
JANGAN PERNAH MERASA KEHILANGAN, KARENA AKU TETAP BERADA BERSAMAMU. JANGAN PERNAH BERSEDIH KARENA AKU BISA MERASAKAN KESEDIHANMU. JANGAN PERNAH MENANGIS, KARENA ITU BISA MEMBUAT JANTUNGKU TERASA SAKIT.
AKU MENCINTAIMU.
-Fasya Al-gifary
Tiga bulan kemudian, Chaca' akhirnya sadar dari komanya. Ia perlahan mulai menggerakkan jarinya dan di ikuti oleh matanya yang berusaha terbuka dan melihat dunia kembali.
"Bunda, Chaca' sudah sadar" teriak seorang pria yang terdengar sangat bahagia
"Sayang, ini Bunda nak" ucap Bunda Mikha yang menangis terharu.
"Al, segera panggil Yudha" titah Dimas, Ayah Chaca'
"Akhirnya kamu sadar sayang" ucap seseorang wanita yang terdengar menangis bahagia. Ia adalah Sarah, mamah Fasya yang juga ada di sana.
Hampir setiap hari selama tiga bulan, semua orang berada di sana menunggu Chaca' sadar termasuk keluarga Fasya. Semua orang benar-benar merasa seperti di beri keajaiban karena Chaca' akhirnya sadar.
"Cha', Hei jika kau bisa mendengar gerakkan telunjukmu" Ucap Yudha yang langsung memeriksa keadaan Chaca'.
Selama Chaca' koma, Yudhalah yang langsung menangani keadaan Chaca'.
Ia sangat bahagia sekarang, akhirnya wanita yang ia cintai bisa kembali sadar dan membuka matanya untuk melihat dunia lagi.
Chaca' bisa mendengar semua orang, akhirnya ia menggarakkan telunjuknya dengan sangat pelan karena ia masih merasa kaku di seluru tubuhnya.
"Dia benar-benar sudah kembali" ucap Om Ari, yang juga berada di sana
"Anakku, kau akhirnya bisa sadar nak" ucap Ayah Chaca' yang memegang erat tangannya.
"Cha' sekarang buka matamu pelan-pelan, aku akan memancingnya dengan cahaya agar kau bisa merasakannya" jelas Yudha yang menuntun Chaca' agar ia bisa membuka matanya
Dengan perlahan-lahan, Chaca' akhirnya berhasil membuka matanya meski penglihatannya masih sangat buram. Namun, Chaca' masih bisa melihat semua orang yang tengah berdiri mengelilinya.
"Fokus dengan telapak tanganku" ucap Yudha yang masih menuntun Chaca'
"Aku haus" ucap Chaca' yang akhirnya bisa mengeluarkan suaranya meski belum terlalu jelas
"Ini sayang, hati-hati" ucap Bundanya sambil meneteskan air dengan pipet ke mulut Chaca' yang belum bisa terbuka sempurna.
Akhirnya, Yudha menggenggam erat tangan Chaca'
"Kau bisa merasakannya?" Tanya Yudha dengan lembut
"Tanganmu sangat dingin" ucap Chaca'
"Kau benar-benar kembali" Tangis Yudha pecah dan langsung memeluk Chaca'. Ia merasa, Penantian dan kesabarannya menunggu Chaca'sadar benar-benar terbayar melalui keajaiban.
AKHIRNYA KAU BENAR-BENAR KEMBALI. AKHIRNYA AKU BISA MENDENGAR SUARAMU KEMBALI. AKHIRNYA AKU BISA MENATAP MATA MU YANG SANGAT KUAT KEMBALI. AKHIRNYA KAU BENAR-BENAR BISA MERASAKAN TANGANKU. AKU AKAN MENJAGAMU DENGAN BAIK. MULAI SEKARANG, AKU YANG AKAN MENJADI TIANGMU YANG AKAN MEMBUATMU TETAP BERDIRI TEGAK. AKU AKAN MENJADI MATA DAN TELINGAMU SAMPAI KITA TUA. AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU TERLUKA LAGI. AKU MENCINTAIMU
-Yudha Nata Negara
Semua orang menangis haru, melihat Chaca' yang benar-benar sadar.
Namun, ada hal yang mengganjal di fikiran Chaca'. Semua orang terlihat di sana. Ayah, Bunda, Kakak, Om, Yudha, Lika, Indah dan bahkan keluarga Fasya semua ada di sana. Kecuali satu, keberadaan Fasya.
__ADS_1
Ia tidak bisa menangkap keberadaan Fasya di sana. Ia tidak bisa mencium aroma parfum dan mendengar suara Fasya di sana.
'Bahkan, kau tidak ada di sini menungguku kembali membuka mata. Aku tau kau sekarang sedang menenaninya untuk melawan penyakit. Kau benar-benar sangat peduli dengan cinta pertamamu.
Aku bahkan juga hampir mati dan kau benar-benar tak ada di sini. Kau tau? Bahkan wajah yang sangat ingin aku lihat setelah operasi untuk pertama kalinya adalah wajah mu. Aku sekarang sadar, keberadaan ku di sisimu belum bisa membuatmu melupakannya. Cinta pertamamu' Fikir Chaca' di dalam hati yang merasa jantungnya berdetak kencang karena perubahan emosinya.
.
.
.
1 minggu pun berlalu, keadaan Chaca' mulai pulih dan membaik karena telah menjalani terapi selama berada di rumah sakit. Di dampingi oleh Yudha dan semua keluarga yang setia menemaninya.
Namun selama Chaca' sadar, ada yang kurang dari Chaca'. Ia belum pernah tersenyum atau tertawa sedikit pun. Ia hanya mempertanyakan satu hal di hatinya, yaitu Fasya.
Fasya benar-benar tak pernah terlihat sedikitpun di sana untuk menjengun Chaca'. Chaca' benar-benar kesal dan sangat marah.
'Lihat saja nanti, ketika kau datang menemuiku, aku tidak ada membiarkanmu menemuiku' gumamnya di dalam hati.
.
.
.
*toktoktok*
"Silahkan masuk" ucap Bunda Chaca' yang tengah duduk menyuapi Chaca' bubur di dalam ruang perawatan Chaca'
"Eh lo bro, habis operasi ya" ucap Aldi, Kakak Chaca' yang akhirnya sudah sembuh dari penyakitnya. Selama ia kembali ke Indonesia, ia selalu setia menemani Chaca' selama koma dengan penuh rasa malu dan rasa bersalah.
"Kamu sudah makan nak?" Tanya Bunda Chaca'
"Sudah Bunda" ucap Yudha tersenyum
"Hee Bunda?" Ucap Chaca' dengan muka meledek. Itu kata percaya yang Chaca' ucapakan mulai pagi hingga soreh hari ini.
"Apa yang salah?" Tanya Yudha
"Tidak ada, semuanya memang milikmu" ucap Chaca' sinis menatap Yudha
"Bunda, mengapa bekas operasiku sangat panjang?" Tanya Chaca' yang meraba bekas operasinya di bagian dadanya.
"Memang seperti itu sayang. Sekarang, jantungmu tidak akan pernah sakit lagi" ucap Bundanya dengan mata yang berkaca-kaca
"Aku sangat bahagia bisa melihat kalian kembali" akhirya tangis Chaca' pecah dan memeluk Bundanya. Tak lupa, Al berdiri dan ikut memeluk Chaca'
"Apa Ayah sudah sampai di Jerman Bun?" Tanya Chaca' yang mengkhawatirkan Ayahnya yang tengah berada di perjalanan menuju Jerman untuk perjalanan bisnisnya.
"Iya sayang, perjalananya lancar"
Chaca' tiba-tiba terlihat cemberut. Ia menunduk dan matanya berkaca-kaca, perubahan emosinya membuat Chaca' bisa merasakan detak jantunya yang sudah tidak terasa sakit.
"Cha' kenapa menangis?" Tanya Aldi yang langsung mengangkat dagu Chaca' yang sudah menjatuhkan air mata dang mengelus kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku sedih kak, mengapa orang yang aku sayangi selalu saja tak pernah lengkap. Ketika kalian berada di Korsel, Fasyalah yang selalu ada untukku. Dia yang selalu memberiku kasih sayang dan cinta yang membuatku kuat. Dialah yang benar-benar menjagaku dan memastikanku untuk tetap baik-baik saja. Dan lihatlah sekarang, setelah kalian kembali giliran dia yang tidak ada di sampingku. Giliran dia yang membuatku sedih. Ia bahkan lebih memilih untuk merawat Clara di banding diriku. Sekalipun dia tidak pernah datang menemuiku. Aku bahkan hamir mati, namun ia tak berada di sisiku untuk menemaniku berjuang. Aku membencinya!! Aku sangat membencinya!!" Teriak Chaca' yang mulai membuatnya tidak stabil
"Hei lihat aku!" Ucap Yudha menahan Chaca dengan memeluknya
"Fasya sangat jahat kepadaku. Kau bahkan melihatnya, ia dulu sangat mencintaiku. Dia bahkan memukulmu waktu ia melihat mu memelukku. Dan sekarang ia tak ada di sini menemaniku yang hampir mati" teriak Chaca'
"Hei dengarkan aku. lihat aku. Aku janji ketika kamu keluar dari rumah sakit, aku akan membawamu untuk menemuinya"
Ucap Yudha yang memegang kedua pipi Chaca' dengan tatapan lembut dan penuh Kasih sayang.
Chaca' bisa merasakan tatapam Yudha yang hangat dan penuh kasih sayang kepadanya. Ia benar-benar luluh dengan tatapan Yudha yang langsung membuatnya kembali tenang.
.
.
.
Dua minggu setelah Chaca' sadar, akhirnya Chaca' benar-benar pulih dan vit kembali. Ia benar-benar seperti Chaca' yang dulu. Ia akhirnya mulai tertawa dan tersenyum kembali.
"Aku akan membawamu bertemu Fasya hari ini" ucap Yudha dengan mata sendu
"Ketika aku bertemu dengannya nanti, aku tidak akan langsung memaafkannya. Lihat saja!" Ucap Chaca' kesal
Merakpun segera berangkat untuk menuju ke suatu tempat. Di sepanjang jalan Chaca' bertanya banyak kepada Yudha tentang apa saja yang terjadi selama ia koma. Namun, tak satupun smyang di jawab oleh Yudha dan hanya fokus menyetir.
"Mengapa tidak menggunakan supir?" Tanya Chaca'
"Aku hanya ingin bersamamu untuk menemui Fasya dan tidak ingin di gangu oleh siapapun"
"Kita sudah sampai" ucap Yudha yang menatap lekat Chaca'
"Loh kita di mana? Kenapa kamu ajak aku kemari?" Chaca' sangat kebingungan.
Yudha membawa Chaca' ke tempat pemakaman. Chaca' benar-benar tak bisa menebak apa yang akan Yudha tunjukkan kepadanya.
Akhirnya, Yudha menuntun Chaca' berjalan menuju salah satu makam yang ada di sana. Betapa terkejutnya Chaca' ketika ia melihat nama yang tertulis di batu nisan itu.
Fasya Al-gifary
Kakinya langsung terasa lemas dan langsung berlutut di depan makan itu.
"Tidak, ia tidak mungkin" ucap chaca' yang merasa jantungnya mulai berdetak kencang dan nafasnya yang mulai sesak
"Cha' aku sekarang sangat percaya, dia benar-benar sangat mencintaimu" ucap Yudha
"Apa maksudmu! Mengapa nama Fasya tertulis disini. Kau pasti sedang mempermaikanku!" Terisk Chaca' yang mulai menangis
"Cha' tenangkan dirimu, kumohon" Yudha langsung memeluk Chaca' yang juga sudah mulai meneteskan air matanya
"Fasyaaaaaaaaaaaa!!! Mengapa kau meninggalkanku, mengapa kau tega melihatku menderita seperti ini. Kau bahkan berjanji untuk selalu menjadi mataku, telingaku, dan bahkan tiangku untuk tetap berdiri kuat. Mengapa kau tiba-tiba meninggalkanku. Bawa aku bersamamu!!!" Teriak Chaca' yang langsung mencium batu nisan milik Fasya
"Cha' tenanglah, aku akan menceritakan semuanya kepadamu" Ucap Yudha yang langsung kembali memeluk Chaca'
Setelah Chaca' meangis sangat lama dang mulai diam mematung di depan makam fasya, akhirnya Yudha mencoba menceritakan semua yang terjadi pada Chaca' selama ia tidak sadarkan diri dengan sangat hati-hati
__ADS_1
AKU BERJANJI AKAN MENJAGANYA. AKU BERJANJI AKAN MEMBERIKAN CINTA SEBESAR CINTA YANG KAU BERIKAN KEPADANYA. AKU AKAN MENYAYANGINYA SEPENUH HATI. AKU AKAN MEMBUATNYA KEMBALI TERSENYUM DAN TERTAWA. KITA BERTIGA AKAN SELALU BERSAMA HINGGA TUA. DAN KAU AKAN SELALU ADA DIANTARA AKU DAN DIA SAMPAI KITA TUA
-Yudha Nata Negara