
Dada terus berderap naik turun, seiring telaga bening menganak sungai dari ekor mata Rayna. Buku-buku jari nya meremat kencang stir kemudi, mengikuti alur jalan sepulang dari IGD Rumah Sakit menuju rumah kembali.
"Pelan-pelan, sayang. Santai aja nyetirnya."
"Iya, Mas." Dipta merasa, lesatan ban mobil pada jalan begitu berat.
"Enggak usah nangis lagi. Noora udah baik-baik aja."
"Hem."
Dipta kembali merebahkan kepala di sandaran jok belakang, ia tidak kuat mengemudi karena perutnya melilit lagi. Padahal saat mereka berada di Rumah Sakit, Rayna sudah memaksa agar Dipta juga berobat. Tapi, lelaki itu menolak.
Dipta memangku Noora yang di dekap Dara, mencoba menenangkan istrinya yang sedari membawa Noora ke RS menangis panik. Wanita itu menyesal telah bersikap buruk kepada Noora beberapa Minggu ini yang mana anak itu sudah baik untuk menolong nyawa anaknya.
Molding besar yang menempel di langit-langit kamar terlepas dan hampir saja mengenai Dara yang tengah berdiri, untung saja Noora lekas menarik sang Kakak untuk menjauh. Namun, dirinya yang tidak bisa menyelamatkan diri. Kepala anak itu lah yang akhirnya jadi sasaran.
Benturan hanya terdapat pada bagian depan kepala, pelipis dan pipi sebelah kanan. Dipta yang masih khawatir meminta Dokter untuk melakukan tindakan ct scan, dan hasilnya normal. Kepala Noora tidak mengalami keretakan, peradangan atau pendarahan. Anak itu juga tidak mengalami muntah yang hebat.
Saat di bersihkan luka oleh Perawat dan dijahit bagian yang sedikit robek, Rayna lah yang memangku Noora, memeluk anak itu. Berucap kata terimakasih seribu kali kepada Noora sambil mengecup pipinya.
Rasa bahagia di hati Dara dan Dipta tak terbendung, walau musibah seakan sebagai perantaranya. Noora juga bahagia dengan sikap Rayna, memeluk kencang wanita itu sampai rasa sakit saat di jahit tak anak itu perdulikan.
"Maafin aku, ya, Mas. Aku menyesal."
Dipta tersenyum, mengangguk, menatap iris mata istrinya dari spion depan. "Aku paham apa yang kamu rasa. Aku minta kelapangan hati kamu, Ay. Terima aku dan Noora apa adanya. Jagalah yang ada, sebelum yang ada itu ... pergi." amat pelan di akhir kalimat, sampai Rayna mengerutkan kening.
"Sebelum apa, Mas?" mengulang untuk memperjelas.
Dipta menggeleng, beralih menatap hamparan jalan di luar mobil. "Aku hanya minta kamu mau jadi Ibu yang utuh untuk kedua anak kita. Bisa jadi Ibu, bisa jadi Ayah. Bisa jadi apa aja. Bisa kan?"
Sembari memutar kemudi, berbelok ke arah kanan jalan, Rayna membalas dengan raut bingung dan kurang peka. "Ya, Mas. In Syaa Allah."
Tiga puluh menit kemudian, kereta besi mewah milik mereka sudah landas dengan baik di carport, saat ingin melepas seat belt, Rayna memicing mata seakan mempertegas siapa wanita yang kini berdiri di depan pintu utama rumahnya. Pun, Dipta yang ingin membangunkan Noora dan Dara yang tertidur, ikut menilik ke arah pintu.
"Nancy? Mau apa dia?!" Rayna terlihat geram.
"Sayang, tolong sabar," pinta Dipta yang cemas karena Rayna mulai mengeraskan rahang. Sang istri seolah harimau lapar yang melihat seonggok daging segar untuk di lahap.
"Kamu kasih alamat rumah kita sama dia, Mas?" cecar Rayna, nadanya meninggi. Melihat mobil sudah sampai tapi penghuninya belum turun, Nancy mulai melangkah mendekati. Wanita itu nekat melacak gps dari ponsel Dipta untuk mencari rumah baru yang ditempati. Karena Dipta tidak kunjung menepati janji untuk memberi kabar dari tadi pagi sampai siang ini untuk bertemu dengan Noora.
"Demi Allah, Sayang. Enggak."
__ADS_1
"Terus dia itu tau dari mana?" nada Rayna semakin kencang, sampai membuat Dara dan Noora mengerjap kaget.
"Ada apa, Yah, Bu?" tanya Dara. Noora yang terlihat masih mengantuk, berpindah ke pelukan Dara untuk melanjutkan tidur.
"Sumpah demi Allah, Ay. Aku bener-bener nggak kasih tau alamat rumah ini."
"Kamu memang penipu, ya, Mas!" Rayna tak percaya, ia memilih turun dan membanting pintu mobil kasar. Baik Dipta dan Dara yang didalam. Pun, Nancy yang di luar sampai mengerdik bahu takut.
"Mau apa kamu?" Rayna membolakan mata horor, mengangkat dagu dengan tilikan benci. Nancy, yang kepalang tertimpa masalah, mulai menyesali segara perbuatannya yang keji, tetap tersenyum hangat.
"Assalammualaikum, Kak." ingin membungkuk mencium tangan Rayna.
Rayna mendesis sinis, membiarkan tangan Nancy menggantung di udara, kemudian menegapkan tubuh lagi, menatap sedih Kakak sepupunya. "Sudah jadi wanita benar kamu? Bukan lagi utusan, Iblis?" salam yang Nancy beri mampu menohok hati Rayna.
Nancy menarik napas, menggeleng sendu. "Jangan serukan aku seperti itu, Kak."
Dipta masih berada di dalam, hanya mampu mengawasi percakapan mereka. Terlebih, menghormati Rayna, agar tidak lagi memunculkan batang hidung di hadapan Nancy.
"Bukannya yang menggoda manusia agar berbuat dosa itu Iblis? Lalu seruan apa yang pantas untuk kamu setelah menggoda suamiku, menghancurkan rumah tanggaku? Apa, Nancy? APA?" Dara sampai menutup kedua telinga Adiknya biar tidak mendengar teriakan yang begitu maha dasyat dari sang Ibu.
"Aku minta maaf, Kak. Demi Tuhan, aku tidak akan mengulanginya lagi ...." air mata menetes membasahi pipi Nancy, wanita hamil empat bulan itu, mengusap perutnya lemah, selemah raut wajahnya yang mengurus. Ia baru saja di talak, dan dilempar ke jalanan oleh suaminya.
"Pergi dari sini!" Rayna menunjuk gerbang, mengusir Nancy.
Rayna menggeleng. "Pergi!"
Nancy tetap diam. Memilih menilik kaca mobil yang memang begitu legam. Ia yakin di dalam sini pasti ada putrinya.
"Mau apa sih?!" Rayna menepis tangan Nancy kasar dari handel pintu yang ingin ia tekan.
"Tolong, Kak. Aku kangen dia."
Rayna tertawa geli. "Kangen? Kamu bilang kangen? Terus selama ini kamu kemana? Dari kecil di buang. Sudah besar, sudah cantik, sudah terurus dengan baik oleh suamiku, lekas mau kamu ambil? Kamu memang wanita tidak punya akhlak, Nancy! Kasian sekali Paman dan Bibiku memiliki anak angkat sepertimu. Dasar, tidak tau diri!"
"Aku menyesal." Nancy menundukkan kepala lemah. "Izinkan aku membawanya. Biar hidup Kakak bisa tenang. Noora hanya akan menjadi beban untukmu."
"Yang menjadi bebanku sekarang itu, ya, kamu, Nancy! Melihat wajahmu lagi sama saja meleburkan jantungku! Noora bukan beban, dia berkah untukku dan untuk anakku!" Maha suci Allah yang sangat hebat untuk membolak-balikan hati manusia seperti telapak tangan. Rayna sampai terlupa bagaimana sikapnya kepada Noora sebelum tragedi pagi tadi terjadi.
"Aku berdoa, agar suatu saat nanti. Noora tidak merasakan apa yang aku rasakan di rumah tangganya. Dia tetap menjadi pemenang dari sekian banyak pelakor yang ingin mengincar suaminya. Seperti, aku. AKU!" Rayna menepuk dada bangga, karena Allah kembali mengangkat derajatnya, mengembalikan keutuhan rumah tangga bersama Dara dan Dipta walau bonusnya ada Noora.
Nancy memilih bersujud, memeluk kaki Rayna. "Ampuni aku, Kak. Aku sudah berubah sekarang."
__ADS_1
"Seapapun berubahnya kamu sekarang. Kamu tetap racun yang harus aku waspadai, Nancy!"
Rayna memilih menjauh, membuat tangan Nancy terlepas dari kakinya. Menatap kain kerudung yang dibebat asal di leher Nancy terkibas-kibas tertiup angin. Tidak akan pernah ada kebahagiaan hakiki di atas penderitaan orang lain. Dan semua itu tengah di rasakan Nancy akan segala perbuatannya.
"Pak ... Pak!" seru Rayna kepada satpam penjaga yang berada di dekat gerbang. Satpam pun mendekat hormat.
"Usir wanita ini. Jangan biarkan dia masuk lagi, ngerti, Pak?" Rayna berujar tegas. Satpam mengerutkan kening kaget karena tatapan Rayna begitu kasat kepada Nancy, yang mana saat Nancy tiba dengan taxi, ia mengaku adalah adik dari Rayna.
"Kakak, tolong, Kak ...." Nancy terisak, memelas, seraya ingin tetap memeluk kaki Rayna.
"Aku bukan Rayna tiga tahun lalu yang masih lemah, Nancy! Aku, Rayna, yang baru. Aku akan gigih untuk menjaga keluargaku, dari siapapun yang ingin merusaknya lagi! Air matamu, tidak akan mampu semudah itu membuatku luluh!" bahkan gelak tawa Nancy saat ia berhasil membuat Rayna pergi dari rumah, masih bisa Rayna ingat. Masih terbayang jelas. Rayna sampai harus menyilet-nyilet tangannya saat ia tahu Dipta menikahi Nancy untuk bertanggung jawab. Semua rasa sakit itu, tidak akan mudah terbayar hanya dengan kata maaf apalagi dalam waktu dekat.
Dipta baru membuka pintu mobil dan turun, setelah erangan tangis Nancy tidak terdengar dan pintu gerbang tertutup.
"Aku nggak nyangka, kamu galak banget, Ay."
"Ayo jujur, Mas. Kamu yang kasih alamat rumah ini sama dia?"
"Astaghfirullah, masih nggak percaya aja. Demi Allah, Sayang----" rayuan jujur itu tersela, mana kala Rayna lekas membungkukkan tubuh untuk mengulurkan tangan, meraih Noora untuk di gendong.
"Ayo, Nak, kita turun," ajaknya juga kepada Dara.
Dalam langkah menuju rumah, Dara menoleh dengan senyuman jahil kepada Ayahnya yang masih mengusap wajah lelah di badan mobil.
"Kasian deh, Ayah, di marahin, Ibu." si ompong satu di gigi depan bawah menyengir kuda membuat Dipta gemas dan akhirnya mengejar.
"Beneran, Sayang. Aku nggak bohong." Dipta terus merayu, memeluk pinggang sang istri sembari melangkah bersama.
๐พ๐พ๐พ๐พ
Jari mungil meraba-raba bingkai wajah Rayna dari buliran bulu alis, turun ke pangkal hidung dan terkahir ke ujung dagu. Dalam dekapan Rayna, Noora menyusuri raut cantik sang Ibu sambung sembari menyusu dengan botol. Sesekali anak ini terkekeh, lantaran Rayna bergeliat geli dalam pejaman mata. Sampai pada akhirnya, Rayna terbangun. Buru-buru Noora menarik jarinya dan memejam mata. Ia takut Rayna marah.
Rayna yang tahu anak itu pura-pura, lekas menggelitik. "Udah bangun, kan, pura-pura bobo, ya?" Noora akhirnya mengerjap mata dan tertawa. Gigi geliginya yang putih terpampang jelas sampai ke bagian geraham. Senang sekali dirinya sampai sunggingan tawa itu terdengar renyah, menggelitik gendang telinga Dara yang akhirnya ikut terbangun di sebelah Noora. Melihat Ibu dan Adiknya saling bercanda, Dara terharu sekali.
"Ibu akan terus sayang kan sama, Adek?" mendengar pertanyaan serius itu membuat Rayna dan Noora gegas diam dari tawa, sembari mengusap perban kecil di sudut kening Noora, Rayna mengangguk pelan.
"In Syaa Allah, Nak. Ibu akan sayangin Adek kayak kamu." mencium puncak kepala Noora serta mendoakan untuk kesembuhan anak ini dari luka yang masih perih.
"Alhamdulillah ...." Dara seraya menengadah ke dua tangan ke atas, berucap syukur kepada Allah. Namun, saat, ketiganya kembali mendekap suara benturan keran hadir dari balik pintu kamar mandi.
Ketiga nya melongo. "Ayah?"
__ADS_1
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ