
Bagas masih menatap Alma dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada rasa bahagia saat melihat Alma kembali tersenyum seperti sekarang ini. Tapi ada rasa sakit yang ia rasakan saat menyadari Alma tersenyum bukan karena dirinya.
"Hah! Mungkin aku harus belajar untuk mengikhlaskan dia," gumamnya lirih.
"Kalau elo suka sama dia, perjuangin dong! Jangan menyerah!" seru seseorang.
Bagas menoleh ke belakang. "Eh kamu Tya. Bikin kaget aja deh!" Bagas berkata sambil memegangi dadanya.
Gadis yang dipanggil Tya itu tersenyum. "Kalau kamu suka sama dia, perjuangin dong! Bikin dia jatuh cinta sama kamu. Jangan nyerah gitu!" ulangnya.
Bagas menghela napas panjang. "Aku memang suka sama dia. Ah bukan suka lagi. Tapi aku udah terlanjur sayang sama dia. Dari pertama kali kenal dia di sekolah dulu sampai sekarang perasaan aku nggak pernah berubah untuk dia," jelasnya.
"Nah! Tunggu apalagi? Udah buruan samperin dia. Terus bilang kalau kamu suka sama dia," ucap Tya.
Lagi-lagi Bagas menghela napas panjang. Kemudian dia menggeleng lemah.
"Kenapa? Bukannya kamu sayang sama dia? Kenapa nggak mau?"
"Bukan nggak mau. Tapi aku nggak mau merusak kebahagian orang lain demi perasaan aku sendiri. Aku nggak mau egois," jawabnya.
"Melihat dia tersenyum seperti ini saja sudah membuat ku senang. Aku ikut bahagia dan senang saat melihat dia bisa tersenyum seperti ini." Bagas berkata sambil mengulas senyum tipis.
Tya yang mendengar itu menjadi terharu. "Definisi ikhlas, tulus dari hati nih namanya!" ucapnya dalam hati.
"Terus mau sampai kapan kamu menyimpan semua ini dari dia?" tanyanya lagi.
Bagas mengangkat bahunya. "Entahlah! Mungkin selamanya perasaan ini akan aku simpan dalam hati," jawabnya.
Tya menghela napas panjang. "Apapun keputusan kamu, semoga itu yang terbaik. Aku selalu dukung kamu Gas. Tapi ingat! Jangan menyerah. Tetap berjuang demi cinta kamu," ucapnya.
Bagas tersenyum mendengar ucapan gadis itu. "Makasih ya. Udah mau kasih saran terbaik untuk aku," sahutnya.
Tya membalas ucapan Bagas dengan senyuman. Dia bersyukur masih bisa berguna untuk orang lain. Walaupun itu hanya bantuan kecil saja.
Sementara itu, Alma tengah duduk di ruang kerja pak Andhika. Dia menyerahkan surat pengunduran dirinya itu pada bosnya itu.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu Al?" tanya pak Andhika.
__ADS_1
"Yakin Pak. Saya sudah pikirkan semua ini matang-matang. Jadi saya sangat yakin dengan keputusan yang saya ambil," jawab Alma penuh keyakinan.
Pak Andhika manggut-manggut mendengar jawaban Alma.
"Kamu sudah pikirkan semuanya Al? Enggak sayang memangnya meninggalkan pekerjaan ini?" tanya pak Andhika.
Alma menghela napas panjang. Tampaknya dia juga masih merasa berat meninggalkan pekerjaan yang selama ini menjadi rutinitasnya.
"Kalau dibilang sayang... ya sayang Pak. Tapi saya sudah putuskan untuk keluar dari zona nyaman saya. Saya mau mencoba sesuatu yang baru," jawab Alma.
"Lagipula penjualan saya beberapa bulan terakhir ini kan menurun banget," lanjutnya.
Pak Andhika menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Lelaki paruh baya itu tampak keberatan mengabulkan permintaan Alma. Karena sejujurnya lelaki itu menyukai kinerja Alma.
"Jujur saja, saya berat melepas kamu. Tapi apa boleh buat. Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, saya nggak bisa apa-apa lagi," ujarnya.
"Semoga kamu bisa sukses di luar sana ya Alma," pungkasnya.
Alma tersenyum. Setelah mengucapkan terimakasih, gadis itu segera keluar dari ruangan pak Andhika. Di balik pintu, Garland telah menunggunya dengan perasaan campur aduk.
Matahari pagi tampak bersinar terang. Daun-daun dan bunga-bunga tampak berkilauan tertimpa sinar sang mentari pagi.
Semua orang tampak bersemangat karena cuaca hari ini begitu cerah. Tak terkecuali Alma. Gadis berambut panjang itu tampak bersemangat pagi ini.
"Mau ke mana Al?" tanya bu Tiwi yang kebetulan melihat Alma sedang bersiap-siap untuk pergi.
Alma melirik sekilas. Kemudian dia melanjutkan lagi apa yang dilakukannya tadi.
"Sarapan dulu Al," kata bu Tiwi lagi.
Namun lagi-lagi Alma tak menghiraukan perkataan sang ibu. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan keluar rumah.
Hari ini dia akan interview di perusahaan milik Amanda. Semalam dia sudah menelepon Amanda dan menanyakan apakah ada lowongan atau tidak? Ternyata Amanda menyuruhnya untuk langsung datang untuk interview. Jadilah sekarang Alma berangkat dengan semangat menuju kantor itu.
Di tempat lain, Garland sedang di hadapkan pada sebuah fakta mencengangkan. Dia tak menyangka jika selama ini dirinya telah dibodohi oleh Dania.
"Sekarang percaya kan lo?" ujar Gerry.
__ADS_1
Garland menatap Gerry sekilas. Kemudian matanya kembali fokus pada kertas yang ada di depannya.
"Itu data yang dikasih sama Bella beberapa hari lalu. Menurut Bella, Dania menyuruh Bella untuk memanipulasi data penjualan milik Alma. Tapi bukan Dania aja yang menyuruhnya. Ada satu orang lagi," jelas Gerry.
Garland menatap sahabatnya itu dengan pandangan tak percaya.
"Satu orang lagi? Maksud lo nggak cuman Dania yang ngelakuin ini?" tanya Garland tak percaya.
Gerry menganggukkan kepalanya. "Gue awalnya juga nggak percaya. Tapi gue lihat sendiri Dania nyuruh Bella untuk memanipulasi data itu. Jadi gue percaya," ucap Gerry.
"Elo tahu siapa lagi pelakunya selain Dania?" tanyanya.
Gerry menggeleng pelan. "Gue nggak tahu. Bella nggak mau ngasih tahu siapa orang itu. Dia cuman bilang kalau dia disuruh oleh Dania dan satu orang lagi," jawab Gerry.
Garland menghela napas panjang. Dia merasa sangat bersalah pada kekasihnya. Gara-gara dia, Alma memilih meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya dia sudah merasa nyaman menjalaninya.
"Jangan salahin diri sendiri terus. Gue yakin Alma nggak nyalahin elo kok," ucap Gerry seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Garland.
"Tetap saja Ger. Gara-gara gue Alma jadi pergi kan dari kantor ini," sahutnya.
Gerry mengulas senyum. "Dia cuman pergi dari kantor ini kan? Enggak pergi dari hati lo, kan?" ujarnya.
Garland mengulas senyum saat mendengar ucapan sahabat baiknya itu. Alma memang pergi dari kantor itu. Tapi dia tidak pernah pergi dari hati dan pikiran Garland.
"Thanks ya Ger. Karena elo, gue jadi tahu fakta yang sebenarnya," ucap Garland.
"Sama-sama. Gue cuman bantu semampu gue. Gue juga nggak mau ada karyawan yang berbuat curang di kantor ini. Apapun maksud dan tujuannya. Curang tetaplah curang. Enggak ada yang membenarkan tindakan itu," sahut Gerry berapi-api.
"Sekarang tugas lo adalah, kumpulin semua bukti yang ada dan lo serahin ke Pak Andhika. Karena dia juga merasa aneh dengan penjualan Dania yang tiba-tiba melonjak naik," saran Gerry.
Garland manggut-manggut mendengar ucapan sang sahabat. Dalam hati dia merasa geram karena Dania membuatnya hampir kehilangan Alma.
Tiba-tiba Garland berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar ruangan. Gerry tahu ke mana sahabatnya itu akan pergi.
BRAAKKK!!!
"Kalau mau terlihat baik di depan orang, enggak gini caranya!"
__ADS_1