Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi
Aku Ingin Kita Rujuk.


__ADS_3

"Ay ... Ay," ujar Dipta terus menerus sembari menepuk pipi Rayna pelan agar mantan istrinya itu, yang sudah sepuluh menit pingsan bisa terbangun.


"Ibu ...." dan lirihan kecil dari pembaringan ikut menyertai seruan Dipta di bibir sofa.


"Rayna!" terus menyerukan, lama-lama Dipta jadi cemas. Harusnya tadi ia tidak menolak ketika Perawat menawarkan bantuan untuk menolong Rayna yang hanya syok karena saat ia datang ke kamar ini, melihat banyak Perawat beserta Dokter yang berkumpul di ranjang Dara membuat Rayna salah paham kalau anaknya sudah tiada. Padahal mereka tengah mencari pembuluh darah Dara yang terasa tipis sekali untuk ditusukan jarum infus di kedua tangan Dara karena mengalami pembengkakan.


"Bu!" Dara terus memanggil sampai saat ia ingin mengangkat kepala, Dipta cegah dengan gelengan kepala.


"Jangan bangun, Nak." tangan Dipta di udara mengode agar Dara kembali berbaring.


"Ibu, parah, Yah?"


"Ibu baik-baik aja. Hanya pingsan."


"Tapi kok lama banget," balas Dara takut. Kelopak mata Anak itu sebenarnya sudah sepat, ingin menutup untuk tidur karena efek obat yang mulai bekerja. Untuk keadaan yang sekarang Dara memang terlihat sangat payah. Karena ia muntah terus menerus, kedua kakinya tidak bisa digerakan untuk berjalan dan hidungnya terus mimisan.


Dipta beralih menatap Rayna lagi yang mana wanita tersebut mulai bereaksi untuk sadar.


"Ay ...." senyum Dipta lekas tersela dengan raut Rayna yang kaget dan lekas bangkit, melongo tak karuan.


"Anak kita, Mas?" mata nya membeliak, ia sampai mencengkram lengan Dipta.


Dipta yang ikut tersentak kaget karena Rayna tiba-tiba sadar mirip zombie, tersenyum sambil mengusap dada. "Jangan cemas, Ay. Anak kita nggak apa-apa. Sudah di tangani." Rayna ikut menoleh ke pembaringan, menghela napas lega karena senyum Dara masih menjadi miliknya.


"Maa Syaa Allah, anak ibu ...." Rayna bangkit dari sofa, melangkah ke pembaringan, membungkukkan tubuh, memeluk dada Dara lekas menangis.


"Maafin Ibu, Nak. Maafin ... hiks." Dara memeluk Ibunya, memberi usapan lembut di punggung Rayna. "Harusnya Ibu enggak pergi lama ninggalin kamu," timpal Rayna.


"Nggak apa-apa, Bu. Yang penting sekarang Ibu ada di sini sama aku dan Ayah." Dipta mendekat ke pembaringan, duduk di bibir ranjang Dara sebelah kanan. Rayna yang masih menangis, menguar dekapan karena merasakan jantung Dara yang terasa berderap cepat, takutnya terasa sesak karena tekanan dari dekapannya.


Rayna duduk di tepi ranjang sebelah kiri Dara, mengelus-elus lengan Dara. "Bener udah maafin, Ibu, Nak? Ibu janji, Ibu akan selalu ada untuk, Dara. Hidup Ibu sekarang hanya untuk Dara aja." air mata penyesalan masih saja menetes.


Rayna sedang berusaha damai pada diri sendiri, mungkin saja kegagalan pernikahannya dengan Adjie memang sudah menjadi takdir. Ia bisa leluasa mampu menuangkan pikiran hanya untuk kesembuhan Dara dari pada membaginya dengan lelaki yang akan menjadi suami baru. Rayna harus membagi waktu untuk Dara demi Adjie yang menginginkan masa-masa pengantin baru.


"Boleh nggak Dara minta hidup Ibu dibagi? Enggak cuman buat Dara aja?"


Kening Rayna dan Dipta terlihat mengerut. "Maksudnya, Nak?" tanya Rayna.


"Bagi juga untuk, Ayah, Bu. Dara pengin, Ibu menikah lagi, bersama lagi dan serumah lagi dengan, Ayah. Demi Dara, Bu. Demi aku ...." begitu memelas, Dara sampai menggenangkan air matanya. "Biar kalau aku pergi, Ibu ada yang jagain. Ayah pasti lindungin, Ibu."


Rayna yang ingin menggeleng pelan, tersela dengan Dipta yang mulai angkat suara.


"Ay ...," panggil Dipta. Rayna menoleh, dan mata mereka kembali bersibobrok.


"Jangan gunakan keadaan ini, Mas." Rayna seakan teguh pendirian walau Dara sudah memelas disertai air mata.


"Apa yang Dara inginkan. Juga keinginanku, Ay. Aku ingin kita rujuk."


"Kamu kan tau itu mustahil, Mas."


"Kenapa mustahil, Bu?" Dara ikut bertanya.


"Sekarang nggak usah pikirin Ibu sama Ayah. Cukup Dara fokus untuk kesembuhanmu aja, Nak. Selama ini kan setelah bercerai dengan Ayahmu. Ibu baik-baik aja, nggak kenapa-napa."


Kini, Dara yang menggeleng. Air matanya semakin berlinang.


"Tapi, aku pengin Ayah sama Ibu kembali bersama, sebelum aku pergi." terus mengulang kata yang paling dibenci mereka bertiga, membuat air mata Dipta ikut mengalir. Pun Rayna. Wajah pucat Eleodra, yang sering disapa Dara, membuat sang Ayah menatap lebar manik mata mantan istrinya yang memilih menunduk.


"Bagaimana, Rayna? Bisa, beri aku kesempatan lagi?"


Rayna menarik napas panjang, dan setelahnya dengan tegas ia menggeleng. "Demi aku, Bu."


"Beri aku kesempatan sekali lagi, Rayna." Dipta ikut menimpali permintaan Dara.


"Aku masih teringat Nancy dan kamu, Mas. Rasanya masih sulit ...." tetap menggeleng untuk menolak.


"Maafin, Ayah, Bu. Ayah bilang enggak sengaja."

__ADS_1


Rayna tetap menggeleng, ia memilih menatap gelas di atas nakas dari pada menangkap binar mata Dara yang terus memelas. "Ibu udah ikhlas maafin, Ayahmu, Nak. Tapi, untuk merajut masa-masa seperti dulu. Ibu belum bisa, Ibu takut."


"Aku berjanji, Rayna. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."


Rayna tetap menggeleng, tidak mengidahkan permintaan itu. Ia kembali menatap Dara.


"Minta yang lain aja. Ibu pasti kasih, Nak."


"Anak kita sudah begitu lemasnya. Begitu memelas meminta. Kenapa kamu masih saja keras seperti batu, Ay?"


Rayna menatap tegas manik mata Dipta, seakan bilangan mata elang. "Aku begini karena kamu! Jadi jangan salahkan jika sikap ku akan seperti ini, Mas." berujar pelan, setengah berbisik, agar Dara tidak gamblang mendengar ucapannya.


🌾🌾🌾🌾


Bunda dan Ayah baru saja pulang setelah menjenguk Dara. Mami dan Papi belum Rayna hubungi, karena ponsel beserta tasnya masih berada di dalam taxi, yang mana sopirnya sudah celingak-celinguk mencari Rayna di pelataran RS yang sudah menghilang tanpa jejak.


Mendengar penolakan secara kukuh dari Rayna membuat Dipta akhirnya diam, tak mau lagi memaksa Rayna. Lelaki itu memilih berbaring di sofa, melepas penat. Kedua nya sudah dipastikan akan kembali menginap bersama di ruangan ini untuk menunggui Dara yang keadaannya semakin memperihatinkan.


Rayna memilih bangkit dari ranjang, melepas pelukan pada tubuh Dara. Ia melangkah tanpa sendal, menuju sofa.


"Mas ...." mau tak mau, demi perut yang terus berbunyi. Rayna memilih membangunkan Dipta, menggoyangkan lengan lelaki itu yang bersedekap di atas dada.


Dipta mengerjap, lekas kaget karena di hadapannya sudah ada Rayna membungkuk.


"Maaf, Mas. Aku bangunin kamu."


"Ada apa, Ay?" bertanya dengan suara serak. Dipta gegas bangkit, duduk tegap menatap ke arah ranjang Dara yang mana anaknya itu masih terlelap tidur.


"Mau pinjam uang boleh, Mas? Mau pesan makan, aku lapar. Tas ku ketinggalan di taxi, tadi buru-buru soalnya." Dipta yang sedang mengucek mata, mengusir kantuk lekas menatap Rayna serius.


"Kenapa enggak bilang dari tadi? Udah sore begini, pasti kamu udah lapar." segera mengeluarkan dompet dan memberikan banyak lembaran merah.


"Enggak usah pinjam. Ambil aja. Cukup, nggak? Kalau kurang nanti bilang aja."


Rayna hanya mengambil selembar, sisanya ia berikan lagi. "Kebanyakan, Mas. Segini aja cukup. Aku tetap pinjam, Mas. Nanti, pasti aku bayar."


"Emm ... makasih, ya, Mas." Rayna memberikan senyum kikuk karena malu. Setelah menolak Dipta, sekarang ia malah membutuhkan lelaki itu.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan di restoran."


Rayna mengerutkan kening, kalau Dipta tetap menawarkan makanan, lalu uang yang ia pinjam, untuk apa? Rayna memilih, menggeleng sopan. "Enggak usah, Mas. Nanti, aku bisa pesan ke kantin."


"Nasi goreng teri, kayak biasa?" Dipta tetap memaksa. Rayna yang terlihat lapar sekali dan saat salah satu makanan kesukaannya di sebut, akhirnya menggeleng mau.


"Maaf, ya, Mas. Aku merepotkan."


Dipta mengangguk senyum dengan bola mata serius menatap layar ponsel karena tengah mencari nomor restauran kesukaan Rayna.


"Sendal juga? Biar aku sekalian pesankan."


"Jeli banget mata kamu, Mas." Rayna tertawa. Dipta yang ingin sekali bertanya, kemanakah satu sendal Rayna yang sejak wanita itu pingsan tidak ia lihat.


"Nomor tiga puluh delapan kan?"


Rayna tersenyum lagi. "Makasih banyak, ya, Mas."


"Sama-sama."


"Modelnya?"


"Terserah, Mas, aja."


"Oke."


"Sekali lagi makasih, ya, Mas."


"Sama-sama." Rayna jadi terlihat kikuk karena malu. Merasa tidak enak tapi ia memang butuh Pradipta.

__ADS_1


"Nanti aku cek taxi yang kamu pakai dari bandara. Biar tas mu bisa kembali. Tapi, kalau nggak bisa. Ya nggak apa-apa. Aku yang akan ganti."


Rayna mengigit bibir bawah tipis, tersenyum. "Makasih, ya, Mas. Kamu selalu perhatian ke aku walau aku ...." terjeda, tidak mampu menatap mata Dipta yang kini menatapnya karena pergerakan di layar ponsel terhenti.


"Walau apa?"


"Mau pipis, Mas." salah tingkah, lekas memasang langkah panjang menuju kamar mandi. Dipta menyeringai tawa, menggeleng samar.


"Kamu gugup, Ay."


🌾🌾🌾🌾


"Pelan-pelan, Ay. Kayak seminggu enggak makan."


"Uhuk!" mendengar selorohan itu, Rayna lekas tersedak. Dipta langsung menyodorkan air di botol mineral kepada Rayna. "Wajarlah, Mas. Dari pagi belum makan."


"Ya, begitulah kalau makan gengsi. Bisa kelaparan. Bahkan juga, koit." terbahak.


Rayna memiringkan sudut bibir malas. Kembali menikmati nasi goreng yang tidak ada lima menit dilahap sudah tinggal setengah.


"Enggak berubah, ya, dari dulu. Tetap lahap kalau makan."


Rayna mendengus napas bete, ia memiringkan duduk, menatap ke arah lain sembari membawa kotak nasi goreng di atas pangkuannya. "Udah sana makan, Mas. Dari pada gangguin aku terus." dalam satu sofa, tapi, duduk tidak bersisihan dekat. Ada jarak yang menyekat mereka.


"Enggak napsu makan, Ay. Mikirin, Dara." menatap Dara sendu pura-pura.


Rayna mendelik tajam. "Nyindir maksudnya?" sendok berisi nasi goreng yang ingin ia masukan ke dalam mulut jadi terjeda.


"Lho kok nyindir? Emang dari dulu tuh kamu enggak pernah berubah. Sensitif terus bawaannya. Untung, aku cinta."


Rayna yang refleks ingin memukul lengan Dipta, dan lelaki itu terbahak karena berhasil menggoda. Kedua nya lekas menoleh ke pembaringan saat mendapati Dara terlihat kejang.


Ayah dan Ibu itu panik, segera mendekati anaknya.


"Kamu kenapa, Nak?"


"Sakit, Bu." Dara seraya mengerang napas sesak, dada nya ia busungkan ke atas.


"Tunggu, ya, Ibu panggil Suster dulu."


"Enggak, Bu. Jangan!" Dara menyergah. Dipta yang memilih pergi Mengenggam erat tangan Rayna. "Kayaknya aku mau mati deh, Bu."


"Jangan ngomong gitu!" Rayna menggeleng tegas, rautnya pucat seperti Dara.


"Dara cuman pengin Ibu nikah lagi sama, Ayah. Apa tetap nggak bisa, Bu?"


"Ya Allah, Nak. Keadaan kamu lagi begini, masih aja itu yang di bahas!" Rayna terlihat gemas di situasi yang amat genting.


"Ayo dong, Bu. Tolongin, Dara. Penuhin kemauan aku, sebelum aku pergi."


"Kamu enggak akan pergi! Nggak akan kemana-mana. Tetap di sini sama, Ibu dan Ayah!" Rayna menangis, mendekap Dara. Tak perduli napas anaknya itu sudah megap-megap palsu. Dara hanya berakting. Sedari di pembaringan, menatap kebersamaan Ayah dan Ibunya di sofa, ia terlihat senang.


Derap sepatu Perawat dan Dipta mulai berdatangan tanpa Dokter, lekas terhenti karena senyum Dara dan kode dengan jari membuat Dipta paham, kalau anak itu tengah membual.


Dipta menggeleng dengan napas frustrasi ke pada Dara, entah apa yang ingin anak itu lakukan pada Ibunya. Dipta mendekati Rayna, menarik wanita itu untuk menjauhi Dara yang lekas ditilik keadaannya oleh para perawat.


Sembari menangis, Rayna menatap Dipta. "Ayo kita rujuk, Mas. Nikahi aku."


Saking tak percayanya, Dipta sampai menganga kan mulut. "Yang benar, Ay?" derap jantung berkibar-kibar, ia tak menyangka dewi fortuna akan kembali menempel padanya untuk mendapatkan wanita yang ingin sekali ia dapatkan kembali, di jaga, di sayang dan memberikan perhatian ekstra untuk menebus kesalahan di masa lalu.


"Ya, benar, Mas. Tapi, ada syaratnya."


"Syarat?"


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Kalau akhirnya Sad ending, gimana, guys? Kalian ngamuk nggak🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Like dan Komen, ya.


__ADS_2