Sebuah Usaha Mencintai Dan Melupakan

Sebuah Usaha Mencintai Dan Melupakan
Chapter 21 -Menolak


__ADS_3

Jemi melihat Tara di halaman belakang sedang duduk lalu menangis, Jemi menghampiri Tara.


"Perjodohan ini gak bakal terjadi." Ujar Jemi.


Tara terkejut tiba tiba Jemi duduk di sebelah nya.


"Ngapain lo disini? tinggalin gue sendiri." Ujar Tara melirik ke arah Jemi.


"Plis deh gak usah lebayy, gue juga kaget waktu papa bilang gitu. Tapi kan kalo kita gak menginginkan nya, perjodohan ini gak bakal berhasil. Yang bener aja gue nikah sama bocah, sementara gue punya kekasih yang sayang bgt sama gue."


"Ehh lo pikir gue mau di jodohin sama lo! Gue juga gak mau ya nikah sama lo. Gue juga udah ada kekasih yang cinta banget sama gue." Ujar Tara membalas perkataan Jemi dengan sorot mata siniss.


"Iya gue tau, selagi kita sama sama menentang perjodohan ini gak bakalan terjadi."


"Ya terus mau lo gimana, lo tau kan kalo semua ini sudah di atas perjanjian." Tara menjawab mata nya masih berkaca kaca.

__ADS_1


"Yaudah tinggal bilang aja kalo kita gak mau di jodohin, kita udah punya pasangan masing masing. Lagian ini perjanjian bukan di atas materai."


Tara setuju dengan apa yang di katakan Jemi. Dia juga tidak mungkin bisa melakukan ini semua dan melepas kan Dito.


Tara dan Jemi kembali ke ruang tamu, semua sudah selesai menghabiskan makan malam.


"Kan Tara dan Jemi baru saja bertemu sudah akrab begini ya hehehe." Ujar pak Darma melihat muncul nya Tara dan Jemi.


"Pah, Jemi gak mau melakukan perjodohan perjodohan ini. Dan papa juga tau kalo aku belum mau menikah. Aku ingin melanjutkan cita cita ku dulu." Ujar Jemi semua mata tersorot kepada nya termasuk juga Tara.


"Iya om, ayah, ibu. Tara juga mau kuliah dulu ngejar cita cita Tara, bahkan Tara belum juga lulus SMA kalian tega tega nya buat janji seperti ini. Tanpa kesepakatan dari pihak yang berangkutan."


"Tara, Jemi. Lagian om dan Santoso menjodohkan kalian itu nanti setelah Tara lulus sekolah. Jadi sekarang kalian bisa mengenal satu sama lain terlebih dahulu."


"Iya Tara. Lagian keluarga om Darma ini begitu baik dengan kita. Dulu pernah sekali waktu bayi kamu sakit, ayah tidak ada biaya untuk membawa mu berobat. Ayah meminjam kesana kemari tapi tidak ada hasil. Hanya beliau lah yang memiliki hati nurani." 7

__ADS_1


Ujar pak Santoso menepuk bahu pak Darma.


"Jadi semua ini karena balas budi. Ayah tega mengorbankan perasaan Tara. Kalau gitu ganti saja semua yang diberikan kepada kita dengan bayaran uang." Ujar Tara lalu lari menaikki anak tangga dan masuk ke dalam kamar nya menangis tersendu sendu.


"Taraa!! ayah tidak pernah mengajarkan mu berbicara tidak sopan seperti itu."


"Sudah San, ini baru awal makanya mereka menolak. Nanti kalo sudah saling mengenal pasti mereka sendiri yang minta kawin."


"Hahahaha iya benar kata mu Dar."


Jemi hanya terdiam tidak bisa berkata apa apa lagi.


Mana mau aku kawin dengan wanita keliatan tomboy tapi lebay gitu.


Setelah lama berbincang bincang dan hari sudah larut malam, pak Darma dan Jemi pamit pulang.

__ADS_1


Sementara bu Rani dan pak Santoso mengetuk pintu kamar Tara, tapi tidak ada sahutan. Fikirr mereka mungkin Tara sudah tertidur.


__ADS_2