
CUKUP KAU DI SAMPING KU, BERJALAN BERSAMAKU, TUK MENYUSURI WAKTU.
CUKUP KAU DI SAMPING KU, BERJALAN BERSAMAKU, PASTIKAN KAU BAHAGIA.
- Fasya Al-gifary
Malam pun tiba, Fasya menjemput Chaca' dan membawanya ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, Chaca' tampak diam dan memikirkan sesuatu.
"Hei, kamu sakit?" Ucap Fasya dengan lembut sambil mengelus kepala Chaca'
"Aku baik-baik aja Sya" ucap Chaca'
"Kamu sedang memikirkan sesuatu, iya kan" ucap Fasya.
Ada yang sedang mengganggu fikiran Chaca' malam ini. Sepulang sekolah tadi, ia terus memikirkan apa yang sebenarnya membuat kemarin-kemarin Fasya berbeda. Ia memikirkan tentang mamah Fasya yang belum memberi izin kepada Fasya untuk berpacaran dengan Chaca'.
"Aku memikirkan hubungan kita" ucap Chaca'
"Hei, mengapa?" Ucap Fasya
Sambil memberhentikan mobilnya di pinggir jalan
"Loh kenapa berhenti" ucap Chaca'
"Aku ingin bicara serius dengan mu, mengapa kamu tiba-tiba ragu?" ucap Fasya menatap lembut Chaca'
"Aku hanya memikirkan tentang orang tuamu, sampai sekarang ia belum memberi izin kepada kita" ucap Chaca' menunduk
"Cha' lihatlah mataku" ucap Fasya sambil memegang dagu Chaca' dan membuat Chaca menengadah melihat wajahnya
"Cukup kamu selalu ada di sampingku, cukup kamu percaya padaku, dan cukup kamu mengaggap ku selalu ada. Hanya itu tugas mu. Selain itu, biar aku yang menemukan jalannya" ucap Fasya lembut
"Aku takut kamu tiba-tiba pergi" Chaca' meneteskan air matanya. Ia sangat menyayangi Fasya, ialah yang memberikan Chaca' kasih sayang yang seharusnya iya dapatkan dari orang tuanya.
Fasyalah orang pertama yang selalu ada untuknya jika terjadi sesuatu padanya, dan fasya tidak mengetahui tentang semua itu.
"Hei, aku tidak akan meninggalkan mu, percayalah padaku. Suatu saat nanti, aku akan membuat mamah merestui kita dan bahkan menyayangi mu seperti ia menyayangiku" ucap Fasya memeluk Chaca'
"Aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi. Aku membutuhkan waktu berhari-hari agar bisa meyakinkan dan mendapatkan hati mu, dan aku tidak akan pernah melepaskan mu." lanjutnya lagi.
"Aku mecintaimu" ucap Chaca'
Mereka pun saling menatap dan tersenyum.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan" ucap Fasya kemudian kembali menyetir mobilnya
Chaca' memang tidak langsung membuka hati padanya waktu ia pertama kali menyatakan perasaannya pada Chaca'. Chaca' melihat fasya tidak benar-benar menyukainya saat itu, itu sebabnya ia meminta waktu pada Fasya untuk menerimanya. Seiring berjalannya waktu, Chaca' pun mulai melihat ketulusan di mata fasya untuknya dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran.
.
.
.
Merekapun sampai di sebuah gedung besar milik Al-gifary group. Chaca' tampak kebingungan, ia bertanya di dalam hati apa yang akan mereka lakukan di sini.
"Silahkan turun tuan dan nona" ucap pengawal yang membukakannya pintu mobil
"Sya kita mau apa di sini?" Tanya Chaca' kepada fasya
__ADS_1
"Aku akan membuat malam ini tidak akan pernah kita lupakan" ucap Fasya tersenyum sambil mengusap kepala Chaca'
"Silahkan masuk tuan dan nona" ucap pria berjas yang menyambut mereka.
Itu dalah Aldo, sekertaris pribadi yang selalu mendampingi Fasya.
"Aldo, apa semuanya sudah siap" tanya Fasya ketika mereka berada di dalam lift
'Apa yang akan terjadi?' Tanya Chaca' dalam hati. Chaca' sangat kebingungan dan hanya memegang erat tangan Fasya
"Sudah tuan, semuanya sudah menunggu tuan dan nyonya di atas" jelas Aldo.
Fasya menoleh dan tersenyum gemas melihat wajah Chaca' yang sedang kebingungan.
.
.
.
Mereka pun sampai di atap gedung. Chaca' Sangat terkejut melihat helikopter milik Al-gifary group dan 2 orang pria yang ada di dalam helikopter itu.
"Silahkan masuk tuan dan nona" ucap Aldo mempersilahkan Fasya dan Chaca' masuk ke dalam helikopter yang di penuhi kaca itu
"Sya aku takut" ucap Chaca' melingkarkan erat tangannya di lengan Fasya
"Haha hei, tidak apa-apa aku ada bersama mu. Masuklah sayang" ucap Fasya mempersilahkan Chaca' masuk ke dalam helikopter.
Ketika helikopter mereka terbang, Chaca' sangat kagum melihat pemandangan malam ibu kota dari atas.
"Sya, aku sangat senang malam ini" ucap Chaca'
"Aku mencintaimu" kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Fasya. Chaca' yang mendengar itu tiba-tiba terdiam, ini pertama kalinya Fasya mengatakan cinta padanya.
Chaca' sangat bahagia. Iya mencium pipi Fasya dan kembali menatap indahnya ibu kota. Bukannya ia tidak menggubris perkataan Fasya, namun ia sangat terkejut dan tidak tau kata apa yang ingin ia katakan untuk membalas ucapan Fasya.
'Aku percaya hati kita akan tetap bertahan, sekali lagi kau berhasil meyakinkan hatiku untuk tetap memilihmu. Terima kasih sudah membuatku kembali sadar akan rasa sayang mu yang begitu tulus. Aku tidak akan melukai mu'
ucap Fasya di dalam hati sambil menatap lekat Chaca'.
"Sya berjanjilah untuk tetap bersamaku" ucap Chaca' yang berbalik melihat Fasya
"Aku akan selalu bersamamu sampai kapan pun, dan kamu bisa menyimpan itu sebagai janjiku" ucap Fasya memeluk Chaca'.
.
.
.
Setelah mereka puas melihat pemandangan ibu kota dimalam hari dari atas, helikopter mereka pun kembali mendarat di gedung Al-gifary group.
"Makan malamnya sudah siap tuan" ucap Aldo yang menyambut mereka
"Baiklah" mereka di bawa ke restoran mewah yang tampak sangat sepi
"Sya mengapa sepi?" Tanya Chaca'
"Malam ini aku hanya ingi makan malam berdua denganmu" ucap Fasya
__ADS_1
mempersilahkan Chaca' duduk.
Chaca' sangat kebingungan. Untuk pertama kalinya Fasya membawanya kencan dengan sangat mewah. Fasya dari dulu tidak suka bergaya terlalu mewah, namun malam ini ia sangat berbeda.
"Haha aku tau, apa kamu sengaja kencan dengan ku malam ini karna kamu tau satu bulan kita akan berada di puncak" ucap Chaca' tertawa.
"Bisa di bilang begitu" ucap Fasya tersenyum kepada Chaca'
"Aku sangat bahagia" ucap Chaca'
Fasya pun tersenyum dan menatap Chaca' lekat.
.
.
.
Sesudah mereka makan malam, Fasya pun
Mengantar Chaca' pulang.
"Istirahatlah, besok kita harus berangkat pagi" ucap Fasya sambil mencium kepala Chaca'
"Kamu juga, terimakasih untuk malam ini sayang" ucap Chaca' mencium pipi Fasya
Fasya pun pamit pulang ketika ia telah mengantar Chaca' sampai ke depan lift rumah megah Chaca'.
Ketika chaca' berjalan menuju kamarnya, iya tiba-tiba terkejut melihat bundanya yang duduk di sofa ruang keluarga mereka.
"Darimana saja kamu" ucap Bunda Mika menatap Chaca'
"Apa urusannya dengan tamu rumah ini" ucap Chaca' kemudian terpatung melihat Bundanya
"Chaca'!" Bentak Bundanya
"Kenapa, apa lagi yang ini Bunda katakan untuk melukai perasaan ku" tantang Chaca'
"Bisakah kamu mengerti sedikit tentang situasi ini" ucap Bundanya
"Kurang apalagi aku harus mengerti kalian, aku sudah cukup diam di tinggalkan sendiri bersama pelayan semenjak kecil demi anak kesayangan kalian yang sakit-sakitan itu" teriak Chaca'
*plak*
Satu tamparan mendarat di pipi Chaca'
"Dia kaka kamu Cha', mengapa kamu tega berkata seperti itu" ucap Bundanya yang mulai menangis
"Kaka ku? Haha akupun sudah lupa seperti apa bentuk wajahnya. Sudah 12 tahun aku tak pernah melihatnya sedikitpun" ucap Chaca'
"Apa kamu tidak kasihan melihat kakamu yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Tumor otak sangat menyiksa" ucap Bundanya menangis
"dan aku sangat membenci penyakit itu, yang telah membuat aku seperti hidup sebatang kara tanpa keluarga" teriak Chaca'
"Cukup! Kamu harus bersyukur dan merasa beruntung, atas apa yang kamu miliki sekarang. Tidak semua orang bisa seberuntuk kamu" ucap bundanya
"Iya iya aku memang yang paling beruntung di dunia ini" ucap Chaca' kemudian meninggalkan Bundanya dan menuju ke kekamarnya
'Bunda salah, bukan aku yang tidak mengerti akan situasi ini. Tapi, kalian yang tidak mengerti tentang apa yang ku alami selama ini. Aku juga menyayanginya bunda, aku juga sangat merindukannya dan berharap ia bisa sembuh. Tapi kebencian menutup semua itu, semua karna bunda tidak pernah sedikit pun memberikan kasih sayang kepadaku. Andai aku bisa memilih, lebih baik aku yang merasakan penyakit itu agar aku bisa selalu merasakan pelukan dan kehatan bunda dan ayah'
__ADS_1
ucap chaca' di dalam hati sambil menangis tersedu-sedu.
Bundanya memang tidak perna melihat Chaca' menangis. Hanya Ayahnya yang mengerti tentang keadaannya. Namun, ia juga harus di sibukkan mengurus Sinhawa group. Chaca' merasa sangat di lupakan di keluarganya, untung saja ada Fasya yang selalu ada untuknya. Meski Fasya tak tau apa yang Chaca' alami sebenarnya. Malam itu iya sangat lelah, dan memutuskan untuk tidur dan berusaha melupakan pertengkaran dengan Bundanya.