
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al Baqarah : 216)
Rayna kembali hancur untuk kedua kalinya. Hati yang tengah merekah dengan cinta baru, seakan lekas pecah tercabik petir. Bayangan indah saat akan memulai rumah tangga dengan Adjie dan perencanaan beberapa anak yang ingin ia miliki dengan lelaki itu hanya menjadi angan-angan yang terus terngiang-ngiang di kepala hingga detik ini.
Kebersamaan dengan Adjie selama tiga tahun, perhatian yang lelaki itu beri dari sebatas teman kerja, teman curhat sampai berubah menjadi teman hati, masih tak sanggup menyurutkan air mata Rayna setelah lima hari dipemutusan sepihak pernikahan mereka.
Rayna memilih mengurung diri di kamar, menggelapkan dan memeluk tubuh di bawah selimut. Hanya meneguk air putih dan tidak mau makan, mirip ketika ia terguncang akan Pradipta dahulu.
[Pagi ini, Bunda jatuh stroke setelah berdebat denganku. Beliau tidak merestui pernikahan kita sejak lama. Karena statusmu yang pernah menikah dan mempunyai anak. Tapi, demi Tuhan, aku sudah berusaha untuk meyakinkannya selama ini. Dan sampai hari ini, restu itu tidak aku dapatkan. Aku minta maaf, Ay. Aku memang lelaki pecundang yang tak mampu mengangkat cinta kita untuk menghalau ke tidak inginan Bundaku. Maafkan aku sekali lagi. Aku mencintaimu]
Pesan yang Adjie kirim saat penghulu sudah duduk di mimbar akad mampu membuat roh Rayna seakan terlepas dari raga. Awalnya Rayna pikir Adjie hanya sedang bercanda. Nyatanya, Ayah Adjie membenarkan dengan kedatangannya ke gedung.
Matahari seakan terbelah, suasana teduh menjelang akad berubah suram. Pradipta sampai ikut menangis karena melihat Rayna begitu frustrasi, menangis kejar dalam dekapan Mami. Nyatanya, melihat Rayna depresi karena gagal menikah, membuat hatinya sakit. Padahal sebelumnya, ia tidak mau kalau Rayna menikah dengan Adjie. Tapi, jika melihat Rayna tersiksa seperti itu, mengingatkan dirinya yang pernah membuat salah, menebar api di hati Rayna. Berbeda dengan Dara yang juga menangis. Tapi, menangis bahagia di atas penderitaan Ibunya sekarang. Aku yakin Ibu hanya akan bahagia jika bersama, Ayah.
"Rayna gimana, Pih? Udah mau makan?" tanya Dipta yang baru sampai, sembari mencium punggung tangan Papi di sofa.
"Boro-boro, Dip. Keluar kamar aja nggak mau---"
"Mau ngapain sih kamu ke sini terus? Senang lihat anakku menderita lagi?" sela Mami yang langkahnya baru tiba di ruang tamu.
"Mih!" Papi menggeleng.
Dipta tetap tersenyum, menghampiri Mami dan membungkuk untuk mencium tangan. Tapi, Mami biarkan tangan Dipta untuk terus menggantung di udara. Dipta kembali menegapkan tubuh, mencoba sabar dengan raut Mami yang selalu asam padanya.
"Mami tuh heran, ya, Pih. Kasian banget sih anak kita. Hidup nya kena sial terus. Ketemu sama laki-laki kurang ajar semua." dengus Mami berapi-api.
Dipta hanya bisa hening, tidak melawan. Ia tahu dirinya juga salah walau semua kesalahan itu bukan murni karena andilnya sendiri. Rayna pun punya bagian, dan wanita itu seakan tak mau menyadari. Ia biarkan dirinya menang dan melimpahkan semua kesalahan kepada Dipta seorang. Karena masalah dalam rumah tangga akan selalu melibatkan dua pihak sebagai pencetusnya. "Maafkan, Dipta, Mih. Semua itu diluar kendaliku----"
"Ayah!" terpotong dengan seruan renyah berbalut senang dari suara Dara. Sejak kemalangan menimpa Ibunya, anak itu menginap di rumah lagi. Tapi, tidak bisa sekamar dengan Rayna, karena Ibunya terus mengurung diri.
Dipta menghampiri Dara, menggendong anak itu dan menciumnya, mengelus kepalanya yang licin seperti nya. Keduanya sudah mirip kue mochi dingin.
"Adek mana? Katanya hari ini mau bawa, Adek?" tanya Dara cemberut sedih ketika menilik Dipta hanya datang seorang diri. Melihat Mami yang tidak menyukai kedatangan Noora saat Dipta bawa di hari pertama Rayna mogok makan. Maka, Noora tidak lagi Dipta bawa. Bunda pun menyergah, tidak membolehkan. Takut-takut suasana jadi ricuh.
"Adek lagi nggak enak badan, Nak." kebetulan juga, Noora sedang demam sejak semalam.
"Tapi, udah minum obat belum, Yah?" Dara terlihat cemas. Mami yang merasa terusik dengan pembicaraan itu, memilih bangkit dari sofa menuju kamar. Bisa Dipta dan Dara lihat bagaimana Mami berdecak sebal saat melangkah.
"Enggak usah dimasukin ke hati, Dip," ujar Papi.
Dipta mengangguk paham. "In Syaa Allah, Pih. Aku ikhlas."
__ADS_1
Papi mengangguk. "Papi tinggal, ya."
"Iya, Pih." kemudian bangkit menuju kamar, mengekor langkah Mami.
"Sudah, Nak. Dara, gimana? Obatnya udah di minum?" melanjutkan percakapan dengan Dara di sofa.
"Udah tadi sama, Genma. Tapi, yang puyer nya warna merah belum, Yah. Pahit banget."
"Jangan nggak di minum dong. Nanti lama sembuhnya, Nak."
"Iya, Ayah, nanti aku minum."
"Sekarang aja. Bawa ke sini kotak obatnya."
Dara menggeleng, bermanja di dada sang Ayah dalam pangkuan. "Katanya anak solehah, rajin shalat sama baca Iqro. Masa, di suruh orang tua, wajahnya merungut begitu."
"Iya udah deh." Dara menyerah, ia turun dari pangkuan Dipta untuk pergi ke kamar. Melihat Dara sudah tidak terlihat. Dipta pun bangkit. Namun, bukan untuk mengekor sang anak ke kamarnya. Melainkan ke kamar Rayna yang pernah mereka tempati. Untuk berbagi cinta dalam malam pertama sampai malam di mana Rayna memutuskan untuk menggugat Dipta dalam konteks perceraian.
"Assalammualaikum, Ay." Rayna yang baru saja menyeka selimut ingin turun dari ranjang menuju kamar mandi, menoleh ke arah pintu kamarnya yang terkunci rapat.
"Aku bawakan bebek panggang untuk kamu, makan, ya," timpalnya lagi.
"Masih hangat, Ay. Kesukaan kamu, aku belinya di tempat dulu waktu kamu lagi ngidam." tidak mengidahkan usiran mantan istri, Dipta terus. berjuang agar Rayna mau makan, keluar dari zona gelap.
"PERGI, brengsek!" sembari melempar remote Ac ke daun pintu, karena dalam pandangan Rayna, Dipta pasti mentertawakan dirinya.
Rayna pernah mengeraskan rahang, menolak kata rujuk yang Dipta ucapkan dengan mengatakan kalau Adjie adalah lelaki terbaik yang amat ia cintai sekarang. Kembali ke Surah Al Baqarah ayat 216 : Memang hanya Allah yang tahu kebaikan untuk hambanya, sedangkan hambanya tidak tahu apa-apa.
"Apa mau makan yang lain, Ay? Biar aku belikan." Dipta sengaja menyulut amarah Rayna agar wanita itu keluar dari kamar dan menemui dirinya. Ada hal yang ingin Dipta bicarakan, ia akan membawa Dara untuk menjalani pengobatan alternatif. Bukan untuk melamar wanita itu, yang memang ingin sekali ia lakukan.
Kata Bunda "Sabar dulu. Pelan-pelan asal kena. Jangan main ngegas." seakan Bunda yakin kalau Rayna bisa kembali Dipta miliki.
Pintu terbuka kasar, menyembul lah Rayna dengan perawakan kacau. Rambut panjangnya terurai berantakan. Aroma tubuhnya begitu bau karena berhari-hari tidak mandi. Ia juga tidak shalat, merasa kecewa kepada Allah karena terus diberikan ujian beruntun.
"Tidak usah sok baik padaku, Mas!" Rayna melototkan mata.
Dipta memandang sendu mantan istri yang kantung matanya hitam sekali. Bibirnya kering dan pucat, tubuhnya mengurus.
Dipta melongo ke arah tempat tidur, seraya mencari sesuatu dan setelah mendapatkannya. Ia lekas masuk, melewati bahu Rayna.
"MAS!" seru Rayna semakin kesal. Mengekor langkah Dipta dan berhenti ketika Dipta membalikkan punggung menatapnya.
__ADS_1
"Jangan pernah lepas ini, Ay." Dipta memasangkan hijab rumahan di kepala Rayna untuk menutup rambut wanita itu, yang dibuang Rayna sampai ke kolong ranjang. Bisa Dipta tilik, mukena yang terurai penuh guntingan.
"Yang lain boleh jauh. Boleh meninggalkan kita. Tapi, tidak dengan Allah. Selama Allah tidak meninggalkan kita. Hidup kita akan baik-baik aja. In Syaa Allah, setelah ini akan ada lelaki yang lebih baik dari pada, Adjie."
"Siapa?" Rayna mengangkat dagu, bergelak tawa sinis, rautnya tetap angkuh. Wanita yang tengah marah, sembilan puluh persennya akan susah untuk diberi nasihat. Akan mental semuanya.
"Aku." tegas menjawab.
"Aku udah tau, Mas. Kamu akan jawab 'DIRI KAMU'."
"Kita ulang yang dulu, bagaimana?"
Rayna menggeleng jijik. "Jangan pernah mimpi, Mas! Lebih baik aku menjanda seumur hidup, dari pada aku harus kembali sama kamu!" Rayna sampai menunjuk bola mata Dipta penuh amarah. Bayangan saat tahu kalau Dipta membagi tubuhnya dengan Nancy, membuat Rayna selalu goyah dan tak kuat untuk berdamai.
"Coba mushabah diri, Ay. Aku begini kan juga karena kamu."
"Karena aku?" semakin meninggi. Waktunya memang tidak tepat untuk berdebat. Rayna masih syok, seakan Dipta terlalu hanyut akan percakapan, menjadi tidak peka kalau Rayna butuh waktu, ia tidak bisa di ajak bicara yang mengarah kalau ia juga memiliki andil kesalahan.
"Ayah ... Ibu," seru pelan Dara yang sejak tadi mendapati pertengkaran mereka, bersembunyi di balik pintu. Semua menoleh, gegas menghentikan perdebatan. Dara lebih dulu mendekati Rayna, memeluk perut Ibunya yang sejak beberapa hari ini ia rindukan.
"Ibu ... Dara kangen. Jangan marah-marah lagi, ya, sama, Ayah." Rayna lekas melepas pelukan itu kasar sampai Dara limbung dan di sanggah Dipta.
"Kamu memang nggak pernah sayang, Ibu, Dara! Kamu lebih pilih Ayahmu yang jelas-jelas sudah menghancurkan hati, Ibu! Pergi kamu, tinggal saja dengan, Bapakmu!" akal sehat Rayna seakan tertutup. Begitu frustrasinya kehilangan Adjie sampai kepala plontos Dara tak menggetarkan hatinya.
"AY!" Dipta berbalik menajamkan mata. "Istighfar kamu!"
"Kok Ibu begini sama aku?" Dara mencebik sedih, lantas menangis.
"Bukannya kamu yang nggak mau kalau Ibu menikah dengan, Om Adjie? Terus kenapa sekarang nangis, kenapa enggak ketawa? Hah? Kenapa nangis?!" Dipta sampai mendorong Rayna pelan karena wanita itu mencengkram lengan Dara sampai meringis sakit.
"Ibu macam apa sih, kamu? Dasar sinting!" maki Dipta, memilih menggendong Dara untuk meninggalkan kamar.
"Iya, aku memang sinting, Mas. Aku sudah Gila! Itu semua karena kamu! KAMU!" Rayna teriak histeris, melempar barang-barang ke lantai dan merusaknya. Dipta tetap melangkah keluar, mencoba menenangkan Dara yang menangis terseguk-seguk. Merasa dirinya bukan lagi prioritas sang Ibu.
"Mas Adjie." menangis-nangis, meraung-raung. "Aku sayang banget sama kamu, Mas. Tolong dong kembali. Aku bisa kok dapatin restu orang tuamu." kedatangan Adjie bagai sinar surya yang mampu menerangi hati Rayna yang terlampau karam dan redup, maka saat lelaki itu menolehkan luka untuk pertama kali selama mereka berhubungan, dunia Rayna seakan runtuh.
Dan, saat denial penuh benci hadir. Rayna memaki Adjie. "Kurang ajar kamu, Mas! Tega kamu begini sama aku! Kalian berdua tuh emang nggak ada bedanya! Sama-sama lelaki penipu! AKU BENCI! BENCI!" memukul-mukul bantal sampai sobek.
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Niatnya besok pengin libur, tapi kalau komennya banyak ENGGAK PAKAI kata 'LANJUT', besok aku up❤️
__ADS_1