
Reza melirik Nia melalui kaca spion sepeda motor saat Nia tidak menjawab pertanyaan. Reza mengetahui bahwa Nia ingin bertanya lebih banyak lagi.
“Tanya saja kalau masih ada pertanyaan.” ucap Reza.
“Kak Reza tau kalau Mutia menyukai kakak?” tanya Nia dengan ragu.
“Saya mengetahuinya, tetapi saya sudah menganggap Mutia sebagai adik saya.”
“Menganggap adik karena segan dengan orang tuanya karena senior.” ucap Nia dengan ketus, sedangkan Reza tersenyum mendengar pertanyaan Nia.
“Saya hanya menganggapnya sebagai adik. Lagian saya sudah menyukai seorang wanita sejak tiga tahun lalu.”
“Udah punya pacar ternyata.” gumam Nia namun dapat didengar Reza.
“Saya belum mengajak wanita itu pacaran. Saya menyukai dalam diam dan mungkin secepatnya saya akan melamarnya. Karena saya tidak ingin pacaran.”
“Eh...bukan pacar ya kak. Semoga wanita itu menerima lamaran kakak nanti ya.” doa Nia dan Reza hanya diam saja.
“Tapi, kenapa kakak seperti memberi harapan untuk Mutia?” tanya Nia yang penasaran.
“Saya tidak memberi harapan. Mutia saja yang salah mengartikan kebaikan saya.” ucap Reza.
Dan setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka. Dan mereka berhenti di depan kontrakan Nia.
“Makasih atas tumpangannya. Saya ke rumah kak Randi ya. Nanti kamu ngajar Marcelkan?ucap Reza setelah memarkirkan sepeda motor Nia.
“Sama-sama kak. Iya kak, nanti aku ngajar Marcel. balas Nia dan Reza pergi menuju rumah Kakak-nya.
Nia masuk ke kontrakan dan beres-beres. Setelah selesai, ia pergi menuju rumah Tiara. Dari jauh ia melihat Reza dan Marcel di ters rumah sedang bermain.
“Sore Marcel, asik banget mainnya.” sapa Nia begitu tiba di teras rumah yang tidak disadari oleh kedua lelaki itu.
“Sore kak Nia.” jawab Marcel begitu senang saat melihat Nia.
“Masih mau main lagi atau les saja?” tanya Nia sambil tersenyum.
“Les dong kak.” jawab Marcel.
“Hari ini mau belajar apa?”
__ADS_1
“Tadi disekolah ibu guru suruh belajar membaca kak. Tapi Marcel udah bisa membaca.”
“Marcel mau belajar penjumlahan gak?”
“Mau...mau kak.” jawab Marcel dengan antusias. Sedangkan Reza hanya memperhatikan interaksi mereka berdua.
“Tapi penjumlahan itu apa ya kak?” tanya Marcel bingung.
“Penjumlahan itu operasi penambahan. Marcel udah tau?”
“Udah kak, Marcel udah tau tambah-tambah.”
“Wah...Marcel hebar. Kak mau nanya boleh?”
“Boleh kak.”
Pembelajaran berlangsung dengan di selingi canda tawa antara Marcel dan Nia, tanpa mereka sadari Reza juga ada disitu. Reza terus memperhatikan interaksi mereka berdua, terkadang iya juga tersenyum saat Nia dan Marcel melakukan sesuatu yang lucu menurutnya. Reza juga selalu mengamatu wajah Nia, ia tau bahwa gadis itu masih kepikiran dengan peristiwa di ruang inap Mutia.
“Asik banget ya. Sampe lupa sama om.” tanya Reza kepada Marcel. Reza ingin menyudahi pembelajaran mereka, karena sudah hampir dua jam belajar.
“Kita lagi belajar om. Waktu les di tempat kak Nia om juga diam aja.” jawab Marcel.
“Eh... udah dua jam ya. Marcel mau lanjut gak?” ucap Tiara yang menyadari waktu mereka sudah habis.
“Mama...” teriak Marcel saat melihat Tiara datang dan tidak menjawab pertanyaan Nia.
“Sore semua.” sapa Tiara. Dan terkejut melihat Reza ada dirumahnya. “Udah selesai tugas za?”
“Udah kak.” jawab Reza.
“Belajarnya udah selesaikan. Nia makan malam di sini ya.” ajak Tiara.
“Eh.” Nia bingung mau menjawab apa.
“Udah makan malam disini aja, biar rame.” jawab Tiara sebelum Nia menjawab. “Masuk yuk. Nia bantu kakak masak ya. Marcel ajak om buat mandi.” perintah Tiara.
“I-iya kak.” jawab Tiara dengan canggung.
Mereka masuk ke dalam rumah. Nia dan Tiara menuju dapur sedangkan Reza dan Marcel ke kamar Marcel untuk mandi. Karena sering nginap dirumah kakak-nya, Reza meninggalkan beberapa pakaiannya.
__ADS_1
Di dapur, Tiara dan Nia sedang sibuk menyediakan beberapa masakan. Mereka berencana untuk memasak sop ayam, tempe goreng dan juga lalapan.
“Waktu Nia datang, Reza udah dirumah ya Ni?” tanya Nia yang tidak mengetahui kedatangan Reza.
“Gak kak. Nia dan kak Reza jumpa dirumah sakit. Jadi pulangnya bareng, kak Reza bilang mau jumpa Marcel.” jawab Nia menjelaskan kedatangan Reza.
“Siapa yang sakit Ni?”
“Teman dekat Nia kak. Kak Reza juga tadi jenguk, anak senior kak Reza kak.”
“Oh...” jawab Tiara disertai senyuman.
“Nia tolong panggil mereka ya. Ini udah hampir selesai.” pinta Tiara.
“Kita gak nunggu kak Randi ya kak?”
“Mas Randi pulang malam Ni. Nanti biar kakak sisihin buat mas Randi.”
“Oh iya kak.” jawab Nia dan pergi memanggil Reza dan Marcel yang sedang menonton TV.
“Asik banget ya nontonnya. Kita makan dulu ya, nanti di lanjut.” ucap Nia mengajak kedua lelaki itu. Dan mereka menuju ruang makan.
Mereka makan dengan hening menikmati makanan. Karena sudah menjadi tradisi di keluarga itu saat makan tidak boleh berbicara. Selesai makan Nia pamit untuk pulang.
“Makasih ya kak atas makan malamnya. Nia pulang ya kak.” pamit Nia kepada Tiara.
“Biar di antar Reza ya Ni.”
“Gak usah kak, dekat kok.”
“Udah gak papa. Za tolong antar Nia ya.” pinta Tiara.
“Iya kak.” ucap Reza bergegas menuju pintu diikuti Nia.
Selama di perjalanan mereka hanya diam saja. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Reza merasa kesal dengan keadaan itu. Karena ia mengetahui masih banyak pertanyaan yang ingin Nia tanyakan. Nia kembali teringat dengan kejadian di ruang rawat Mutia.
“Makasih ya kak, udah anterin Nia.” ucap Nia begitu tiba di kontrakan.
“Kalau ada yang ingin kamu tanya, tanyakan saja. Dan jangan pernah mempercayai sesuatu hanya dari satu sisi. Cobalah untuk melihat sisi yang lainnya.” bukannya menjawab Reza malah memberikan kalimat yang membuat Nia bingung walau ia mengetahui arah pembicaraan Reza.
__ADS_1
Nia hanya mengangguk dan langsung masuk tanpa mengeluarkan satu suara. Reza yang melihat itu hanya menghela napas. Ia pergi meninggalkan kontrakan setelah melihat Nia menutup pintunya. Reza memahami sikap Nia, tetapi ia tidak ingin Nia bersikap cuek kepadanya.