
Kesetiaan istri akan di uji ketika suami berada dititik terendahnya, apakah istri akan siap untuk berjuang bersama dari bawah atau malah meninggalkannya. Dan kesetiaan suami akan diuji ketika suami sedang berada di puncak kesuksesannya. Apakah suami akan tetap setia dengan istri yang menemaninya dari nol atau malah akan tergoda dengan wanita lain karena dia merasa punya segalanya.
Setelah menikah, suami dan istri tetap Allah uji sampai ke garis keturunannya.
"Jangan kebiasaan taruh sendok di dalam panci panas, Ay, bahaya."
"Bahaya nya kenapa, Mas?" tiba-tiba takut, lekas mengambil sendok sayur yang tidak sengaja Rayna sandarkan di dalam panci dengan kuah sayur yang masih bergejolak.
Pradipta tertawa. "Soalnya bisa panas." lekas berlari masuk ke kamar mandi sebelum istrinya memukulnya dengan sapu.
Selama mereka menikah sampai terjadinya tragedi, bisa dibilang hubungan Rayna dan Dipta lebih banyak manisnya. Sesekali memang turun naik emosi, tapi masih bisa mereka selesaikan. Paling banyak soal beda pendapat bagaimana cara mengurus Dara dan Elea.
Maka, saat ada badai mengguncang biduk rumah tangga mereka lebih berat dari biasa. Pasutri ini seakan kehilangan kokohnya. Tidak akan ada ujian atau masalah jika tidak ada hadiah yang ingin Allah beri. Masalah diadakan, hanya untuk penguat diri agar suatu saat nanti jika mendapati ujian yang lebih besar lagi, mereka sudah terbiasa, kuat dan mampu. Tidak berlaku ingin bunuh diri, mengeluh atau mengutuk Allah.
"Nanti pulang kerja, kamu mau aku bawakan apa?"
"Enggak usah, Mas."
"Baik." dan Pradipta tetap akan membawakan makanan kesukaan Rayna. Lelaki itu tau, dibalik kata tidaknya wanita, ada kata iya yang tersembunyi.
"Nanti kalau Dara udah lahir, Mas, mau di panggil apa?"
"Apa aja, asal jangan nama ... Hey, Dipta. Kau, Ayahku kan?"
"Haha ... masa nama sih." dan Rayna akan bergelayut manja di bawah ketiak Dipta.
Bayangan-bayangan indah saat membina rumah tangga, kembali menggelebat. Pradipta akhirnya terlonjak dari lamunan saat mendengar Rayna memperkenalkan Adjie lebih dulu kepada Bunda Maura dan Ayah Gifali, setelah mencium tangan mereka berdua.
"Ini calon suamiku, Bun, Yah. Namanya, Adjie."
Deg.
Pradipta lekas tarik pandangan mata yang sejak tadi menilik matahari pagi dengan senyum-senyum tipis padahal hati tengah karam, hancur dan retak.
"Adjie."
"Bisma." setelah Bisma menjawab dengan nada datar, baru lah Rayna menghadapkan Adjie kepada Dipta yang mencoba tegak walau punduk terasa panas dan telapak kaki ingin mencair.
"Adjie."
__ADS_1
"Pradipta."
"Saya turut sedih atas---"
"Jangan sedih, kami di sini harus tetap berbesar jiwa dan hati." Pradipta sela ucapan belasungkawa yang Adjie ucapkan dengan menepuk bahu lelaki yang agak pendek sedikit darinya, sembari mengayun langkah duluan, menggendong Dara yang sejak tadi tidak mau menengok ke depan, tersenyum kepada Ibunya dan Adjie. Dara seakan ikut sakit hati dan tidak terima.
Yang Dara tahu, Ibunya berpisah dari sang Ayah tanpa tahu alasan pastinya, dan akan segera menikah lagi dengan lelaki lain. Karena saat ia pergi dibawa Rayna untuk keluar dari rumah, anak ini masih berusia empat tahun masih belum mengerti. Hanya tiba-tiba tau kalau ia sudah punya adik. Karena pernikahan ayahnya dengan Ibu sambung tidak begitu lama, bahkan sebelum Dara kembali ke pelukan Pradipta. Ayahnya itu sudah lekas bercerai.
"Pokoknya aku nggak suka sama om itu, Bu! Aku nggak mau dia jadi, Ayahku!" merajuk di meja makan dan tidak mau melanjutkan makan, malah ingin tidak mau masuk sekolah karena Rayna meminta izin untuk menikah dengan lelaki lain.
"Tapi, Ibu sayang sama Om Adjie. Dia akan jadi Ayah yang baik untuk, Dara."
"Kenapa Ibu harus jahat sama, Ayah?"
"Ayah yang jahat sama, Ibu, Nak. Dia sudah merenggut kebahagiaan Ibu dan kamu."
"Kalau gitu aku akan menyuruh Ayah untuk meminta maaf kepada, Ibu."
Perdebatan itu terjadi sebelum lamaran berlangsung dan tahu kalau Dara tengah mengidap sakit.
Tanpa Rayna beritahu ketidaksetujuan Dara kepada Adjie, calon suami Rayna itu sudah mampu menangkap kalau dirinya memang akan susah meraih hati Dara. Tapi, sebisanya. Adjie akan coba untuk menembus dinding pembatas tersebut. Ia yakin, dirinya nya lah yang tepat menikah dengan Rayna ketimbang lelaki lain, termasuk Pradipta.
"Kuat, ya. Aku tau kamu bisa, sayang." Adjie mencoba merangkul bahu Rayna saat melangkah bersama, yang mana hati wanita ini tengah berbunga-bunga akan Adjie, berbalik melempar senyum senang. Ia bahagia karena merasa di dukung. Saat tadi malam, Rayna kembali terguncang akan mimpi buruk, ia hanya bisa menelpon Adjie untuk mengadu.
Tentu, ucapan Adjie kepada Rayna yang romantis, bisa di dengar sampai ke baris depan, ada Dipta yang saat melangkah berulang kali memejam mata, menahan gemuruh jantung yang bergejolak. Pun Bisma, Bunda dan Ayah yang hanya bisa menyesali keadaan.
"Hilangkan dia dari hatiku, Ya Allah." Dipta terus berdoa. "Aku mengikhlaskannya."
🌾🌾🌾🌾
Saat akan masuk ke dalam ruangan Geisha, gawai Adjie berdering, ada telepon masuk dari kantor dan meminta izin Rayna untuk mengangkat sebentar. Alhasil yang berada di dalam ruangan hanya Rayna dan keluarga besar mantan suami yang merupakan keluarganya juga sejak kecil. Dipta, Bisma, Geisha dan Rayna pernah tumbuh bersama di London. Kandungan para Ibu mereka pun tidak jauh-jauh usianya. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana pecahnya hubungan kekeluargaan yang amat kental saat Nancy masuk menjadi orang ketiga.
Setelah Geisha memeluk lama Dara yang akhirnya di perbolehkan main bersama ketiga anaknya, ia duduk di kursi kerja bersama Gentala, berhadapan dengan Pradipta dan Rayna yang tersekat dengan meja berwarna kaca gelap, mantan pasutri itu duduk saling bersisihan. Ayah, Bunda dan Bisma duduk di sofa panjang, memperhatikan para cucu mereka bermain sembari mendengarkan penjelasan Geisha.
"Karena penyakit Dara ini bukan masuk ke dalam wilayah ku. Bukan aku yang mampu bertugas untuk menangani penyakitnya. Maka, aku akan memindah tangankan Dara kepada teman sejawatku yang ahli onkologi. Atau bisa disebut Dokter ahli kanker."
Rayna dan Dipta mengangguk paham. Sebelum pembicaraan itu di mulai, saat Rayna bertemu dengan Geisha. Rayna kembali menangis dalam pelukan Geisha. Seraya mengadukan apakah Dara bisa sembuh.
"Aku sudah berkonsultasi dengannya dan menanyakan secara ringkas metode apa yang akan di jalani Dara dalam masa pengobatan. Rasanya nanti mungkin akan menyakitkan. Tapi, aku yakini. Dara ...." menjeda, menoleh ke arah Dara yang tengah menguncir-nguncir rambut Gabina.
__ADS_1
"Dara adalah anak yang tangguh, yang kuat, pasti mampu." lama-kelamaan nada suara Geisha bergetar, ia menurunkan kaca mata baca dari wajah untuk membasuh kelopak mata yang mulai basah. Pun dengan Dipta dan Rayna yang kaca-kaca di matanya mulai tampak.
"Sesakit apa, Kak?" tanya Dipta mencoba kuat.
"Efek kemoterapi akan berpengaruh untuk fisik serta psikisnya."
"Bisa beri contoh efek kemo dari segi fisik sampai psikis?" Rayna yang bergantian bertanya.
"Dari fisik, rambutnya akan rontok, kulit tubuh serta wajah bisa menghitam, awalnya bisa gemuk sekali sampai ia akan merasa capek sepanjang waktu. Makanannya pun harus fresh, sekali masak langsung di makan. Lewat dua jam, lebih baik jangan di makan lagi. Nggak boleh makan makanan yang mentah. Semua harus matang. Pun dengan makan buah, pilih yang kulitnya bisa di lepas. Kalau dari psikis, mungkin ia akan sedih dengan perubahan fisiknya."
Dipta dan Rayna saling melemparkan pandangan, menyendu.
"Mulai kapan untuk melakukan kemonya, Dek?" tanya Bisma.
"Secepatnya, Kak. Leukimia memang harus ditangani sejak sedini mungkin---"
"Apakah dengan kemo, anakku pasti sembuh, Kak?" sela Dipta yang mulai tak kuat untuk terus bepura-pura kuat.
"Selain kemo ada terapi lain yang bisa menambah kesembuhan di atas lima puluh persen keberhasilan. Yaitu, dengan mendapatkan donor sumsum tulang belakang yang cocok dengannya."
"Aku dan Mas Dipta, apakah bisa?"
Geisha mengangguk. "In Syaa Allah, bisa. Kalian kan orang tuanya. Pasti cocok, asal tidak mempunyai kormobit yaitu penyakit bawaan."
Rayna sedikit menunduk sedih. "Aku punya riwayat hipertensi. Apa aku bisa?" Geisha yang seakan lupa dengan penyakit Rayna lekas menggeleng. "Maaf, ya, Ay. Aku lupa kalau kamu punya darah tinggi. Untuk menjadi pendonor, tidak bisa."
"Ginjal Bapak Dipta sudah bermasalah nih. Jangan sampai cuci darah lho, Pak." Dipta teringat saat karyawan di perusahaannya sedang melakukan medical check up dan ia ikut diperiksa. Dipta memang sering mengeluh sakit di perut setelah dirinya bercerai. Tapi, ia bawa santai dan tidak mengadukan kepada keluarganya.
"Kalau kamu nggak ada sakit apa-apa kan?" tanya Geisha untuk memastikan Dipta.
Dipta menggeleng mantap. "Aku sehat."
"Mami! Hidung Dara berdarah!" sela Gabina dengan teriakan kepada Mami nya yang sedang menatap semua orang dengan penjelasan medis yang tengah ia berikan.
Bisma lebih dulu bangkit untuk menangkap Dara yang akan limbung ke lantai dengan darah yang mengalir dari kedua lubang hidung
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Like dan Komennya jangan lupa ya❤️
__ADS_1