
Suasana yang begitu asri dengan pepohonan yang tumbuh di sekitar desa menyapa. Sebuah desa terpencil yang menjadi tempat mereka untuk mengabdi selama kurang lebih dua tahun nantinya. Nia beserta lima rekannya yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua perempuan baru saja tiba. Mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan dari bandara ke desa mereka di suguhkan dengan pemandangan dan aktivitas masyarakat yang baru pertama kali mungkin mereka lihat.
Mereka tiba di desa saat menjelang siang hari dan tampak keadaan desa sepi. Penduduk desa sedang melakukan aktivitas keseharian mereka, mungkin.
Nia dan rekannya segera menuju rumah kepala desa yang sudah di hubungi sebelumnya. Tampak kepala desa beserta istrinya sudah menunggu di depan rumah.
“Selamat datang di desa kita. Beginilah keadaan desa kita, semoga betah ya.” Ucap kepala desa ramah menyambut mereka. Dan saling berjabat tangan untuk menyambut kedatangan mereka.
Rumah di desa tampak sederhana dan hampir seragam bangunannya. Begitu memasuki rumah kepala desa, sangat terlihat kesederhanaan dari perabot yang ada terlihat mengisi rumah itu. Mereka duduk di atas dipan yang sudah di gelar.
Mereka memperkenalkan diri masing-masing serta memberitahu tujuan kedatangannya, meskipun sudah diberitahu via telepon. Mendengar cerita pak kepala desa, mereka sangat prihatin dengan pola pikir masyarakat yang masih kurang berkembang karena minimnya ilmu pengetahuan. Masyarakat desa itu masih mempercayai perilaku dan tradisional yang sudah ada sejak dahulu.
Mata pencaharian penduduk desa adalah bertani. Hasil dari lahan pertanian akan di jual ke kota yang jaraknya kurang lebih selama lima jam. Begitu juga sekolah dengan puskesmas yang hanya terdapat di kota.
__ADS_1
Setelah lama berbincang, ibu Kepala desa mengajak mereka untuk makan bersama. Terhidang makanan yang menjadi masakan khas desa begitu menggiurkan untuk dinikmati.
Selesai makan bersama, Nia dan rekannya menuju sebuah rumah yang berjarak tiga rumah dari rumah Kepala desa yang menjadi tempat kami untuk tinggal. Rumah yang terdiri dari dua kamar yang lebih sederhana dari rumah Kepala desa tetapi cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
“Kita istirahat dulu ya. Sore nanti kita akan keliling desa untuk menyapa warga dan lebih mengenal keadaan di desa ini.” Ucap Pandi yang merupakan ketua kelompok yang sudah mereka pilih sebelumnya.
“Ia mending kita istirahat dulu, aku udah capek banget.” Ucap Nia yang di setujui dengan yang lain. Mereka menuju kamar yang sudah terbagi, yang satu kamar untuk lelaki dan yang satu lagi untuk perempuan.
“Ada apa?” Tanya Pandi saat mereka tiba di depan kamar mandi.
“Liat deh kamar mandinya, gak ada kamar mandi lain ya?” Ucap Emi rekan perempuan Nia.
“Mau kemana lu? Emang di sini adanya begini ya mau gimana lagi.” Ucap Jono.
__ADS_1
“Ya udah deh terpaksa gue. Nia dan Rita harus tungguin gue.” Pinta Emi yang diangguki mereka, sementara para lelaki menuju kamar mereka.
“Beda banget ya suasana disini. Bisa tahan gak gue di sini ya.” Ucap Emi mengutarakan keresahan setelah mereka berada di kamar.
“Ya jelas bedalah, lu baru sadar ya Mi.” Ucap Rita rekan perempuan Nia yang sangat tomboy dan ngomong ceplas-ceplos.
“Kalau aku sih nyaman aja tinggal di sini. Masih asri, warganya juga kayaknya ramah. Ucap Nia mengutarakan pendapatnya. “Kalau fasilitas sih ya wajar aja lah, namanya di desa.”
“Tau lu, katanya mau mengabdi liat kamar mandi aja terkejut. Gak pernah KKN lu. Udah kita tidur aja dulu, capek banget gue.” Ajak Rita yang di angguki oleh Nia dan Emi.
Menjelang sore, mereka memgelilingi desa untuk menyapa warga. Tampak warga desa duduk di depan teras rumah menikmati senja, ada juga yang baru pulang dari kebun. Tampak juga anakan-anak sedang bermain.
Warga desa tampak heran dengan kedatangan mereka. Namun, setelah mengutarakan maksud kedatangan mereka warga begitu antusias berbincang dengan mereka. Warga desa sangat ramah dan sopan, mereka begitu menghargai kedatangan Nia beserta rekannya.
__ADS_1