
Keesokan harinya, perangkat desa, beberapa masyarakat dan juga para tim keamanan negara berkumpul untuk memperkenalkan Nia beserta rekannya. Sehingga nantinya mereka saling mengenal dan dapat bekerja sama untuk membangun desa itu.
Semuanya sudah berkumpul di balai desa. Warga desa begitu antusias untuk menghadiri pertemuan itu. Nia dan Rita datang terakhir, karena bertugas piket. Nia dikejutkan dengan seseorang beserta seorang yang pernah berkenalan dengannya duduk dibarisan aparat negara, setelah gadis itu bergabung dengan rekannya.
Dia kok ada disini? Bukannya tugas di kota
C ya. Kak Tiara kok gak ngomong sih? Batin Nia bertanya-tanya.
Selama pertemuan Nia selalu menundukkan kepalanya, semua itu karena sosok yang begitu ia kenali selalu menatapnya. Nia tidak mengetahui arti dari tatapan itu. Sedangkan seseorang lain yang ia kenali tersenyum, tetapi Nia enggan untuk membalas.
“Itu bapak loreng ada yang lihatin kamu terus.” Bisik Rita kepada yang yang duduk di samping gadis itu.
“Sok tau kamu. Mungkin aja dia perhatiin Emi, dia yang lebih cantik dari kita.” Ucap Nia mengalihkan perhatian Rita.
“Ada baiknya jika adek-adek memperkenakan diri, sehingga kita saling mengenal dan dapat bekerja sama untuk membangun desa.” Ucap kepala desa mengalihkan perhatian kedua gadis itu.
__ADS_1
Dimulai dari ketua kelompok memperkenalkan diri dilanjutkan dengan rekan Nia lainnya. Sesuai dengan posisi duduk mereka, mereka memperkenalkan diri masing-masing.
Setelah memperkenalkan diri, semua masyarakat kembali melanjutkan aktivitas mereka. Tinggallah kelompok tim keamanan serta Nia dan rekannya untuk membicarakan program yang akan mereka lakukan.
“Pak gabung aja duduknya bareng kita, biar ngomongnya lebih enak.” Ucap Pandi kepada tim keamanan yang hadir. Tidak lupa dengan dua orang yang Nia kenali. Ya mereka adalah Reza dan Tito.
“Hai, jumpa lagi.” Sapa Tito teman Reza kepada Nia saat mereka mendekat untuk diskusi bersama. Tampak Reza yang masih menatap Nia dengan tatapan sebelumnya tidak berubah sama sekali.
“Selamat pagi pak.” Ucap Nia membalas sapaan Tito dengan tersenyum. Rekan Nia terkejut melihat situasi itu.
“Biasa aja Ni. Inikan bukan pertemuan pertama kita, apalagi sama ni orang.” Ucap Tito menatap Reza tersenyum jahil. “Sapa kali za.”
“Formal banget nyapanya. Biasanya juga main bareng di rumah ponakan.” Ucap Tito mengejek. Membuat muka Nia memerah dan kembali menundukkan kepalanya. Sedangkan Reza tetap menatap Nia.
“Boleh kita tau, apa saja program yang akan dilakukan? Supaya kita dapat menyesuaikan dan bekerja sama.” Ucap Reza mengalihkan perhatian semuanya.
__ADS_1
Pandi selaku ketua kelompok memaparkan program yang sudah direncana sebelumnya. Banyak program yang sudah direncanakan, namun karena beberapa pertimbangan dari diskusi dengan Reza beserta rekannya hanya sedikit program yang dapat dikerjakan.
“Besok kalian akan mengajar anak-anak didesa atau hanya sosialisasi saja?” Tanya Reza.
“Untuk program mengajar, itu semua dikoordinator oleh Nia, kak.” Ucap Pandi membuat Nia mengalihkan perhatiannya. Sebelumnya, Reza menyarankan untuk merubah panggilan supaya lebih akrab.
“Karena di desa ini hanya ada sekolah dasar. Rencana besok kita berkunjung ke sekolah untuk melihat keadaan sekolah serta sosialisasi. Untuk siswa sekolah menengah akan kita tanya terlebih dahulu dengan melakukan pendekatan kepada siswa.” Ucap Nia menjelaskan.
“Bagaimana pendekatan yang akan dilakukan? Mungkin kita dapat membantu.” Tanya Tito dengan serius menanggapi.
“Mulai nanti sore, kita coba mendekati anak-anak desa saat bermain.” Ucap Nia.
“Baiklah kita akan bekerja sama untuk sosialisasi.” Ucap Reza. “Sekitar pukul tiga kita akan melakukan sosialisasi. Karena saat itu anak-anak desa sudah ada dirumah.”
“Kak, kita boleh minta tolong temani kita untuk lebih mengenal lingkungan desa? Kita sudah keliling desa kemarin, tetapi masih belum seluruhnya.” Ucap Pandi.
__ADS_1
“Baiklah, kita akan berkeliling desa hingga jam makan siang.” Ucap Reza.
Mereka bersama-sama mengelilingi desa untuk lebih mengenal lingkungan desa itu.