Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Semoga Berbahagia.


__ADS_3

"Ayah! Yah ...." Pradipta terlonjak dari lamunan yang terasa pedih saat pipinya di tepuk pelan oleh Dara karena terus termenung menatap Rayna yang masih menangis dalam dekapan Bunda Maura.


Jantung Dipta bergoyang hebat karena ia sempat-sempatnya membayangi untuk meminta Rayna kembali bersama, dan dalam lamunan itu, sang mantan istri menolak dengan jawaban kata menohok.


"Ayah kenapa kok bengong? Ibu juga kenapa kok nangis terus?" Dara bertanya sambil menoleh ke arah Rayna yang mulai meredakan air mata, menyeka kebasahan di wajah dengan ujung pasmina.


Rayna menoleh, tersenyum menatap Dara sambil melambaikan tangan untuk mendekatinya. Mau tak mau Dipta melepas pelukan di tubuh putrinya agar Dara melangkah menghampiri Rayna.


"Kita pulang, yuk, Nak," ajak Rayna dengan suara bindeng.


Wajah Dara lekas berubah mencebik sedih. "Kan kata Ibu, waktunya aku menginap sama Ayah, tujuh hari. Sekarang baru lima hari." Dara menunjukan tiga jari di udara yang membuat Rayna kembali nelangsa.


"Lima itu begini ...." ia betulkan jari Dara agar benar.


"Kalau tiga begini." kini, Dipta yang menambahkan dengan menunjukan tiga jari di udara, membuat Rayna dan Dara menoleh. Hanya Dara yang tersenyum kepada Dipta dan Rayna memilih menarik dagu Dara untuk kembali menatapnya.


Baru Rayna tahu mengapa beberapa waktu belakangan ini, daya tangkap Dara seakan berubah. Kepintaran akan pelajaran pun seraya menurun, ternyata anak ini tengah sakit parah. Rayna menyesal, karena belakangan ini juga, ia sedang sibuk-sibuknya.


"Biarkan Dara di sini dulu, Ay. Dara nya juga kan masih betah, Nak." Dipta menghela napas lega karena Ayah Gifa yang lebih dulu bersua untuk meminta sang cucu agar diperbolehkan.


"Sekalian besok kita mau ke Rumah Sakit lagi, ketemuan sama, Geisha. Mau bahas kelanjutan pengobatannya," timpal Bunda memperkuat.


"Pengobatan apa sih, Nek? Aku yang sakit?" karena semua belum memberikan pengertian akan sakit yang ia idap. Dara fokus bermain dengan Noora saat Dipta dan Bunda tengah berkonsultasi dengan Geisha.


"Iya, kan, masih pilek tuh. Besok kita ke Rumah Sakit lagi, ya," ajak Bunda. Dara yang polos mengangguk saja sembari menyeka ingus yang memang ingin sekali keluar dari hidungnya.


Rayna tak mampu berkata selain menerima. Ia memilih untuk memeluk anak itu saja dengan memejamkan mata yang rasanya amat sakit saat kelopak di rapatkan.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Awalnya Rayna ingin menghubungi taxi untuk membawanya pulang karena ia kepalang datang ke sini dengan Adjie tanpa mobil pribadinya.


Dipta, Bunda dan Ayah, bahkan Dara sudah memintanya untuk menginap saja di rumah. Dan Rayna tidak mau. Ia berkata ingin pulang dulu, ingin juga menelepon orang tuanya dengan perasaan yang sudah sedikit tenang.


Dipta menawarkan diri untuk mengantarkan mantan istrinya itu pulang. Awalnya, Rayna menolak berat. Tapi, saat taxi yang ia pesan sudah satu jam tak kunjung datang, membuat Rayna lelah karena ingin langsung berbaring. Inginnya juga menghubungi Adjie, lelaki itu pasti mau-mau saja menjemput. Tetapi, Rayna kasihan. Adjie pasti lelah.


Akhirnya dengan keadaan yang tersudut, Rayna mau menganggukkan kepala untuk di antar.


"Maaf, ya, Mas. Jadi merepotkan kamu." Dipta yang sejak tadi sudah gatal ingin sekali membuka obrolan, tersenyum senang dalam hati karena akhirnya Rayna membuka suara.

__ADS_1


Sembari memutar-mutar stir kemudi, menyusuri jalanan yang tumbennya terasa agak sepi, mengangguk senyum. "Udah kewajiban aku, Ay."


"Hem." Rayna mengangguk pelan, mengiyakan saja.


"Kamu sibuk apa selama ini?"


Rayna yang merasa dunia nya terasa runtuh mulai sore tadi, bisa sedikit terbahak karena pertanyaan Dipta yang terasa konyol. "Bukannya kamu udah tau, Mas, selama ini aku sibuk apa? Kamu juga tau kan siapa, Adjie?"


Dipta menarik napas untuk menyegarkan dada yang tiba-tiba mengerdil karena Rayna langsung menyodorkan kenyataan. Seakan mantan istrinya itu tahu bahwa selama ini Dipta masih saja mematai-matai nya dari jauh.


"Ya, aku hanya nggak mau kamu ketemu sama orang yang salah ... lagi." amat pelan di ujung kalimat, Dipta mengakui kalau dirinya salah.


"In Syaa Allah, Mas Adjie, baik kok, Mas." tanpa harus mengatakan kalau mereka sudah bertunangan, Rayna tahu, Dipta pasti sudah tahu. Cincin permata merah yang melingkar di jari, juga merupakan sebuah simbolnya.


Rayna tahu untuk menikahi Adjie juga tidak mudah. Ibu nya Adjie masih tidak setuju. Ia ingin Adjie mendapatkan perempuan yang masih gadis. Bukan janda apalagi sudah beranak satu. Belum lagi kalau Ibunya tahu, Dara anak sakit. Kemarin saja saat mereka bertunangan di London, sang Ibu tidak datang dengan alasan sakit. Hanya Ayah dan Kakak serta Adik Adjie saja yang menghadiri. Pun Dara yang selama jalannya lamaran memandang cemberut Adjie.


"Alhamdulillah kalo gitu, Ay."


"Makasih, Mas."


"Kapan acaranya? Ada yang bisa aku bantu?" pura-pura kuat untuk menawarkan diri. Padahal jiwanya terasa remuk. Karena kebodohannya, ia melepas wanita berhati emas itu untuk lelaki lain.


Dipta mengangguk-angguk. "Jangan nangis, bodoh!" Dipta seakan memaki diri dalam hati yang rasanya lemas, patah dan berdarah.


"Mas, gimana?"


"Apanya, gimana?" berbalik tanya karena ia mulai tidak konsen, jari-jari yang mencengkram stir kemudi rasanya mendadak dingin semua.


"Lagi dekat sama siapa?"


Dipta tertawa kelu. "Jones."


"Nama calonnya, Jones?" Rayna memperjelas dengan raut aneh. Nama wanita apa itu?


Dipta semakin tertawa di atas luka atas kepolosan Rayna yang sejak dulu tak berubah. "Jomblo ngenes, Ay."


"Oalah ...." Rayna ikut tertawa karena merasa terhibur dengan guyonan Dipta yang lama sekali sudah tidak ia dengar. Bersama Adjie ia hanya mendapatkan keseriusan. Jarang sekali terbahak-bahak seperti dulu. Rayna amat bucin, dunianya dulu tak berhenti tentang Dipta. Maka, saat lelaki itu salah jalan, Rayna seakan kejang. Bahkan saat lelaki itu masih menjadi suaminya jika tengah pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan, Rayna akan selalu ikut dan menemani.


"Aku masih ingin sendiri. Ngurus anak-anak rasanya lebih enak dari pada nikah lagi," balas Dipta.

__ADS_1


Rayna mengulum senyum simpul dan menganggukan kepala. "Semoga, Mas Dipta, bisa dapat wanita yang lebih baik dari aku dan ...." terjeda, rasanya menyebut nama Nancy, ia masih tidak mau.


"Aamiin." buru-buru menjawab, karena Dipta tahu Rayna akan membawa nama Nancy yang ia juga malas untuk mendengar.


"Belajar dari pengalaman, ya, Mas. Jangan sampai khilaf lagi."


"Pasti." berusaha tegap, berusaha berjanji tidak akan salah arah lagi. Tiap malam, Ayah akan ke kamar Dipta untuk mengingatkan anak lelaki itu jangan sampai melewatkan untuk mengaji surah As-Sajadah sebelum tidur guna untuk mengatur hawa napsu dari bisikan setan. Dan Al-Mulk untuk menghalangi siksa kubur.


Laju mobil pun terhenti tepat di depan rumah dengan dua lantai yang dulunya berwarna abu-abu muda kini sudah berganti dengan kuning jingga. Dipta yang baru pertama kali ke sini lagi, memendarkan mata untuk mencari bayangan di mana kenangan indah pernah bersemayam. Memboyong Rayna setelah menikah, membawa Dara yang baru dilahirkan dari Rumah Sakit dan kenangan buruk saat Rayna pergi membawa Dara karena masalah ia dengan Nancy.


"Aku turun, ya, Mas. Makasih banyak."


"Sama-sama, Ay. Istirahat, ya. Jangan nangis lagi. Kalau kita sakit, kita lemah. Dara nya, gimana?" padahal bohong. Ia juga masih tidak kuat. "Dara butuh senyum kita."


Rayna yang sudah melepas seat belt hanya tersenyum tipis. "In Syaa Allah, Mas. Makasih banyak, ya. Titip Dara. Assalammualaikum."


"Waalaikumsallam, Ay ...."


Rayna yang sudah melangkah lekas statis dan menoleh karena kembali di panggil.


"Ya, Mas?"


"Jangan lupa shalat malam, kita doakan Dara sama-sama."


"In Syaa Allah, Mas." kembali melangkah menuju pintu utama. Tetap Dipta tunggui sampai Rayna masuk ke dalam rumah. Dan setelahnya, Dipta menundukkan kepala di atas stir kemudi, ia terisak pelan, mengeluarkan air mata lagi.


Perceraian mereka sudah tiga tahun. Ia sudah mencoba mengikhlaskan Rayna yang memang sejak dulu tidak pernah mau kembali. Tapi, sekarang? Ketika ia tahu Rayna benar-benar sudah move on darinya dan melakukan hubungan serius dengan Adjie, mengapa rasanya berat sekali?


Dipta mengangkat kepala dari stir kemudi, membuka laci dashboard, meraih foto keluarga antara dirinya dan Rayna yang tengah menatap kamera sambil memangku Eleodra dan Elea, menyandar lemah di sandaran jok dengan bahu berguncang.


"Kalau aja dulu aku nggak terpengaruh. Mungkin senyum nya masih menjadi milikku," ujar Dipta menyentuh wajah Rayna. Ia hanya bisa pasrah, meminta Rayna kembali memang tidak akan pernah terjadi. Ia sudah merusak kebahagiaan Rayna.


"Moga kamu bisa berbahagia bersama, Adjie, Ay." kemudian menatap ke hamparan langit dari dalam mobil. "Ampuni dosaku, Ya Rabb." ciri taubat yang diterima oleh Allah adalah ketika si pendosa merasa jijik saat diingatkan kembali dengan perbuatan maksiat yang pernah dilakukan.


Tenang, Dipta. Rahmat Allah itu luas dibanding murkanya. Maka kejar cinta Allah, Allah akan kembali mengejarmu. Karena, Allah lebih mencintai taubat sang pendosa dari pada hamba yang merasa suci tidak pernah merasa bahwa dirinya berdosa.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Makanya jangan nakal, Gasendra Pradipta Hadnan!

__ADS_1



__ADS_2