Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Masih Mencintaimu


__ADS_3

"Kamu ngapain di sini?" tanya Adam, lelaki manis berlesung pipit. Anak pengidap leukimia sama seperti Dara itu terhenyak sekaligus senang mendapati Dara yang selama di kelas malas mengobrol dengannya walau sudah diberi cokelat.


Dara hening sejenak, menilik selang infusan yang mengalirkan cairan berwarna merah muda ke dalam tubuh Adam.


"Kamu sakit, Dam?" Dara berbalik tanya, ia bangkit, mensejajarkan tinggi dengan Adam yang memang kepalanya sudah botak. Dara pikir Adam memang suka model potongan gundul. Kenyataanya anak itu memang tengah sakit.


Bundanya Adam menggeleng. "Lagi dikasih vitamin, Nak." berbeda dengan Dara, Adam sudah mengerti dirinya sakit dan berusaha sabar untuk bertahan, menikmati apa yang tengah Allah beri. Dukungan yang Bundanya beri mampu membuat Adam tumbuh dewasa walau di umurnya yang masih belia.


"Ke sana, yuk. Ada taman bagus." Adam menggandeng Dara untuk mendekat ke tabir jendela. Dara pun mau dan masih terhipnotis dengan penampilan Adam yang terlihat berbeda saat di kelas.


"Kamu kenapa sih? Sakit apa? Kok bisa di sini, barengan sama aku." Rayna dan Bunda Adam mendengar celotehan Dara saat ia melangkah berlalu bersama Adam.


"Bunda ...." Rayna lekas memeluk Bunda Adam yang dibalas Bunda erat, yang Rayna kenal dekat selama mereka sekelas. Mereka suka berbagi kabar kalau ada tugas sekolah.


"Adam, Bun?" berusaha memperjelas. Rumah Sakit ini adalah rumah sakit rujukan kanker. Sudah pasti pasien-pasien yang datang kemari pasti mempunyai keluhan yang beda-beda tipis hanya saja golongan dan diagnosa sebagai pembedanya.


Bunda yang sudah lewat masa kritis karena tertekan soal Adam, mengangguk senyum. "Leukimia, Bunda. Sudah masuk empat bulan."


"Subhanallah, kenapa enggak pernah cerita, Bunda?"


"Saya nggak perlu cerita ke banyak orang, Bunda. Cukup saya serahin aja semuanya sama, Allah. Dara sejak kapan? Kanker macam apa?"


Rayna menguar dekapan, berusaha menelan air mata yang ingin terus keluar. "Sama kayak, Adam, Bunda. Baru banget. Saya sampai nggak bisa ngapa-ngapai, mikirin dia terus."


"Di pikirin boleh untuk kelangsungan kemo nya. Tapi, kalau sampai menjeda langkah hidup, ya jangan, Bunda. Seperti yang tadi saya bilang. Serahin aja sama, Allah. Karena kalau cerita ke orang-orang juga percuma. Cuman Allah yang mampu menguatkan. Mau nangis, teriak-teriak juga cuman bikin capek. Saya harus tetap kuat buat, Adam. Bunda juga harus kuat buat, Dara. Terlebih lagi kan kita single figther. Bedanya, Ayahnya Dara bertanggung jawab, enggak kayak Ayahnya Adam. Jadi, Bunda harusnya lebih kuat dari saya." dalam obrolan kecil jika bertatap wajah di sekolah, mereka akan sering bertukar cerita soal masalah rumah tangga yang sudah membuat mereka move on. Ayah Adam, meninggalkan Adam dan Bunda demi wanita lain dan tidak sama sekali memberi nafkah. Untung saja, Bundanya Adam seorang pengusaha dadakan yang langsung melejit paska bercerai.


Pradipta mungkin gagal menjadi suami. Tapi, ia tetap hebat dan bertanggung menjawab menjadi seorang Ayah.


Rayna mengangguk dalam perasaan mulai damai, pertemuan dengan Bunda Adam pasti sudah Allah rancang untuk menguatkan hatinya.


"Makasih banyak, ya, Bunda. Kita saling menguatkan, ya. Mohon maaf jika nanti kedepannya saya akan banyak bertanya soal masalah kemo kepada, Bunda."


Bunda Adam tersenyum, mengelus bahu Rayna. "Kapan saja Bunda membutuhkan, saya. In Syaa Allah akan saya bantu sebisanya. Yang penting kuncinya, terima aja dulu ujian dari Allah dengan kelapangan hati. Walau solusinya terkesan belum terlihat, minimal hati kita tenang dulu, Bun. Anggap aja penyakit anak kita seperti penyakit ringan. Pasti sembuh."


Rayna memandang haru Bunda Adam yang memakai hijab syari. Bunda mulai berhijrah, mendalami cinta Allah lewat hidayah di saat ia kehilangan suaminya.


"Makasih sudah menguatkan saya, Bunda."


Bunda Adam menggeleng. "Saya hanya perantara. Tetap Allah yang menguatkan dan membesarkan hati, Bunda."


Langkah Pradipta yang mulai hadir beberapa jengkal lagi bersama Noora membuat Rayna melambaikan tangan agar mampu melangkah cepat.


Pradipta menggerakkan kepala sebagai tanda hormat tanpa harus bersentuhan tangan. Pun dengan Bunda Adam. Mereka juga saling mengenal namun tak pernah bersapa akrab, hanya tahu saja kalau Pradipta adalah Ayahnya Dara jika sedang berpapasan menjemput anak atau mengantarkan sekolah.


"Ternyata, Adam, sama kayak, Dara, Mas."


"Subhanallah ...." Dipta menggeleng samar dengan mulut menganga kaget.

__ADS_1


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Udah jam sembilan tuh, Nak. Kapan dia mau pulang?" Rayna mendongak dari layar laptop di meja saat Mami menyembul masuk ke dalam ruangan kerja nya. "Mana sama anak itu lagi. Geli Mami tuh lihatnya." yang Mami maksud adalah Noora, si bidadari cantik kesayangan sang Kakak. Kebencian Mami kepada Dipta dan Noora seakan tak lekang oleh waktu.


Setelah pulang dari Rumah Sakit, Dara merengek agar Ayahnya bisa menginap bersama Noora di rumah. Melihat anaknya yang seakan rindu dengan Dipta. Maka, Rayna izinkan lelaki itu untuk bersama dengan Dara sampai waktu malam, di mana Dara tertidur. Ilalah nya, setelah Magrib, Dipta terlihat pucat karena ginjalnya kembali berulah. Rayna yang terlihat khawatir, meminta Dipta untuk berbaring dulu sebelum kepulangan.


Rayna menilik jam dan membetulkan ucapan Mami, di sela itu pun ia baru tersadar kalau Adjie tidak membalas pesannya dari sore.


"Masih di kamar, Mam?"


"Iya, masih. Malah pada pules tuh."


Rayna hening sejenak, seraya berpikir. "Cara nyuruh pulangnya, gimana, ya?"


"Ya suruh aja pulang. Nggak usah pakai basa-basi nggak enak. Lagian nggak pantes Dipta menginap di sini, Nak. Kalian kan sudah bercerai."


Rayna mengangguk paham. "Ya udah, Mih." Rayna bangkit dari kursi kerja sembari meraih bergo yang ia sandarkan di punggung kursi untuk ia kenakan, mulai lah dirinya melangkah meninggalkan ruangan menuju kamar Dara.


"Mami nggak usah ikut, biar aku aja." menghentikan langkah Mami yang berniat mengekor dirinya.


"Ya udah." Mami berbelok ke ruang keluarga, menemani Papi yang masih tertawa-tawa karena tengah menonton acara stand up comedy di tipi.


Pintu kamar Dara yang memang tidak tertutup rapat, Rayna buka setengah. Ia berdiri dibingkai pintu dan mendapati kalau Dipta tengah tertidur sambil mendengkur dipeluk kedua anaknya dari sisi kanan dan kiri.


"Ay ...."


"Aku masih mencintaimu. Apa masih ada kesempatan? Mungkin saja dengan kita rujuk. Dara bisa sembuh."


"Jika kamu tidak menghadirkan anak itu, mungkin kita tidak akan bercerai berai seperti ini. Hilangkan rasa itu, Mas. Sudah tiga tahun berlalu, move on lah. Jangan lupakan, aku akan menikah sebentar lagi."


"Apa benar kamu mencintai, Adjie?"


"Ya, benar, Mas. Sangat mencintai."


Rayna terbayang saat Dipta mengungkapkan isi hatinya, ketika mereka diperjalanan menuju rumah. Walau nada suara yang Dipta berikan terasa seperti guyonan, hal itu mampu membuat Rayna marah dan tidak suka.


Rayna kembali melajukan langkah dan saat ingin membungkuk membangunkan Dipta, menggoyangkan lengannya. Bola matanya terhenti kepada bungkus kaplet obat yang ada di saku celana Dipta, menyembul sedikit.


"Obat apa itu?" beralih menatap wajah Dipta yang memang masih sedikit pucat seperti Dara.


"Beneran cuman, maag? Masa berhari-hari gitu." melihat Noora yang bergumam dan akan membuat kebisingan, refleks tangan Rayna mengulur ke tubuh anak itu untuk menenangkan. "Jangan berisik, ya. Kasihan Anakku lagi tidur."


Ada pergerakan sedikit pada tubuh Dara yang mendekap erat Ayahnya. "Makin rapet nih, gimana, ya? Aku nggak tega. Nanti Dara pasti marah, terus nangis, ikut deh sama Ayahnya."


"Gimana?" belum saja Rayna sampai di sofa, Mami lekas bangkit berdiri. Rayna melangkah gontai saat niat ingin membangunkan Dipta tidak bisa ia lakukan.


"Mau di bangunin, Dara pasti bakalan ikut bangun, Mih. Aku jadi bingung. Mana, tidurnya pules banget. Kasian aku, nggak tega."

__ADS_1


Sembari memasukan kacang sukro ke dalam mulut, Papi menimpali. "Biarin aja menginap sampai besok pagi. Kasian Dara. Dia kangen, Ayahnya."


"Ih, Papi!" Mami menyela.


"Apa salahnya? Toh Rayna enggak sekamar sama dia kan? Dari pada malam-malam, cucu kita nangis-nangis. Nggak kasian kamu?" Mami cemberut. Papi beralih menatap Rayna. "Biarin aja dulu malam ini Dipta menginap."


"Baik, Pih."


"Udah istirahat sana, jangan kerja terus. Kamu kan udah capek seharian."


Rayna mengangguk dan meninggalkan kedua orang tuanya. Sebelum benar-benar tidur Rayna kembali mengirimkan pesan kepada Adjie, merayu lelaki itu untuk tidak terus merajuk.


[Aku merindukanmu, Mas]


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Nyatanya, Adjie tidak jadi merajuk lama karena ia memang merindukan Rayna seharian ini. Lelaki itu mampu tersipu dengan pesan terkahir yang Rayna kirim. Mereka pun bercakap lama dalam sambungan telepon, bertukar nada-nada cinta.


"Iyaa dong kangen banget. Kamu ngapain aja seharian ini, Mas? Jangan ngambek gitu lagi ah. Aku kan sedih."


Dipta gegas mematung saat langkah kaki tepat berada di depan daun pintu kamar Rayna, ketika ia baru saja keluar dari kamar dengan jantung bergemuruh karena baru terbangun jam sebelas malam. Ingin mengetuk pintu kamar Rayna, bermaksud pamit pulang.


Dadanya terasa sakit seakan di tusuk sembilu ketika Rayna berujar penuh kelembutan. Rasa tegar dalam daksa seakan selalu turun naik untuk merelakan Rayna.


Seperti di awal perjalanan menuju sekolah, ia mengatakan kalau dirinya dan Rayna tidak akan bisa kembali bersama. Tapi, di kepulangan menuju rumah, Dipta seakan berubah untuk mengatakan perihal kejujuran hatinya. Lelaki itu terbawa suasana, di balik sakitnya Dara, ada rasa sejuk ketika ia mampu berdekatan intim dengan Rayna walau soal masalah anak.


Kalimat cinta yang Rayna ucap kepada Adjie pernah juga ia katakan kepada Dipta saat mereka masih menikah ketika Rayna sibuk tidak mengabari Dipta yang tengah bekerja di luar kota.


"Dulu cintamu hanya untukku. Sekarang, sudah berbeda," Dipta bergumam sedih, lekas mengepalkan tangan saat bayangan Nancy menggodanya sembari memberikan minuman perangsang, kembali berputar seperti roll film.


Di saat ia rindu belaian Rayna, di saat ia berada di ujung pelepasan yang terbelenggu dalam tujuh bulan dan ketika semua itu dibalut dusta akan tindakan licik Nancy dalam menggoda. Hancur lah hidup dan kebahagiaan Dipta.


"Bangsat, Nancy!" Dipta geram, air matanya menggenang. "Astagfirullah, Ya Allah. Maafkan hamba ...." memilih beristighfar saat hatinya kembali karam dan berucap dengan nada kotor.


"Apa yang terjadi di dalam hidupmu, pasti sudah menjadi kehendak Allah. Daun yang jatuh dari pohonnya saja, juga kehendak Allah. Jadi kamu harus menerimanya, Nak." nasihat Ayah dan Bunda mampu membuat dada Dipta yang sedang berderap tak karuan, terasa berdenyut damai.


Tok tok tok.


"Assalammualaikum, Ay. Maaf ganggu, aku mau pamit pulang."


Di seberang sana, Adjie mengerutkan kening seraya mampu mendengar suara siapa yang terasa dekat sekali. Pun dengan Rayna yang lekas membekap ponsel dengan telapak tangan agar Adjie tidak mendengar.


"Ada Dipta di sana??"


"Ay?" Dipta terus menyerukan.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ

__ADS_1


__ADS_2