


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Rayna panik. Wanita itu mendekati suaminya.


"Perut aku sakit, tolong bawa aku ke kamar." rasa pedih kembali berputar-putar bagai angin puyuh di perut Dipta. Mendadak akral menjadi dingin dan tubuh menciut lemas. Rayna sampai meringis berat saat merangkul Dipta untuk membawa tubuh kekar itu ke kamar.


"Ke Rumah Sakit aja, yuk, Mas. Biar di periksa, Dokter."


Dipta menggeleng. "Hanya maag."


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Karena kondisi Dipta yang memperihatinkan, membuat Rayna jadi terlupa akan keinginannya agar Noora pergi sekarang juga dari rumah ini. Rayna berkali-kali mengompres bagian perut yang Dipta keluhkan.


"Di kompres terus kayak begini, ya, nggak akan sembuh-sembuh, Mas! Aku panggilin Dokter aja deh suruh ke sini."


Dipta menggeleng. "Tadi kan udah minum obat. Udah mendingan kok. Cuman kalau dikompres air hangat gini, lebih enak."


"Obat apa sih yang kamu minum? Kok banyak banget?" cecar nya sembari memeras kain handuk dari rendaman air hangat untuk ia landaikan di perut Dipta kembali.


"Maag, sayang," jawab Dipta bohong. Saat Rayna ingin menjawab, teriakan Dara dari kamar sebelah membuat Rayna dan Dipta saling pandang kaget. Dipta tak pikirkan sakit diperutnya, ia dan Rayna lekas loncat dari ranjang.


"Ada apa---?" bola mata Rayna melotot. Pun Dipta yang raganya seakan mati mendadak, saat langkah mereka baru tiba dibingkai pintu kamar.


"Astaghfirullahaladzim!" Dipta menyeru hebat.


"Tolongin Adek, Ayah! Adek begini karena mau nolongin aku," ujar Dara terseguk-seguk di lantai, sudah memangku kepala Noora di kedua pahanya yang banyak meneteskan darah.

__ADS_1


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


__ADS_2