
Seperti biasa pagi hari Tara menunggu Dito menjemputnya pergi sekolah. Hampir setengah jam Tara menunggu, namun kehadiran Dito tak kunjung datang.
Tara sudah sudah beberapa kali mengirim pesan kepada Dito, tapi tidak ada balasan.
Tara merasa sedikit hampa, biasa nya dia sudah di buat tersenyum tawa sepagi buta ini.
"Tara, kenapa belum berangkat nak? Nanti kamu telat." Ujar bu Rani melihat Tara masih berada di teras rumah.
"Aku nungguin Dito buk."
"Bukan nya Dito marah sama kamu?"
Tara terdiam, menarik nafas berat.
Tittt Tittttttt.
Tiba tiba suara klakson mobil terdengar, Seorang pria turun dari mobil itu, yang tak lain adalah Jemi.
Kenapa makhluk astral itu ada disini sih. Sakit mata gue pagi pagi liat dia.
"Assalamualaikum tante, selamat pagi." Ujar Jemi menghampiri Tara dan bu Rani.
"Pagi nak Jemi, tumben pagi- pagi kemari?"
"Mau bertanggung jawab tan, hehehe."
Tara hanya terdiam, dia pura pura acuh dan memasang wajah ketuss.
"Oh yasudah kalian berangkat gih, nanti Tara telat. Ini sudah siang." Perintah bu Rani.
__ADS_1
Jemi mengangguk, ia berpamitan kembali kepada bu Rani, begitu juga dengan Tara.
Tara masuk ke mobil, diikuti Jemi yang langsung mengemudikan mobil nya.
Tara masih memasang wajah ketus nya, dia benar benar menunjukkan sikap tidak suka kepada Jemi. Ia hanya terpaksa mau di antar Jemi, kalau tidak ia akan telat.
"Gimana, kondisi lo udah membaik?" Jemi membuka obrolan yang sebelum nya suasana begitu hening.
"Menuruttt lo!"
"Santai kali, galak amat neng." Gurau Jemi, ia juga tidak mengerti bagaimana bisa bersikap sok care begini.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara kendaraan di jalan.
"Kenapa lo mau jemput gue? Bukan nya lo gak setuju sama drama perjodohan ini?"
"Heh lo pikir gue mau duduk disini dan di jemput lo? Mending gue ngesot sampe sekolah daripada bareng sama lo!"
"Yaudah turun!" Jemi menghentikan mobil nya di tepi jalan.
"Tega ya lo ninggalin gue sendiri disini! Gak punya hati! Tampang doang yang mirip jungkook, tapi hati mirip sekutu belanda!"
Jemi tidak menghiraukan perkataan gadis itu. Ia segera turun dari mobil nya dan membuka kan pintu untuk Tara supaya cepat keluar. Jemi sudah muak jika terus berdebat dengan gadis lebay tapi tampang tomboy.
"Biadap! semoga aja abis lo ninggalin gue disini,! Gakk ada yang mau naik mobil bareng lo! Sampai Taehyung jadi suami gue!" Teriak Tara melihat mobil Jemi yang semakin jauh si hadapan nya.
Tara mengeluarkan ponsel nya, lalu duduk di kursi tepi jalan. Ia mencoba menghubungi Dito berkali- kali tapi tidak ada respons. Mungkin Dito masih marah karena kejadian kemarin.
Tara juga menghubungi ayah nya, tapi tidak ada jawaban juga. Mungkin ayah nya sedang ada meeting penting.
__ADS_1
Jemi menghentikan perjalanan nya yang belum jauh dari tempat ia menurunkan Tara.
Terlintas kata-kata papa nya yang membuat Jemi beku.
Jem, kamu harus menghantar Tara sampai sekolah dengan selamat. Dan juga bawa dia kembali kerumah nya dalam keadaan utuh.
Jemi juga berfikir bagaimana kalau Tara terjadi apa-apa. Pasti ayah dan ibu nya sedih.
Jemi memutuskan untuk memutar balik mobil nya, kembali ke tempat ia menurunkan Tara tadi.
Tiba-tiba datang dua pemuda, dengan tampang urak- urakan, seperti preman.
"Amboyyyy, cantik nyaaa macam lu...lu..lucinta luna." Tertawa kedua pria itu mendengar perkataan salah satu dari mereka.
"Bu..bu.. kan lucinta luna. Ini mah o...o..oriiii brayyyy!" Gagap kedua makhluk astral itu.
Tara panik, walaupun ia sedikit bersikap tomboy tapi hati nya masih seperti barbie.
"Kalian siapaaa!"
"Hahaha kami, caa...cc..calon suami mu!" Tertawa terbahak-bahak kedua pemuda itu.
Cihhhh! Taehyung gak gini. Dito juga jauh lebih cocok buat calon suami gue.
Tara membelalakkan mata nya ke hadapan dua pemuda itu. Ia mencoba kabur, tapi tangan nya sudah di tahan. Tara di tarik secara paksa untuk ikut bersama mereka. Tara sudah melawan, tapi si gagap dua ini memang kuat.
Jemi melihat kejadian itu, kedua pemuda mencoba memaksa Tara.
Jemi tidak bisa tinggal diam, ia bergegas menolong Tara.
__ADS_1