Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Tidak Setuju.


__ADS_3

Geisha setengah berlari, meninggalkan suaminya yang masih memakirkan mobil di halaman Rumah Sakit. Ketika kereta besi mereka akan sampai, Geisha geger karena Dipta mengaduh sakit di sambungan telepon. Lelaki itu berkata tengah terbaring di IGD. Dipta melangkah tertatah-tatah menahan sakit sendiri ke sana, setelah selesai melaksanan shalat subuh yang ia paksakan kuat.


Mendorong pintu IGD kasar sampai para Dokter, para koas dan perawat yang tengah hilir mudik, ikut tercengang dan menggerakan kepala sebagai tanda hormat saat Geisha datang, pemilik Rumah Sakit.


"Kak ...." Dipta melambaikan tangan lemah.


"Apanya yang sakit? Kenapa?" cemas sekali, mendekat ke pembaringan dengan langkah blingsatan.


"Perutnya, sakit." Dipta menunjuk perut bawah sebelah kiri. Geisha ikut meraba dan memberi tekanan di sana.


"Jangan ditekan!" Dipta meringis.


"Sakit banget? Ada luka, apa gimana?" mencoba menaikan kemeja sampai ke dada untuk Geisha periksa. Dipta yang tengah suntikan anti nyeri oleh perawat, seakan enggan.


"Aku memang sakit, Kak."


"Sakit?" bukan Geisha yang bertanya, namun Genta. Suami Geisha yang baru tiba.


Dipta mengangguk. "Iya, Mas. Ginjal ku bermasalah."


Geisha seakan ingin limbung, mengapa masalah tak henti mendera saudara kembarnya tersebut. "Subhanallah, Dipta. Dari kapan?" gurat khawatir semakin tercetak jelas.


"Tolong jangan mengadu kepada Ayah dan Bunda."


"Sejak kapan?" nada Geisha naik, ia yang kepalang syok sampai mencubit gemas tangan adiknya, tidak mengidahkan permintaan.


"Enggak tau sejak kapannya. Tapi, keluhan hebatnya sudah beberapa Minggu ini."


"Kata Dokter yang memeriksa, gimana?" tanya Genta.


"Masih stadium satu, Mas. Ada radang di saringan kecil dalam ginjal ku. Masih bisa diobati katanya. Yang penting teratur minum obat, air putih dan jaga pola hidup."


Geisha dan Genta menghela napas lega. Mereka memang Dokter. Hanya saja kualifikasi keduanya berbeda dan kurang paham dengan penyakit yang Dipta derita.


Perawat berlalu pamit setelah selesai menyuntikan obat nyeri. Obatnya juga sepertinya sedang bekerja, Dipta tidak lagi meringis. "Kamu ke Dokter mana?"


"Teman kita."


"Siapa?"


"Rahajeng Gendis ... si Ajeng. Ingat enggak, Kak?"


"Ajeng?" Geisha mengulang, bola matanya berpendar dan saat bayangan wanita yang terasa lupa untuk dikenang mulai hadir, Geisha membolakan bibirnya.


"Oalah, si, Ajeng, toh. Yang sekelas sama kita dulu kan?"


"Hem." Ajeng pernah satu sekolah dan sekelas dengan Geisha, Dipta dan Bisma.


"Dia jadi Dokter spesialis dalam?"


"Iya, Kak. Di Rumah Sakit Antana."

__ADS_1


Genta tertawa saat mendengarnya. "Wah, Mih. Saingan kita."


"Ngapain sih jauh-jauh ke RS orang. Di sini aja, dek."


"Udah enak sama, Ajeng. Enggak pengin ganti dokter. Tadi malam aku chat dia. Meminta saran dari dia. Apa aku bisa menjadi pendonor untuk Dara."


"Terus, katanya apa?"


"Bisa aja. Kalau aku sembuh."


Geisha hening sesaat, menarik napas yang terasa ketat di lubang hidung. "Aku akan melakukan apa aja untuk anakku, Kak. Walau nyawa taruhannya, aku enggak masalah. Yang penting Dara bisa sehat kayak dulu."


"Aku bingung nih mau ngomong apa. Mau enggak bolehin kamu karena keadaan kamu yang lagi begini. Tapi, Dara anak kamu. Sebagai antisipasi terakhir agar bisa menyelamatkan dia memang dengan donor sumsum tulang belakang. Rayna udah enggak bisa karena dia punya kormobit. Kalau Noora, juga enggak bisa karena masih kecil. Dan belum tentu juga cocok. Apa mau coba aku aja, Dek?"


Baik bola mata Genta ataupun Dipta membesar karena kaget.


Dipta menggeleng. "Punya aku aja. Pasti cocok."


"Tapi, kamu kan lagi sakit."


"Ada Allah maha penyembuh, lewat tangan Ajeng. In Syaa Allah." Ajeng, seorang janda muda dengan dua anak siap membantu Dipta kapan pun lelaki itu membutuhkan pertolongannya. Pertemuan pertama kali di saat mereka sudah terpisah belasan tahun, seakan mengibarkan cinta yang sempat hadir di hati Ajeng dan meluap ketika Dipta seraya jauh untuk digenggam di masa SMA.


"Kapan mau ketemu, Ajeng? Aku ingin ikut."


"Tapi, janji jangan kasih tau siapa-siapa. Apalagi Bunda sama Ayah. Cukup masalah Dara aja yang bikin mereka jadi enggak tenang, Kak."


Geisha mengangguk paham. Ia mendekap Dipta sebagai dinding untuk berjanji.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Biarin ajalah. Aku malas angkatnya. Si Adjie tuh lagi maksa-maksa aku untuk datang ke rumah sakit. Anak si Janda itu masih di Rumah Sakit soalnya." tadi malam sebelum tidur, Bunda bercerita kepada adiknya kalau calon anak sambung Adjie tengah sakit parah. Tapi, sepertinya, rasa kasihan tidak memupuk pada wanita itu


Mama Sari menggeleng halus. "Jangan gitu dong, Mba, ngomongnya. Gimana pun kan Rayna sudah mau jadi istrinya, Adjie. Mau nikah bentar lagi. Kasian juga kan anaknya lagi sakit. Apa mau aku aja yang antar?"


Bunda Tari yang memang sedang menginap di rumah sang Adik sejak kemarin malam, tetap menggeleng. "Kalau aku datang. Nanti di sangka Adjie, aku udah ngerestuin mereka, Sar. Pokoknya aku tetap enggak setuju. Masih banyak kan para gadis yang bisa dinikahi."


"Tapi Adjie nya cinta, gimana tuh?"


"Pokoknya restu tetap tak kuberi, titik!"


"Jangan gitu dong, Tante. Kasian kan, Mas Adjie." Bunda menoleh ke arah tangga, menatap keponakannya yang sudah rapih ingin berangkat praktek. Saat menuruni anak tangga, Ajeng tidak sengaja mendengar percakapan antara Tante dan Mamanya di meja makan.


"Mbak Rayna, kelihatannya baik kok. Cantik banget lagi. Perkara janda, apa sih salahnya? Malah sudah pernah berumah tangga, sudah juga memakan asam garam. In Syaa Allah bisa menaungi Mas Adjie yang akan baru melangkah ke jenjang Rumah Tangga." Ajeng mulai duduk berhadapan dengan Bunda dan Mama. Ajeng memang belum sempat bertemu dengan Rayna selama ini. Kemarin saat mereka bertunangan di London pun, Ajeng tidak ikut karena tengah ada seminar. Hanya sering melihat Adjie memasang foto Rayna di status sosmed nya.


"Bener tuh yang dibilang, Ajeng. Kalau semisal para mertua pikirannya kayak, Kakak. Anakku yang nasibnya juga sama seperti calon istrinya Adjie. Juga nggak pantas dong untuk menikah lagi sama yang bujangan."


Ajeng tertawa. "Mama ... apaan sih?" mulai meletakan nasi goreng di piring.


Mama Sari ikut tertawa. "Kamu udah lama sendiri, Nak. Mama pengin kamu nikah lagi." suami Ajeng yang mana mereka menikah karena konteks perjodohan, meninggal dunia di saat ia mengandung anak kedua karena kecelakaan jalan tol, lima tahun lalu.


Ajeng yang semalam habis bercakap banyak dengan Dipta di whatsapp, seraya merona. Ia semakin terdistrak dengan lelaki tampan itu. Apalagi tahu kalau Dipta sudah bercerai, walau tidak tahu kalau mantan istri Dipta adalah tunangan Kakak sepupunya. Dunia memang sempit dan alam suka bercanda.

__ADS_1


"Udah enggak usah nikah lagi. Urus anak aja," tutur Bunda.


Mama berdecak sebal, menatap Ajeng. "Enggak usah di dengerin, ya, Nak. Walau kamu janda, kamu harus percaya diri."


Ajeng hanya mengangguk-angguk dan tawa kembali muncul di sela sarapannya. Mama Sari juga sudah janda, maka ia hanya tinggal berdua bersama Ajeng dan para cucu yang ia rawat jika Ajeng tengah praktek di Rumah Sakit.


"Tan ...."


"Hem?" sembari mengunyah.


"Kalau boleh tau, calon istrinya, Mas, kenapa bisa bercerai? Suaminya meninggal atau ...."


"Katanya sih diselingkuhin sama sepupunya sendiri."


Refleks Ajeng menjatuhkan sendok yang tengah ia genggam ke lantai. Jantungnya bergoyang hebat manakala tahu kalau Rayna adalah korban kejahatan lelaki. Meski saat itu Dipta khilaf melakukannya. Obat perangsang yang Nancy beri mampu membuat Dipta kehilangan arah.


Tetapi, surga itu dipenuhi oleh pendosa. Pendosa yang bertaubat, manakala neraka itu pula di penuhi oleh orang-orang alim yang munafik.


Bola mata Ajeng seakan meredup, menatap udara sayu. "Aku jadi kasian sama, Mbak Rayna."


Bunda menggeleng untuk menyergah. "Ya, memang kasian. Tapi itu urusan dia. Kita kan nggak tau kenapa suaminya bisa berpaling. Kali aja service nya nggak memuaskan, cerewet, bawel, nggak bisa ngurus diri. Aku takut dia nggak bisa jadi istri yang baik."


"Tapi mungkin aja, suaminya yang gatel, Tan. Duh kok aku jadi jijik banget, ya, sama suaminya. Kasian banget, Mbak Rayna," timpal Ajeng.


Mama Sari tersenyum. "Benar kata Tantemu, Nak. Rayna nggak usah dikasihani." wajah Bunda tampak berseri saat adiknya itu seakan berubah haluan.


Ajeng juga memandang bingung. "Kok, gitu?"


"Maksud, Mama. Kan Rayna udah bahagia sekarang. Mau nikah dengan, Kakakmu." Ajeng lekas terbahak dan Bunda merungut kecut.


"Ah!" Bunda berdecak bete. Nasi goreng buatan Mama yang enak seakan hambar tak berasa.


"Mana lagi sakit anaknya, Jeng. Tante mu tuh emang tega."


"Sakit apa, Mah?" meraih sendok yang terjatuh untuk ia letakan di meja dan meraih sendok baru untuk ia pakai.


"Katanya sih leukimia."


"Subhanallah, Ya Allah."


Ajeng lekas tercenung. "Mirip penyakit anaknya, Dipta, ya."


Sedang hening tiba-tiba ponsel di tas nya bergetar.


[Assalammualaikum, Jeng. Hari ini, kamu praktek sampai jam berapa? Aku ingin berkonsultasi lagi bersama Kakakku, Geisha] Ajeng tersenyum saat mendapati pesan itu masuk ke ponselnya.


"Siapa, Nak?" tanya Mama.


Ajeng menggeleng pelan, semburat cahaya senang seakan membentang di wajah ketika menatap layar terang ponsel miliknya.


"Dari temanku, Mah."

__ADS_1


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


__ADS_2