Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Demi Aku.


__ADS_3

Adjie kembali marah dan semakin marah saat Rayna berkata jujur kalau Dipta hampir bermalam di rumah. Tak ada yang bisa Rayna lakukan selain apa adanya karena keadaannya sudah terjepit. Adjie menangkap langsung suara Dipta di depan pintu. Rayna kembali merayu Adjie, memberi seribu alasan kalau hal itu tidak akan terjadi lagi. Dipta yang ingin pamit dari rumah, jadi tidak jadi, karena Dara terbangun dan memaksa sang Ayah untuk menginap saja.


Sudah dua minggu berlalu dari malam itu. Dipta mengadu kepada Bunda sembari menangis kalau dirinya cemburu. Dipta masih ingin bersama Rayna, rujuk, berumah tangga lagi.


"Tikung saja di sepertiga malam, Nak. Sebelum janur melengkung. Rayna belum milik siapa-siapa."


Dalam keadaan Dara yang masih belum menunjukan tanda-tanda sehat, malah sekarang tubuhnya terlihat tambun. Dipta merasa sulit merawat Dara yang selama sakit tidak boleh di bawa menginap di rumah oleh Mami. Padahal setiap hari Dara selalu mengirimkan pesan atau menelepon dirinya untuk datang dan menginap. Dipta yang juga harus bekerja, harus bisa membagi waktu. Dipta memang menemui Dara setiap hari, hanya saja dari sore sampai ke malam, dalam hitungan jam.


"AYAH!" Dara berteriak di bingkai pintu, tubuhnya tertahan Papi yang ingin sekali ikut pulang bersama Dipta. Di dalam mobil menuju gerbang, Dipta hanya mampu mengusap wajah letih bercampur sedih, karena setiap malam jika ditinggal Dara pasti seperti itu. Bertepatan sampai di belokan gerbang, mobil Adjie masuk yang mengantar Rayna pulang. Seharian ini, mereka menghabiskan waktu bersama untuk membeli kebutuhan seserahan.


Adjie sengaja mengelakson dengan senyuman sinis menatap Dipta yang hanya bisa sendu menyorot mereka berdua. Rayna yang merasa tidak enak dengan sikap Adjie yang terlihat pongah dan sombong, mengelus bahu lelaki itu untuk cepat masuk ke dalam carport.


Adjie dan Rayna sempat berdebat kecil di jalan karena Rayna menanyakan apakah benar kalau hubungan mereka disetujui oleh Bundanya Adjie, yang mana kemarin malam, wanita itu berkata tidak akan menganggap Rayna sebagai menantu jika mereka jadi menikah. Adjie yang kepalang cinta, berusaha menutupi dari Rayna dan Rayna tidak sebodoh itu.


"Ayah! Pokoknya mau ikut, Ayah!" mendapati anaknya yang menangis kencang tidak bisa Papi tenangkan, Rayna lekas turun dari dalam mobil. Pun Adjie mengikuti.


"Kenapa, Nak?" Dara menepis tangan Rayna dari tubuh nya, menatap benci. "Aku mau tinggal sama, Ayah! Pokoknya sama, Ayah ... hiks." terisak, sampai keringat nya bermunculan banyak. Raut putih lantas berubah merah.


"Kan Ayah baru aja dari sini," ujar Rayna mencoba sabar, berjongkok, mensejajarkan diri dengan Dara, mencoba mendekapnya. Dara tetap enggan, menjauh. "Suruh dia pulang, Bu!" Dara tunjuk Adjie yang hanya mampu mematung bingung ingin bersikap bagaimana. Menenangkan tidak mungkin, karena Dara menatapnya bengis.


"Dara ... masa begitu sama calon Ayahmu," ujar Papi menurunkan tangan Dara di udara. Melihat Dara yang semakin hari semakin membenci Adjie, lelaki itu jadi berbalik kesal. "Semoga aja matinya cepat. Kesal aku lama-lama, kalau anak ini begitu terus sikapnya. Kurang ajar nya pasti nurun dari Bapaknya." Adjie berdecak kesal dalam hati.


"Aku pamit dulu, ya, Ay, Pih." Adjie memilih pamit, ia terlihat malas dan pusing mendengarkan rengekan Dara yang terus menyerukan Dipta. Apalagi sikap anak itu memang belum kelihatan hangat padanya.


"Jangan tersinggung, ya, Mas."


Adjie tersenyum palsu, menggeleng untuk meyakinkan. "Enggak apa-apa, Ay. Aku ngerti kok. Besok jam sembilan, aku jemput, ya."


"PERGI!" Dara melepas dekapan Rayna, beralih mendorong perut Adjie untuk menjauh dan menghentikan ucapan. Merasa Ibunya akan menikah lagi, Dara semakin tidak rela.

__ADS_1


"KAMU!" Rayna tanpa sadar mencubit lengan Dara yang tidak pernah ia lakukan selama anak itu hidup. "Siapa yang ajarin kamu kurang ajar begitu sama orang tua? SIAPA?" kepala Dara sampai bergerak maju mundur karena Rayna menggoyangkan tubuh anak itu dengan cekalan kuat di lengan. Dara sampai berhenti menangis, ia tersentak mendapati Rayna yang amat berbeda.


"Ibu kok begini sama aku?" air mata Rayna menggenang, ia tatap Dara dengan raut sesal. Memilih menundukkan kepala untuk membuang napas pelan.


Adjie segera angkat kaki menuju mobil karena Papi mengode.


"Kalau Ibu memang bahagia sama Om itu. Tolong kembalikan aku kepada, Ayah. Biar aku sama, Ayah, aja." seminggu ini Rayna memang terlihat sibuk sekali bersama Adjie, hal itu membuat Dara cemburu. Rayna meminta kepada Adjie untuk mengundur pernikahan karena ia ingin konsen dengan pengobatan Dara. Tetapi, lelaki itu menolak.


"Om itu akan menjadi Ayahmu, Nak. Tolong dong hargai. Kalau kamu mau dekat, pasti tau kalau Om Adjie itu baik banget."


Dara tetap menggeleng, sorot matanya terlihat memelas. "Ayah enggak akan pernah terganti. Begitu pun, Ibu. Bisa nggak sih kalau kalian menikah lagi? Demi aku, Bu." dan setetes darah mulai menetes tipis-tipis dari kedua lubang hidung Dara.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Ketika mendapat gelengan kepala dari Rayna bahwa Ibu nya tidak setuju, Dara lekas drop. Anak perempuan itu pingsan dan segera di bawa ke Rumah Sakit. Dara menolak di Rawat, ia hanya ingin Dipta di sisinya. Dan seminggu ini, Dara tinggal di rumah Bunda dan Ayah.


Berat badannya sedikit naik karena keadaan hatinya tenang. Ada Noora dan Dipta yang selalu menemani. Sedangkan kepada Rayna, Dara masih kecewa. Tapi, anak itu tidak akan mengusir jika Ibunya datang, hanya saja tidak mau banyak bicara.


"Kenyang, Yah." Dipta menilik nasi di piring dan memang sudah setengahnya di lahap Dara. Ia beralih kepada Noora yang masih berlari-lari di kebun belakang, mengejar kelinci.


"Mau makan yang lain, Nak?"


"Ayam bakar boleh, nggak, Yah?"


"Jangan, ya, Nak. Yang lain aja, roti mau?"


"Di bakar, ya, tapi."


Dara merungut karena Dipta kembali menggeleng. "Ini aja, ya, habisin." menjauhkan bibir saat ujung sendok tersodor lagi.

__ADS_1


Dipta harus tegas menolak kesukaan Dara yang terkesan tidak baik untuknya.


"Adek, sini!" Dipta beralih menatap Noora.


Noora mengangguk, menuruti. Ia tubruk Dara dan mengecup pipinya. "Kejal kelincih, yuk, Kak."


Dipta menggeleng, menarik Noora agar menjauh dari Dara yang terlihat sesak di peluk tapi suka. "Kakak lagi sakit, nggak boleh capek-capek lari." memasukan nasi bekas Dara ke dalam mulut Noora dan anak itu mau.


"Kita ke taman safari aja, Yah. Ajak Adek."


"Dara mau ke sana?"


"Ya, mau." Dari bibir yang terlihat kering, wajah masih memucat, kehitaman di kantung mata, Dara tersenyum. "Mau lihat temannya, Ayah," timpalnya lagi.


"Siapa?"


Dara menoleh ke arah Noora dan bertanya "Siapa, Dek, temannya, Ayah?"


Noora yang mulutnya penuh, gegas terbahak. "Monet."


Ketiganya pun tertawa. Terutama Dipta yang lekas menggelitik perut Dara. Di bangku taman sore hari, angin yang berhembus serasa sejuk dan teduh. Seakan kekecewaannya kepada Rayna terobati karena setiap malam sebelum tidur, Dara meminta Dipta untuk berucap janji bahwa tidak akan ada Ibu baru untuknya.


"Assalammualaikum ...." ketiganya menoleh dan mendapati Rayna sudah berdiri tak jauh dari mereka.


"Waalaikumsallam----" lekas terjeda, ketika langkah Adjie tiba di belakang Rayna.


Rayna mengerutkan kening tidak mengerti karena Dara yang terlihat senyum berubah cemberut, gegas membalikkan kepala dan memasang wajah kesal karena Adjie nekat turun dari dalam mobil, menyusul Rayna.


"Kan aku bilang jangan turun, Mas----" terjeda lagi saat sesosok wanita lain muncul ditengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Mas ... Mbak?" wanita itu tersentak saat mendapati Rayna dan Adjie di rumah Pradipta.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


__ADS_2