
"Saudara Gashendra Pradipta Hadnan bin Gifali Hadnan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Elvala Arayna Gistara binti Agnes Magnolia yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk meningkahi engkau dengan seperangkat berlian di bayar tunai."
"AYAH!" Dipta terlonjak dari lamunannya ketika Noora mendekat. Buyar semua saat ia masih terbayang tengah berjabat tangan dengan wali hakim, menerima Rayna yang notebene nya hanya memiliki nasab dari Ibu.
Bibir Noora sudah belepotan ice cream. "Ya Allah, Adek." Dipta seka bekas ice cream yang menempel di dressnya.
"Dapat dari mana?" tanya Dipta.
"Itu, Yah. Di kacih, Mamah ...." Noora menunjuk ke arah bangku tamu paling pojok. Ada Nancy yang duduk paling belakang memakai kaca mata hitam, tersenyum padanya. Dipta menatap datar tanpa senyum, ia terkejut karena Nancy ikut berada di sini. Dipta kembali beralih ke depan, menatap Noora.
"Adek duduk di sini aja. Jangan kemana-mana." ia titah Noora duduk di sebelahnya dan Noora menurut, tetap menghabiskan ice cream. Sejak tiba di ballroom, Dipta lebih memilih duduk di kursi yang sudah berjejer rapih hanya dikhususkan untuk para hadirin dari kalangan keluarga dua mempelai. Tidak ada yang mengundang Nancy. Tapi, Ayah Nancy adalah Kakak kandung Mami. Dan Ibunya sahabat baik Bunda. Maka, Papa Adrian dan Mama Ramona tetap datang.
Akad nikah akan dilakukan secara tertutup di ruangan kecil yang terdiri dari orang tua dan saksi. Perkara Rayna yang hanya memiliki nasab dari Ibu, maka aib tersebut harus ditutup dari khalayak ramai. Nanti, setelah melaksanakan di ruang akad khusus, Rayna dan Adjie akan melangkah menuju ballroom duduk di meja akad utama untuk menandatangani buku nikah.
Jika orang tua Pradipta mampu menerima Rayna yang lahir di luar nikah, bagaimana dengan pihak keluarga Adjie yang belum tau skema pernikahan akan seperti itu? Hanya Adjie saja yang tahu, sedangkan orang tuanya tidak. Sepuluh menit sebelum akad berlangsung, rencananya Adjie baru akan berkata jujur perihal keadaan istrinya.
"Ayah, pulang aja, yuk." Dipta menurunkan tatapan ke arah pangkuannya di mana kepala Dara berbaring. Kaki nya berselonjor sampai ke bangku sebelah Dipta. Dara yang sesampainya di ballroom tidak mau mendekati Ibunya di ruang make up, memilih bersama Dipta di sini.
"Pusing lagi, Nak?" Dipta seraya memijat-mijat dua pelipis milik Dara.
Dara menggeleng. "Lemas, Yah."
"Kakak mauh eskim?" padahal tinggal ujung stick ice cream nya saja.
"Hem." Dara bangkit dari baringnya, menganggukkan kepala kepada Noora yang mulai menyodorkan batang stick, sisa-sisa ice cream.
"Eh, jangan. Nggak boleh." Dipta menyergah sebelum Dara benar-benar menjilat ice cream bekas Adiknya.
"Makan yang lain aja, ya? Biar Ayah ambilin." di sisi-sisi kursi tamu, sudah tersaji meja prasmanan dengan aroma makanan yang menyengat, Adjie dan Rayna memang memilih menu wedding dengan kualitas premium.
"Mau ice cream aja, Yah. Kayak Adek."
__ADS_1
"Nih, Tante masih ada----" sejurus semua menoleh, mendapati Nancy yang sudah berdiri dengan dress jingga dan kerudung asal yang dibebat ke leher serta kaca mata hitam, menyodorkan kantung ice cream kepada Dara.
"Ngapain kamu ke sini? Sana ke belakang!" usir Dipta kesal karena wanita ini berani mendatanginya di hingar bingar para hadirin. Untung saja Ayah dan Bunda sedang berada di ruang make up. Sedangkan Geisha dan Bisma masih on the way gedung.
"Siapa, Yah?" Dara bertanya, tidak jeli dengan tampilan Nancy. Nancy tidak mengidahkan usiran Dipta, wanita itu membuka kaca matanya dan tersenyum menatap Dara.
"Ini ... Tante, sayang----" bibir Nancy yang ingin mengecup pipi Dara lekas Dara dorong dengan telapak tangannya kasar. "Pergi, Tante! Aku nggak suka lihat, Tante!"
"Lho kok gitu?" baik Nancy dan Noora sama-sama kaget.
"Tante udah jahatin, Ibuku! Pergi!" Dara sampai ingin menendang dan Dipta sergah.
"Dara sudah tau masalah kita, Nan. Ibu nya yang kasih tahu. Maka, lebih baik kamu menjauh dari kami." setelah Dara tahu perkara Dipta dan Nancy dari Rayna, anak itu juga marah, menangis dan kecewa kepada Dipta. Namun Dipta terus merayu dan meminta maaf sampai Dara mau memaafkannya.
Nancy memandang sendu Dara akan kesalahan yang sudah ia perbuat untuk merebut Dipta dari Rayna. Dan sekarang, seakan tengah terbalas. Suami orang yang ia curi setelah menikah dengan Dipta, kembali di curi oleh wanita lain. Nancy harus siap di madu karena ada anak yang mulai tumbuh di dalam kandungannya. Kemarin malam, Nancy mendatangi Rayna ke rumah untuk meminta maaf sekali lagi dan memberikan kado pernikahan, tetapi Rayna tolak.
"Tante minta maaf, ya, Nak." Dara memilih berpaling dengan wajah cemberut, menepis tangan Nancy yang terulur mengusap hijab di ubun kepala.
"Enggak!" baik Dipta dan Dara menyergah tangan Nancy yang ingin menggandeng Noora.
"Kenapa, Mas? Noora kan juga anakku!" Nancy bersikeras ingin membawa Noora untuk pindah duduk.
Perdebatan kecil yang membuat banyak mata berpaling ke arah mereka, membuat Dipta diam dan mengalah saja.
"Ndak mauh ah, Mah. Mauh nah di cinih ajah cama Ayah cama Kakak." Noora menggeleng, memutuskan gandengan.
Dipta tersenyum, mengecup kening Noora dan beralih menatap Nancy. "Anak itu peka, kepada siapa ia harus dekat. Kamu kemana aja selama ini? Kemana di saat ia baru lahir dua hari sampai dua tahun tiga bulan? Kemana?" ucapan Dipta mampu membuat kaca-kaca di iris mata Nancy tampak. Nancy memilih pergi ke kursinya lagi dibelakang untuk menangis, menyesali kesalahannya.
Baru beberapa bulan ini, Nancy seperti ingat dengan Noora, terus menghubungi Dipta untuk menanyakan kabar tentang anak itu dan datang ke rumah ketika Dipta tidak ada. Seakan ia tahu, di hari tuanya nanti, ia pasti membutuhkan anak itu.
"Pokoknya kalau sama Tante itu, Adek jangan mau, ya," titah Dara kepada Noora. Memang, nasihat yang terdengar tidak baik. Tapi, Dipta biarkan saja.
__ADS_1
"Iyah-iyah. Cip," balas Noora, walau ia tahu Nancy adalah Mamanya. Tapi, perasaanya belum lekat.
"Mau makan nggak, Nak?" Dipta kembali menawarkan. Dara tetap menggeleng. "Mau tiduran aja, Yah."
"Ya udah ...." Dipta tekan kepala Dara untuk berbaring lagi di pangkuannya. Noora ikut mengusap-usap kepala Dara seperti Ayahnya. Keromantisan antara Bapak dan kedua anak tersebut memudar tak kala melihat wajah Bunda dan Ayah begitu tegang menghampiri dirinya.
"Kenapa, Yah, Bun?" raut Dipta sudah terlihat tenang. Di jalan ia terus berdzikir sesuai arahan Ayah yang mampu membuat dadanya legowo. Dipta merasa, kalau Rayna masih jodohnya, wanita itu pasti akan kembali.
"Dara temani Ibu, yuk, Nak," ajak Bunda kepada Dara yang baru ingin memejam mata.
"Kenapa, Bun? Yah?" Dipta terus mencecar.
Bunda tidak menjawab, ia memilih membawa Dara untuk pergi bersamanya. Pun dengan Dara yang terus bertanya di pertengahan langkah mereka, ada apa dengan Ibunya.
"Yah, kenapa?" tanya Dipta kepada Ayah yang mulai duduk di sebelahnya, memangku Noora. Raut Ayah terlihat memerah redam, menahan kesal.
"Ayi lagi syok, Dip. Histeris hebat."
"Lho, kenapa, Yah?" jantung Dipta bergoyang hebat, mulutnya menganga dengan mata terbelalak. "Ada masalah apa?" memaksa agar Ayahnya berucap to the point. Ayah yang tidak akan menyangka kalau Rayna akan mengalami kejadian seperti ini membuat lidahnya tercekat tak mampu bersua.
"Yah, kenapa?"
Ayah masih hening. Melihat Ayahnya tidak bisa merespon, Dipta memilih bangkit berdiri untuk melangkah ke ruang make up, dan lekas di cekal oleh Ayah.
"Jangan kesana, Dip. Ayi lagi syok berat, takutnya kalau lihat kamu, dia makin histeris." dari jauh Nancy seakan memperhatikan apa yang tengah Om nya bicarakan kepada Dipta.
"Ya, terus kenapa, Yah? Masalahnya apa?" saat ia tahu dirinya tidak lagi dicintai. Seakan hanya menjadi sampah dimasa lalu. Tapi, saat mendengar wanita yang ia cintai merana, dirinya tak tega untuk berpangku tangan.
"Calon suaminya mengabarkan tidak jadi datang. Membatalkan pernikahan sepihak."
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jumat, guys. Jangan lupa Al-Kahfi dan Shalawat, ya. Kalau ada uang lebih, jangan lupa sedekah, sekecil apapun kalau di hari ini akan di balas berkali lipat sama Allah❤️💕