
Sesekali Rayna menoleh ke arah Dipta yang tengah berdiri di pepohonan taman sekolah, sedikit menjauh darinya karena sedang mengangkat telepon dari Ajeng lalu Nancy yang menanyakan tentang kabar Noora.
"Kakak! Kakak!" seru Noora yang terus berdiri di bingkai pintu kelas dengan melambai-lambaikan tangan. Anak itu begitu lucu dan menggemaskan. Beberapa kali Dara menghampiri untuk di bawa masuk tapi anak itu tidak mau, hanya mampu menganggu seperti itu saja. Guru belum masuk, tapi semua anak sudah tertib menunggu di kursi masing-masing.
"Itu Adik kamu?" tanya Adam.
"Ya, Dam," balas Dara kepada teman sebangkunya yang ikut menatap Noora.
"Kamu sakit apa kok lama banget masuknya?"
"Sakit flu."
"Flu?"
"Hem."
"Masa sakit flu berhari-hari." tanpa Dara tahu, Adam juga tidak masuk ke kelas karena sakit sudah empat hari, namun lebih dulu ia yang masuk dan merindukan Dara.
"Udah ah jangan bawel." Dara terlihat malas di tanya-tanya.
Adam tertawa pelan karena ia merasa menganggu Dara yang mulai membuka tas, mengeluarkan buku pelajaran. "Ini cokelat buat kamu." Adam mengeluarkan cokelat dari dalam laci meja.
"Mulut aku pahit, Dam." seraya menolak.
"Ya udah buat Adik kamu aja tuh." melihat Adam begitu baik kepada Noora, Dara tersenyum. "Makasih, ya."
"Ya." Dara bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Noora dan memberikan cokelat. "Sama Ayah, ya. Jangan di sini, Dek," ujar Dara kepada Noora yang mau nya menempel di bingkai pintu kelas macam walang sangit.
"Di cinih ajah, mauh iyatin Kakak." Dara yang tubuhnya masih saja lemas memaksa kuat untuk tetap bertahan hari ini mengikuti pelajaran.
"Nanti kamu di marahin Ibu guru aku," ujarnya lagi sembari membuka bungkus cokelat yang Adam beri dan lekas memasukan ke dalam bibir Noora.
"Hem ... enak," tutur Noora senang.
"Dara!" seru Rayna dari luar kelas yang tengah duduk di kursi penunggu sebagai kode untuk tidak terlalu memperhatikan Noora karena ia harus stay di kelas.
Dara malah menggandeng Noora untuk mendekati Rayna dan anak itu seraya menahan langkah. "Sama Ibuku dulu, ya."
Noora menggeleng takut, ia sedikit bersembunyi di belakang lengan Dara. "Ibu jangan gitu dong wajahnya. Kasian, Adek, Bu."
Rayna menghela napas kecil.
__ADS_1
"Ayah kemana---?" memendar ke arah lain, lekas terhenti saat sudah menemukan Dipta untuk menyerahkan Noora. Namun, saat ingin menyerukan sang Ayah, Ibu Medina, hampir tiba di pintu kelas, membuat Rayna bangkit dari duduk untuk mendekat.
"Duduk sini, ya. Tungguin Ayah." Dara paksa Noora untuk duduk sendiri. Dara kemudian melangkah masuk ke dalam kelas melewati bahu Ibu Medina dan Rayna yang tengah bercakap penting soal kondisi Dara.
"In Syaa Allah, Bu. Saya akan bantu mendoakan, Dara."
"Terimakasih banyak, Bu."
Ibu Medina pamit ke dalam kelas dan Rayna kembali ke tempat semula. Keningnya mengkerut saat menatap Noora yang bibirnya belepotan cokelat, masih terlihat takut melihatnya tapi sembari mengedan.
"Kamu eek, ya?" tanya Rayna.
Takut-takut, Noora mengangguk. "Pakai pempers, nggak?"
Noora menggeleng. "Terus kenapa eek di celana!" walau bola mata Rayna terasa horor karena bau yang mulai menyengat tapi tangannya tanpa sadar bekerja. Ia bawa anak itu ke dalam kamar mandi.
"Cama Ayah ajah, Bu." cicit Noora pelan saat celananya yang penuh puppy di buka Rayna. Saat Noora memanggilnya Ibu, mengapa ia terlihat kasian kepada anak ini?
"Udah sama, Ibu, aja. Ayahmu lagi telepon, dari tadi nggak kelar-kelar." Noora memeluk perut Rayna dan wanita itu mulai membersihkan bokong Noora. Enoora Atalia Hadnan, sejak bayi tidak pernah merasakan bagaimana kehangatan seorang Ibu.
Sedang fokus membersihkan Noora yang membuat gamis Rayna sedikit basah, Dipta datang membuka pintu kamar mandi karena saat Rayna menggandeng Noora, lelaki itu melihat dan masih menelepon.
"Lagi asik teleponan sama siapa sih, Mas?" rungutan itu hanya di balas senyum oleh Dipta yang begitu senang karena Rayna masih memiliki nurani kepada Noora.
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Ayah ... Ibu." anak itu mengerang pelan sembari memejam mata dalam pangkuan Dipta saat tengah ditancapkan jarum infusan di punggung tangan kanan oleh Perawat di RS Kanker setelah berkonsultasi dengan Dokter Lia, Dokter spesialis onkologi, sahabat Geisha.
"Sabar, Nak. Sabar." Dipta mendekapnya penuh syahdu. Kelopak matanya mengembun. Karena Dara tidak mau dibaringkan di ranjang. Maka ia tetap berada di pangkuan Dipta yang ditemani Rayna di sebelahnya. Wanita itu juga memangku Noora yang kepalang tidur sejak di mobil.
"Ayah! Ibu!" serunya lagi karena semburan obat dalam cairan infus yang lekas mengalir ke pembuluh darah membuat efek pedih di perut.
"Iya, Nak. Sabar," balas kedua orang tuanya bersamaan. Hati Dipta dan Rayna begitu pilu. Kalau bisa meminta kepada Allah, mereka saja yang sakit.
"Jangan nangis, kita harus kuat," bisik Dipta pelan kepada Rayna yang air mata nya mulai jatuh di pipi Noora.
"Tapi kamu juga nangis, Mas," balas Rayna saat lelaki itu mampu berucap kata bohong.
"Huwe ...."
"Ayo muntahin, Nak. Ke baju, Ayah, nggak apa-apa."
__ADS_1
"Huwe ...." efek proses kemoterapi memang akan memberikan rasa mual yang hebat dan ingin sekali muntah. Dara memilih membekap mulut dan menggeleng.
"Kalau mau muntah, nggak apa-apa, ya, Dek. Jangan di tahan," ucap Perawat yang bersiap pamit dari kamar kemo.
"Iya, Sus." dengan susah payah, Dara menjawab sopan. Dipta terus berdoa dan Rayna berdzikir. Meminta kepada Allah agar Dara diberikan penguatan.
"Ditunggu dua puluh menit, ya, Pak, Bu. Nanti setelah cairan ini habis. Akan diganti botolan yang kedua," ujar Perawat menunjuk infusan yang menggantung tidak jauh dari sisi mereka
"Baik, Sus. Terimakasih banyak," balas Rayna dan Dipta.
Tangan Dipta terulur sampai ke ujung pangkal bahu Rayna, merapatkan tubuh wanita itu yang bergetar hebat karena tak sanggup menahan isak. "Anak kita, Mas ...."
"Sabar, Ay. Sabar."
๐พ๐พ๐พ๐พ
Hari pertama kemoterapi, dua punggung tangan Dara sudah terlihat bekas membiru jejak jarum infusan yang mana saat transfer cairan ke dalam tubuh, pembuluh darah Dara membengkak. Anak itu berhasil muntah tepat di kemeja sang Ayah. Untung saja baju Dipta berhasil di bersihkan dengan air dan tissue basah. Keringat mengucur seiring air mata Dara yang terus turun. Ia juga berteriak saat mendapati rambutnya mulai rontok banyak.
"Perasaan dulu kalau aku sakit pilek, tante Geisha nggak pernah obatin aku kayak begitu, Bu," ucap Dara yang mulai tenang dari tangis. Air matanya sudah surut karena terus Rayna seka dengan tissue.
"Pilek nya agak bandel, Nak," balas Rayna dengan suara bindeng.
Dara menggeleng tegas, menyeruput ingus yang ingin keluar. "Pokoknya besok-besok nggak mau ah kayak begini lagi. Tangan aku pada sakit, Bu." Dara menunjukan kedua punggung tangannya yang tertempel plester menutup bekas jarum suntik kepada Rayna.
"Sabar, ya, Nak. Sakit sedikit kan nggak apa-apa, yang penting Dara sembuh." Rayna bawa Dara ke dalam dada untuk ia kecup ubun-ubun kepala sang anak.
"Tapi sakitnya bukan sedikit, Bu. Banyak banget." Dara mencebik, buru-buru di usap-usap lengannya agar anak itu tidak menangis lagi.
"Ingat nggak kata Ayah apa tadi? Kalau Dara sabar. Ayah mau beliin rumah nya Debora."
Senyum Dara lekas terpampang. Dara mulai tenang karena pelukan Rayna amat menghangatkan. Kedua wanita itu masih setia menunggu Dipta dan Noora kembali dari Instalasi Farmasi untuk obat minum Dara di rumah.
"Sampo nya kayak nya ganti aja deh, Bu. Masa, rambutku rontok begini." Dara ulurkan tangan ke atas, lekas mengusap surai nya. "Tuh, Bu. Lihat." Rayna menahan getir sebisanya saat Dara menunjukan rambutnya di telapak tangan.
"Iya, Nak. Nanti Ibu ganti samponya----"
"Eleodra!" suara Rayna terhenti saat nama anaknya di serukan. Ibu dan Anak itu menoleh, terutama Dara yang tercengang saat mendapati sesosok lelaki sebayanya dengan tiang infusan.
"Adam."
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
__ADS_1
Like dan Komennya, ya, guys.