
Alma keluar dari kantor Bara tepat saat jam makan siang. Gadis itu mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang kekasih. Lama dia menunggu hingga akhirnya teleponnya diangkat oleh sang kekasih.
"Sayang, kamu sibuk nggak?" tanya Alma.
Mendengar suara Alma, pusing di kepala Garland hilang seketika. Seulas senyum tergambar di wajah manisnya.
"Enggak kok. Kenapa Sayang?" tanya Garland.
Alma tersenyum mendengar itu. "Makan siang bareng yuk! Ada yang pengin aku omongin sama kamu," ucapnya dengan nada manja.
Garland tersenyum mendengar nada manja sang kekasih. Dia lantas menjawab, "oke. Mau makan di mana?"
"Em... lalapan SS9 aja gimana?" saran Alma.
"Dasar. Mentang-mentang doyan makanan pedas. Ayo ajalah kalau gitu!" Garland berkata sambil mengulas senyum.
"Jemput tapi ya," ucap Alma.
"Emangnya kamu lagi di mana?" tanya Garland.
"Lagi di kantornya Bara," jawab Alma.
Garland mengerutkan keningnya. "Ngapain di sana?" tanyanya.
"Nanti deh aku ceritain. Sekarang jemput dulu. Aku lapar Sayang!" rengek Alma.
Mendengar rengekan manja dari sang kekasih, Garland mengulas senyum.
"Iya sudah. Aku berangkat sekarang. Kamu tunggu ya!" jawabnya akhirnya.
Alma tersenyum mendengar jawaban Garland. Setelah itu Alma menutup panggilan teleponnya.
Setelah menutup telepon, Garland segera menyambar jaketnya dan segera keluar dari ruangannya.
"Kamu mau ke mana Land?" Dania bertanya sambil berjalan menghampiri Garland.
Garland menampakkan raut tak suka saat Dania berjalan menghampiri dirinya.
"Bel, gue keluar dulu ya. Nanti kalau ada yang nyari gue, bilang aja gue masih keluar sama Alma," ucap Garland. Dia sama sekali tak memperdulikan pertanyaan Dania.
Bella mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Setelah berkata demikian, Garland segera beranjak dari tempat itu. Dia melewati Dania begitu saja tanpa menatap wajah gadis itu.
"Garland! Tunggu Land! Aku mau jelasin sesuatu sama kamu!" Dania menarik lengan Garland dan mencegahnya pergi.
__ADS_1
Garland mengibaskan tangannya dengan keras hingga membuat Dania hampir terjengkang ke belakang.
"Please, Land! Please, dengerin penjelasan aku. Ini nggak seperti yang mereka katakan. Aku nggak melakukan itu semua Land." Dania menjelaskan sembari mencoba menahan langkah Garland.
Garland tersenyum miring. Dia sama sekali tak mempercayai perkataan Dania. Selama ini dia sudah percaya padanya tapi kenyataan berkata lain. Dia sampai hampir saja kehilangan cintanya karena terlalu percaya pada Dania.
"Apapun yang elo omongin, gue nggak percaya! Mending sekarang, elo beresin barang-barang elo dan elo siapin surat pengunduran diri elo!" ucap Garland.
Dania menggelengkan kepalanya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca saat mendengar ucapan Garland.
"Enggak Land! Please, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku akui aku memang salah. Tapi aku nggak pernah menyuruh orang untuk melakukan itu," ucapnya.
"Siapa yang percaya Dan? Nyatanya semua fakta mengarah ke elo. Elo adalah dalang dibalik semua ini!" bentak Garland.
Dania menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh tak tertahankan lagi.
Garland semakin tak peduli. Dia pergi meninggalkan Dania begitu saja. Dia tak peduli walaupun gadis itu menangis darah sekalipun.
...****************...
Senja datang menjelang. Semburat warna jingga tampak di langit sore itu. Semilir angin sore begitu menenangkan. Membuat jiwa-jiwa kesepian merasa nyaman dan tenang.
"Masih belum ngomong juga sama Alma?" tegur seseorang.
Bagas menghela napas panjang. Matanya menatap laut yang terhampar luas di depannya.
"Dia juga perlu tahu Gas. Dia juga perlu ngerti gimana perasaan kamu ke dia. Jangan kamu sembunyikan perasaan kamu ke dia," lanjutnya.
Bagas menghela napas panjang sekali lagi. Dia menundukkan kepalanya sekilas dan kembali menatap laut lepas. Suara deburan ombak terdengar begitu merdu di telinga.
Perlahan, matahari mulai terbenam. Hanya menyisakan semburat warna jingga di langit petang ini.
"Biarlah seperti ini. Biarlah aku memendam perasaanku padanya. Biarlah rasa ini tenggelam seperti matahari di sore hari," ucap Bagas.
Tya menghela napas panjang. Dia sudah lelah menasihati Bagas. Dia sudah lelah memberikan saran pada pemuda itu.
"Terserah lah! Aku hanya tak ingin kamu merasa sakit sebelum kamu merasakan cinta," sahut Tya.
Bagas menoleh dan tersenyum. "Aku sudah merasakan cinta dan sakit itu secara bersamaan Tya. Aku sudah merasakannya jauh sebelum ini," ucapnya lirih.
Tya menghela napas panjang sekali lagi. Kemudian dia menepuk pundak Bagas dan berkata, "apapun keputusan kamu, aku selalu dukung kamu. Aku akan bantu kamu untuk bisa lebih dekat lagi dengan Alma."
Bagas tersenyum mendengarnya. "Makasih banyak Tya. Makasih banget! Tapi, kamu nggak perlu repot-repot untuk mendekatkan aku dengan Alma. Aku bisa melihat senyumannya saja, sudah satu kebahagiaan buat aku," ucap Bagas.
Tya tersenyum. Kemudian dia beranjak dari tempatnya dan berjalan sedikit menjauh dari Bagas.
__ADS_1
"Pulang yuk! Udah malam. Angin malam nggak bagus untuk kesehatan!" ajak Tya.
Bagas menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Tya menjauh dari tepi pantai.
Di tempat lain, Alma tengah menikmati waktu berdua dengan Garland. Sejak siang tadi, Alma memang belum pulang ke rumahnya.
"Sayang, aku senang deh bisa seharian sama kamu kayak gini," ucap Alma.
Garland mengusap kepala Alma dan berkata, "aku juga senang Sayang. Aku lebih senang lagi kalau kamu nggak kerja di tempatnya Bara," sahut Garland.
Senyum di wajah Alma surut seketika saat Garland berkata seperti itu.
"Kenapa? Kan aku cuma kerja Land. Aku di sana bukan melamar sebagai kekasih Bara lagi? Aku kerja di sana!"
Garland menghela napas panjang. Dia memalingkan wajahnya sejenak. Kemudian dia menatap ke arah Alma.
"Aku cuman nggak mau Bara mendekati kamu lagi. Apalagi sekarang kalian satu kantor. Pasti setiap hari kalian ketemu terus," ucap Garland.
Alma menghela napas. "Ya ampun Sayang! Dengerin aku! Biarpun aku serial hari ketemu sama seribu orang kayak Bara. Hati aku tetap untuk kamu. Perasaan aku nggak akan berubah untuk kamu." Alma berkata sembari memegang kedua pipi Garland dan menatap matanya lekat-lekat.
"Aku sayang sama kamu dan nggak ada yang bisa merubah perasaan aku ke kamu. Enggak Bara atau siapapun itu!" pungkasnya.
Garland mengulas senyum. Dia meraih tangan Alma dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku juga sayang sama kamu Al!" Garland berkata sembari mencium punggung tangan Alma.
Alma tersipu malu melihat perlakuan manis Garland. Dia bersyukur karena hubungannya dengan Garland masih bisa diselamatkan.
"Udah malam. Aku pulang dulu ya!" tukas Alma.
"Yah! Kok udah mau pulang sih? Aku masih pengin sama kamu. Masih kangen aku sama kamu!" rengek Garland.
Alma mengulas senyum. "Besok kan kita bisa ketemu lagi Sayang. Besok kamu mau anterin aku kerja kan?" ujarnya.
Garland mengangguk. "Iya. Tapi aku masih kangen sama kamu," rengeknya lagi.
Alma tersenyum mendengarnya. Dia merasa gemas saat melihat raut wajah Garland yang merengek seperti anak kecil.
"Iya. Aku juga kangen sama kamu. Tapi kan ini udah malam Sayang. Udah waktunya aku pulang. Besok kita ketemu lagi," ucap Alma.
Garland akhirnya mengangguk setuju. "Ya udah deh kalau gitu. Kamu hati-hati ya pulangnya. Kalau udah sampai rumah, jangan lupa kabarin aku!" sahut Garland.
"Iya Sayang. Ya udah! Aku pulang dulu ya." Alma berkata sembari berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian berjalan keluar dari rumah Garland.
Sepeninggal Alma, Garland tampak merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Dia tampak memainkan ponselnya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Siapa dia? Pacar baru kamu?" tanya seseorang dari dalam kamar.