
" Kita putus! "
'Deg!'
Jantung Alan berdegup keras, bagai disambar petir di siang bolong, terkejut! Sangat terkejut!
" Zia, maaf. Kau bilang apa barusan? " Alan merasa ragu dengan apa yang baru saja didengarnya.
" Aku sudah muak dengan semua ini! Kita P-U-T-U-S! " Zia menjawab dengan memberikan penekanan pada kata putus.
Kali ini, Alan benar-benar terhenyak.
"Jangan bercanda! Apa kau sudah gila, hah? " sentak Alan, emosinya meluap.
Bagaimana tidak? Dua tahun sudah Alan dan Kezia menjalani masa pertunangan. Dan seminggu lagi seharusnya akan menjadi hari bahagia mereka, dimana mereka akan terikat dalam ikatan suci, sebuah pernikahan. Tapi... semua itu, tiba-tiba saja... PUTUS?
Alan telah bekerja keras menyiapkan semuanya, mas kawin, gaun pengantin, undangan, gedung resepsi dan semua tet*k bengeknya, semua tinggal menunggu hari.
Kata-kata Zia benar-benar menjadi sebuah pukulan yang sangat menyakitkan di hatinya.
Tanpa banyak bicara, Kezia membuka ponsel dan memperlihatkan sebuah foto kepada Alan. Pria tampan itu membelalakan mata. Tampak dirinya dan seorang perempuan sedang terlelap tanpa pakaian dan hanya berbagi selembar selimut dalam foto tersebut.
Alan mengenal wanita itu, Cheryl Gunawan, adik dari almarhum temannya Rico Gunawan, yang sudah Alan anggap seperti saudaranya sendiri.
" Zia, ini salah paham, ini tidak seperti yang kamu duga. Zia, tolong dengarkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya. Please!"
Alan berusaha menggenggam tangan Zia, tapi Zia langsung menepisnya.
" Tidak ada lagi yang harus di jelaskan. Mari kita akhiri semua ini, aku lelah. Jodoh kita, cukup sampai di sini saja!"
Kezia melepaskan cincin pertunangan dari jarinya dan melemparkannya ke wajah Alan. Tanpa berkata-kata lagi, Kezia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Alan.
Alan terbengong, tidak mempercayai dengan apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya terkulai lemas, tatapan matanya kosong, seakan ruh dalam dirinya telah terbang dan hilang.
Alan hanya mampu memandangi kepergian Zia yang langsung menghilang di balik pintu dengan penuh penyesalan. Perasaannya hancur tak menentu.
Alan sadar, Kezia adalah gadis yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, tapi juga berpendirian kuat. Sekali memutuskan sesuatu, maka Kezia tidak akan pernah ragu-ragu lagi.
zert, zert, zert
Tiba-tiba ponsel Alan berbunyi, itu adalah ibunya. Alan mengangkat panggilan tersebut, tapi sebelum dia menjawab, ibunya sudah lebih dulu mengoceh, yang membuat Alan akhirnya hanya menyimak.
__ADS_1
" Alan, dimana gadis itu? Kenapa dia belum pulang untuk menyiapkan makanan? Ayahmu juga tidak ada yang mengurusnya. Apa kau ingin ibumu stres dan masuk rumah sakit, hah? "
" Cepat! Suruh perempuan itu pulang!"
" Baik, nanti Alan sampaikan padanya! "
Alan langsung menutup panggilan telepon ibunya. Ia tidak pedulikan lagi, meski ibunya masih ingin melampiaskan kekesalannya.
Alan segera meninggalkan kantor dan bergegas menyusul Zia.
" Semua akan baik-baik saja! Ya, semua pasti akan baik-baik saja, ini hanya salah paham. Setelah kuberikan penjelasan, Zia pasti akan mengerti! " pikir Alan.
Dan, Alan pun masuk ke dalam lift.
Sementara itu, Zia yang sudah sampai di lantai UG dan berjalan menuju parkiran, menyeka butiran air yang hampir saja jatuh dari sudut matanya. Meski ia berusaha tegar, tapi tetap saja, rasa sakit di dalam hatinya memaksa dirinya untuk mengeluarkan air mata. Ini seperti sebuah sayatan yang disiram dengan air garam, terlalu perih.
Dua tahun! Yah, dua tahun berlalu sudah! Alan, pria yang begitu dicintainya selama ini, yang membuatnya rela meninggalkan segalanya, kini sudah tidak bisa lagi Zia harapkan.
Demi sesuatu yang bagi Zia harapkan sebagai 'cinta sejati ', ia rela menjatuhkan harga dirinya. Ia tinggalkan keluarganya, rela menanggung penderitaan dan penghinaan. Tapi, bak air susu dibalas air tuba, cintanya akhirnya kandas.
Ketika Zia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang menghampiri.
Perempuan itu mendekati Zia dengan sikap mengejek dan tatapan menghina.
Zia tidak menghiraukan dan bergegas masuk ke dalam mobil, tapi perempuan itu mencegahnya.
" Kenapa kau terburu-buru? Apa kau tuli, hah? Aku sedang berbicara denganmu! "
" Siapa kau? Apa kau pikir, dirimu layak untuk berbicara denganku? "
" K- kau...beraninya! Kau pikir dirimu siapa? Cinderela kah? Seorang j*lang yang bermimpi menjadi seorang putri?"
" J*lang, ya? Bukankah itu kau? Sudah tahu tidak mampu bersaing denganku, tapi menggunakan trik murahan seperti itu! Huh, dasar tidak tahu malu! "
"Kau...? Dasar sampah! "
Perempuan itu, yang ternyata adalah Cheryl Gunawan, mendorong tubuh Kezia. Tapi dengan cepat, Kezia menghindar dengan menyisi ke samping, sementara kakinya menggaet kaki Cheryl, hingga perempuan itu hilang keseimbangan dan jatuh terjerembab.
" Ziaaaaa, dasar brengsek kau! " Cheryl meraung, amarahnya meluap-luap.
Belum juga Cheryl berdiri dengan benar, tahu-tahu, Zia mengguyurkan sebotol air kepadanya. Bagai api yang ditambahkan bahan bakar, kemarahan Cheryl semakin memuncak.
__ADS_1
Saat itu, Alan telah sampai di tempat parkir. Dari kejauhan, Alan melihat perseteruan mereka dan datang menghampiri. Melihat kedatangan Alan, Cheryl tersenyum dalam hati. Ia mulai drama, memasang trik muka memelas, teraniaya penuh penderitaan.
" Mas Alan, lihat kelakuan Zia! Dia mendzolimiku mas. Mas Alan harus menghukumnya! "
Zia meludah dalam hati, berasa ingin muntah, rasanya ingin menampar Cheryl habis- habisan. Bukannya Cheryl yang berinisiatif untuk mendorongnya lebih dulu, tapi dia berakting seakan-akan dia adalah korban pembulyan yang nestapa. Cih!
" Zia, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berlaku kasar seperti itu? "
Tidak tega Alan melihat penampilan Cheryl yang berantakan, tapi ia berusaha bersabar dan bertanya lembut pada Zia sambil memegang lengannya. Zia langsung menepis tangan Alan dan menatapnya dengan penuh jijik.
" Huh, si brengsek dan si jal*ng. Kalian benar-benar pasangan yang serasi, lebih serasi daripada Romeo dan Juliet! "
Tanpa banyak berkata lagi, Zia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.
"Zia, tunggu! Zia...!"
Alan berusaha mencegahnya, tapi Zia sudah tidak peduli. Ia meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan apapun lagi. Percuma!
Alan bergegas menuju mobilnya, hendak mengejar Zia, tapi Cheryl menghalangi.
" Mas, jangan pergi mas!" rengeknya.
" Apa kamu tega meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, Mas? "
" Huh!" Alan menatap Cheryl sesaat sambil geleng-geleng kepala. Ia tidak lagi mempedulikan Cheryl dan masuk ke dalam mobil, mengejar Zia.
" Mas, jangan pergi! Mas, tunggu!" Cheryl berteriak, hingga mengundang perhatian beberapa orang yang lewat. Orang-orang saling berbisik dan senyum-senyum sendiri melihat penampilan Cheryl yang seperti seorang gelandangan.
" Apa loh, lihat-lihat!?" hardik Cheryl sambil melotot.
Tidak ada yang peduli. Mereka berlalu, masih dengan senyum yang penuh makna.
" Siaaaaallll....! " teriak Cheryl, dia benar-benar berantakan.
Begitu keluar dari basement, tiba-tiba Alan memutar balik mobilnya. Kondisi Cheryl yang berantakan, terus terlintas dalam benaknya. Alan tetap tidak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti itu.
Akhirnya, Alan membawa Cheryl dan mengantarkannya pulang ke rumah. Betapa bahagianya Cheryl dengan sikap Alan tersebut, ternyata Alan masih tidak bisa lepas dari dirinya.
Alan tidak menyadari, kalau ternyata Zia masih mrngawasinya dari sudut yang tak terlihat olehnya. Begitu Alan pergi dari kantor, barulah Zia melajukan mobilnya kembali.
" Bahkan sampai titik ini pun, ternyata kamu masih saja lebih memilih dia! " batin Zia. Kini, keputusannya benar-benar sudah bulat. PUTUS!
__ADS_1