
Setelah terdengar bunyi bel pertanda pembelajaran selesai, Nia pun membubarkan kelas dan kembali ke ruang guru. Sementara di kantor guru, Mutia begitu menunggu kedatangan Nia. Saat Mutia melihat Nia memasuki ruang guru, ia bergegas menghampiri.
“Buk, hari ini aku ikut ke kontrakan kamu ya udah lama gak kesana.” ucap Mutia setelah berada di depan meja Nia.
“Iya boleh. Tapi sore nanti aku ke rumah kak Tiara ya, mau ngajarin Marcel. Biar uang bulanan bertambah hehehe...” ucap Nia.
“Iya nanti aku pulang kalau kamu mau ngajar. Tau banget pencari dolar ini.”ucap Mutia.
“Ya udah ayok. Ntar kita singgah di supermarket dulu ya mau belanja. Lagi ada tamu yang mau masak buat makan malam aku.” ajak Nia sambil tertawa.
“Kebiasaan ya buk. Iya, kita belanja dulu kasihan sama anak kost.” ucap Mutia di sertai dengan tawa mereka berdua.
Mereka berdua pergi meninggalkan sekolah dengan mengendarai kendaraannya masing-masing. Mereka singgah sebentar di supermarket yang dekat dengan kontrakan Nia. Mereka belanja kebutuhan untuk mereka masak nanti.
Sesampainya di kontrakan, mereka bersiap untuk memasak. Tetapi sebelumnya mereka berganti pakaian terlebih dahulu. Sudah menjadi kebiasaan setiap berkunjung Mutia selalu memakai baju Nia. Mereka menyiapkan segala bahan yang di butuhkan untuk memasak.
Mereka memutuskan untuk memasak sop. Nia kebagian tugas untuk memotong saturan sedangkan Mutia yang meracik bumbunya.
“Masih kepikiran gak sama pria itu?” tanya Mutia sambil mengaduk rebusan ayam.
“Masih.”
“Penasaran deh sebaik apa sih dia sampe kamu kayak gini. Cari yang lain Ni.”
“Gak tau. Dia kelihatan baik aja gitu dan pembawaan aku suka.” ucap Nia sambil mengingat Reza.
“Tapi kamu bilang dia kayak punya kepribadian ganda gitu. Menurut aku sih ada niat gak bagus itu.”
“Jadi harus gimana dong?”
__ADS_1
“Ya kamu jangan mengingat dia terus. Anggap aja dia orang jahat.”
“Ih, kok jahat sih buk.”
“Bukan jahat, tapi kalau udah tau ada niat gak bagus ya harus hati-hati dong. Aku punya kenalan yang baik dan sesuai tipe kamu. Ntar aku kenalin kamu ke dia ya. Dia juga angkatan loh.”
“Bukan karna dia angkatan loh buk, tapi pembawaannya yang aku suka.”
“Iya tau.”
“Jadi gimana bapak loreng yang kamu sukai itu. Udah ada tanda gak?”
“Tanda apa?”
“Tanda kalau dia mau balas perasaan kamu juga. Kamu udah lama gak cerita tentang dia .”
“Ya masih sama buk, gak ada tanda dari dia. Tapi aku yakin dia hanya segan sama papa aja.”
“Aku ikut aja deh.”
Aku harus pastiin kalau bapak loreng itu sudah tidak dirumah itu lagi, gumam Mutia dalam hati.
“Duh gak enak loh. Dirumah itu hanya ada Marcel dan si Mbak. Atau aku ajak ke sini aja .” tolak Nia secara halus. Merasa tidak wajar membawa teman untuk bertamu di mana tuan rumahnya tidak dirumah.
“Loh emang pria itu kemana?” tanya Mutia ingin tau. Karena sudah beberapa hari ini ia tidak melihat pria itu di asrama.
“Udah balek kerja lah buk.”
“Oh, ya udah aku balek aja lah. Sopnya juga udah mateng kon.” ucap Mutia.
__ADS_1
Bagus deh kalau udah gak disitu. Mending aku pulang aja, gumam Mutia dalam hati.
“Yakin mau pulang, gak mau disini?”
“Pulang aja lah buk, baru ingat ntar malam mau nemenin adek. Kita chat aja nanti ya.”
“Ya udah. Mau ganti baju dulu gak?”
“Gantilah buk.” ucap Mutia bergegas mengganti bajunya. Setelah itu Mutia pamit pulang dan pergi meninggalkan kontrakan Nia.
Setelah Mutia pergi, Nia bersiap untuk pegi kekediaman Marcel. Dari jauh tampak didepan rumah Tiara beberapa kendaraan sedang terparkir. Nia memberhentikan langkahnya untuk memastikan siapa yang ada di rumah Tiara. Nia mengambil teleopn genggamnya dan menghubungi Tiara.
“Halo, ada apa Nia. Kok belum ke rumah?” ucap Tiara di seberang sambungan telepon.
“Halo kak, ini mau kerumah kak. Tapi Nia lihat kakak lagi kedatang tamu ya?” ucap Nia untuk memastikan.
“Oh itu, Oma, Opa dan Om Marcel lagi dirumah. Reza mau pamit sama Marcel ada tugas selama enam bulan. Udah biasa kalau mau tugas pamit sama ponakan. Nia datang aja kalau gak sibuk. Udah di tunggui Marcel ini.”
“Besok aja deh kak. Tadinya Nia mau ngajak Marcel ke kontrakan, biar belajar disini aja.” ucap Nia untuk tidak ada les demi menghindari Reza. Nia lebih memilih mendengarkan saran Mutia sahabatnya.
“Nia lagi sibuk ya. Gak papa besok aja lesnya. Nanti kakak bilang ke Marcel.”
“Iya kak, maaf sebelumnya ya kak.” ucap Nia merasa tidak enak sudah melibatkan masalah pribadinya dengan les.
“Gak papa Ni. Ya udah kakak tutup ya.”
“Makasih ya kak, sore kak.”
“Sore juga Ni.”
__ADS_1
Sambungan telepon langsung di akhiri oleh Nia. Dan ia langsung bergegas menuju kontrakannya. Karena les hari ini di batalkan.