
Nia sedang sibuk membereskan meja bersiap untuk pulang setelah selesai mengajar. Nia hanya menyapa Mutia. Tidak ada pembicaraan yang panjang diantara mereka karena kesibukan masing-masing. Dan Nia berharap Mutia tidak akan ikut pulang bersama dengannya.
“Aku ke tempat kamu lagi ya Ni.” Mutia datang menghampiri Nia yang sudah siap untuk pulang. Pupus sudah harapan Nia.
“Aku gak langsung pulang Mut, mau singgah dulu di rumah sakit tempat kak Tiara kerja. Maaf ya.” Ucap Nia sesuai dengan instruksi Tiara sebelumnya.
“Mau ngapain?”
“Kurang tau Mut, kak Tiara hanya nyuruh datang.” Ucap Nia bingung dengan alasan untuk membuat Mutia percaya.
Nia mau menghindar atau ini rencana Tiara, batin Mutia.
“Oh. Ya udah. Aku balek dulu ya Ni.” Pamit Mutia kepada Nia.
“Iya Mut. Hati-hati ya.”
Sebenarnya Nia tidak ingin berbohong dengan Mutia, mengingat mereka sudah bersahabat sejak kuliah. Tetapi, Nia juga tidak dapat menyangkal Tiara. Nia merasa Tiara merupakan sosok kakak perempuan yang diimpikannya. Mengingat Nia merupakan anak perempuan sendiri dari tiga bersaudara di keluarganya.
Nia mengendarai sepeda motor meninggalkan sekolah menuju rumah sakit tempat Tiara bekerja. Begitu tiba di rumah sakit, Tiara sudah menunggu Nia.
__ADS_1
“Udah nunggu lama ya kak. Maaf ya kak.” Ucap Nia saat berada di depan Tiara.
“Gak papa Ni. Singgah bentar yuk buat makan siang. Kakak pengen makan soro.” Tawar Tiara.
“Boleh kak, Nia juga belum makan siang.”
Nia dan Tiara menuju tempat menjual soto langganan Tiara. Begitu tiba, mereka memesan makanan masing-masing dan memilih makan di tempat.
“Mutia ada ngomong gak sama kamu?” Tanya Tiara hati-hati saat menunggu pesanan mereka.
“Maksud kak Tiara?”
“Tadi kita lagi sibuk kak, jadi hanya saling sapa aja. Waktu mau balek, Mutia bilang mau ke kontrakan. Tapi Nia bilang, kalau kak Tiara suruh Nia jumpai kakak ke rumah sakit.” Ucap Tiara.
“Bagus Ni.” Ucap Tiara sambil menikmati soto yang ada dihadapan mereka.
“Tapi Nia merasa gak enak sama Mutia kak. Apalagi kita udah sahabatan dari kuliah.” Kata Nia mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan.
“Menurut kakak ya, Mutia itu memanfaatkan kamu buat dekatin kita. Kenapa gak langsung dekati Reza aja.”
__ADS_1
“Kak Reza selalu menghidar dari Mutia kak. Jadi dia berusaha dekat dengan keluarga kak Reza dulu.”
“Reza udah menghindar dari Mutia. Berarti Reza gak suka sama Mutia. Lagian Reza bilang udah dia udah ada cewek yang di incar kok.”
“Nia udah bilang gitu ke Mutia kak, tapi Mutia tetap gigih mau dekati kak Reza.”
“Egois banget ya si Mutia itu. Kamu harus jaga jarak dengan dia deh Ni.”
“Nia harus jauhi Mutia gitu kak?” Tanya Nia dan dijawab anggukan kepala oleh Tiara. “Gak mungkin kak. Kita udah sahabatan sejak kuliah dan yang menyarankan Nia kerja di sekolah itu Mutia kak.”
“Tapi kalau kamu dekat dengan Mutia, pasti dia memanfaatkan kamu terus Nia.”
“Nia bingung kak.”
“Kakak ada ide. Kalau Mutia memanfaatkan kedekatan kita, bilang aja kalau kakak udah tau tentang dia.”
“Kalau Mutia tetap memaksa gimana kak? Kemarin aja dia bilang aku gak menghargai dia sebagai teman.”
“Ya udah besok ajak dia ke kontrakan kamu. Biar kakak yang ngomong langsung sama Mutia.” Pinta Tiara dan dijawab anggukan oleh Nia.
__ADS_1
Setelah menikmati soto ditempat langganan Tiara, mereka pulang menuju rumah Tiara. Marcel begitu senang saat melihat Nia datang sendiri tanpa Mutia. Karena selama dua minggu Marcel merasa tidak nyaman dengan sikap Mutia.