Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Berjuanglah.


__ADS_3

Allah tidak pernah salah dalam menciptakan takdir. Dia tidak pernah keliru untuk memilih pundak siapa yang akan diberikan ujian. Allah paham betul kapasitas kemampuan setiap hambanya. Maka, tugas kita hanya menerima dan bersabar. Memang terasa sulit. Bahkan terkadang kita ingin menyerah, kenapa? Karena jika setiap hamba tahu ujian yang dilandasi penuh kesabaran akan berbuah pahala yang besar saat di waktu penghisaban, mereka semua pasti akan berbondong-bondong meminta ujian agar bisa mendapatkan pahala sabar.


"Apakah ini ujian lagi darimu, Ya Rabb? Atau kah sebuah kenikmatan untukku nantinya?" lamunan Rayna terhempas mana kala telinganya mendengar sorak kata SAH dari khalayak ramai. Saking tak merasakan keindahan jalannya akad, ia sampai melamun, tidak memperhatikan bagaimana Dipta bersuara lantang, tegas dan lugas dalam satu tarikan napas untuk berucap ijab kabul atas dirinya kepada Papi.


Tepat di kamar perawatan Dara, Dipta kembali menikahi Rayna setelah tiga tahun lebih berpisah. Mami Agnes awalnya menolak tegas, ia sampai tak mau memberikan restu. Tapi, saat Dara yang bersimpuh di kedua kaki Mami. Wanita itu tidak tega. Mami dan Papi sampai menangis, meminta janji kepada Dipta agar tidak lagi menyakiti hati anaknya.


"Saya yang akan menjadi jaminannya untuk, Rayna ...." bukan Dipta yang berucap. Tapi, Ayah Gifali yang mampu memasang badan untuk sang putra kepada kedua besannya. Ayah bahagia sekali ketika tahu Rayna mau kembali rujuk. Pun dengan Bunda yang terus berucap syukur.


"Sayang ...." Dipta menoleh haru penuh air mata di pipi, menatap Rayna, menyodorkan punggung tangannya untuk dikecup sang istri. Rayna hanya tersenyum tipis tak membalas sapaan yang terasa masih hambar untuk ia bawa ke dalam dada, ia hanya menunduk, mencium tangan suaminya yang dulu selalu ia genggam kemana-mana.


"Aku mencintaimu, Ay."


Dengan kebaya putih dan polesan make up seadanya yang Geisha berikan di pipi Rayna, wanita itu mengangguk saja. Semua hadirin yang mendengar, hanya bisa memaklumi kalau hati Rayna pasti belum tegak untuk Dipta.


"Iya, Ayah. Ibu juga cinta sama, Ayah." Dara yang membalas. Ketika Dipta mengucap ijab, Dara ada di pangkuannya, ikut menemani.


Semuanya tertawa mendengar Dara yang sudah tiga hari di rawat, terlihat lebih membaik, apalagi Ibu dan Ayahnya sudah berhasil rujuk.


"Makasih, ya, Bu. Udah mau penuhi keinginanku." Dara bangkit dari pangkuan Ayahnya, pindah ke pelukan Rayna.


Rayna yang di ujung hati masih sulit menerima pernikahan ini tapi demi putrinya sembuh, mengangguk senyum. "Sama-sama, Nak. Yang penting, Dara harus sembuh. Harus semangat minum obat dan menjalani kemo." seperti Ibunya yang harus berjuang melawan trauma untuk mau hidup kembali dengan Dipta. Pun Dara akhirnya terpacu untuk mengikuti kemo kembali.


Dipta berbisik di telinga Rayna. "Minggu depan, aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku untuknya."


"Maa Syaa Allah, yang benar, Mas?" kata-kata yang begitu membahagiakan menurut Rayna, sampai ia menatap Dipta haru. Senyumnya mengembang sempurna. Kesal hati karena mengalah dengan Dipta akan pernikahan ini seakan terobati.


"Ya, Sayang. Dara akan sembuh." dibalik senyum yang Dipta balas, tersimpan rasa was-was akan resiko setelah ia menjadi pendonor.


"Jika memang aku yang harus pergi. Setidaknya, aku sudah bisa menggenggam mu kembali untuk menjadi istriku lagi. Akan ku pergunakan waktu seadanya, untuk membalas kesedihanmu yang dulu," gumam Dipta berjanji dalam hati.


🌾🌾🌾🌾


Dalam pernikahan ini terdapat beberapa syarat yang Rayna ajukan kepada Dipta. Ada yang diterima, ada juga yang ditolak.


Pertama, syarat yang di tolak Dipta. Yaitu, Rayna berkata bahwa ia tidak mau ada Noora di rumah tangga mereka. Dengan tegas, Dipta menggelengkan kepala.


"Noora juga anakku. Dirinya hadir karena sudah kehendak, Allah. Walau dulu aku tidak pernah sama sekali menginginkan dia ada di dalam pernikahan kita. Aku kepada Dara. Sama adilnya, kepada Noora. Jadi, kalau kamu ingin aku nikahi, maka kamu harus menerimanya juga. Noora tidak bersalah. Ia tidak tau apa-apa. Dari lahir ia sudah kurang kasih sayang dari Ibunya. Aku mau meminta belas kasihmu untuk bisa menjadi Ibu sambung untuk Noora. Hilangkan dendam itu, Ay."


"Aku juga nggak mau jauh dari Adek, Bu. Aku sayang dia." pun Dara yang bersikukuh agar Rayna mau menerima anak batita itu.


Tak ada yang bisa Rayna lakukan, selain menerima dengan ikhlas anak tersebut, walau dalam kesehariannya tidak ada yang bisa menjamin, bagaimana perlakuan yang akan ia beri kepada Noora, yang wajahnya sangat lekat akan perpaduan wajah Nancy dan Dipta. Rasanya pasti akan sakit sekali dan terus terngiang-ngiang. Tapi, demi senyum Dara yang pernah redup karena permasalahannya dengan Adjie yang terasa egois. Maka, Rayna turuti.


Kedua, syarat yang Dipta setujui. Yaitu, Rayna meminta untuk tidak ada hubungan fisik di antara mereka sampai cinta benar-benar tumbuh di hati Rayna.


"Sampai detik ini, aku masih mencintai, Mas Adjie. Jadi aku harap, kamu mengerti."


Dengan dada berdenyut nyeri saat mendengarnya, Dipta mengangguk legowo. "Aku akan berjuang untuk mengembalikan cintamu lagi padaku."


"Ya, berjuanglah."


Semoga Dipta mempunyai waktu yang cukup untuk mengembalikan cinta Rayna padanya.

__ADS_1


Di hari ke lima pernikahan. Dara sudah berada di rumah lagi setelah di rawat satu Minggu. Dipta membeli rumah baru dengan halaman yang besar, penuh dengan kehijauan. Yang mana ia tahu kesukaan Rayna selain mengurus rumah yaitu menata tanaman. Apapun yang Rayna suka, Dipta penuhi semua. Mulai dengan bentuk bangunan rumah, warna cat dinding, furniture terbaru, semua Dipta siapkan dalam waktu sekejap. Rumah lama tidak lagi ditinggali, dibiarkan saja kosong.


Di rumah, Dipta dan Rayna tetap sekamar. Namun, terpisah jarak jika sudah di ranjang, ada Dara sebagai pemisahnya. Sementara Noora, Rayna suruh tidur di kamar lain, sendirian.


"Mau kemana?" langkah Dipta lekas statis dengan dada tergelak kaget, ia pikir kamar ini sudah sunyi karena Rayna dan Dara sudah nyenyak, nyatanya sang istri terbangun dan mencekal langkahnya yang sedang mengendap-endap seperti maling.


Dipta menoleh, tersenyum kikuk. "Mau minum."


"Itu ...." Rayna menunjuk gelas berisi air putih di atas nakas.


Dipta menggeleng. "Ingin yang dingin."


"Itu!" Rayna mengangkat kepala dari bantal tapi tidak melepaskan dekapan Dara di dadanya sembari menunjuk ke arah kulkas yang ada di kamar.


Dipta menghela napas, menatap Rayna lurus. "Aku dengar suara Noora menangis di kamar sebelah. Kayaknya dia mimpi buruk----"


"Tidur!" Rayna memasang wajah tak perduli akan apa yang Dipta keluhkan.


"Sebentar aja, Ay. Nanti aku balik lagi ke sini."


Rayna menggeleng. "Kembali ke ranjang dan tidur!" terkadang ia ingin menyerah untuk menerima Noora, berteman dengan masa lalu. Tapi, jika mood nya sedang turun, ia akan membenci anak itu sampai ke ruas-ruas tulang. Sebelum melangkah ke mimpi, Dara akan menemani Noora di kamar. Kemudian mereka akan lelap bersama. Dan setelahnya, Rayna akan menggendong Dara untuk dipindahkan, meninggalkan Noora sendirian.


"Aku nggak lama, sebentar aja." Dipta tetap pergi ke luar, menemui Noora yang suaranya masih kencang menangis, menyerukan Ayah dan Dara.


Melihat Dipta tak menghiraukan keinginannya, Rayna mendengkus kesal. Ia melepas pelan pelukan Dara, untuk bangkit menuruni ranjang. Saat ingin merapatkan pintu kamar dan menguncinya agar Dipta tak bisa lagi tidur di kamar bersama dirinya dan Dara. Dipta lekas kembali tapi sambil menggendong Noora yang menangis.


"Ngapain sih bawa ke sini?!" Rayna terlihat naik pitam.


"Tolong malam ini aja, Ay. Badannya agak hangat," ujar Dipta memelas.


"Enggak! Kamu boboin aja di kamarnya!" Rayna seraya mendorong Dipta untuk menjauh dari pintu. Setiap melihat rambut Noora yang menjuntai panjang berwarna legam, ada rasa iri di hati Rayna karena Dara tidak lagi seperti itu.


"Di sebelah Ac nya rusak, Ay. Agak panas, Noora susah kalau enggak dingin."


"Aku nggak perduli! Suruh aja dia tidur di lantai kan dingin," balas Rayna tidak memberikan belas kasih.


"Subhanallah, Ay. Tega banget kamu begini sama anak kecil."


Rayna tertawa angkuh. "Ibu nya juga tega padaku, Mas! Menghancurkan pernikahan kita dulu."


"Yang dulu biarlah berlalu, apa masih harus diributkan?"


Rayna menyengir sinis, lekas melotot tajam.


"Enggak semudah itu, Mas! Di sini aku korban kalian, tentu sulit untuk seringan itu berdamai! Kalian itu pelaku, tentu aja gampang untuk berucap 'melupakan' !"


Dipta menggeleng samar, memilih menghentikan perdebatan, Dipta tetap melangkah masuk, melewati Rayna menuju pembaringan. Dara jadi terbangun karena isak Noora yang tak mampu padam.


"Adek kenapa, Yah?" Dara mencoba memeluk Adiknya, menenangkan, mengusap-usap pipi Noora yang basah.


"Cuman mimpi buruk aja. Udah, Kakak tidur lagi. Peluk Adek nya." Dipta menarik selimut untuk membungkus dirinya dan kedua anaknya. Lekas menoleh ke arah sofa di mana Rayna tengah terduduk dengan wajah masam.

__ADS_1


"Ayo, sayang sini. Kita tidur lagi." Dipta melambaikan tangan.


Rayna tetap saja cemberut, malas menanggapi.


"Ay."


"... Bu."


Ayah dan anak itu terus menyerukan dirinya. Akhirnya, Rayna pun bangkit, menuju ranjang. Namun tak lama, senyum Dipta dan Dara mengempis yang mana mereka senang kalau Rayna berhenti merajuk ketika Rayna memilih mengambil bantal dan guling untuk ia bawa ke sofa.


"Mau kemana, Ay?" tanya Dipta pun Dara.


"Tidur berempat sempit. Ibu, di sofa aja, Dara." Rayna hanya menjawab pertanyaan Dara tapi tidak kepada Dipta.


Dipta mengusap wajah frustrasi, ia pun bangkit dari ranjang dan menghampiri Rayna yang akan mulai membaringkan tubuh di sofa.


"Berempat cukup, Ay. Kasurnya kan besar."


Rayna menepis tangan Dipta kasar di lengannya, menatap tegas. "Pindahkan Noora jika mau seranjang denganku!"


Dipta mendesah napas berat, menggeleng pelan. "Untuk malam ini aja, Ay." tetap memohon.


Rayna tetap kukuh seperti Dipta yang juga kukuh mempertahankan Noora. "Aku tetap di sini! Udah sana, peluk aja tuh Anak kamu dengan Nancy!"


"Astaghfirullahaladzim ...." ternyata rujuk dengan Rayna, mengulang rumah tangga, memang tidak gampang seperti sedia kala.


Bunda menawarkan agar Noora di urus saja oleh Bunda dan Ayah. Namun, Dipta menyergah. Ia tidak mau psikologis Noora terganggu karena merasa dihempaskan. Walau kenyataannya, ia juga tidak mau psikologis Rayna yang akan kembali kacau karena terus berdekatan dengan Noora. Tapi, rasa trauma memang harus di obati. Dipta yakin, lama-kelamaan Rayna akan menerima Noora.


🌾🌾🌾🌾


Terdengar sekumpulan ayam-ayam tengah berkokok jauh. Beriringan dengan suara adzan subuh yang sedang berkumandang, serta tangan Dara yang menggeliat di depan wajah Rayna, membuat wanita itu pun terbangun.


Lalu


Deg.


Jantung Rayna seketika mencelos, seperti ingin melompat jauh ke dasar samudera. Ada rasa kaget yang begitu saja datang ketika ia baru mengerjap perlahan kelopak matanya untuk terbuka. Ada hembusan napas dari belakang leher dan sebuah tangan melingkar diatas perutnya.


Sudah dipastikan siapakah kini yang berada dibelakang tubuh ringkihnya. Belum lagi ada tombak yang terasa berdenyut menyentuh bokong Rayna. Ia tahu itu adalah pusat tubuh Dipta yang selalu berkontraksi ketika pagi hari.


"Mas ..." sentak Rayna. Ia mencubit paha Dipta dengan kuku-kuku jarinya yang tajam. Dipta yang masih mengantuk hanya menggeliat pelan dan tertidur kembali.


"Bangun, Mas! Ngapain kamu peluk-peluk aku!" Rayna menjauhkan dirinya sedikit kedepan. Ia tidak mau dirinya bersinggungan dengan milik Dipta yang terus saja berdenyut. Saat Rayna terlelap, Dipta menggendong wanita itu untuk dibaringkan kembali di ranjang.


Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Rayna memutuskan untuk memutar tubuhnya agar bertatapan dengan Dipta. Awalnya ia ingin membangunkan lelaki itu dengan makian, namun niat nya terurungkan. Entah mengapa menatap Dipta dalam posisi tidur. Membuat hati Rayna tenang. Tapi, gumamam Noora yang tengah bergeliat, membuyarkan semua itu. Rayna kembali kesal.


"BANGUN, MAS! BANGUNNN!" Rayna tarik jambang rambut Dipta sampai lelaki itu berteriak sakit. Pun Dara dan Noora yang ikut mengerjap mendadak.


"Ada apa, Bu?" tanya Dara gelagapan, memegang dada.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Like dan Komen, ya, guys❤️


__ADS_2