
Tergugu. Baik Rayna dan Adjie. Pun Ajeng yang tidak akan menyangka mendapati Kakak sepupunya di rumah Pradipta bersama calon istri.
"Mas sama Mbak, ngapain di sini?" tanya Ajeng dengan senyum kikuk, lekas membungkuk mengecup punggung tangan Adjie kemudian beralih kepada Rayna.
"Kamu yang ngapain di sini?" Adjie berbalik tanya kepada Ajeng yang tengah mencium pipi kanan dan kiri Rayna yang mana wanita itu masih tercenung bingung. Sebelum Ajeng menjawab, tersela dengan langkah Dipta yang menghampiri mereka bertiga.
"Kamu kenal sama mereka, Jeng?"
Ajeng yang masih berdiri tegap di hadapan Rayna, tersenyum mengangguk. Ia rangkul Rayna, merasa sudah akrab padahal belum pernah bertemu. Baru kali ini, dan di rumah ini.
"Mas Adjie ... Kakak sepupuku, dan ini ...." merapatkan rangkulan di bahu Rayna. "Calon istrinya."
Dipta tersenyum tipis, menggeleng samar. "Dunia memang sempit, ya. Aku sampai takjub."
"Aku enggak tau loh kalau selama ini kamu kenal dengan, Mas Adjie, Dip," ujar Ajeng yang ikut tertawa.
Dipta menggeleng tegas, senyumnya tampak hilang sekejap. "Yang aku kenal, calon istrinya. Bukan Kakak sepupumu."
Kedua alis Ajeng naik bertautan. "Maksudnya?"
"Mas Dipta mantan suamiku, Jeng," Rayna yang menjawab.
"Ha?" Ajeng melongo kaget sampai tangan yang merangkul Rayna terhempas pelan ke bawah. Ajeng terus menatap Rayna dan Dipta secara bergantian sambil memegangi dada.
"Kenapa, kaget?" Dipta menyengir kuda. Ia paksakan tertawa, walau hatinya sedang perih mendapati Adjie tengah berdiri kokoh di rumah nya yang masuk begitu saja tanpa izinnya.
"Beneran, Mbak? Dipta ini, suamimu?" sebenarnya Ajeng dan Rayna sepantar, hanya saja karena Rayna akan menikah dengan Adjie, maka Ajeng mendewasakan Rayna.
"Iya, Jeng. Mas Dipta ini mantan suamiku. Dan itu ... anakku, Dara namanya," Rayna menunjuk Dara yang tengah duduk bersama Noora menatap angkuh ke arah mereka.
Saat Rayna memperjelas hubungan mereka di masa lalu, sontak Ajeng menghempaskan tamparan tepat di pipi Dipta, sampai semua menohok kaget.
Pak.
"Ayah!" Dara gegas berlari, kemudian memukul perut Ajeng dengan kepalan tangan. "Kenapa pukul, Ayahku?!" Dara melotot.
"Kamu kenapa, Jeng?" sembari memegang pipi, Dipta ikut bertanya dengan jantung bertalu-talu. "Kesurupan kamu? Main gampar aja?" timpalnya lagi.
"Dia ini mantan suami yang udah khianatin kamu, Mbak?" Ajeng memilih menatap Rayna.
"Dari mana kamu tau?" aliran darah Rayna lekas memanas. Pun dengan Dipta yang kaget setengah mati saat Aib rumah tangganya tersebar.
"Berkhianat dengan sepupumu sendiri?" Ajeng tidak menjawab, ia terus mencecar.
Rayna memilih menatap Adjie. "Bisa kamu jelasin, Mas?"
"Maaf, Ay. Aku hanya cerita sama, Bunda. Enggak tau kalau sampai Ajeng tau juga."
"Jadi benar kan?" Ajeng tetap mencecar Rayna untuk mengangguk.
"Ya, Jeng."
Ajeng menoleh ke arah Dipta, menatap kecewa. "Aku pikir kamu tetap Dipta yang selalu baik dan selalu menghormati wanita. Nyatanya, kamu nggak lebih dari seekor binatang yang nggak punya otak, Dip. Aku paling nggak suka sama yang namanya pengkhianatan. Sekalipun itu temanku sendiri sebagai pelakunya. Aku akan tetap benci- sebenci-bencinya!" Ajeng sampai menggenangkan air mata dan melangkah cepat untuk meninggalkan rumah.
Kurang lebih dalam sebulan ini ia merasa intim berdekatan dengan Dipta. Bibit-bibit cinta pun mulai tumbuh. Walau Dipta tak pernah merasakan apapun jika berdekatan dengannya. Hanya hubungan antara pasien dan dokter saja.
"Ajeng!" Dipta mengekor langkah Ajeng, mencoba menyergah dengan mencekal lengan.
__ADS_1
"Lepas!" seru Ajeng dengan raut marah.
"Kamu nggak tau masalahnya. Kamu nggak bisa hakimin aku kayak gini dong," ujar Dipta membela diri.
"Tapi benar kan kamu selingkuh?"
"Demi Allah aku nggak selingkuh. Aku di goda."
Ajeng mengerdik bahu merasa jijik. "Ini buat anakmu. Aku pamit." Ajeng menyodorkan paper bag berisi boneka untuk dara ke dalam dada Dipta kasar.
"Jeng!" Ajeng tetap melangkah pulang, ia di kejar Adjie sampai ke pelataran mobil. Baru ia berusaha untuk mengejar hati Dara agar bisa memikat hati Dipta, sudah patah hati karena masa lalu Dipta yang terasa kelam.
Dipta sendu menatap Rayna dari jarak beberapa meter. "Terimakasih karena sudah membuka aib rumah tangga kita kemana-mana, Ay."
Rayna menggeleng lekas mendekati Dipta. "Bukan maksud aku, begitu, Mas ...."
"Silahkan pergi dari rumahku!" selaan itu menghentikan langkah Rayna. Lekas statis di tempat.
"Dara ... Noora ...." memilih memanggil putri-putrinya untuk mengikutinya menaiki anak tangga menuju kamar. Kedua anak itu pun menurut.
"Dara!" Rayna memanggil Dara yang melewatinya begitu saja.
"Apa?" Dara menoleh saat langkah kakinya sudah di undak satu tangga.
"Kamu enggak mau peluk, Ibu?"
"Bukannya Ibu lebih pilih, Om, itu? Kenapa nggak Om itu aja yang dipeluk?"
Inginnya Dipta menasehati Dara agar berlaku sopan kepada Rayna. Tapi, ia sudah letih untuk terus berharap. Bahwa Rayna hanya sebuah angan kecil yang mampu ia dapatkan kembali. Terlebih, aib nya jadi terserak.
"Ayah sama Adek tunggu di kamar, ya, Nak," ujar Dipta kepada Dara yang sedang di peluk paksa oleh Rayna. Dara mencoba meronta tak mau.
"Ibu tetap ingin menikah dengan Om itu, tidak mau kembali kepada, Ayah?"
Rayna menarik napas panjang, menyeka air mata dan ingus bersamaan. Ia urai dekapan, Rayna bawa Dara untuk duduk di sofa.
Dara di dudukan di pangkuannya, memeluk anak itu. "Kamu tau enggak, kenapa Ibu kayaknya kesal setiap lihat, Adek mu?"
"Enggak." Dara menggeleng polos.
Rayna hening sebentar, memijat-mijat kening, ia bingung harus bagaimana. Mau berkata jujur, ia takut kondisi Dara dan pasti akan berbalik benci kepada Dipta. Tapi, jika tidak ia ceritakan. Dirinya yang akan merana, terus di anggap Ibu yang tidak mempunyai hati kepada Anak.
"Ayahmu telah menghianati, Ibu, dengan Tante Nancy. Dan Noora itu, anak mereka."
"Bohong!" Dara mengelak. Dua hari lalu, Nancy datang ke rumah Bunda untuk menjenguk Noora membawakan banyak mainan, mengajak jalan. Pun Dara yang turut di ajak. Nancy tertohok saat mendapati Dara dalam kondisi sakit.
"Benar, Nak. Ibu enggak bohong."
"Kata Nenek dan Kakek, Adek itu dari panti asuhan. Nggak ada Ayah dan Ibunya, makanya di bawa ke sini. Terus dibesarin sama, Ayah."
"Itu semua bohong, Nak. Mereka kayak gitu karena kamu masih kecil. Ibu juga sebenarnya nggak mau cerita begini sama kamu. Lihat kondisi kamu yang lagi sakit juga Ibu tuh nggak tega. Tapi, karena kamu terus menuntut Ibu untuk kembali kepada Ayahmu, ya mau gimana lagi selain Ibu buka semuanya. Ibu jadi memilih jalan jujur sama kamu."
"Ayah enggak mungkin jahatin, Ibu ... hiks." tetap membela Ayahnya, Dara kembali terseguk.
Rayna mencium kedua tangan Dara menumpu nya menjadi satu. "Ikhlasin Ibu sama Om Adjie, ya, Nak. Ibu janji, pernikahan kami enggak akan buat kamu sedih dan menjadi jauh seperti apa yang Dara takutkan. Juga bolehin Ayah untuk nikah lagi. Ayah butuh teman hidup, butuh sosok yang mampu menemaninya mau suka dan duka. Ayah dan Ibu nggak akan pernah musuhan. Ibu janji." pernikahan dengan Adjie sudah didepan mata. Rayna tidak mungkin menghancurkannya hanya karena Dara yang merengek agar ia kembali dengan Dipta.
"Coba buka hati Dara untuk Om sedikit aja. Mau diajak ngobrol. Mau di ajak jalan-jalan. Sedikit aja. Bisa, Nak?"
__ADS_1
Dara yang masih menangis tetap menggeleng, ia memilih memeluk leher Rayna.
"Bisa nggak, Bu, maafin, Ayah? Terima Ayah sama Adek? Demi aku?"
Rayna membuang napas lemah seraya sulit berkata kepada anak kecil yang notabenenya begitu mencintai sang Ayah di atas rata-rata. Seakan, coreng yang Dipta lakukan, tidak membuatnya murka. Mungkin gerakan dari Semesta kepada Dara, bahwa Ayahnya memang tidak sepenuhnya salah.
"Gimana, Bu? Maafin aja, Ayah, ya." lebih memelas, disertai batuk.
Rayna tetap menggeleng, mencubit kedua lubang hidung Dara agar ingus nya bisa keluar maksimal.
"Bulan depan, Ibu akan tetap menikah dengan Om Adjie. Dara harus dukung, Ibu. Kan Dara selalu bilang mau lihat Ibu bahagia. Dengan menikah dengan Om Adjie dan hidup bertiga dengan, Dara. Itu sangat membahagiakan hati, Ibu, Nak."
"Jadi, Ibu, benar-benar udah enggak sayang sama, Ayah?"
"Rasa Ibu ke Ayah hanya kepada teman aja sekarang. Rukun untuk kamu, tetap membesarkan Dara, sama-sama."
Dada Dara yang sejak tadi berderap naik turun, mulai berubah normal. "Om Adjie benar sayang sama, Ibu?" Rayna tersenyum karena Dara seakan mulai luluh hati.
"Om Adjie enggak hanya sayang sama, Ibu. Tapi juga ke Dara."
Dara mengangguk pelan, mencoba mengerti kalau keinginannya tidak mungkin lagi di kabulkan sang Ibu.
"Semoga Ibu bahagia."
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Lebih baik, Ayah, nggak usah datang. Biar aku aja sama, Nenek dan Kakek," ujar Dara, mengelus pipi Dipta yang terlihat lesu pagi ini. Lelaki itu sudah rapih dengan kemeja batik kencana cokelat yang senada dengan dress Noora. Sedangkan Dara memakai dress brukat berwarna peach, khusus Rayna buatkan ke perancang untuknya.
Walau Dara tahu Ayahnya telah salah, pernah menyakiti hati Ibunya. Tapi, anak itu tahu dari mata Dipta masih memuncarkan rasa cinta. Bahkan tadi malam, Dara dan Noora terbangun, mendapati Dipta yang tengah bergumam dalam tidur, memanggil-manggil Rayna.
Dipta yang merasa ikhtiarnya lewat shalat malam, terasa gagal, menggeleng. Memaksa senyum.
"Ibu kan undang, Ayah. Masa, Ayah, nggak datang."
Pagi ini, di ballroom hotel mewah pukul sepuluh. Akan berlangsung akad nikah. Dipta yakin, Ajeng pasti hadir dan akan memasang wajah masam kepadanya. Seolah tak memberi ampun, Ajeng lekas blokir nomor Dipta. Membuat Dipta beralih ke dokter lain untuk mengobati penyakitnya, yang mana makin ke sini, alhamdulillahnya lelaki itu merasakan efek kesembuhan. Dipta hanya ingin segera, mendonorkan sumsum tulang belakang untuk putrinya.
Dara bangkit dari duduk, berdiri dihadapan sang Ayah yang kini sama-sama plontos tanpa rambut seperti nya. Dipta mencukur habis rambutnya hanya untuk memberi semangat kepada Dara, kalau anak itu tidak sendiri.
Dalam dua bulan menjalani kemo. Rambut Dara seakan cepat habis. Ia selalu menangis setiap melihat dirinya di cermin karena rambutnya terasa tak elok. Dipta sampai menutup semua cermin yang ada di rumah dengan koran.
Di saat Dara merasa dititik terendah dan insecure akan dunia nya, Dipta yang selalu berada di sampingnya, sedangkan Rayna terus sibuk mengurus pernikahan. Ia sampai melewatkan beberapa kali jadwal kemo Dara hanya karena Adjie yang terus membuatnya sibuk dengan rancangan pernikahan mereka.
Rayna berkata pernikahannya dengan Adjie akan membuat Dara bahagia, nyatanya anak itu selalu menangis ketika sedang shalat. Dara merindukannya Ibunya.
"Udah siap?" Bunda dan Ayah tiba dibingkai pintu kamar.
Dipta mengangguk. Bunda melangkah masuk, mendekap anaknya sekali lagi, padahal tadi malam, sebelum tidur, Dipta menangis lagi kepada Bunda. "Ikhlaskan, ya, Nak."
"Berat, Bunda." Dipta yang mencoba tegar dihadapan Dara, seakan menciut. Pertahanannya roboh. Lelaki itu terisak. Membayangi Rayna yang akan benar-benar memulai hidup bersama Adjie, merasa tidak kuat.
Melihat Ayahnya menangis, Dara pun menangis. Segera Ayah gandeng keluar agar Dara tidak terlalu tertular akan kesedihan di hari bahagia Ibunya.
Dengan hijab kecil menutup kulit kepala yang terasa licin. Dara yang tengah melangkah, menuruni anak tangga di gandeng Ayah, seraya memejam mata.
"Ya Allah, katanya Nenek dan Kakek kan kalau orang yang sedang sakit pasti akan dikabulkan doanya. Dan sekarang, aku sedang sakit. Aku ingin meminta agar Ibu tidak jadi menikah hari ini dengan, Om itu. Kabulkan, Ya Allah. Kabulkan doa, Dara. Dara janji akan menjadi anak yang baik untuk Ibu dan Ayah. Kakak yang sayang kepada Adek. Dan sahabat yang setia untuk, Adam."
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
__ADS_1
Yang pengin komen "LANJUT" mending jangan komen!๐โค๏ธ