
Pagi harinya, saat Nia sedang sibuk membereskan dan membersihkan rumah. Tiba-tiba Marcel dan Reza datang berkunjung ke kontrakan Nia.
“Pagi kak Nia.”, sapa Marcel terlebih dahulu.
“Pagi Marcel, pagi kak Reza. Kok datang pagi-pagi gini? Kan kita lesnya sore nanti.”, tanya Nia yang heran akan kedatang dua lelaki yang dikenalnya.
“Nanti kakak temani Marcel ya beli buku dan perlengkapan sekolah.”, ajak Marcel kepada Nia secara langsung.
“Emang mama Marcel kemana? Kok yang di ajak kak Nia?”, tanya Nia.
“Mama dan papa pergi kerja, Oma dan Opa juga udah pulang.”
“Kan ada Om Reza, kenapa gak pergi bareng Om reza aja.”
“Marcel maunya sama kak Nia, mama juga kasih izin kalau Marcel pergi sama kak Nia. Om Reza juga nanti ikut kok sama kita.”
Nia menatap Reza, meminta penjelasan karena merasa bingung dengan ajakan Marcel. Ada Omnya yang dekat dengan Marcel, kok yang diajak beli buku Nia dan Reza juga ikut. Mengapa tidak mereka berdua saja yang pergi. Sedangkan Marcel sudah menampilkan puppy eyes agar Nia merasa kasihan dan menerima ajakannya.
“Marcel mau membeli perlengkapan sekolah, kak Nia ada shift pagi dan kak Randi ada tugas. Jadi kak Tiara nyuruh Nia nemani Marcel belanja.”, kata Reza menjelaskan maksud dari ajakan Marcel.
__ADS_1
“Kenapa gak kak Reza dan Marcel aja yang pergi?”, tanya Nia.
“Kamu lagi sibuk ya hari ini?”, bukannya menjawab Reza malah bertanya kembali kepada Nia.
“Gak sih kak.”
“Ya udah nanti tolong temani Marcel ya. Nanti kita pergi selesai makan siang, nanti kita panggil.”, jawab Reza yang kedengarannya tidak ingin di bantah. Nia hanya menganggukkan kepalanya dan merasa heran.
“Yey... kak Nia mau temani Marcel.”, girang Marcel yang melihat anggukkan kepala Nia.
“Ya sudah, kami permisi balek dulu ya Nia.” Izin Reza sambil mengajak Marcel pergi.
Nia merasa bingung dengan sikap Reza. Walaupun mereka bertemu hanya beberapa kali, namun sikap yang ditunjukkan Reza sangat berbeda. Kalau bersama dengan orang lain yang dikenal maka lelaki itu akan bersikap sangat cuek. Namun, jika hanya mereka berdua atau tidak ada orang lain yang di kenal Reza, iya sangat baik dan murah senyum. Ada apa sebenarnya?
Tok...tok...tok
Ketukan pintu kontrakan Nia terdengar, Nia bergegas mengambil sepatu flatnya dan segera membuka pintu. Terlihatlah Reza dan Marcel yang kompak memakai kaos dan celana pendek serta sneakers. Tidak berbeda jauh dengan Nia yang juga memakai kaos serta celana jeans panjang dan tidak lupa sepatu flat juga.
“Kak Nia udah selesai?”, tanya Marcel menyapa Nia.
__ADS_1
“Sudah, mau pergi sekarang?”, tanya Nia kembali.
“Iya kak. Ayo om.”
Mereka bertiga masuk kedalam mobil orang tua Marcel yang sudah terparkir didepan kontrakan Nia. Nia memutuskan untuk duduk dibelakang, sedangkan Marcel duduk di samping pengemudi.
“Kak Nia, makasih ya buat kadonya. Marcel suka. Nanti Marcel pake kesekolah, kan setiap hari Marcel bawa bekal.”, cerita Marcel dengan antusias karena merasa senang mendapat tempat bekal dari Nia. Nia yang awalnya bingung, kado apa yang cocok diberikan sehingga dapat di gunakan Marcel. Jadi Nia memutuskan untuk memberikan tempat bekal.
“Sama-sama Marcel. Dipake ya tempat bekalnya.”, jawab Nia dengan senang.
“Marcel kira kak Nia mau kasih buku yang ada di rak buku kakak.”, sendu Marcel yang mengharapkan Nia memberikan salah satu koleksi bukunya. Karena, Marcel sudah beberapa kali pergi kekontrakan Nia sehingga lelaki kecil itu sudah sangat hafal dengan apa yang ada dikontrakan Nia.
“Emang kalau kak Nia kasih, Marcel mengerti apa isi bukunya?”, tanya Nia yang merasa Marcel hanya menginginkan kepemilikan dari buku itu, tanpa tahu apa isi dari buku itu.
“Gak tau kak.”
“Ya udah nanti kakak beliin Marcel buku yang isinya Marcel mengerti.”, hibur Nia pada Marcel supaya Marcel tidak berpikiran yang tidak baik terhadap Nia. Sedangkan Reza fokus menyetir dan juga menyimak pembicaraan antara Nia dan Marcel.
“Bener ya kak, nanti beliin Marcel buku.”
__ADS_1
“Iya.”
Setelahnya Marcel dan Nia sibuk bercerita banyak hal dan melupan keberadaan Reza yang juga ada di dalam mobil itu.