
Mata bulat cantik milik Dara terus berpusat ke arah rembulan di pertengahan nabastala yang bermandikan miliyaran bintang. Kadang ia tersenyum lama dan setelahnya meredup. Merasa cahaya bulan tak akan pernah lama ia rasakan dalam keindahan penglihatan.
Sedang asik melamun, lekas tersenyum saat sepasang telapak tangan membekap matanya tiba-tiba. "Ayah!" serunya senang, melepas paksa tangan itu, menoleh senang karena mendapati senyum Dipta yang sejak pagi sampai malam ia rindukan. Dara terduduk di bangku taman sejak sehabis shalat Isya. Tadinya bersama Bunda dan Noora. Tapi, karena Noora mengadu ingin puppy. Maka, Bunda meninggalkan Dara sendirian di sini.
"Putri Ayah yang cantik ngapain di sini?" tanya Dipta yang baru pulang bekerja, ikut duduk bersisihan dengan Dara. Lengan kemeja sudah di gulung setengah, dasi dan jas kerjanya sudah ia buka pada saat ia masuk ke dalam rumah dan lekas diberikan kepada Art untuk segera di cuci. Biasanya lelaki ini tidak pulang semalam ini. Tapi, karena banyak rapat di kantor, mengharuskan ia pulang malam, melewatkan makan malam bersama orang tua dan kedua anaknya.
"Apa Dara masih cantik, Yah? Aku udah hitam begini." membawa iris mata sang Ayah untuk menyorot kulit tubuhnya yang memang sudah berwarna keruh. Kemo yang terasa panas dan menyakitkan mampu membuat luluh lantah dirinya.
"Cantik wajah itu biasa, Nak. Kalau yang cantik hati itu, baru luar biasa dan jarang. Nggak ingat apa kata, Adam?"
Dara mengangguk, ikut tersenyum seraya mengingat. "Kalau udah sembuh, kita suntik putih, aja, Dar." Dara mengulang ucapan Adam yang kulitnya juga sudah hitam sepertinya. Adam hanya ingin menyenangkan hati Dara yang sering mengirim pesan kalau ia rindu dengan Ibunya dan lelah akan penyakitnya.
Dengan berat hati akhirnya Dipta menjelaskan apa penyakit yang Dara derita dan anak itu menangis saat diberitahu kalau kanker bukanlah penyakit biasa seperti flu yang ia sangkai.
Dara akan bertumbuh besar, rasa ingin tahunya akan menggelebat. Ia tidak mungkin terus hidup dalam kebohongan. Rasa sakit yang ia rasakan dan rambut plontos yang tak kunjung tumbuh, membuat ia terus mencecar Ayahnya untuk berkata jujur.
"Aku kenapa?"
"Kata Adam aku sama sepertinya?"
"Tolong dong jelaskan, Yah!"
Beberapa kalimat yang Dara cecar kepada Dipta.
"Nggak usah nangis. Kan ada aku yang nemenin." begitu lah yang Adam ucapakan saat anak itu main ke rumah Bunda, menjenguk Dara yang kembali drop seminggu lalu.
Sudah satu bulan ini, Rayna di bawa pergi ke London oleh Mami dan Papi untuk berobat kejiwaan sekaligus membawa ke tempat tenang yang indah, favorit Rayna. Karena setiap harinya, wanita itu hanya menangis, menangis dan menangis. Tidak mampu menguasai diri.
Kata Dokter, beban yang Rayna rasakan cukup pelik, seakan menimbun dan akhirnya menyeruak ke daratan dengan guncangan hebat. Pertama dari masalah kematian Elea. Kedua dari, perbuatan Dipta dan Nancy. Ketiga dari, penyakitnya Dara dan keempat ketegaan Adjie padanya. Membuat Rayna merasa dunianya begitu gelap, tidak lagi mempercayai orang, menganggap tak ada yang tulus mencintainya.
Baru beberapa hari ini, Rayna akhirnya menghubungi Dara dan berkata rindu ingin bertemu. Tapi, terapi dengan psikiater belum selesai, Rayna harus melewati beberapa minggu lagi untuk pulang ke Jakarta. Baik Dara, Dipta, Ayah dan Bunda berucap syukur kalau Rayna berangsur sembuh.
"Apapun yang ada dalam diri, Dara, sekarang. Dara tetap sempurna bagi, Ayah." Dipta mengeratkan pelukan, memeluk buah hati yang selalu menangis tiap malam, berdoa kepada Allah agar ia disembuhkan. Dan memohon agar orang tuanya secepatnya dipersatukan. Dara sampai memberikan mainan-mainannya kepada anak-anak yatim piatu di panti asuhan, ingin merayu Allah agar keinginannya terkabul. Mulia sekali hati anak itu.
"Dara pengin Ayah nikah lagi sama, Ibu. Jagain Ibu dari orang jahat. Biar kalau Dara pergi, Ibu nggak sendirian. Ada Ayah yang jaga." tangan Dipta yang terulur lembut pada punggung kurus sang anak mulai statis. Ada ludah yang menumpuk di ujung tenggorokan namun tak kuasa ia muntah kan. Ketakutan Dipta tiap hari jika bayangan Dara akan pergi. Setiap Dipta bangun dari tidur, ia akan lebih dulu menilik perut Dara yang masih terlelap apakah masih bergerak atau tidak. Tanpa sadar, perlahan, Dipta juga mengalami yang namanya stres.
"Dara mau pergi kemana memangnya?" iris mata Dipta mulai berkaca. Tapi, nada suaranya tetap tenang. Ia menurunkan tatapan, menatap kulit licin kepala Dara yang masih ia peluk.
"Kata Adam. Pilihannya kita cuman dua sekarang. Dunia dan Surga," balas Dara polos sembari memainkan kancing kemeja sang Ayah.
Dipta menekan air mata, mencoba kuat untuk menata hati agar tidak memberikan ekspresi sedih di hadapan Dara apalagi sampai menangis.
__ADS_1
"Pilihan itu tidak hanya berlaku untuk kalian berdua. Tapi, juga manusia lainnya. Termasuk Ayah, Ibu, Adek, Nenek, Kakek, Genma dan Genpa. Suatu saat kita akan bertemu dengan ajal. Kematian tidak selalu menampakkan dirinya kepada yang sakit. Malah kebanyakan mendadak mendatangi orang yang tengah tertawa."
"Hem." Dara menangguk-angguk. "Jadi, aku dan Adam masih punya harapan untuk hidup lama di dunia?"
"Selagi obatnya diminum, dan Dara yang tidak berhenti berdoa kepada Allah. In Sya Allah, Nak. Allah ijabah."
"Boleh nggak kalau bawang putihnya nggak di makan lagi? Dara mual, Yah." Dipta membawa Dara ke pengobatan alternatif kanker yang cukup terkenal di daerah Jawa Barat. Dan kebanyakan pasiennya penderita leukimia. Ikhtiar boleh, walau penentunya tetap Allah Yang Maha Kuasa. Dipta hanya ingin, Dara tidak terlalu menyerap kemo terus-terusan.
Dipta menggeleng. Merogoh kantung celana dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi beberapa bawang putih mentah yang masih berselimut kulit.
"Di makan dong bawang putihnya, Nak. Nih lihat, Ayah makan kan ...." Dipta mengupas kulit bawang putih lekas ia gigit dan kunyah. Berusaha menahan getir, pahit dan rasa aneh bersarang di lidah. Ia telan kuat-kuat, ia jadikan bawang putih sebagai cemilan.
"Kenapa Ayah ikut makan? Aku tau kok rasanya tuh enggak enak. Apa demi aku?" tanyanya sedih.
"Selain buat Dara semangat. Ayah juga pengin sehat. Bawang putih kan khasiat nya banyak, Nak." Dipta tinggal menunggu acc Dokter agar ia bisa secepatnya mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Dara, yang mana rencana operasi itu akan ia lakukan bulan depan.
"Biar nggak sakit kayak aku, ya, Yah."
"Dara pasti sembuh. Ayah janji." Dipta mencium hidung Dara.
Walau kata Dokter, Dipta memiliki tujuh puluh lima persen resiko setelah mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Dara. Lelaki itu bisa kehilangan fungsional tubuh bahkan nyawanya sekalipun.
"Ayah aja kali yang dingin. Aku mah enggak," Dara tertawa usil. Bagaimana tidak dingin kalau dari kepala sampai ke kaki di tutup kain hangat yang tebal.
"Iya nih. Ayah kedinginan. Lama-lama di sini, takutnya, gigi Ayah copot, Nak." menyeringai dingin palsu. Dara terbahak dan bangkit berdiri menggandeng Ayahnya untuk masuk ke dalam rumah.
🌾🌾🌾🌾
Baru saja tiba di bandara, Rayna lekas dikagetkan dengan telepon dari Dipta kalau Dara kembali masuk Rumah Sakit. Niatnya setelah sampai di Jakarta, Rayna memang akan segera menemui Dara di rumah Dipta, guna memberi kejutan dan oleh-oleh yang ia bawa dari London.
Rayna yang perlahan mulai bangkit dari keterpurukan walau terkadang bisikan-bisikan buruk suka menerpa, ia mulai bisa bertahan untuk tidak terombang-ambing dalam kegelapan. Ia biarkan Adjie yang memilih Bundanya, walau sesekali ia masih menangis, merindukan lelaki itu yang sudah memblokade sambungan media sosial mereka.
Beberapa bulan ini juga Adjie berada di Singapore untuk menemani sang Bunda menjalani pengobatan stroke. Tak ada yang bisa Adjie lakukan selain menurut kemauan wanita yang sudah bertaruh nyawa untuknya. Sekalipun di ujung hati menjerit, merindukan Rayna.
Rayna yang terlihat sudah seperti orang normal, diperbolehkan pulang sendiri oleh Mami dan Papi karena itu memang keinginannya. Rayna sudah tak kuat menahan rindu kepada Dara, jadi tidak sanggup menunggu Mami dan Papi yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing yang sudah ditinggal lama untuk mau mengantar Rayna. Mami dan Papi berjanji, tiga hari lagi akan menyusul.
Dengan sebuah taxi melaju kencang, membawanya langsung menuju Rumah Sakit Kanker di mana Dara tengah di rawat sekarang.
"Bisa lebih cepat lagi, Pak?" pinta Rayna panik. Suara Dipta di sambungan telepon memang terdengar tak biasa, begitu bergetar, di iringi isak. Biasanya walau Dara dalam keadaan drop, Dipta akan mengabarkan tapi dengan nada tenang penuh kesabaran.
"Anak kita dalam kondisi payah, Ay. Cepatlah pulang ke Jakarta. Dara memanggil-manggil kamu." Dipta pikir Rayna masih berada di London satu jam lalu. Nyatanya, mantan istrinya itu memang baru tiba.
__ADS_1
"Kecepatan mobil sudah maksimal, Bu," balas sopir apa adanya.
Rayna menghela napas panjang, mengusap banyak air di muka. Jantungnya dag dig dug tak karuan. Mencoba menyandar pada punggung jok, memilir butiran tasbih yang selama ia sembuh tidak pernah jauh dari genggaman tangan.
"Ya Allah, aku mohon. Tolong jaga, Dara. Tolong ...." kembali menyerukan nama Allah yang sebulan lalu ia tinggalkan.
Dua jam kemudian, sampai lah Rayna di pelataran Rumah Sakit. Ia berlari menuju counter rawat inap untuk menanyakan di mana ruangan anaknya.
"An. Eleodra, dengan penanggung jawab, Tn. Gashendra?" petugas mengulang nama lengkap yang Rayna tanyakan dari layar komputer yang tengah petugas itu tatap.
"Iya, betul, Bu."
"Maaf, Bu. Dengan siapa saya bicara?"
"Elvala ... Ibunya."
"Oh, baik. Ada di kamar teratai VVIP no 5 lantai empat."
"Makasih." gegas berlari dengan napas terseok-seok menuju lift. Sampai gelisah nya, tas dan barang-barang berada di dalam taxi tidak ia bawa turun karena langsung melangkah panjang masuk ke dalam Rumah Sakit.
"Aku memang bodoh. Ibu macam apa aku? Terlalu memikirkan Adjie dari pada anakku sendiri!" seolah kepalanya semakin terbuka, bahwa ia pernah mencampakkan Dara di saat anak itu butuh sekali dirinya.
Rayna terus berlari, menabrak banyak bahu sampai ia tidak sadar kalau salah satu sendal sepatu nya sudah terlepas entah di koridor mana.
Krek.
Pintu ia buka kasar, membentang luas. Seketika, bola mata Rayna melongo kaget melihat Dara di pembaringan. Detik kemudian cahaya di mata Rayna lekas redup, memutih. Sebelum tubuh mungil itu terjatuh dari bingkai pintu, buru-buru Dipta berlari untuk menyanggahnya.
"Ay!"
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Sesuai outline, kayaknya cerita ini akan tamat enggak sampai akhir bulan ini, guys. Cukuplah menuhin rindu kalian yang nggak bisa ikutin aku ke apk sebelah. Cerita ini sudah aku putuskan untuk tidak dikontrak, jadi hargai aku aja dengan like dan komen. Aku bikinnya kan pakai tenaga dan waktu. Kalau kalian cuman komen up, lanjut, mending nggak usah, ya. Karena aku pasti akan lanjut sampai tamat.
Besok libur, ya. Ketemu lagi hari senin.
Selamat malam minggu💕
Ayah dan Dara🤗
__ADS_1