Selalu Bertemu

Selalu Bertemu
Episode 15


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Pagi hari saat Nia hendak bersiap pergi kesekolah, ia mendapat berita dari orang tua Mutia bahwa gadis itu mengalami kecelakaan kemarin sehingga harus di rawat di rumah sakit. Nia berencana untuk menjenguk Mutia setelah pulang sekolah.


Setelah proses pembelajaran selesai, Nia bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi sebelum itu, Nia singgah untuk membeli buah kepada Mutia. Karena Nia merasa tidak enak hati jika datang dengan tangan kosong.


Begitu tiba di rumah sakit, Nia bergegas menuju ruangan Mutia. Karena sebelumnya Nia sudah menanyakan letak kamar Mutia.


“Siang Tante, Om.” Sapa Nia dan menyalam kedua orang tua Mutia begitu memasuki ruang rawat.


“Siang Nia.” ucap kedua orang tua Mutia bersamaan.


“Kenapa bisa kecelakaan sih buk?” tanya Nia menghampiri Mutia.


“Gak tau kenapa, kurang hati-hati kayaknya.” jawab Mutia.


“Kamunya yang kurang hati-hati pasti. Sakit ya?” tanya Nia dengan meringis melihat beberapa luka di tangan dan wajah Mutia.


“Hehe...sakit banget malah. Dapat pengalaman cium aspal.” ucap Mutia sambil tertawa.


“Nia tolong jaga Mutia ya. Om dan tante mau makan dulu.” ucap ibu Mutia.


“Iya tante.” jawab Nia sambil tersenyum dan orang tua Mutia meninggalkan ruang rawat.


“Bawa bingkisan buat siapa buk?” tanya Mutia melihat Nia yang ssedang memegang bingkisan.


“Ya buat kamulah. Mau aku kuoasin gak?” tawar Nia dan di balas anggukan oleh Mutia.


Nia mengupas buah yang ia bawa dan Mutia memakan buah yang di kupas. Nia juga cerita banyak hal tentang yang terjadi di sekolah tadi. Tiba-tiba masuk lima orang pria dan salah satunya begitu di kenali oleh Nia. Dan hal itu membuat Nia dan lelaki itu terkejut. Namun kedua bersikap biasa saja seolah-olah tidak saling mengenal.


“Hai Mut, udah sehat?” tanya salah seorang dari mereka yang bernama Fandi.

__ADS_1


“Udah mendingan kok Fan. Makasih ya kalian udah datang.” ucap Mutia.


“Ini kita ada bawa buah buat kamu.” ucap Fandi dan meletakkan bingkisan buah di meja yang ada diruangan itu.


“Eh ada cewek. Siapa Mut, kenalin ding ke kita.” ucap Tito yang ada di antara kelima pria itu.


“Ini Nia teman aku. Ni, ini bapap-bapak loreng junior papa semua.” ucap Mutia memperkenalkan. Dan mereka saling bersalaman, begitu juga dengan Reza yang juga ikut serta walau hanya diam saja.


Kok mereka biasa aja sih, kayak gak kenal gitu, batin Mutia. Merasa dipermainkan saat ia melirik Nia dan Reza seperti orang yang baru pertama kali bertemu.


“Itu bapak loreng yang aku sukai Ni.” bisik Mutia kepada Nia untuk melihat bagaimana reaksi sahabatnya itu.


Nia sedikit terkejut saat mendengarkan kejujuran Mutia, tetapi ia dapat menutupi dengan menunduk sambil mengupas buah. Dan Nia juga hanya melirik Reza. Melihat hal itu Mutia menjadi kesal.


“Lagi makan buah nih, bagi-bagu kali.”ucap Tito menghampiri Nia lalu mengambil potongan buah dan menakannya.


“Kupas sediri dong, itu punya aku Tito.” kata Mutia dengan muka cemberut.


“Aku balek ya buk, udah sore.” pamit Nia kepada Mutia.


“Eh iya, kamu mau ngajar les lagi ya. Ya udah hati-hati ya Ni.” ucap Mutia mengizinkan Nia untuk pulang. “Makasih udah datang Ni.”


“Aku balek dulu semua.” pamit Nia kepada semua yang ada diruangan itu dan bergegas keluar ruang rawat.


“Aku keluar bentar ya.” pamit Reza kepada temannya begitu Nia keluar ruang rawat. Reza berusahq untuk mengejar Nia. Melihat Reza keluar, Mutia merasa kesal dan memilih untuk tidur.


“Nia tunggu.” panggil Reza kepada Nia yang tidak jauh darinya.


“Iya kak. Ada apa ya?” tanya Nia menghentikan langkahnya.


“Kamu mau pulangkan, saya ikut ya.”

__ADS_1


“Kak Reza mau ke rumah kak Tiara? Gimana dengan teman kakak yang lain?” Nia berusaha untuk menolak. Karena iya masih belum menerima semua peristiwa yang terjadi.


“Saya sudah izin dengan mereka. Saya sudah janji dengan Marcel untuk datang selesai saya tugas.”


“Emang gak bawa kendaraan ya kak?”


“Tidak, tadi saya bersama Tito. Bolehkan?”


“Baiklah kak, ayo.” ajak Nia karena tidak tahu bagaimana menolak Reza. Mereka jalan bersama menuju parkiran.


“Saya saja yang mengendarai ya.” tawar Reza begitu tiba di parkiran.


“Gak ngerepotinkan kak.”


“Tidak, malah saya yang meresa merepotkan kamu.”


“Gak kok kak.”


Mereka pergi dengan berboncengan sepeda motor Nia yang dikendarai oleh Reza. Mereka berdua hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Keadaan jalanan yang macet, seperti mendukung perjalanan mereka.


“Kak Reza boleh nanya gak?” tanya Nia membuka pembicaraan.


“Mau tanya apa?”


“Kak Reza kenal Mutia udah lama ya?”


“Sudah sekitar dua tahun. Saat itu saya di pindah tugas ke kota ini dan bertemu dengan orang tua Mutia sebagai senior saya. Orang tua Mutia sering mengundang kita ke rumah mereka.”


“Oo...”


“Kenapa?” tanya Reza yang merasa tidak puas dengan jawaban Nia. Ia juga tidak menduga Nia akan bertanya secepat itu padanya.

__ADS_1


Reza melirik Nia melalui kaca spion sepeda motor saat Nia tidak menjawab pertanyaan. Reza mengetahui bahwa Nia ingin bertanya lebih banyak lagi.


__ADS_2