Secret Game

Secret Game
Resto


__ADS_3

"Kita ikut saja dia, mungkin memang dia hanya berniat baik Min. Daripada nanti kena hukuman." Saran Subin.


"Kali ini gue setuju sama dia." Lanjut Ningning.


"Hmm, kalian berdua gimana?" Tanya Seungmin menatap Karina dan Winter.


"Yah gue sih ikut keputusan yang lain. Biar nggak ribet." Ucap Karina.


"Gue juga deh." Sambung Winter.


"Tunggu!" Teriak Subin.


"Apalagi sih?! Gue buru-buru nih!"


"Kami berlima akan ikuti lo. Lo masih mau kan nerima kami?"


"Tentu, tapi jangan berisik. Gue nggak suka ada yang berisik." Balas pemuda itu.


"Ah iya, karena ini di hutan jadi gue nggak bisa masukin kendaraan kesini tadi. Kita keluar dulu dari hutan ini." Lanjutnya.


Keenamnya bergegas keluar dari hutan dan tak lama kemudian Ningning melihat sebuah mobil besar terparkir di perempatan jalan.


"Itu ada mobil!" Seru Ningning.


"Oh itu mobil gue. Ayo pergi!"


"Karena ini mobil gue jadi gue yang akan kemudikan. Tapi harus ada satu orang yang duduk di sebelah gue. Gue nggak mau jadi sopir kalian." Ucap pemuda itu.


"Iya deh. Min, lo yang di depan sana!" Titah Subin.


"Lah kenapa jadi gue?"


"Yah nggak papa sih, kan laki-laki sama laki-laki lebih bagus tuh."


"Bilang aja lo mau dekat sama cewek-cewek Bin." Ejek Seungmin.


"Jadi masuk nggak?" Tanya pemuda itu ke Seungmin.


"Hadeh, gue lagi sasarannya. Jadi kok." Balas Seungmin.


Di perjalanan menuju ke air mancur tidak ada satupun yang berbicara. Sampai Ningning membuka suara.


"Oh iya, nama lo siapa?" Tanya Ningning.


"Benar juga, gue belum bilang tadi. Gue Huang Renjun. Ini sudah kedua kalinya gue jadi pemain. Kalian sendiri?" Tanya Renjun.

__ADS_1


"Gue Seungmin." Ucap Seungmin.


"Gue Ningning." Sambung Ningning.


"Gue Karina, di sebelah gue Winter."


"Ah cewek yang curigai gue tadi. Masih curiga nggak?" Tanya Renjun.


"Yah kan wajar orang asing dicurigai. Gue memang gitu ke orang yang belum dikenal." Balas Winter.


"Woi gue nggak lo minta kenalin diri juga? Pilih kasih amat." Ucap Subin di bangku belakang.


"Gue kan nanya ke kalian semua tadi. Cuma karena Winter motong jadi lo nggak dapat bagian kenalin diri. Terus lo siapa?" Tanya Renjun lagi.


"Hehe, gue Subin. Tadi lo bilang sudah kedua kalinya jadi pemain, berarti lo juga pernah main game ini?"


"Iya pernah. Gue dan keenam sahabat gue diundang ke permainan ini. Lima sahabat gue tewas. Jadi cuma gue dan Jeno yang selamat." Jelas Renjun.


"Terus dia kemana? Kenapa nggak diundang lagi seperti Seungmin, Karina, Winter, dan Ningning?"


"Itu karena dia sudah nggak waras. Dia berakhir di rumah sakit jiwa karena nggak bisa terima kematian yang lain."


"Kalian juga sudah kedua kalinya yah?" Tanya Renjun ke Seungmin.


"Yah begitu deh. Sama seperti lo kami juga kehilangan banyak orang yang disayang."


"Benar juga." Sambung Subin.


Suasana kembali diam sampai mobil yang dikendarai Renjun berhenti di sebuah tempat yang indah.


"Disini tempatnya?" Tanya Karina.


"Iya, tinggal jalan sebentar pasti langsung sampai."


Renjun keluar dari mobil diikuti Seungmin dan kawan-kawan. Di lokasi air mancur terdapat satu pemuda tampan dan satu gadis cantik tengah menunggu.


"Siapa kalian? Apa kalian juga diundang kesini?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Iya, kalian juga yah?" Tanya Renjun.


"Ha'a." Balas mereka.


"Hohoho, kalian semua berkumpul tepat pada waktunya. Sudah berkenalan belum nih?"


"Kalo belum saya sendiri yang akan memperkenalkan kalian semua."

__ADS_1


"Yang pertama ada Kim Seungmin, dia adalah orang yang pintar dan berpikiran luas. Seungmin sudah pernah mengikuti sekali game ini bersama dengan tiga gadis cantik yang bersamanya. Yah dia itu Karina, Winter dan Ningning."


"Kedua ada Jung Subin, alasan saya mengundang kamu adalah karena kamu hanya bermalas-malasan di rumah dan bermain game saja. Seperti tidak ada kehidupan dalam dirimu. Makanya saya mengundang kamu untuk ikut berpartisipasi dalam game ini."


"Ketiga ada Huang Renjun, pemuda jenius, galak dan tingkat kepintaran yang setara dengan Seungmin. Alasan saya mengundang kamu lagi untuk kedua kalinya adalah untuk menguji seberapa berkembangnya kemampuan mu dalam game lagi. Yah jika kamu kalah otomatis kamu akan bergabung dengan sahabat-sahabat mu hahahaha."


"Sialan lo MC! Jangan bawa-bawa sahabat gue yang sudah tiada! Ini semua juga karena lo yang bawa kami kesini!" Kesal Renjun.


"Oh jangan marah dong. Terakhir ada Bae Jinyoung dan Han Jihyo. Dua orang yang sifatnya bertolak belakang. Alasan saya mengundang kalian tidak lebih dari tertarik. Siapa tau kalian berpisah di game ini. Seperti pasangan-pasangan yang sudah pernah main disini."


"Dasar psikopat! Lebih baik lo jelaskan dari awal aturan main game ini supaya kami semua bisa mengerti!" Bentak Jinyoung.


"Oh iya aturan, saya hampir lupa kalo dalam game ini ada aturan lagi."


"Aturannya gampang. Pertama, kalian harus menyelesaikan seluruh game di dunia nyata ini jika ingin keluar. Kedua, setiap game ada aturan tersendiri yang harus diikuti. Tentu saja yang melanggarnya akan mendapat hukuman yang sadis. Ketiga, seperti yang saya katakan sebelumnya kalau ini akan membahayakan nyawa kalian. Keempat, selamat bersenang-senang dalam game of secret nyata yang GM buat khusus untuk kalian. Sampai ketemu lagi."


"Bentar dulu! GM maksudnya apa? Gue nggak mengerti tau!" Ucap Subin.


"Seperti biasa, Subin memang pecinta game tapi dalam kemampuan berpikir sangat bodoh! Biar saya beritahu kalo GM adalah game master, dia yang meminta saya untuk mengundang kalian semua kesini dan bermain. Tentu saja, Seungmin dan ketiga gadisnya itu sudah mengetahui siapa GM nya. Kalian bisa tanya saja ke mereka berempat."


"Terus siapa GM nya?" Tanya Renjun.


"Lo belum tau? Gue kira lo juga sudah tau karena sebelumnya pernah main game ini." Pikir Ningning.


"Nggak, gue nggak dikasi tau sama mereka. Jadi siapa dia? Kami juga harus tau siapa dia." Ucap Renjun lagi.


"Kalo nggak salah namanya Shotaro. Dia pelayan di restoran yang biasa kami tempati untuk berkumpul." Jelas Seungmin.


"Shotaro? Maksud kalian pelayan berwajah jepang itu?" Tanya Jihan.


"Lho darimana lo tau?" Kaget Winter.


"Gue dan Jinyoung sering datang ke restoran itu juga untuk menyelesaikan novel yang Jinyoung buat. Kalo nggak salah lo yang ditabrak sama Jinyoung kan?" Tebak Jihan.


"Eh benar, gue juga baru sadar kalo lo orangnya."


"Bentar deh, gue dan yang lain biasa ke restoran untuk makan dan santai-santai. Lo dan Jinyoung untuk menyelesaikan novel yang Jinyoung buat. Apa kalian berdua juga pernah ke restoran Jepang itu?" Tanya Seungmin ke Renjun dan Subin.


"Restoran yang mana? Gue nggak ingat. Soalnya banyak restoran yang gue datangi." Balas Subin.


"Kalo ke restoran sih gue sudah banyak kali. Tapi nggak pernah hafal nama restorannya." Lanjut Renjun.


"Nama restorannya itu Shota Resto. Gue selalu hafal nama tempat yang gue dan Jihan datangi." Ucap Jinyoung.


"Shota Resto? Shota? Kok namanya nggak asing yah." Pikir Ningning.

__ADS_1


"Namanya nggak asing karena itu adalah restoran milik Shotaro sendiri. Dia bukan pelayan di restoran itu, melainkan pemiliknya sendiri." Ucap Jinyoung lagi dengan wajah serius.


__ADS_2