
Begitu menutup pintu dan memastikan Reza sudah pergi Nia merasa dadanya sesak dan air mata membasahi pipinya. Nia bingung harus apa, ia begitu menyukai Reza. Namun disisi lain, sahabatnya juga menyukai Reza. Mereka berdua menyukai pria yang sama.
Nia mengambil telepon genggamnya di kamarnya. Saat akan pergi ke rumah Tiara, Nia sengaja tidak membawanya karena lowbat. Saat menyalakan telepon genggamnya, ternyata ada beberapa pesan yang masuk.
Mutia
Ni gimana menurut kamu, bapak lorengnya?
Cuek bangetkan?
Tadi dia izin ke luar, tapi dia gak masuk lagi
Sedih banget tau
Isi pesan Mutia yang di kirim kepada Nia. Sebenarnya Mutia mengetahui Reza menyusul Nia keluar. Karena ketika mereka sedang di ruang rawat Mutia, Reza melihat Nia begitu intens. Mutia ingin tahu apakah Nia berubah setelah pertemuan siang tadi.
Nia tidak membalas pesan dari Mutia. Ia memilih untuk mematikan telepon genggamnya dan pergi tidur. Nia bingung harus membalas apa. Besok setelah Nia pulang dari sekolah, ia akan mengunjungi Mutia.
________________________________________________
Sementara di ruang rawat, Mutia menunggu balasan dari Nia. Ia mencoba untuk menelpon Nia tetapi selalu di luar jangkauan. Ia yakin kalau Nia menghindari Nia karena sudah mengetahui kalau mereka menyukai pria yang sama.
Mutia menyesali perjumpaan mereka bertiga di ruang rawat. Mutia tidak menyangka peristiwa ini begitu cepat terjadi. Mutia berharap pertemuan itu akan tiba saat ia sudah memiliki hati Reza.
Saat di perjumpaan mereka di ruang rawat, Mutia melihat Reza selalu memperhatikan Nia. Dan ini pertama kali Mutia melihat sikap Reza yang seperti itu. Dan melihat itu, Mutia menjadi kesal. Ia bertekad untuk membuat Nia merasa bersalah kepadanya dan membuat Nia menjauhi Reza.
________________________________________________
Keesokan paginya Nia pergi ke sekolah, ia tetap mematikan teleponnya hingga nanti bertemu Mutia. Nia pergi ke sekolah dan mengajar seperti biasa. Nia selalu profesional terhadap apa yang dilakukan dan tidak mencampurkan urusan pribadi.
Setelah selesai mengajar Nia bersiap pergi kerumah sakit. Sesampainya di ruang rawat, Nia hanya melihat Mutia seorang diri.
__ADS_1
“Hai Mut. Udah baikan belum.” sapa Nia menghampiri Mutia.
“Udah mendingan kok Nia. Oh iya kenapa gak balas sms aku?” tanya Mutia to the point.
“Maaf Mut, Hp aku lagi di servis. Kemarin kena air.” ucap Nia berbohong atas pertanyaan Mutia. “Emanga napa buk?”
“Gimana menurut kamu bapak loreng aku?” pancing Mutia.
“Maksudnya?”
“Cocok gak sama aku?”
“Menurut aku sih cocok-cocok aja. Kalau keduanya saling menyukai dan nyaman, yang gak cocok aja bisa jadi cocok kok.”
“Menurut kamu gimana bapak loreng itu?” tanya Mutia yang tidak puas dengan jawaban Nia.
“Gimana ya, aku juga bingung. Dia gak ada ngomong sih hanya diam aja, jadi sulit. Biasanya kita liat pendiam didepan orang baru tapi huuh beda banget kalau kenal. Jadi menurut gimana angkatan biasanya dia juga gitu.”
“Kasih spesifiknya dong buk. Kamu gak dukung aku ya?” Mutia tetap tidak puas dengan jawaban Nia.
“Bentar lagi datang kayaknya. Mau ngajar ya buk?”
“Iya buk. Mau pulang cepat, takut macet.”
“Kok cepet banget sih baleknya. Aku masih mau cerita, lagian bosen sendiri di kamar.” sungut Mutia.
“Ya udah, aku temani deh. Tapi cuma lima belas menit ya buk, takut jalanan macet.” Nia mengalah.
“Tau gak, kemarin aku kesal banget sama bapak loreng. Setelah kamu keluar, dia juaga keluar terus gak balek lagi tau.” ucap Mutia berusaha untuk membuat Nia jujur.
“Mungkin ada urusan kali bu.” ucap Nia berbohong agar Mutia tidak kecewa terhadap dirinya.
__ADS_1
“Kamu papasan dengan dia ya di luar.”
“Gak lah buk. Aku aja gak tau kalau dia keluar.”
“Iya ya. Kamu duluan yang keluar sih.”ucap Mutia dengan kecewa, iya percaya bahwa Reza ada urusan sehingga tidak permisi dengannya. “Tapi kenapa temannya gak balek juga ya?”
“Mungkin urusan pribadi Mut.”
“Kamu kok gak tanya langsung aja ke dia?” tanya Nia
“Gimana mau nanya. Setiap aku chat pasti gak pernah di balas sama dia.”
“Kok gitu. Kamu ada buat salah mungkin sama dia. Kamu udah tanya temannya belum? Siapa tahu mereka ada cerita.”
“Temannya bilang, emang dia malas balas chat Ni.”
“Coba ngomong langsung aja Mut.”
“Gimana mau ngomong langsung. Dia aja mau jumpa kalau ada temannya dan itu sangat penting. Gak mungkinkan aku nanya ke dia saat banyak orang.”
“Iya juga sih.”
Kok sama aku dia banyak ngomong ya. Beda gitu kalau sama Mutia. Mungkin segan kali dengan papa Mutia, batin Nia.
“Bum gak papa aku tinggal ya. Aku mau ngajar, kmarin udah janji.”
“Ya udah deh. Makasih ya Ni udah datang.”
“Sama-sama Mut. Aku balek ya.”
“Iya hati-hati ya.”
__ADS_1
Nia pergi meninggalkan ruang rawat Mutia. Ia merasa puas dengan dirinya yang dapat mengontrol emosinya saat menjawab pertanyaan Mutia tentang Reza. Nia akan berusaha bersikap biasa saat berbicara kepada Mutia tentang Reza.
Sementara Mutia merasa kesal dengan sikap Nia yang biasa saja. Bahkan tidak ada rasa kesal saat menjawab pertanyaan Mutia tadi. Mutia tidak akan lengah, ia tetap harus berusaha agar Nia kesal bahkan cemburu dengannya sehingga menjauhi Reza.