
Dirumah nya pak Darma sedang menikmati secangkir kopi di halaman belakang dengan sejuk angin sepoi sepoi dan biru nya air kolam renang. Kain yang melilit di leher dan tongkat di genggaman tangan nya menemani ia menikmati suasana sejuk di pagi hari.
Sesampai nya di kantor tempat pak Santoso bekerja, ia menghubungi sahabat nya, pak Darma.
Diatas meja dekat dengan secangkir kopi, ponsel pak Darma berdering.
"Hallo Dar."
"Hallo San, ada apa?"
"Tadi aku menghubungi Jemi, aku meminta nya untuk menjemput Tara sepulang sekolah. Sekalian mereka jalan jalan agar lebih dekat dan saling mengenal lebih jauh. Tapi seperti nya Jemi menolak."
"Baiklah San, nanti aku yang akan berbicara kepada Jemi."
Setelah berbincang di telepon dengan pak Santoso tadi, Jemi tak dapat melanjut kan tidur nya. Ia pun melangkah kan kaki nya ke kamar mandi, sembari masih memikirkan apa yang di minta pak Santoso lewat telepon tadi.
Pak Darma masuk ke dalam kamar Jemi yang tak terkunci. Ia mencari Jemi tapi tak di temukan. Terdengar suara shower di dalam kamar mandi. Pak Darma duduk di tepi ranjang, menunggu Jemi selesai mandi.
"Loh Pah, ngapain disini?"
"Papa ingin meminta sesuatu Jem."
"Minta apa pa? Bilang aja sama Jemi."
__ADS_1
"Papa minta kamu jemput Tara sepulang sekolah, ajak dia jalan bersamamu Jem."
Jemi terdiam dia tidak bisa mengatakan bahwa dia menolak. Jemi terlalu sayang kepada papa nya itu, dia tidak bisa melihat papa nya kecewa untuk kesekian kali nya, sebab dulu papa nya pernah di kecewa kan lalu di tinggal pergi oleh mama Jemi.
"Baiklah pa, aku akan menuruti apapun kemauan papa." Dengan rasa berat hati Jemi mengatakan itu.
"Terimakasih nak, papa mau kamu dengan Tara supaya kamu tidak salah memilih wanita. Seperti apa yang papa alami dulu dengan mama mu."
"Uhukk...uhukkk"
"Are you okay pa?" Jemi memegang punggung pak Darma. Karena sedari semalam Jemi mendengar papa nya tidak berhenti batuk batuk.
"Papa gak papa Jem, sudah cepat kamu bersiap siap. Kemudian jemput Tara dan ajaklah dia jalan. Papa masuk ke kamar dulu" Pak Santoso beranjak pergi dari dalam kamar Jemi.
Kalau bukan demi papa, gak sudi gue jemput cewe resek itu.
Astaga gue lupa hari ini ada janji sama vina.
Jemi mencari ponsel nya lalu menghubungi Vina kekasih nya itu.
Telepon tersambung.
****
__ADS_1
"Hallo sayang."
"Hallo, vin. Aku mau ngomong kalo kita gak jadi jalan malem ini."
"Lohhhh kenapa?"
"Papa minta anter ke rumah sahabat nya." Jemi beralasan. Karena dia tidak mau kalau Vina tau tentang perjodohan nya dengan Tara.
"Yaudah aku ikut aja."
"Gak bisa sayang ku Vina. Kan kamu tau papa belum tau soal hubungan kita, papa juga belum kasih izin kan. Kata papa aku harus menggapai cita cita ku dulu."
"Tapi sampai kapan Jem! Kita sembunyi sembunyi seperti ini. Kamu di jogja aku disana, sekarang kamu di jakarta juga aku disini kan. Aku selalu ada buat kamu, aku selalu sama kamu. Tapi apa susah nya sih bilang sama papa kamu tentang hubungan kita ini!"
"Sabar sayang, nanti pasti aku bilang sama papa. Dan aku janji kalau aku sudah sukses nanti pasti aku akan menikahi mu."
"Terserah kamu deh Jem."
"Nanti habis dari menghantar papa, aku kerumah mu ya."
Tuttt...tutt Vina kesal dan mematikan sambungan telepon.
Kebiasaan deh si vina.
__ADS_1