Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
10. Reuni 4


__ADS_3

" Aku akan membayarnya ! " tiba-tiba seseorang berseru.


Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah Alan. Tomy menatap Alan lekat-lekat, tentu dia bisa mengenali Tuan Muda Pratama ini.


" Takutnya ini bukan sekedar masalah uang! " ujar Tomy.


" Tidak? Kenapa tidak? Apakah aku juga tidak bisa? "


" Sekalipun kau adalah Tuan Muda Pratama, aku juga tidak bisa membantumu! "


Setelah berpikir sejenak, Tomy akhirnya berkata,


" Jujur saja, sejak awal reservasi kalian sudah ditolak mentah-mentah oleh Direktur. Tapi entah mengapa, Direktur tiba-tiba mengubah keputusannya dan memerintahkanku untuk melayani kalian dengan pelayanan terbaik, " Tomy berhenti sejenak.


" Tuan Pratama, aku hanya bisa melaporkan masalah ini pada Direktur. Beliaulah nanti yang akan memutuskan ! "


Tomy pun memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk melaporkan kejadian.


" Mas, bagaimana bisa begitu? Ini bukan salahmu, kenapa kau harus menanggungnya? " Cheryl melakukan protes.


" Ini semua salah wanita miskin itu! Kezia, apa kau ingin mencelakai kami semua, hah? " Cheryl kembali menyerang Kezia.


Kezia justru asyik memainkan handphone-nya. Dia melirik sekilas, lalu tersenyum mengejek, Cheryl seketika merasa was-was.


" Kezia, aku tahu jika dirimu masih marah, tapi kau juga tidak harus se-arogan ini! Setidaknya kau harus tetap bersyukur, karena mas Alan sudah memberikanmu banyak uang, "


" Cheryl, hentikan ! " Alan berteriak marah.


Bagaimana Alan bisa membiarkan Cheryl melontarkan fitnah ini, sementara kartu bank dan kartu belanja yang yang ia berikan pada Kezia tidak tersentuh sama sekali?


" Jangan hentikan aku, mas! Kezia, kau bahkan memakai gaun mahal yang kami bahkan tidak bisa mendapatkannya. Kenapa kau masih saja tidak puas? Kau bahkan membujuk Cecil untuk membawamu kesini, hanya karena tidak mau melepaskan mas Alan, kan? Bukankah ini sudah keterlaluan? "


" Cheryl, aku bilang, hentikan ! "


" Keluarga Pratama bahkan sudah mengusirmu. Apa kau tidak memiliki sedikit rasa malu? "


" Cheryl, cukup! " Alan semakin murka.


Kezia melangkah mendekati Cheryl, menarik tangannya dan menyeretnya seperti anak anjing. Cengkeraman tangan Kezia begitu kuat hingga Cheryl tidak bisa melawan.


' Plak! '


Tanpa ragu, Kezia menampar Cheryl hingga gadis licik itu melolong kesakitan. Tidak sampai di situ, Kezia lalu mendorong tubuh Cheryl hingga jatuh tersungkur.


Penonton tercengang!


" Kezi...?! "


" Ups, itu pasti sangat sakit! Kezia, kamu luar biasa! " Cecilia terlihat bahagia.


Alan begitu syok melihat ini semua. Kezia tampak seperti orang yang berbeda. Alan mencoba meresapi perkataan Kezia sebelumnya, mungkinkah ia telah salah mengenali orang.


" Kau terus saja menuduhku melakukan sesuatu yang tidak kulakukan, maka aku penuhi perkataanmu agar tidak jadi fitnah, " ujar Kezia masih dengan sangat tenang.


" Ya, sekarang aku mengakui, bahwa aku telah menindasnya! Apakah kalian semua sudah puas? "


Kezia memindai seluruh ruangan, menatap kerumunan penuh dengan kemarahan. Orang-orang ini terkesiap!


Mendengar perkataan Kezia, Alan yang tadinya hendak membantu Cheryl, terkesan ragu-ragu.


Melihat tidak ada seorang pun yang akan membantunya, Cheryl pun berusaha bangun sendiri. Saat itulah, Kezia mengambil segelas minuman di meja, lalu menyiramkannya ke kepala Cheryl. Gadis licik itu pun terlihat semakin menyedihkan.


" Oh, my God! "

__ADS_1


Semua orang melongo melihat keberanian Kezia ini.


Kezia benar-benar sudah sangat sakit hati dengan orang-orang ini. Dia hanya ingin berteman dengan semua orang tanpa memandang status, itulah karakternya. Dia rela menyembunyikan status ke-bangsawan-annya demi mencari sebuah ketulusan.


Tapi orang-orang ini terus saja merendahkannya. Mereka begitu jijik terhadap Kezia, seakan ia adalah sampah. Kezia bertekad, mulai malam ini, ia tidak akan membiarkan seorangpun merendahkannya lagi.


Robin Tumiwa, Direktur Hotel Venus yang sangat disegani, setengah berlari menuju ruang VIP. Kepanikan terpancar jelas di matanya, tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin.


Robin yang awalnya sedang bersantai di ruang kerjanya, begitu marah mendapatkan laporan tentang Venus. Belum lagi setelah itu, tiba-tiba seseorang meneleponnya. Robin semakin ketakutan.


" Sedang apa sekarang ini kau, hah? "


Suara cempreng gadis remaja di seberang telepon sudah sangat Robin kenali. Gadis itu terkesan marah.


" No... nona Luna, a... ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu? " Robin tergagap.


Luna mendengus kesal.


" Bukankah aku sudah bilang, kalau nonaku malam ini akan datang berkunjung. Kenapa kau tidak menyambutnya? "


Seketika, Robin merasa seperti akan mati. Keringatnya bercucuran meski dia ada dalam ruangan ber- AC.


" Maafkan saya, nona! Sa...saya ...! "


" Apa? Kau lupa ? " sentak Luna.


Robin langsung gemetaran.


" Saya salah, nona! Saya benar-benar ceroboh! "


" Cepat pergi ke ruang VIP, nonaku sedang menunggu! Jika kau tidak melayaninya dengan baik, aku akan membunuhmu! "


Luna langsung mematikan teleponnya. Sesaat Robin terbengong, wajahnya keruh seperti mayat.


Tomy gemetar ketakutan, dia sudah pasrah. Meski begitu, ia berusaha memberikan pembelaan.


" Tuan Direktur, maaf! Saya rasa, wanita inilah yang seharusnya bertanggung jawab ! " Celetuk Dhani sambil menunjuk Kezia.


Robin menatap Dhani dengan kekesalan, sangat tidak sopan memotong pembicaraannya.


Robin memindai sekeliling, lalu beralih pada Kezia, sungguh kecantikan yang langka. Penampilannya menunjukkan keanggunan.


Sejujurnya, Robin tidak tahu identitas nona Muda keluarga Bramasta. Tapi melihat Kezia, dia merasa telah menemukannya. Baru saja Robin ingin memastikan agar bisa menjilatnya, tapi ucapan seseorang tiba-tiba saja menghentikan niatnya.


" Tuan Direktur, cepat tangkap wanita miskin ini! Gadis miskin ini harus diberi hukuman! " Tania Huang ikut memprovokasi.


Miskin? Satu kata itu yang digaris bawah oleh Robin.


" Miskin? Dia tidak tampak seperti itu. Dia bahkan terlihat paling bersinar, " Robin terkesan ragu-ragu.


" Jangan tertipu oleh penampilannya, Tuan ! Dia memang seseorang yang menipu pria kaya. "


" Dia seorang yang bermimpi menjadi Cinderela ! "


" Kami satu kampus dengannya, paham betul latar belakangnya seperti apa. Hanya seorang yang beruntung menyandang beasiswa! "


" Benar! Kami tidaklah sederajat! "


Provokasi ini datang saling bersahutan. Robin semakin hilang keyakinannya. Akhirnya, perlahan pria berusia empat puluh tiga tahun itu berjalan mendekati Kezia.


" Apakah karena aku miskin, lantas itu bisa dijadikan bukti bahwa aku bersalah !? " Kezia menatap tajam pada Robin.


Semua orang tercengang! Robin kembali ragu.

__ADS_1


" Kamulah yang mendorongku dan membuat Venus remuk. Semua orang yang ada di sini bisa menjadi saksi. Benar kan, teman-teman ? " Cheryl kembali menggongong.


Sebenarnya tidak ada satupun dari mereka yang tahu detail kronologisnya seperti apa, tapi mereka juga tidak bisa tidak mempercayai Cheryl.


Lagipula, Cheryl dan Kezia seperti langit dan bumi. Kezia hanyalah seorang miskin, tidak ada untungnya juga bergaul dengannya. Terpaksa, mereka hanya bisa membenarkan.


" Bukankah di sana ada CCTV, kenapa kau tidak memeriksanya? "


Semua orang langsung membisu! Siapa yang menduga akan hal ini? Wajah Cheryl langsung pucat pasi, ketakutan setengah mati. Padahal sebelum melakukan eksekusi, Cheryl sudah berkeliling untuk memastikan tidak ada CCTV di ruang tersebut.


CCTV di ruangan itu memang diletakkan di tempat tersembunyi demi kenyamanan pelanggan. Dan itu, tidak banyak orang yang tahu. Bahkan manajer sekelas Tomy pun tidak tahu.


Tapi gadis ini, dia mengetahuinya! Bahkan tahu persis letaknya dengan menunjuk sebuah lukisan. Ya, CCTV itu diselipkan pada lukisan tersebut.


Seketika, seluruh tubuh Robin gemetar. Tanpa sadar, ia berlutut di depan Kezia. Aksi Kezia barusan menunjukkan bahwa Kezia adalah nona muda keluarga Bramasta.


Robin mengumpat orang-orang ini. Hampir saja ia membunuh dirinya sendiri akibat mendengarkan omongan orang-orang bodoh ini.


" Tu... Tuan, kenapa anda...? " Tomy terheran.


" Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan nona? Cepat periksa ! " sentak Robin.


Seumur-umur bekerja, Tomy belum pernah dimarahi sampai sekeras ini. Alan dan yang lain pun tertegun. Tanpa berpikir panjang lagi, Tomy segera bergegas menuju ruang pemeriksaan.


Namun sebelum kakinya sampai di pintu, tiba-tiba sekelompok pengawal dengan setelan jas menyabotase ruangan tersebut.


Tidak! Lebih tepatnya, seluruh hotel ini gempar dengan kedatangan mereka yang diiringi lusinan mobil mewah. Lagi-lagi, kerumunan tercengang.


Para pengawal itu berbaris rapi, dan di tengah mereka berjalan seorang maid. Hanya saja, maid berusia enam belas tahun ini memakai highhels dan kacamata hitam, sungguh penampilan yang aneh. Maid nyleneh ini bererjalan dengan angkuh ke arah Kezia sambil menarik sebuah koper.


" No... nona Luna, ma... maaf! " Robin hampir menangis dengan kedatangan Luna.


" Dasar bodoh. Kali ini, jika aku tidak menghukummu, mungkin Tuan tidak akan puas! " Luna menakut-nakuti Robin.


" No... nona, nona Luna, saya mohon nona, jangan berbicara buruk pada Tuan. Saya masih betah kerja di sini! "


" Aahhh, sudahlah. Cepat pergi! Aku malas melihatmu! " ujar Luna sambil mengibaskan tangannya.


" Nona, aku sudah membawakan pesananmu ! " Luna menyerahkan kopernya sambil membungkuk di hadapan Kezia.


Dari intonasi Luna, sepertinya Robin telah di ampuni. Meski begitu, Robin belum berani berdiri sebelum mendapatkan persetujuan dari Kezia.


Bagaimana bisa, seorang direktur yang sangat di segani bahkan di kalangan orang-orang kaya, begitu takut pada seorang maid. Apakah kedudukannya tidak lebih tinggi dari maid ini?


Dan maid yang berhasil membuat seorang direktur ini ketakutan, dengan sangat hormat membungkuk pada Kezia, gadis miskin yang tidak jelas asal-usulnya.


Apakah dunia benar-benar sudah terbalik? Semua orang ingin menolak untuk mempercayai penglihatan mereka.


Kezia menatap tajam pada Robin. Lelaki itu benar-benar merasa sangat bersalah, dia berharap tidak pernah ada di tempat itu malam ini.


Kezia memanggil Robin dengan jari telunjuk, menyuruhnya untuk mendekat. Dengan lutut yang masih gemetar, seakan ingin mengompol, Robin bangkit dan mendekat pada Kezia.


" To...tolong maafkan saya, nona. Beri saya kesempatan satu kali lagi! "


" Letakkan itu di sana!" perintah Kezia.


Robin agak gugup, ia langsung mengangkat koper dan meletakkannya di meja dekat Alan seperti yang diperintahkan oleh Kezia. Dia merasa sedikit lega, karena Kezia sepertinya tidak mempermasalahkan sikapnya yang sebelumnya


" Buka! " perintah Kezia lagi.


Robin pun membukanya. Dan semua matapun terbelalak, saat melihat isinya!


" Wowwww, " tanpa sadar, Cecilia berseru

__ADS_1


__ADS_2