
Di pagi hari yang cerah, Chaca' turun dari mobil mewahnya dan langsung menuju ke gedung utama sekolah.
"Pagii chaca ku sayang" ucap Lika
"Pagi bayi gede" ucap Chaca' menggoda
"Eh Indah belum datang yah? Tumben dia telat dari kita" tanya Chaca'
"Entalah, mungkin berangkat bareng Dika kali haha" ucap Lika
"Semoga mereka cepet jadian deh"
"Yeh enak aja, kalo kalian berdua punya pacar gw gimana dong" ucap Lika cemberut
"Baygon lah haha" ucap Chaca'. Mereka pun berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelas yang akan mereka tempati. Semua mata tertuju pada mereka, karena pesonanya yang tak biasa.
"Mereka siapa?" Tanya Lutya kepada salah satu teman barunya itu ketika sedang duduk di bangku koridor.
"Maksud kamu Chaca' and the geng? Mereka cewek paling populer di sekolah" ucap teman sekelas Lutya
"Iya Lulu. Aku saranin jangan berteman sama mereka deh" ucap teman yang lain.
Ya, Lutya akrab di sapa Lulu.
"Kenapa?" Tanya Lulu
"Mereka sangat di takuti dan di benci di sekolah karena ke angkuhan dan kesombongannya, mending kamu bilang juga sama Clara dan Cika deh Lu" saran teman kelasnya itu
"Haha, padahal mereka cantik" ucap Lulu
"Kamu tau seberuntung apa Chaca'? Dia Adalah putri dari Sinhawa group" ucap temannya
"Oh group Sinhawa? Iya sih aku pernah dengar group itu" ucap Lulu
"Dia pacarnya Fasya, cowok paling populer sekaligus pemilik sekolah ini Lu" lanjut temannya
Ketika lulu mendengar itu, ia tampak syok dan kaget. Iya tak berkata-kata sedikit pun dan langsung meninggalkan 2 temannya itu kemudian mencari Clara dan Cika.
.
.
.
*tringggtringgg*
Bell istirahat berbunyi
Chaca', Indah dan Lika berjalan menuju ruang makan
"Eh gays gw tadi baca di pengumuman, katanya yang ikut program puncak habis istirahat harus ke teater semua buat pelatihan sebelum ke puncak" ucap Indah
"Harus banget yah" lesu Lika
"Emang kalo gak pelatihan dulu, gimana kita ajarin orang desa itu" ucap Chaca' mencubit pipi Lika
"Iyanih Lika gimana sih lo" ucap Indah
"Pasti jorok deh di sana" ucap Chaca dengan nada jijik
"Kamu salah Cha, fasilitas yang di siapkan justru mewah banget tau" ucap Indah
"Masa sih? Kok kamu tau" Ucap lika
"Iyalah, papah gw kan salah satu direktur di NN group. Kebetulan dia yang kelola dana itu" ucap Indah
"Daebak" ucap Lika dengan bahagia
.
.
.
Sesampainya di ruang makan, Chaca mencari - cari keberadaan Fasya, Varo, dan Dika. Namun, mereka sepertinya belum masuk ke dalam ruang makan.
__ADS_1
*dukkk*
Cika tak sengaja menabrak Chaca' yang tengah berdiri diam mencari Fasya.
"Maaf yah aku gak sengaja" ucap Cika panik
"Heh lo bisa hati-hati gak sih" teriak Chaca'
Suasana di ruang makan menjadi tegang dan berfokus kepada mereka
"Akukan udah minta maaf, kenapa kamu berteriak" tantang Cika
"Cik tenang" ucap Clara yang datang menghampiri mereka
"Berani banget lo yah bentak gw" ucap Chaca'
"Cha' sabar, kita di liatin orang Vha'" ucap Indah berusaha menenangkan Chaca'
"Liat! Sepatu ku sampai ketumpahan rendang. Bersihkan!" Bentak Chaca'
"Aku udah berusaha sopan yah sama kamu! Jangan mancing emosi orang dong" teriak Cika
"Eh lo teriak, itu yang lo bilang sopan hah" ucap Lika
"Gays udah-udah mereka kan udah minta maaf" ucap Indah
"Biar aku aja yang bersihin" ucap Clara sambil menunduk membersihkan sepatu Chaca' dengan tissue basah.
"Berdiri Clara" teriak lulu yang tiba-tiba datang dari belakang Chaca'
"Siapa lo ikut campur" ucap Chaca'
"Gw temen mereka, temen gw kan udah minta maaf. Maaf yah, kita gak bakal bisa lo jadiin babu seperti yang lain" tantang Lulu
"Hah babu?" Ucap Indah kaget mendengar kata babu keluar dari mulut Lulu
"Iya, emang kalian gak sadar? Kalian terkenal dengan ke angkuhan kalian, memperlakukan semua orang di sekolah ini sebagai babu kalian" ucap Lulu sinis.
Indah yang mendengar itu sangat emosi dan menarik tangan Chaca' keluar dari ruang makan menuju loker untuk mengganti sepatu Chaca'
Suasan di sana sangat panas dan tegang. Banyak siswa(i) menyisakan makanannya dan memilih keluar saat pertengkaran itu terjadi, mereka takut akan terbawa-bawa dan bakal di cari sama Chaca' and the geng.
"Kami ada di pihak kalian kok" ucap beberapa teman yang masih berada di ruang makan kepada Cika, Clara, dan Lulu.
"Makasih yah" ucap Clara.
Di antara mereka bertiga, Clara lah yang memiliki kepribadian yang paling sabar dan tenang. Dia merupakan anak dari pemilik restoran Atmajaya yang terserbar di beberapa negara dan berpusat di Amerika. Dia adalah pemain biola yang prestasinya di akui di beberapa negara.
.
.
.
"Eh gays, kejadian yang tadi gak boleh di tau sama Fasya yah" ucap Chaca' di depan ruang teater yang memperingatkan temannya agar tidak menceritakan kepada Fasya
"Iyalah, inikan urusan perempuan. Mana mungkin kita cerita" ucap Lika
"Ayo masuk" ucap Indah
Ketika masuk ke dalam ruang teater, Chaca' melihat Fasya yang tengah duduk di sofa yang berada di atas panggung. Ia pun menghampiri Fasya.
"Gays kalian simpanin gw tempat duduk yah, gw mau nyamperin Fasya dulu sebelum pelatihan mulai" ucap Chaca'
"Okedeh" ucap Indah
"Sya" panggil Chaca'
"Kamu udah makan?" Tanya Fasya kepada Chaca' yang langsung berdiri menghampiri Chaca'
"Gak, aku lagi gak mood tau" ucap Chaca
'Mati gw! Gw kecoplosan lagi' umpat Chaca' di dalam hati
"Kenapa?" tanya Fasya khawatir
__ADS_1
"Aku diet haha" ucap Chaca' berbohong
"Diet? Cha' buat apa" Ucap Fasya sambil mengusap kepala Chaca'
"Yah cuma mau aja" Jawab Chaca'
Clara, cika dan lulu tengah berjalan masuk ke dalam teater. Mereka memperhatikan Fasya dan Chaca' yang tengah berbicara di atas panggung.
"Aku duduk dulu yah Sya" ucap Chaca'
"Duduk gih, nanti pulang sekolah kita pulang bareng. Pokoknya nanti kamu harus makan sama aku" ucap Fasya
"Oke bos" ucap Chaca' kemudian turun dari panggung dan duduk di kursinya.
.
.
.
Seteleh pelatihan berkahir, semua siswa(i) yang berada di dalam teater bersiap untuk pulang. Namun, tiba - tiba clara pingsan dan membuat Cika dan Lulu panik.
"Clara!" Teriak cika
Mendengar teriakan Cika, semua mata tertuju kepada Clara yang tengah pingsan.
Mereka semua sangat panik dan segera membawa Clara ke UKS, Semua mata berfokus kepada Clara.
Namun, tidak halnya dengan Indah. Ia memperhatikan Fasya yang tiba-tiba keluar dari ruang teater dengan wajah yang sedikit khawatir dan sepertinya berusaha menahan sesuatu di dirinya. Wajahnya tampak sangat dingin dan seperti tidak ada keributan di dalam teater itu.
.
.
.
"Sya, aku cariin kamu di teater tau" ucap Chaca' kesal ketika ia menghampiri Fasya di parkiran
"Maaf Cha' aku kira tadi kamu udah keluar duluan" ucap Fasya.
Ketika mereka berada di restoran, Fasya tampak diam dan tidak berkata - kata sedikit pun
"Sya kamu sakit?" Tanya Chaca' kawatir
"Aku cuma kecapean aja" jawab Fasya yang tidak melihat wajah Chaca' dan hanya fokus mengaduk-aduk makannya
"Tapi kamu kayanya gak semangat hari ini" tanya Chaca' lagi
"Aku gak apa-apa cha'" ucap Fasya kemudian tersenyum melihat Chaca'
.
.
.
Ketika di perjalanan pulang, mereka berdua tak banyak bicara. Chaca' juga ikut memilih diam dan membiarkan fasya fokus menyetir.
Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah chaca' dan fasya mengantar chaca' hingga di depan lift meuju ke lantai atas rumah Chaca'.
"Aku balik yah, kamu gak boleh diet. Aku gak mau kamu sakit" ucap Fasya mengelus kepala Chaca'
"Iya" jawab Chaca singkat.
Fasya pun pamit pulang. Di kamar Chaca', ia duduk dan memandang ke luar jendela. Ia tengah memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuat ia merasa ganjal hari ini.
"Fasya kenapa? Tidak biasanya dia gak natap mata aku ketika bicara. Dia bahkan gak liat wajah aku pas di restoran tadi ketika aku bertanya" ucap Chaca' yang bicara sendiri dan merasa bingung
"Apa yang dia pikirkan? Jika ia sakit, ia tidak pernah memalingkan wajahnya ketika berbicara sedikit pun. Atau dia bohong? Biasanyakan jika seseorang bohong kepada pasangannya, ia tidak berani menatap matanya ketika menjawab" lanjutnya lagi
"Sepertinya ada sesuatu yang ia fikirkan dan menjadi beban untuknya. Ia terlihat tidak baik-baik saja? Hah sudahlah, mungkin ada masalah sama keluarganya. Mungkin dia malu untuk cerita ke aku, sama kaya aku yang gak pernah cerita tentang keluargaku yang tidak pernah mengurusku dengan baik" ucap Chaca'
"Hah sudahlah" Chaca' membuang nafas kasar dan kemudian berbaring di tempat tidur.
Chaca' memang tidak pernah menceritakan kepada teman - temannya termasuk fasya tentang ia dan bundanya yang tidak akur. Menurutnya, masalah ini adalah aib bagi keluarganya. Hall ini hanya di ketahui oleh para pelayan yang bekerja di rumahnya.
__ADS_1