Sekali Saja

Sekali Saja
Sekali saja


__ADS_3

AKU TAK MENANGIS KARENA KAU


BENAR - BENAR MENGHIANATI KU, AKU TAK MENANGIS KARENA KAU TAK MEMBERI TAHUKU SEMUANYA. AKU HANYA MENANGIS KARNA LAGI - LAGI AKU HARUS TERJEBAK DI KENYATAAN INI. AKHIRNYA, KAU JUGA MENGGORESKAN LUKA UNTUK KU


-Aliyza Kanza Azzahra.


Malampun tiba. Chaca', Lika, Indah kembali ke penginapan.


"Gays, sumpah badan gw kayak udah di lindas truk aja. Tulang gw remuk sekarang" ucap Lika mengeluh


"He? Kok bisa" tanya Indah


"Ini semua karena Yudha sialan itu" ucap Chaca' spontan memukul meja


"Lo di apain haha" ucap Varo tertawa


"Masa dia hukum kita ngangkat keranjang teh sih. Sumpah berat banget" ucap Lika kesal


"Pasti kalian males-malesan" ucap Dika


"Iya sih haha" ucap Lika tertawa kecil


"Dika, Fasya kemana sih. Dia belum pulang dari tadi. Makan malam pun gak ada" tanya Chaca' khawatir


"Loh, aku kira dia balik duluan. Soalnya aku cuma liat dia di perkebunan kelapa sawit sekali doang" ucap Indah


"Ihhh jangan-jangan dia pergi sama cewek lagi" ucap Lika bercanda


"Gak mungkin lah, asal lo tau yah dia itu orangnya setia banget" ucap Chaca' kesal


"Mungkin ada tugas khusus kali dari Al-gifary group" ucap Dika yang berusaha menenangkan Chaca'


"Yaudah deh, kalo dia balik kalian bilang yah aku istirahat duluan. Gue capek banget" ucap Chaca' sambil berdiri dari sofa dan berjalan ke kamarnya.


.


.


.


Sebelum Fasya kembali ke vila, ia mengantarkan Clara ke vila tempat Clara tingal.


"Aku balik dulu, kamu harus segera sembuh" ucap Fasya tersenyum


"Terimakasih karena mau kembali kepadaku dan menemaniku berjuang" ucap Clara sambil memeluk Fasya. Fasya hanya terdiam dan hanya mengingat Chaca'. Ia sangat memikirkan keadaan Chaca' sekarang .


"Aku mohon jangan sampai Chaca' tau tentang hal ini" ucap Fasya menatap Clara. Clara hanya tersenyum dan mengangguk.


Clara sebenarnya juga sangat merasa bersalah kepada Chaca'. Namun, ia juga sangat membutuhkan Fasya di sisinya sekarang.


.


.


.


Fasya pun tiba di vila. Ia segara masuk dan bertanya kepada Varo dan Dika tentang keberadaan Chaca'


"Chaca' di mana?" Tanya Fasya dengan nafas yang tidak teratur karena baru saja berlari


"Lo dari mana aja, dia dari tadi nyariin lo. Sekarang dia udah tidur" ucap Dika. Fasya yang mendengar itu tiba-tiba berlari ke kamar Chaca' dan tidak merespon pertanyaan dari dika.


Ketika sampai di depan pintu kamar Chaca', ia membu pintu dengan pelan dan mendapati Chaca yang tengah tertidur pulas

__ADS_1


'Maafkan aku, aku telah menyakiti perasaan mu. Ku mohon, tetaplah bersamaku. Tetap lah tidak mengetahui semuannya dan menungguku mencari jalan keluarnya'


ucap Fasya yang mencium dan memegang erat tangan chaca' sambil meneteskan air mata.


Untuk pertama kalinya ia menangis karena hubungan asmaranya, ia sangat merasa bersalah memandangi wajah Chaca' yang tidak mengetahui apa-apa.


.


.


.


Di pagi hari yang cerah, mereka bersiap-siap menuju ke rest area untuk sarapan pagi.


"Pagi Sya" ucap Chaca yang tersenyum hangat kepada Fasya.


"Ayo kita ke rest area skarang" ucap Indah sambil berjalan bersama menuju rest area.


"Kamu tunggu di sini yah, aku ambil makanan dulu" ucap Fasya yang menatap Chaca' dengan penuh rasa bersalah. Iapun berdiri mengambil makanan.


"Kayaknya Fasya sakit deh" ucap Lika


"Mungkin dia kurang tidur, soalnya kata Dika ia datang tengah malam" ucap Indah


"Mungkin aja" ucap Chaca'.


Ketika ia mengambil makanan untuknya dan Chaca', ia di kagetkan dengan sentuhan  tangan di punggungnya dari belakang.


"Pagi" ucap Clara tersenyum


"Kamu duduk aja, biar aku yang menyuruh pelayan mengambilkan mu makanan" ucap Fasya kaget


"Loh di ambilin sama kamu dong" ucap Cika


"Uhhh sabar banget sih" ucap Cika. Dika yang mendengar semua percakapan mereka terlihat biasa saja seakan tau apa yang terjadi.


Fasyapun tiba-tiba pergi dan kembali ke mejanya dengan membawakan Chaca' makanan.


"Sya' hari ini kamu di mana" tanya Chaca


"Aku di lab" ucap Fasya tersenyum. Setelah makan, mereka semua bersiap untuk kembali ke tempat kegiatan masing-masing.


"Aku mencintaimu" bisik Fasya kepada Chaca' sambil mengelus kepala Chaca' dan berjalan menuju ke lab. Chaca' hanya terdiam menatap lekat Fasya yang meninggalkannya dengan senyum bahagia.


.


.


.


Ketika Chaca' sampai di perkebunan kelapa sawit, ia sangat gembira dan berjalan sendirian mengelilingi kelapa sawit.


*Brukkkk*


Tiba-tiba Chaca menabrak Cika yang sedang berjalan.


"Sory" ucap Chaca' dan berjalan meninggalkan Cika


"Dasar egois!" Teriak Cika


"Apa kamu bilang!" Teriak Chaca dan berjalan ke arah Cika.


"Memang kau egois kan! Dengan gampangnya meminta maaf dan pergi" tantang Cika

__ADS_1


"Terserah lo" ucap Chaca'


"Gw cuma kasihan sama lo, cewek cantik namun sangat di benci oleh banyak orang. Gw kasihan sama lo yang hanya melihat senyum palsu semua orang kepadamu" ucap Cika


"Heh apa maksud lo!" Teriak Chaca'


"Iyakan! Lo terkenal egois, angkuh, gak punya perasaan" ucap Cika


"Untunglah Fasya sadar dan memilih kembali kepada Clara" lanjutnya lagi


"Apa maksud lo hah!" Ucap Chaca'


"Lihat, bahkan Fasya menyembunyikan semuanya dari lo. Karna ia tau lo sangat egois" ucap Cika


"Berbicaralah dengan jelas!" Bentak Chaca'


"Asal lo tau, Clara adalah kekasih Fasya di Amerika. Mereka baru saja kembali bersama kemarin" teriak Cika yang spontan dengan nada kesal.


"Haha, apa lo fikir gw akan percaya? Haha" ucap Chaca' tertawa.


"Kalo begitu silahkan lihat mereka di lab sekarang" ucap Cika menarik tangan Chaca' menuju lab.


.


.


.


Sesampainya Chaca' di lab, iya sangat terkejut melihat Fasya yang membantu Clara meminum obat dengan memegang tangannya di dalam ruangan itu. Chaca' pun ingin masuk menghampiri mereka. Tiba-tiba Cika memegang tangannya dan menyeretnya keluar.


"Lepasin Gw!" teriak Chaca'


"Hei apa yang lo lakuin" Balas  Cika


"Gw akan membuat pelajaran kepada Clara" ucap Chaca' yang berusaha menerobos masuk


"Asal lo tau, Clara kena tumor otak  yang semakin parah dan hanya Fasya orang yang ia cintai. Ia membutuhkan Fasya di sisinya untuk menguatkannya" lanjut Cika


"Gw juga membutuhkan Fasya!" Teriak Chaca'


"Membutuhkan untuk membuat kepoluleranmu semakin tinggi? Lo benar-benar egois. Lo benar-benar tidak memiliki perasaan. Apa lo gak memikirkan Clara yang berjuang dengan hidup dan matinya melawan penyakit hah" teriak Cika


"Hentikan! Gw tidak se egois yang li kira!" Teriak Chaca menutup talinganya


"Kalo begitu buktikan! Jangan mengganggu mereka dan membebankan Fasya, Gw bisa nilai lo di sini. Gw akan lihat seberapa dewasanya lo bertindak" tantang Cika


"Gw akan buktikan!" Teriak chaca'


.


.


.


Ia pun berlari meninggalkan cika menuju perkebunan teh sambil menangis tersedu-sedu


'Tuhan, sekali lagi kau membuat ku merasa sediri. Sekali lagi, kau membuatku merasa benar-benar tidak di inginkan. Ku mohon kuatkan aku sekali saja. Kumohon kuatkan hatiku menghadapi semuanya sendiri sekarang. Lagi-lagi penyakit itu merebut orang yang aku cintai, Ku mohon kuatkan hatiku'


ucap Chaca' di dalam hati sambil berlari.


Soreh itu, Chaca merasa sangat marah kepada dirinya sendiri. Ia sangat menyesal karena tidak bisa dewasa menghadapi semuanya, ia sangat kecewa kepada dirinya sendiri. Semua kata-kata Cika seperti tamparan keras untuknya.


  

__ADS_1


__ADS_2