
Hari pun berlalu, akhirnya hari ini adalah hari terahkhir pelatihan dan mereka besok pagi harus berangkat ke puncak.
Sebenarnya, Chaca' sudah tidak bersemangat ke puncak. Beberapa hari ini Fasya banyak berubah seperti pria dingin, Chaca' pun masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang mengganggu fikiran
Fasya.
"Woiii, ngelamun aja say" ucap Indah yang mengagetkan Chaca' yang sedang melamun di dalam ruang teater
"Ngagetin aja lo" ucap Chaca' kesal
"Kamu mikirin apa Cha'?" Tanya Indah
"Nggak kok, aku cuma ngerasa 3 hari ini
Fasya berubah" ucap Chaca' yang pandangannya masi terpaku
"Loh, bukannya dia tetep perhatian yah sama kamu?" Ucap Lika yang baru saja datang di ruang teater
"Iyaiya aku tau dia perhatian sama aku, tapi aku ngerasa kayaknya ada beban yang dia Fikirin" ucap Chaca'
"Kamu tau sendirikan Cha' dia udah di bebanin perusahaan papahnya. Mungkin ada masalah di Al-gifary group" ucap Indah
"Aku yakin bukan karena keluarganya ndah, aku kemarin udah tanya. Gimana perusahaan sama keluarganya, terus dia jawab baik-baik aja". Jelas Chaca'
"Mungkin dia bohong sama kamu" ucap Lika
"Sepertinya dia nggak bohong, gw bisa liat kejujuran dia waktu gw menatap matanya kemarin. Bahkan kemarin mamanya telfon dan kedengarannya baik-baik aja kok, jadi kayaknya itu masalah pribadinya deh". Ucap Chaca'
"Mungkin dia masi berat buat cerita cha'" ucap Indah
"Ssttt pelatihannya mau di mulai tuh" ucap
Lika panik.
Indah sebenarnya sudah mulai merasa aneh pada Fasya sebelum Chaca' menyadarinya. Ada yang berubah padanya, sepertinya ada sesuatu yang ia tutup rapat - rapat. Ia yakin ini semua ada hubungannya sama tiga murid pindahan itu, ia sangat mengingat ekspresi wajah Fasya yang pucat dan syok di hari itu.
Diantara Chaca', Indah, dan Lika, dialah yang memiliki ke ahlian membaca fikiran melalui raut wajah seseorang. Indah lah yang paling dewasa dan kalem di antara mereka bertiga, orang tuanya mendidiknya dengan sangat baik. Ia pun berniat akan menanyakan ini pada Dika, ia memang dekat dengan Dika sudah lama. Namun, ia masih takut buat jalanin hubungan sama pria.
.
.
.
Jam istirahat pun tiba, mereka berjalan menuju ke ruang makan.
"Cha' semangat dong, dari tadi lo diam aja" ucap Lika mencubit pipi Chaca'
"Lo gak liat gw lagi mikir" ucap Chaca' kesal.
__ADS_1
"Kamu tadi pagi sarapan kan?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba mengelus kepala Chaca sambil berjalan dari belakang
"Iya Sya" ucap Chaca', ya itu adalah Fasya, alvaro dan dika.
Sesampainya di ruang makan, mereka duduk di meja yang paling mencolok di ruang makan. Semua orang menatap iri pada Chaca', semua siswi berharap bisa memiliki pacar seperti Fasya.
Clara, Cika, dan Lulu berjalan masuk ke ruang makan. Semua siswa(i) menatap kagum karena kecantikan dan senyum rahmah mereka. Indah yang melihat itu berusaha memperhatikan wajah Fasya yang berusaha tidak melihat mereka bertiga.
"Cha' mau makan apa?" Tanya Fasya
"Terserah kamu Sya" jawab Chaca'
Fasya, Alvaro, dan Dika pun berdiri mengambilkan mereka makanan.
"Eh gays kayaknya Fasya balik kaya dulu deh" ucap Chaca' senang
"Syukurlah, mungkin dia kemarin-kemarin cuma butuh waktu cha" ucap Lika
'Tapi kok aku ngerasa ada yang mereka bertiga sembunyikan yah' ucap Indah di dalam hati yang kebingungannya bertambah melihat Andika dan Varo ketika Clara, Cika, dan Lulu masuk tadi. Ekspresi mereka tiba-tiba berubah ketika mereka masuk.
Ketika mereka mulai makan, Indah terlihat bingung. Ia hanya bermain dengan sendoknya.
"Hei, kenapa?" tanya Dika kepada Indah
yang menyadari Indah sepertinya memikirkan sesuatu
"Dik, habis makan kita bicara berdua dulu yah" ucap Indah
Setelah mereka makan, Indah dan Dika membiarkan Fasya, Chaca, Varo dan Lika meninggalkan mereka dan berjalan menuju teater.
.
.
.
Indah dan Dika akhirnya memutuskan untuk berbicara di taman sekolah.
"Apa ada masalah ndah?" Tanya Dika
"Dik aku mau tanya tapi kamu jujur yah" ucap Indah
"Tentu, akukan tau kamu pintar baca raut wajah" ucap Dika tersenyum
"Ada apa dengan kalian bertiga? Mengapa kalian sangat syok ketika melihat Clara, Cika, dan Lulu?" Tanya Indah.
Dika yang medengar itu tiba-tiba diam dan terpaku, ia seakan-akan kaget mendengar pertanyaan Indah
"Hei, kok diam" ucap Indah
__ADS_1
"Kamu mau aku bohong?" Ucap Dika dengan menatap lekat Indah.
Indah yang mendengar itu seakan mengerti dengan maksud perkataan Dika. Ia mengerti bahwa Dika tidak bisa menceritakan tetang itu kepadanya.
"Kalo begitu kamu gak perlu jawab, maaf yah ikut campur sama urusan pribadi kamu. Ayok ke teater" ucap Indah sambil berdiri dari bangku taman
"Aku sama sekali gak apa-apa kalo kamu mau tau tentang pribadi aku ndah. Aku udah anggap kamu lebih dari teman, dan aku mohon tunggu aku sebenatar lagi.
Cepat atau lambat, kalian akan tau dengan sendirinya tentang apa yang sebenarnya terjadi" jelas dika dengan menahan tangan Indah.
"Iya aku mengerti, ayok ke teater" ucap Indah menarik tangan Dika dan kemudian berjalan menuju ke teater
'Tungguh sebentar lagi ndah, aku akan menemukan jalan keluarnya' ucap Dika di dalam hati yang memperhatikan Indah sambil berjalan.
.
.
.
Ketika pulang sekolah, Chaca' dan Fasya memutuskan untuk pulang bersama.
"Cha' ntar jam 7 malam aku jemput yah" ucap Fasya sambil menyetir mobil mewahnya
"Mau kemana Sya'" tanya Chaca'
"Kamu bakal tau nanti" ucap Fasya tersenyum kepada Chaca'
"Haha jadi ceritanya kita ngedate dulu sebelum kepuncak" ucap Chaca tertawa
"Yah bisa di bilang begitu" ucap Fasya yang ikut tertawa.
.
.
.
"Apa sebaiknya kita bicara sama mereka bertiga yah. Kasian sama kamu Clara" ucap Lulu yang berbicara kepada Clara dan Cika
"Kita bakal bicara sma mereka di puncak. Sekarang, kita diam aja. Aku gak mau ada keributan" ucap Clara
"Kamu yang terbaik Clara" ucap Cika memeluk Clara yang tampanknya sangat sedih sekarang
"Aku juga mau banget buat tiga cewe angkuh itu sadar dan malu" ucap Cika
"Iya yah" ucap Lulu
"Udah-udah. Ayo kita ulang" ucap Clara
__ADS_1
Mereka pun berjalan ke luar gedung utama PH. Namun, mereka tidak sadar ternyata seseorang mendengar pembicaraan mereka dari belakang. Orang itu hanya diam dan seakan-akan berfikir ketika mendengar perkataan tiga wanita tadi. Ya, itu adalah Indah. Dia mendengar percakapan mereka bertiga dengan jelas.
"Semoga semuanya baik-baik saja" ucap Indah kemudian menarik dan membuang nafasnya dalam-dalam kemudian berjalan keluar gedung PH.