
Mutia pov
Nia adalah teman dekat ku. Kami saling kenal sejak di bangku perkuliahan, dimana aku merupakan kakak tingkatnya walaupun umur kami sama karena aku kecepatan masuk sekolah. Nia adalah seseorang yang sopan, ramah dan periang.
Aku sangat senang kenal dan dekat dengan Nia. Setiap hari kami lalui saling cerita pengalaman dan bertukar pikiran.
Hingga saat Nia menyelesaikan study-nya, aku mengajak untuk mengajar bersama di sekolah menengah swasta. Nia selalu mendengarkan apa pendapatku. Bahkan, yang mencari kontrakan Nia juga aku.
Pernah sekali Nia cerita tentang pengalamannya di bus waktu pulang kampung. Bahwa ia bertemu seorang lelaki yang begitu baik, namun tidak mengetahui siapa namanya. Dan Nia selalu cerita bahwa dia menyukai lelaki itu dan akan berterima kasih jika bertemu kembali. Dimana, yang punya kontrakan itu adalah kakak ipar pria yang aku sukai.
Setelah tiga tahun kemudian, Nia cerita kalau ia bertemu kembali dengan lelaki itu. Dan yang sangat mengejutkan, ternyata lelaki itu seseorang yang begitu aku sukai dan merupakan junior papa aku. Aku sangat terkejut pastinya. Setelah mendengarkan berita itu, aku mempengaruhi Nia untuk menjauhi pria itu.
Aku begitu menyukai pria itu. Aku mencari tahu semua hal tentang dia, baik itu keluarga maupun teman. Dan aku mengetahui semua keluarga melalui sosial media. Dari situlah aku mengetahui bahwa kakak ipar pria itu mempunyai kontrakan. Sehingga aku menyarankan Nia untuk tinggal di sana. Aku selalu menceritakan pria itu kepada Nia, tetapi tidak memberitahu namanya dan Nia juga tidak tahu kalau dia ngontrak di rumah kakak iparnya. Aku hanya mengatakan bahwa itu kontrakan anak teman mama.
Aku tidak ingin dari antara kami berdua akan tersakiti. Namun, aku juga tidak ingin Nia menaruh hati lebih dalam terhadap ria itu. Aku saja sangat susah untuk mendapatkan pria itu. Setiap kali aku mencoba untuk mendekati pria itu, dia langsung kelihatabtidak memberikan kesempatan kepadaku. Aku akan berusaha untuk menjauhkan Nia dari pria itu sehingga saat aku sudah mendapatkan pria itu tidak ada pertengkaran diantara kami. Aku begitu menyayangi Nia dan akan melakukan apapun untuknya namun tidak untuk yang satu ini. Ini urusan hati kami, dan sebaiknya dari awal harus sudah di cegah daripada kami berdua saling menyakiti.
Mutia pov end
............................................................
Pagi harinya Nia sengaja pergi kesekolah lebih cepat dari biasanya. Ia ingin bertanya kepada Mutia mengenai ucapannya kemarin. Begitu tiba di ruang guru, Nia melihat Mutia sudah duduk di tempatnya. Nia bergegas menghampiri Mutia.
__ADS_1
“Pagi buk.” sapa Nia kepada Mutia. “Kemarin kenapa pulangnya cepet bangat?”
“Oh, kemarin mama ngajak belanja. Sorry ya gak jawab teleponnya buk. Mau nanya, tapi lupa. Hehe...” ucap Mutia.
“Buk mau nanya. Kemarin kenapa bilang kalau Reza punya niat gak bagu?”
“Ya pasti punya niat gak bagus lah. Kenapa dia baiknya hanya waktu berdua dengan kamu aja. Pasti dia ada niat buruk.” ucap Mutia sambil menggebu-gebu.
“Kayaknya gak mungkin deh. Dia aja sebagai angkatan, trus kelihatannya dia baik dan juga penyayang deh.”
“Sekarang itu jangan mudah percaya dengan orang lain Ni. Ntar kamu di manfaatin. Mau dimanfaatin orang lain?”
“Ya gak maulah.”
“Iya yang tinggal di sekitaran mereka jadi lebih tau. Lah aku, punya kenalan angkatan aja gak ada.” ucap Nia sambil tertawa yang disambut tawa juga oleh Mutia.
“Itu tau. Udah sarapan belum kamu?” tanya Mutia mengalihkan pembicaraan mereka.
“Belum. Mana makanan buat aku?” tanya Nia yang udah sering dibawain bekal oleh Mutia.
“Nih” ucap Mutia sambil menyodorkan kotak bekal yang dibawa dari rumah. “Jangan dibiasakan gak sarapan Ni, nanti sakit baru tau.”
__ADS_1
“Hehe... makasih buk.” ucap Nia sambil menerima bekal dan langsung memakannya.
“Udah kamu gak usah pikirin dia lagi dan jangan terlalu dekat.” ucap Mutia. “Ntar sakit sendiri Ni.”
“Siap buk. Btw makanannya enak, sering-sering ya.” ucap Nia sambil tertawa. Nia sudah selesai memakan bekal dari Mutia.
“Kurang sering apa coba.” Nia dan Mutia tertawa bersama.
Kring...kring...
Bel tanda pembelajaran di mulai berbunyi. Nia dan Mutia pergi ke kelas masing-masing tempat mereka mengajar.
“Selamat pagi anak-anak.” sapa Nia saat memasuki kelas.
“Selamat pagi bu...” siswa secara serempak menjawab.
“Hari ini kita belajar apa bu?” tanya siswa yang duduk di sisi depan.
“Hari ini kita akan belajar berkelompok. Dimana, setiap kelompok akan memberikan sebuah ide dari topik pembelajaran disertai dengan pemaparannya. Lalu di presentasikan dan kelompok lain menanggapi.” ucap Nia memberi arahan kepada siswanya.
“Bu kelomoknya di ganti atau seperti biasanya? Saya maunya seperti biasa aja.” uca seorang siswa yang duduk di belakang paling sudut.
__ADS_1
“Seperti biasanya saja.” jawab Nia. Para siswa langsung membentuk kelompok sebagaimana biasa dalam pembelajaran saat Nia masuk. Ya, begitulah Nia saat mengajar di kelas. Nia selalu berusaha supaya siswa yang diajarnya tidak segan untuk menyampaikan pendapat.