
Dan untuk pertama kalinya kembali Pradipta membopong tubuh Rayna yang lekas terkulai tak bertulang di sofa saat wanita itu syok berat akan keadaan penyakit Eleodra yang rasanya menebas napas di rongga dada. Harta berharga satu-satunya selain orang tua dan Allah yang ia punya untuk penguat hidup, seraya akan kembali direnggut.
Statement kalau pengidap penyakit leukimia akan selalu berumur pendek, tak mampu membuat ia diam, bersikap tenang dan berpikir jernih untuk mencari solusi pengobatan apa yang terbaik untuk di jalani Dara.
Dara, buah hati pertama yang ia lahirkan dengan segala perjuangan, sampai ia mengalami kebutaan sementara karena mengidap pre-eklampsia berat.
Dara harus dilahirkan secara caesar di usia tujuh bulan kandungan. Setelahnya masuk NICU satu bulan karena jantungnya mengalami masalah setelah lahir.
Dengan segala doa yang ia dan Pradipta panjatkan kala itu dan memang Allah menghendaki kalau Dara harus bertahan sampai detik ini, maka Dara mampu melawan untuk bangkit, di mana kedua orang tuanya sudah merasa pasrah.
Sekarang?
Semesta seolah kembali mengguncang Dara.
"Keluar, Dipta!" tegas Bunda meminta putra kembarnya itu untuk keluar dari kamar membawa Dara yang masih menangis saat tahu Rayna jatuh pingsan.
"Aku masih pengin di sini, Bunda. Khawatir sama, Rayna."
"Keluar! Bawa anak-anak. Ada Bunda di sini sama Bibik."
"Ibu nggak apa-apa kan, Nek?" tanya Dara yang masih merebah di perut Ibunya.
"Cuman capek, Nak. Sana gih sama, Ayah, dulu."
"Enggak mau ah, mau nya di sini sama, Ibu!" Bisa Bunda lihat wajah Dara kembali memucat.
Bunda menarik napas saat cucunya yang sakit ini terasa sulit diberitahu. Bukan hanya Rayna yang pingsan. Saat di Rumah Sakit pun, ketika mendengar penjelasan Geisha, saudara kembar Dipta yang merupakan Dokter Anak kalau Dara sakit, Bunda juga pingsan dan sekarang tengah mencoba sekuat hati untuk menerima dulu masalahnya. Karena, dengan mengeluh, berteriak, menangis sampai air mata bercampur darah, tidak akan mampu menyelesaikan masalah.
"Kakah tanan nanis ... cup, cup." Noora yang tetap suci walau kelakukan orang tuanya yang terkesan tak beradab, memilih memeluk sang Kakak dari belakang seolah turut menguatkan.
"Ibu aku sakit," balas Dara.
"Iyah, cakit." mengangguk untuk membenarkan, mengusap-usap rambut Dara, mengikuti bagaimana Ayahnya jika sedang memanjakan dirinya dan Dara.
"Ayo, bawa." kembali Bunda menitah Dipta yang masih memandang sendu mantan istri yang masih bertahta di dalam relung hati. Dipta lekas meraih Dara untuk ia gendong dan menggandeng Noora, keluar dari kamar.
"Nggak, Ayah. Nggak mau!" Dara seakan meronta dalam gendongan dan Dipta paksa anak itu untuk tetap melekat di dada.
"Turunin, Ayah! Aku mau sama, Ibu!"
__ADS_1
"Ibu nya lagi istirahat, Nak. Kalau Ibu udah bangun, Dara boleh ke sini lagi," ucap Dipta untuk menyabarkan anak ini.
"Jangan lupa tutup pintunya," titah Bunda. Dan kamar Bunda pun tertutup sekarang. Bibik masih memencet-mencet jari kaki agar bisa merangsang Rayna untuk gegas mengerjap mata. Pun Bunda yang mulai membuka kerudung Rayna, mengusapkan minyak kayu putih di kedua sisi dahi Rayna dan lubang hidung. Serta membuka kancing baju agar terasa longgar.
"Bunda! Mas Dipta, selingkuh!"
"Bukan mau aku begitu, Bunda. Bukan!"
"Kenapa kamu nggak bayar pelacur aja, Mas. Kenapa harus dia? Kenapa harus, NANCY?!"
Bunda sampai menunduk, memejam mata saat huru-hara permasalahan rumah tangga Dipta dan Rayna kembali terbayang menenuhi ruang kepala.
"Bukan hanya Rayna yang kehilangan, Elea, Bunda. Aku juga. Tapi, kenapa dia nggak bisa bangkit? Masih ada aku dan Eleodra yang harus ia urus."
"Jangan coba-coba menyalahkan psikis ku yang masih terganggu, Mas! Kalau kamu suka sama dia, kamu bilang! KAMU JUJUR AJA!"
"Demi Allah, aku hanya cinta sama kamu, Ay!"
Bunda menggeleng pelan, seraya mengusir kenangan itu. Kenangan di mana Pradipta masih ingin mempertahankan dan akhirnya Rayna memaafkan dengan syarat Dipta menjauhi Nancy dan Dipta setuju. Tapi, saat tahu di kemudian hari Nancy hamil, Rayna akhirnya kukuh untuk meminta cerai. Ada bayi tak berdosa untuk menunggu pertanggung jawaban suaminya. Dan untuk di madu, berbagi suami secara terang-terangan, ia tidak akan mampu.
Saat semua menyangka Dipta benar-benar berniat berselingkuh sampai membuat Nancy hamil, Ayah Gifali menghajar Dipta sampai berdarah-darah. Lelaki itu kecewa, mengapa anak yang ia didik selalu dengan iman tetap bisa salah arah. Ya karena semua anak tidak selalu mampu menurunkan sifat orang tua yang baik.
Ada yang orang tuanya pemuka Agama tapi anaknya juga bisa salah jalan. Begitulah ujian, ia akan bertumpu kepada mereka yang kuat untuk menanggungnya. Setan akan terus menggoda manusia sampai hari kiamat tiba. Kekhilafan seperti ini bukan hanya terjadi kepada Dipta yang mungkin imannya sedang tipis, melainkan kepada mereka-mereka yang mempunyai iman setebal kulit kuda.
"BUNDA!" lekas berhambur ke dalam dada Bunda, memeluk wanita ini kuat-kuat, kembali memekakkan air mata.
"Aku nggak kuat kalau begini, Bunda. Nggak kuat."
"Sabar, Nak. Sabar." kalimat yang keluar terasa ambigu sekali untuk di dengar. Bunda yang dada nya juga belum penuh karena terus memikirkan keadaan Dara, ikut menangis lagi seperti Rayna.
"Aku udah kehilangan Elea, Mas Dipta dan sekarang, Dara. Kenapa sih Allah kayaknya nggak berhenti menyiksa aku, Bunda?" meremat halus kain di dada Bunda karena seraya tak kuat untuk mengeluarkan sesak di dada. Hidung terasa mampet untuk bernapas.
"Dara akan sembuh. Kamu harus yakin sama Allah."
"Selama ini aku yakin kalau aku pasti bisa bahagia dari masa-masa sulit tiga tahun belakangan ini. Tapi, kenapa Allah uji aku lagi? Kenapa, Bunda? Kenapa?" tubuh Rayna bergetar seiring pangkal bahunya yang membuncang. Tangisannya terus menggelegar ruang kamar yang terasa penuh dengan isakan air mata.
Bunda yang mampu berpijak dalam duduknya, tetap mendekap Rayna, meminta Bibik pergi ke luar untuk membawakan air teh hangat.
Seiring usapan lembut yang Bunda beri di punggung Rayna seolah Rayna adalah anak kandung Bunda, mampu membuat isak Rayna sedikit mengecil.
__ADS_1
"Boleh nangis, boleh. Mau sekencang apapun, silahkan. Asal yang Rayna nggak boleh lupa. Masih ada Allah, tempat kita meminta solusi dari masalah ini. Jangan pernah ragukan, jangan pernah merasa tidak adil. Selama jantung masih berdetak, maka kita sebagai hambanya akan selalu di uji, Nak. Ujian adalah bentuk cinta Allah kepada hamba yang ia ridhoi. Kalau Allah udah enggak cinta, maka Dia akan membiarkan hambanya terus berada dalam kesesatan."
"Tapi, semua udah di ambil, Bunda. Udah!" Rayna masih sulit berpikir jernih. "Kemarin-kemarin aku udah kuat. Tapi sekarang? Aku kayaknya enggak bisa," timpalnya pelan mulai termenung menatap dinding.
Huru-hara dalam pernikahan Dipta dan Rayna terjadi setelah mereka kehilangan buah hati kedua yang bernama Elea, adik Dara, di usia lima bulan setelah dilahirkan.
Terpukul. Rayna hancur terkoyak-koyak sampai tak mengenali diri. Berlaku seperti orang tidak waras karena terus menyalahi diri sendiri, menganggap ia tidak becus menjaga anak nya. Padahal meninggalnya Elea murni karena sakit. Anak itu mengalami diare parah sampai dehidrasi berat.
Kehilangan Elea seakan menutup jalan pikiran Rayna untuk kembali menjalani hidup yang masih panjang dan terus berjalan.
Semenjak itu, Rayna mulai tidak memperhatikan Dara dan Dipta, orang-orang yang juga kecewa akan kehilangan Elea. Rayna lebih sering mengurung diri di kamar bayi Elea, berucap sendirian, menangis dan tertawa sendirian. Membuat Eleodra dan Dipta takut akan dirinya.
Di saat Rayna tengah sibuk menjalani terapi dengan Dokter Spesialis Jiwa akan kondisi mentalnya. Nancy, anak dari Kakak Maminya, datang ke Indonesia hanya sekedar ingin berkunjung karena mendapatkan kabar tidak enak mengenai musibah yang tengah Rayna alami.
Nancy yang memang sejak masa kuliah mulai menaruh hati kepada Pradipta merasa bahagia karena ia mempunyai celah untuk memisahkan Dipta dari Rayna. Dan semua itu berhasil. Di saat Dipta merasa terbengkalai dari sentuhan wanita yang tidak lagi ia dapatkan dari Rayna selama tujuh bulan pasca meninggalnya Elea.
Nancy mampu menarik cinta yang semu dari hatinya. Wanita itu mampu menggoda Dipta yang sudah rindu sekali untuk melepaskan hasrat. Dipta hanya manusia biasa yang tidak sesempurna Malaikat dan Nabi. Ia punya titik di mana ia mampu termakan dengan godaan setan. Akhirnya ia terlahap dan terayu. Berenang ke dalam perzinahan yang hanya mengandung bahagia sesaat dan akhirnya hancur lebur.
Rasulullah SAW pun melarang keras seseorang untuk mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda
bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya,'" (HR Abu Dawud).
Cintanya melekat hanya pada Rayna, tapi napsu nya yang kala itu lebih besar, seraya menutup. Ia pun tidak menyangka, saat sekali melakukan dan ingin lekas bertaubat, Nancy langsung hamil.
Nancy mampu berpaling dari Pradipta saat pernikahan mereka terasa garing dan alot. Ia baru sadar kalau cinta Dipta tidak akan pernah bisa ia raih.
"Kenapa semua anak-anak aku di ambil, Bunda? Apa nggak cukup Elea dan Mas Dipta yang pergi dari hidup aku? Kenapa Dara juga? Kenapa?" menangis lagi.
Bagaimana Rayna tidak syok dan down, di saat ia akan menuju hari bahagia bersama Adjie, ia di hadapkan dengan penyakit Dara yang seakan mendadak, mencekik lehernya sampai ingin putus.
Mendengar erangan tangis Rayna, Pradipta beranikan diri untuk mengintip dari celah pintu yang ia buka sedikit. Memandang sendu wanita yang masih ingin ia peluk, untuk menetap di sisinya di saat semua orang tak percaya akan alasannya bisa berbuat maksiat.
Semua orang terus memandang dirinya kotor, menentukan Neraka untuknya. Tanpa mau tahu, bahwa selama ini ia juga tertekan, sudah menyesali diri.
Banyak sekali hikmah dalam polemik rumah tangga mereka. Karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Pradipta tidak akan melenceng arah kalau Rayna bisa bersahabat dengan ketentuan Allah. Tidak berlarut-larut dalam masalah sampai mengabaikan orang-orang yang masih butuh kasih sayangnya.
Dan Pradipta yang jika saja bisa menundukkan pandangan, mengisi hari-hari yang berat dengan iman, In Syaa Allah ia akan jauh dari godaan setan. Yang paling berat adalah bukan meningkatkan taqwa. Tapi, berperang dengan rasa ingin maksiat yang terus menggelebat.
Kelemahan kebanyakan lelaki ialah karena mereka tidak bisa menundukkan pandangan. Maka, peran istri di sini amat lah besar.
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Like dan Komennya, ya, bestie. Yang bawel, jangan diam-diam aja kayak angin🤪🤪