Selepas Kau Pergi

Selepas Kau Pergi
8. Reuni 2


__ADS_3

Seorang wanita yang baru saja keluar dari balik kemudi, berjalan menghampiri William.


" Willy, maaf ya! Aku terlambat menginjak rem! "


William menoleh,


" Kezia..! "


Tatapan semua orang membeku.


Kezia!


Dia tampil dengan sangat anggun. Cheryl bahkan sampai menggigit bibirnya karena iri. Meski penampilannya sangat berkelas, tapi masih kalah sama Kezia.


Semua yang dikenakan Kezia, gaunnya, perhiasannya, sepatu, jam tangan hingga tasnya, bukan hanya branded, tapi juga limited edition. Beberapa putri kaya yang melihatnya, mereka tahu barang-barang itu, karena mereka sendiri tidak mampu mendapatkan meski sudah memburunya.


William melongo.


" Halah, apa hebatnya? Palingan juga barang sewaan. " Tania mencibir.


Tania menyadari pemikiran orang-orang dan berusaha membangunkannya dari mimpi.


" Hahaha, benar! Aku setuju, tidak mungkin dia seorang putri kaya, datang saja masih nebeng sama Cecil, masih nabrak pula! " Dhani menimpali.


" Si upik abu! Pantas nabrak, gak biasa bawa mobil mewah sih! " bisik seseorang.


" Hush, jangan sembarangan. Ada mantan tunangannya tuh, mau di damprat apa? "


Seperti biasa, mereka selalu bergunjing manakala melihat Kezia.


Di masa kuliah dulu, mereka mengenal Kezia sebagai orang miskin yang kebetulan dapat beasiswa. Tidak ada yang istimewa, kecuali kecantikannya dan otaknya yang cerdas. Dan itu membuat para anak lelaki mendendam, karena gagal mengencaninya. Juga membuat para wanita cemburu, iri hati.


Karena itu, mereka selalu mencari kesalahan dan kelemahan Kezia untuk dijadikan bahan olok-olok.


" Ck, kenapa si jal*ng itu ikut datang? Huh, peduli apa? Dia hanyalah si miskin, tidak akan ada yang menganggapnya! " umpat Cheryl dalam hati.


" Iiiihhh, Zia, ngapain kamu minta maaf? Biarin aja, itu pantas untuk playboy busuk seperti dia!" sergah Cecil.


" Berikan nomer rekeningmu, Will. Aku akan ganti biaya perbaikannya. "


" Ti...tidak usah, Zia! Di rumah masih ada selusin yang seperti ini. Kau tidak perlu menggantinya! "


Selusin? Bahkan yang ini pun, belum lunas cicilannya. Tapi William juga tidak mungkin menjatuhkan martabatnya sendiri, bukan?


Meski William berasal dari keluarga kaya, tapi ayahnya punya selingkuhan. Dia marah untuk membela ibunya dan pergi dari rumah. Sekarang dia harus mandiri.


" Hemm, kau yakin? "


" I... iya, serius! "


" Hahahahaha, bagus, bagus! Sungguh akting yang sangat bagus! Apa si upik abu ini sedang memainkan drama seorang putri kaya sekarang? " Tania bertepuk tangan sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.


" Heh, nenek lampir! Tutup mulutmu ya! Susah amat kayaknya, liat kebahagiaan orang. Iri? bilang bos! " Cecil meluap.


Selama masa kuliah, Cecil si cabe rawit inilah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Kezia. Dia selalu membelanya. Kedatangan Kezia kali ini pun, karena Cecil yang memaksanya. Setelah dipikir-pikir , mungkin memang sudah waktunya ia turun gunung.


" Heh, cabe rawit, heran aku sama kamu. Senang sekali kamu bergaul dengan kasta rendahan seperti dia. Apa kau tidak takut menurunkan martabatmu? "


" Tidak ada hubungannya denganmu! Siapa kau, ngatur-ngatur aku? "


" Ihhh, kau...! " kepala Tania serasa berdenyut menghadapi Cecil. Tangannya terkepal, sudah gatal rasanya ingin menampar Cecil.


" Apa loh? Mau gulat? Ayo! "


Kezia menarik tangan Cecil, memberikan isyarat untuk tidak menanggapi provokasi Tania. Mereka pun melenggang, berjalan masuk menyusul yang lain.


Jantung Alan berdegup. Semakin dekat Kezia berjalan ke arahnya, perasaannya semakin tak menentu. Entah kenapa, lidahnya terasa kaku saat Kezia berada tepat di depannya. Cheryl semakin merana.


" Tuan Prasetyo, apa kabar? " sapa Kezia.


Apa ini? Benar-benar di luar dugaan! Hening!


Cheryl yang sudah memantapkan hati untuk berdebat pun, melongo.


Terlebih lagi Alan, dirinya benar-benar merasa Kezia sudah tidak lagi menganggapnya.


Dilewati! Alan benar-benar dilewati. Kezia telah mengabaikan keberadaannya.


" Ah, iya! Kabar baik! Selamat datang, nona Alexandra..., dan nona Ananta, terimakasih sudah mau memenuhi undangan reuni ini! "


Senyum Jamal sangat sumringah. Seorang pengaggum rahasia!


Karena latar belakang keluarganya yang sederhana, Jamal tidak pernah berani untuk bersaing dengan Alan ataupun William. Tapi berkat ketekunannya dalam belajar, juga karena bantuan pamannya yang punya banyak koneksi, Jamal kini semakin bermartabat.

__ADS_1


Menikahi Kezia, kini baginya seperti Dream Come True. Sebuah Ekspestasi yang tinggi! Seumur-umur tidak pernah bertegur sapa, hanya bisa melihatnya dari jauh. Tapi kini, Sang Dewi pujaan, ada di hadapannya, bahkan menyapanya. Mimpi di siang bolongkah?


" Maaf, aku datang tanpa undangan. "


" Ah, tidak apa-apa! Kita semua adalah teman, tidak perlu terlalu perhitungan! Mari semuanya, kita masuk! "


Cecil menatap heran pada Jamal. 'Semangat sekali ' pikirnya.


" Hey, Willy. Sampai kapan kamu mau melamun di sana? " tegur Dhani.


Willy terkesiap, bangun dari mimpinya. Ia pun bergegas menyusul teman-temannya.


Dan Alan, wajahnya sangat muram.


Mereka memasuki ruangan VIP. Semua orang merasa gembira. Meski kebanyakan diantara mereka adalah anak orang kaya, tapi untuk bisa menginjakkan kaki di ruangan ini... Itu terlalu istimewa! Ini bukan sekedar masalah uang!


" Hey lihat, teman-teman! Inikah Venus de Angel yang terkenal itu? " seseorang berseru.


Sebuah patung marmer dengan karakter Dewi bersayap, di tempatkan di tengah ruangan. Patung yang menjadi icon dari hotel tersebut.


" Benar! Wah sangat cantik! Konon, Venus de Angel ini ditemukan bersamaan dengan Venus de Milo. Dan ini sebenarnya adalah sebuah rahasia. " Jamal menjelaskan dengan bangga.


" Hah? Venus de Milo yang di Louvre itukah? "


" Wah, pengetahuan ketua sangat luas! "


Semua orang berdecak kagum memandang Venus de Angel.


Semua orang kemudian menuju mejanya masing-masing, membentuk kelompok dengan teman yang dianggap sederajat.


Masing-masing meja terdiri dari empat orang, hanya Kezia yang berdua dengan Cecil. Tanpa malu, William nimbrung di meja mereka.


" Heh, kenapa kau duduk di sini? Cepat pergi sono! Bikin mood-ku berantakan aja, " cegah Cecil.


William acuh tak acuh, dia terus memandang Kezia.


" Kezia, kamu semakin cantik aja! "


" Terima kasih, Tuan Tjahyadi. Anda juga semakin tampan! " Kezia tersenyum menggoda.


William langsung melayang.


" Dih, gombal! Dasar playboy tengik! " Cecil menggerutu.


Segera, Jamal Prasetyo berdiri, memberikan beberapa patah kata sebagai sambutan. Kepercayaan dirinya sangat tinggi, semangatnya melonjak berkali lipat. Dia ingin tampil menawan di hadapan Kezia.


" Ketua sangat hebat, bisa melakukan pengaturan seperti ini. " puji seseorang.


" Benar! Keluargaku bahkan tidak bisa melakukan reservasi di sini, " imbuh yang lain.


" Ah, bukan apa-apa. Kalian terlalu memuji, kebetulan aku kenal dengan manajer di sini! "


" Wow, luar biasa! Pasti koneksi Tuan Prasetyo sangar luas. Benar-benar patut dibanggakan! "


Jamal semakin melambung, sangat bangga.


Selanjutnya, acara pun berlangsung meriah. Seorang pianis yang di sediakan pihak hotel memainkan beberapa lagu, membuat acara reuni semakin semarak. Semua orang merasa sangat puas.


Setelah jamuan utama selesai, masuk sesi santai. Mereka saling berbincang, namun ada juga yang turun untuk berdansa.


Cheryl menarik tangan Alan, mengajaknya untuk berdansa, tapi Alan tidak bergeming. Dari awal, tatapannya terus melekat pada Kezia. Wajahnya sangat muram. Hal itu membuat Cheryl semakin jengah, sangat-sangat kesal.


" Dasar pelacur! Sengaja menggoda mas Alan! Awas kau ya! " geram Cheryl, giginya gemeretak.


William pun tidak mau ketinggalan, dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia mengajak Kezia berdansa juga. Kezia hanya tersenyum.


" Ayolah Kezia, hanya berdansa saja. Apa kau takut dengan mantan tunanangmu yang brengsek itu? "


" Dih, mengatai orang lain brengsek, macam kau orang benar saja, atuk, atuk. " Cecil menirukan dialek si upin.


Kezia menunduk, terkekeh. Kemudian menatap William. Tatapannya itu, membuat hati William semakin berbunga.


" Tuan Tjahyadi, anda benar-benar punya nyali rupanya. " Kezia masih mempertahankan senyumnya. Ia merasa kalau William ini sangat konyol.


Tiba-tiba sesosok bayangan menghampiri mereka.


" Jamie, mau apa kamu ke sini? Pergilah! " William merasa terganggu dengan kedatangan Jamal.


Jamal mengabaikan William. Dengan mantap, menatap Kezia.


" Nona Alexandra, mungkinkah saya punya kesempatan? " dengan sopan, Jamal pun berharap.


William seketika naik darah.

__ADS_1


" Hey, Jamie! Apa matamu buta, hah? Apa kau tidak lihat, kalau aku sedang membujuknya? "


"Tuan Tjahyadi, anda terlalu percaya diri. Apa yang membuat dirimu merasa pantas? "


" Kau...heghhh, pergilah! Jauhkan dirimu dari sini! " William mengepalkan tangannya.


Kezia berdiri dari tempat duduk, menatap mereka bergantian. Jantung mereka berdebar, berharap dirinyalah yang dipilih oleh Kezia. Sementara Alan, terbakar!


" Maaf, sepertinya saya harus ke toilet! Permisi! "


Dan Kezia pun berlalu begitu saja, mengabaikan.


Kecele!


" Buahahahahaha, dasar orang-orang idiot! "


Tawa Cecil pecah! Memegangi perutnya yang terasa sakit. Matanya bahkan sampai berair.


" Menarik! Baiklah, Kezia. Kamu benar-benar sangat menarik! " gumam William.


Jamal pun berlalu, muram.


" Mas Alan! Mas! " Cheryl mengguncang tubuhnya.


Alan terkesiap!


" Maaf, aku harus ke toilet! " Alan bergegas!


" Mas...! " Cheryl kelabakan.


" Apa kau akan membiarkan si miskin itu mengintimidasimu? " sindir Tania Huang.


" Apa kau punya ide? "


" Tidak! "


" Hemh, lihat saja nanti. Akan kubuat si jal*ng itu menyesal! "


Sorot mata Cheryl dipenuhi dendam.


Setelah membasuh wajahnya, Alan berdiri di koridor, menunggu Kezia.


Tidak lama berselang, Kezia muncul. Tatapannya dingin, terus berjalan tanpa melirik Alan sedikit pun, seakan tidak ada siapapun di sana.


Berkali-kali diabaikan, Alan pun meradang.


Tanpa pikir panjang, Alan mencengkeram pergelangan tangan Kezia dan menariknya.


Membuat Kezia berbalik dan jatuh dalam dekapannya, mata mereka pun bertemu.


Kezia segera mendorong tubuh Alan agar menjauh.


" Kezi...! "


" Apa yang anda lakukan? "


Alan tertegun.


" Beginikah sikapmu padaku? Sebegitu tidak-berartinyakah aku di matamu? " Alan menyelidik.


Kezia masih bersikap dingin.


" Aku ingin tahu kabarmu. Kamu tinggal dimana sekarang? Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu?! "


" Maaf Tuan,kita tidak seakrab itu! "


" Kezi, dengar ! Aku dan Cheryl, tidak ada yang terjadi di antara kita! Kau harus percaya padaku! " Alan mengguncang tubuh Kezia.


" Tuan Pratama, anda jangan konyol! Tolong lepaskan ! Sikap anda bisa membuat orang salah paham! "


Kezia berusaha melepaskan diri. Alan menarik nafas, menatap Kezia lekat-lekat. Tidak ada emosi sedikit pun di matanya.


Kezia kembali mendorong tubuh Alan agar menjauh.


" Kezia, aku mohon, jangan seperti ini! "


" Saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan. Mungkin anda salah mengenali orang! "


" Maaf, saya harus kembali. Permisi! " Kezia menerobos, dan bergegas pergi.


Alan terpuruk! Sangat terpuruk!


' Buk! '

__ADS_1


Alan meninju tembok.


__ADS_2