
Pak Santoso dan bu Rani melihat Tara memukul Jemi dan Jemi hanya diam saja. Mereka bertanya tanya mengapa Tara kelihatan begitu marah.
"Hei hei Tara apa yang kamu lakukan nak." Bu Rani mencoba melerai Tara begitu pun dengan pak Santoso menjauhkan Jemi dari hadapan Tara.
"Dia yang udah buat aku begini buk, dia juga yang udah buat Dito jauh dari akuu. Hiks, hiks." Tara menangis lalu memeluk ibu nya.
"Kenapa bisa Ra?" Tanya bu Rani, Pak Santoso pun mengalihkan pandangan nya kepada Jemi seolah olah ikut bertanya.
"Tanyaaa sama orang aneh gilak itu, hiks." Tara menunjuk kesal kepada Jemi. Pak santoso mengalihkan pandangan nya kepada Jemi.
"Nak Jemi kan ayah yang suruh buat jemput kamu di sekolah Ra."
Tara tetap nangis tersendu- sendu mengingat Dito sangat marah kepada nya
"Begini om biar saya jelaskan, semua ini memang salah saya. Saya yang udah buat kegaduhan dan mengakibatkan Tara seperti ini." Jelas Jemi.
"Loh, tapi kenapa bisa jadi begini Jem?" Tanya bu Rani begitu juga dengan pak Santoso.
"Tara gak mau pulang bareng saya, jadi saya ikutin dia. Terus Dito gak suka kalau saya ngikutin mereka, jadi Dito menghajar saya dan saya pun membalas nya. Ketika saya hendak memukul Dito, tiba tiba Tara datang ingin melerai kami. Sampai akhirnya Tara yang terkena pukulan saya, dan jatuh pingsan."
__ADS_1
Pak Santoso menghela nafas.
"Sudah gak papa Jem, ini sebuah kecelakaan dan kamu tidak sengaja."
"Maafkan saja om, tan. Maaf juga Ra, udah buat kamu begini."
"Aku mau pulang buk, yah."
"Yasudah, kita pulang ya." Ujar pak Santoso, bu Rani ikut mengangguk begitu juga dengan Tara.
"Om, biar saya yang urus administrasi nya."
Jemi mengangguk lalu meninggalkan ruang rawat, dan menuju tempat administrasi.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Jemi menuju area parkir, menunggu Tara beserta orang tua nya.
Setelah itu pak Santoso melajukan mobil nya, diikuti mobil Jemi di belakang.
Sampai dirumah pak Santoso, Jemi langsung berpamitan untuk pulang kerumah nya. Tara tidak menghiraukan nya, dia masih kesal da marah kepada Jemi.
__ADS_1
Tiba di kamar Tara beristirahat, dia masih memikirkan kejadian tadi, sewaktu Dito pergi dengan keadaan begitu marah.
Tara mencoba menghubungi Dito tapi tidak ada jawaban.
Larut malam Dito baru kembali ke rumah nya masih terlihat begitu marah, pak Ramli bertanya tanya. Tidak seperti biasa putra nya seperti itu.
"Baru pulang To, dari mana aja kamu?" Tanya pak Ramli sambil menikmati kopi di ruang tamu.
Dito tidak mendengar pertanyaan ayah nya. Pikiran nya kosong, hati nya begitu marah mengingat apa yang di katakan Jemi bahwa Tara itu dijodohkan.
"Kalau orang tua nanya, itu di jawab."
"Aku masuk ke kamar dulu yah, capek." Ujar Dito menuju ke kamar nya.
"Makan dulu To, baru tidur. Itu udah ayah beliin makanan."
Dito tidak menjawab, dia melihat ponsel banyak pesan dan juga panggilan telepon dari Tara yang tak ia jawab.
Dito menghiraukan nya, hati nya sudah terlalu sakit dengan kejadian hari ini. Tubuh dan pikiran nya begitu lelah, Dito memejamkan mata nya lalu tertidur masih mengenakan seragam sekolah.
__ADS_1
Tara terus menatap layar ponsel nya, berharap Dito menjawab pesan yang ia kirim. Tapi ternyata tidak, sampai larut malam Tara lelah dan tertidur.